
Di Kaki gunung sebelah selatan Carna...
"Anda ingin mempunyai kekuatan besar seperti kekuatan yang didapatkan korban Kutukan Pandora?" tanya Raka, makhluk astral kelas atas.
"Ya... saat itu, 3 tahun yang lalu, aku ingin mendapatkan kekuatan besar Pandora saat penyegelan, tapi rupanya Ryu keluar dan mengamuk karena aku ingin menyerap kekuatan Putri Silent, karena kesalahanku saat itu yang membuatku gagal dalam mendapatkannya, tapi aku akan membunuh Kitagawa Kenzo dan merebut kekuatan Pandora di dalam dirinya tanpa melakukan perjanjian" kata Chandra.
"Lihat saja... aku akan merebut kekuatan itu darinya, dan setelah itu si pemilik kutukan Pandora kedua" kata Chandra lagi.
Malam Harinya...
Andika ada di kamarnya.
Tok! Tok! Tok! Amanda mengetuk pintu kamarnya.
"Keluarlah Andika! makan malam sudah siap kau tahu!?" tanya Amanda.
Tok! Tok! Tok! Andika bahkan menahan pintunya dengan kursi, meja, dan lain-lain.
"Aku tak lapar! jangan ganggu aku!" kata Andika.
"Aku gak akan mau berhubungan dengan orang-orang palsu itu!" gumam Andika.
JDUAR!!! Pintu kamar Andika tiba-tiba hancur, bahkan yang menahan pintu Andika hancur semua.
DAK! DAK! DAK! DAK! Kaki Ibunya yang beralaskan kaus kaki dengan sandal kamar.
Andika mengerutkan keningnya.
Amanda dengan mata Silent-nya yang berwarna merah pekat karena marah dengan jilbabnya yang terhuyung karena aura marahnya mendatangi Andika.
"Terlalu cepat 100 tahun buatmu, untuk bisa melawanku, Dasar...!!" Seru Amanda.
Andika panik, saking lupanya dia karena rasa bersalahnya terhadap orang tuanya, dia bahkan lupa bagaimana kemarahan Ibunya.
"Hentikan Andika! Julukan Ibumu itu menuruni nenekmu, si Medusa Merah Muda" kata Erlan yang juga ketakutan melihat tingkah istrinya.
KRT! Urat kesal Amanda muncul.
"Kau akan... makan malam bukan!? BENAR BUKAN!?" Seru Amanda.
"Y.. Ya Bu!!" kata Andika yang takut.
"Tumben banget, kak Andika membuat Mama marah" gumam Erika.
Setelah selesai makan...
Erlan menyelimuti Amanda yang tertidur di kursi panjang sambil memegang tab-nya. Amir, Umar, dan Erika tengah mengurus diri sendiri di ruang keluarga, meninggalkan kedua orang tua mereka bersama Andika di ruang makan.
"Andika, cuci piring mu, bantu Mamamu sedikit? meski ada pelayan, tapi ada baiknya kau bisa mengurus diri sendiri" kata Erlan.
"Cuci saja sendiri!" kata Andika.
"Em? kenapa dari tadi mukamu merungut? kau bahkan lupa dengan amarah ibumu sendiri itu sangatlah tak wajar, karena kau pernah tidak tidur selama 3 hari karena ketakutanmu akan amarah ibumu, kau sedang bertengkar dengan Nisa?" tanya Erlan.
"Aku memang pernah tak tidur selama 3 hari karena takut, disini juga berpengaruh ya? Dimensi apa ini?" batin Andika lalu berdiri melihat album dengan isi foto-foto.
( Karena mungkin tak ada foto yang lebih bagus, jadi tolong jangan anggap serius untuk foto-foto yang ada )
From : Author.
( Sketsa pernikahan Ibu dan Ayahnya )
( Andika dan Erika )
( Amir dan Umar )
( Amanda dan Erika )
"Tumben sekali kau peduli akan hal itu" kata Erlan sambil mengelap piring.
"Memangnya tak boleh!? oh ya, kenapa tadi kau mengajukan izin untukku ikut misi denganmu?" tanya Andika.
"Yah, karena melihatmu ada masalah begitu, Putraku tak akan marah-marah tanpa alasan, apakah aku salah?" tanya Erlan.
"Maksudnya apaan?" tanya Andika.
"Yah... intinya, kita adalah keluarga" kata Erlan sambil ke arah rak piring.
"Aku... masih saja tak rela untuk bisa menerima hal ini, rasa bersalah ini terus saja mengganjal" batin Andika.
Keesokan harinya...
Mereka sedang bersembunyi di hutan untuk melihat apakah ada musuh menyerang.
"Kita harus ke sana!" kata Andika.
"Andika! tunggu!" kata Amanda.
Dan seperti yang di perkirakan, ada beberapa ranjau dan juga cairan asam sulfat pekat.
"Andika!" Seru Amanda dan mendorong Andika yang hampir menginjak cairan asam sulfat pekat.
Dan akhirnya Amanda yang terkena.
"Ukh!!"
"Ah!!" Seru Andika saat melihat Amanda.
"Amanda!" kata Erlan dan langsung menghampirinya.
"Aku... tidak apa Erlan" kata Amanda.
"Ke.. Kenapa? kenapa kau melindungiku? aku kan-... " belum selesai Andika bicara.
"Mundur, Andika! tetaplah bersama Amanda!" kata Erlan.
"Ta... Tapi-... " belum selesai Andika bicara.
"Biar aku yang mengurus ini" kata Erlan sambil mengaktifkan Angry Turquoise-nya dan mengeluarkan ilusi agar kamera pengintai yang di letakkan di seluruh penjuru wilayah terkena ilusinya.
Erlan langsung mengambil kembali tali teleportasi.
"Misi selesai, syukurlah karena tali teleportasi belum di bawa ke markas musuh, musuh akan menjadi kuat meski hanya satu tali saja" gumam Erlan dan pergi.
Nisa mengobati Amanda yang terkena cairan.
"Kurasa, Amanda hanya terkena cairan asam sulfat pekat dalam dosis rendah, bahkan kain yang menutupi kakinya itu sampai terbakar dan kulitnya melepuh. Tapi... kau tahu kan? apa yang kau perbuat?" tanya Erlan.
"Kenapa?" tanya Andika dengan menunduk.
"Ng?" tanya Erlan.
"Kenapa kalian melindungi ku!? aku bisa melakukannya sendiri! aku bisa melakukan sendiri! apapun itu! karena itu jangan menganggapku seperti anak kecil dan hanya bisa melindungiku saja!" Seru Andika.
PLAK! Erlan menampar Andika.
Andika syok, karena ini pertama kalinya ayahnya menampar nya... meski ia tahu itu bukanlah ayah aslinya.
"Jangan berkata hal konyol, mau bagaimanapun, seorang bayi bahkan takkan bisa berjalan jika tidak di bimbing dan di lindungi orang tua, seorang anak takkan dapat berpengalaman penuh jika tak di bimbing orang tuanya, itu semua karena orang tua, kau harusnya memiliki pemikiran seperti itu" kata Erlan dengan wajah datar.
"Kenapa?" tanya Andika dengan wajah kesal.
"Ng? apakah aku mengatakan sesuatu yang salah?" tanya Erlan memikirkannya dengan wajah santai.
"Bukan begitu! Kenapa!?" tanya Andika, dia ingin tahu... kenapa dia di lindungi oleh ibunya sedangkan dia telah membuat kesalahan sampai membuat Ayah, Ibu, dan Pamannya meninggal.
Tap! Erlan memegang bahu Putranya.
"Eh?" tanya Andika.
"Ayah mohon janganlah lakukan hal yang berbahaya lagi, jangan buat Ibumu cemas, sebelum berangkat... aku sudah mengajukan permintaan kepada Nona Ratri untuk menjadikanmu menjadi shinobi tingkat Uchuunin" kata Erlan sambil tersenyum.
"E... Eh?!"
"Andika!!" Seru seseorang.
Andika dan Erlan berbalik.
Amanda dengan aura kesal menatap Andika.
"A... ah!! Amanda! jangan marah! aku sudah memarahinya! tenang saja!" kata Erlan dengan panik.
"Dasar... ! benar-benar anak nakal!" kata Amanda sambil berlari ke arah Putranya.
Andika pasrah saja, karena tahu ini salahnya.
PUK! Amanda langsung memeluk Andika.
"Alhamdulillah, aku benar-benar bersyukur, kau baik-baik saja!" kata Amanda sambil membendung air matanya, lalu perlahan memeluk Putranya dengan erat.
Andika mulai ragu dengan perasaan bersalahnya, dan perlahan memeluk Ibunya dengan tenang sambil minta maaf secara batin.