
"Jadi begitu ceritanya, akhirnya Ibu kalian menjadi kunoichi sampai akhir hayatnya saat itu" kata Pak Andi.
"Lalu... kenapa nama kami sama dengan nama kedua teman Ibu?" tanya Amir.
"Karena, saat kalian lahir... mata kalian hijau dan merah sama seperti mereka, jadi... untuk agar tidak melupakan mereka, Ibu kalian melihat kalian seperti Amir dan Umar yang telah tiada dan menamakan Amir dan Umar agar berharap kalian juga hebat seperti kedua sahabat nabi" Jelas Pak Andi.
"Begitu... kami mengerti" kata Umar.
"Ya, sebegitu sayangnya Ibu kalian pada kalian" kata Pak Andi.
"Ibu... " gumam Amir.
"Ok, lebih baik kita bersiap untuk mengantar mereka ke Dimensi besok" kata Pak Andi.
"Tentu, terimakasih karena berkenan untuk menceritakannya pada kami" kata Amir.
"Sama-sama"
Di Kamar Erika...
"Baju sudah, Peralatan bertarung, Ponsel, Buku, syal, kain.. ng? kain putih dari Zayn, uang, jilbab, apalagi ya?" tanya Erika.
"Ng?" Erika melirik foto di sebelah mejanya.
Ada bingkai foto yang berjumlah 6 gambar, ada fotonya bersama Amanda, Erlan, Andika, Amir, Umar, dan Erika.
"Bingkai yang ini... saat malam takbiran, aku jadi ingat saat kak Andika dan kakak kembar di marahi Mama dan Papa karena tidak pergi sholat tarawih, waktu itu kakak kembar juga belum mengambil. pendidikan di Arab" kata Erika.
Beberapa tahun yang lalu...
Malam hari saat Ramadhan..
Saat makan malam...
"Kita akan ke masjid di taman istana malam ini, kalian ke sana ya" kata Amanda.
"Untuk?" tanya Andika.
"Tentu saja Sholat Tarawih" kata Erika.
"Benar" kata Erlan.
"Em, Ibu" kata Andika.
"Ada apa?" tanya Amanda.
"Kami sebenarnya ingin sholat di masjid lain, masjid yang di dekat alun-alun kota" kata Andika.
"Sama siapa?" tanya Erika.
"Ya? sama Zeydan, Pasha, Amir, dan Umar" kata Andika.
"Aku ikut ya?" tanya Erika.
"Jangan deh, Eri! gak lazim seorang perempuan sendirian berada di tengah-tengah kumpulan laki-laki" kata Amir.
"Lah? mahram ku kan kalian bertiga!" kata Erika membantah.
"Lah? Zeydan dan Pasha itu bukan mahram-mu!" kata Umar.
"Aku mau ikut!" kata Erika.
"Eri, ikut Papa dan Mama saja ya" kata Erlan.
"Huft... ya udah" kata Erika.
"Jangan sedih Erika, kakak-kakakmu hanya malam ini saja kok" kata Amanda.
"Bener! boleh kan Bu?" tanya Amir.
"Baiklah... malam ini saja kan?" tanya Amanda.
"Tapi, Amanda?" tanya Erlan.
"Tidak akan jadi masalah karena hanya malam ini" kata Amanda.
Amanda, Erlan, dan Erika berangkat duluan. Andika, Amir, dan Umar berangkat nanti.
"Ok! kita berangkat" kata Umar.
"Baiklah!"
Zeydan dan Pasha juga sudah datang.
"Duh! cepat! nanti terlambat" kata Umar.
"Gak usah berangkat deh, lagipula gak ada ta'jil" kata Andika.
"Lah? tapi kan.. " kata Amir.
"Ya udah! ayo main saja"
Akhirnya mereka tidak berangkat tarawih dan asik bermain.
Jam 21.30...
"Eh? kalian sudah pulang? tadi Ayah bertemu Ayahmu Zeydan, dan dia bilang kalau tidak ada dirimu dan yang lainnya di masjid alun-alun kota?" tanya Erlan.
"Kami gak pergi" kata Andika.
"Apa!? gak pergi!?" tanya Amanda.
CRING!! Silent Amanda langsung berwarna merah dan menakutkan.
Lalu Andika, Amir, dan Umar yang menjadi korban.
Di ruang keluarga...
Andika, Amir, dan Umar duduk di kursi yang sama dengan kondisi kepala benjol karena di jitak Amanda.
Amanda menatap mereka bertiga dengan aura mengerikan, sedangkan Erlan menatap mereka dengan tegas juga kecewa.
"Kenapa kalian tidak pergi?" tanya Erlan.
"Kami... karena kak Andika! yang bilang gak usah pergi, jadi aku dan Umar ikut saja" kata Amir.
"Lah!? udah tahu salah kok ikut!?" tanya Andika.
"Sudah... berhenti, kalian seharusnya tahu kan? kalau tidak berjanji itu artinya melanggar dan tidak amanah? apakah kalian tidak mengerti?" tanya Amanda.
"Kami mengerti, hanya saja... "
"Pokoknya kalian tak boleh seperti itu!" kata Erlan.
"Maafkan kami Ayah, Ibu" kata Andika.
"Baiklah" kata Amanda.
"Em, Ayah... apakah besok malam kami boleh ke masjid alun-alun bersama Zeydan dan Pasha?" tanya Umar.
"Hmf... Bo-.. " belum selesai Erlan bicara.
"Gak!!" Seru Amanda dengan kesal.
"Hiiy!!" Andika, Amir, Umar, bahkan Erika saja ngeri melihat kemarahan Amanda.
"Anu, sayang... berikanlah mereka kesempatan-... " belum selesai Erlan bicara.
"Hah? apakah kau ingin mendapatkan kesempatan khusus untuk mendapat jitakan kasih sayang dariku? 5x lipat lho" kata Amanda dengan tampang mengerikan.
"Ma.. Maaf, baiklah" kata Erlan yang memang tak bisa apa-apa di depan istrinya.
Flashback Off...
"Ngeri" gumam Erika.
"Baiklah.. foto ini kubawa juga" kata Erika.
"Saatnya bertemu Paman Rafi" kata Erika.