Between Curse and Peace

Between Curse and Peace
Season 4 Episode 43 : Best Friend who lost best friend



Amanda terengah-engah, ia melihat Chandra yang telah terbakar berubah menjadi abu.


Di istana Carna, Adelia menangis terharu melihat kemenangan berpihak kepada mereka.


Para pasukan dan pengawal juga menangis penuh bersyukur karena memenangkan perang.


Bahkan Adelia sampai pingsan karena kecapean.


"Nona Adelia!" kata Umar.


"Kakek, tolong bawa Nona Adelia ke ruang istirahat!" kata Umar.


"Ya" kata Adimas.


Amir menatap Adelia dengan iba sambil mengelap dahi Adelia yang dibanjiri keringat dengan saputangan.


Elena sedang sekarat.


"No... Nona Elena! kami akan mengobati anda!" kata pengawal.


"Tidak... perlu, aku sudah sekarat sekarang, tidak bisa diselamatkan... karena terinfeksi darah Chandra, berikan pada yang lain, serum penyembuh itu" kata Elena.


Elena tiba-tiba merasakan selintas kejadian di alam bawah sadarnya.


Ayahnya membelai kepalanya dengan lembut.


"Lihat? kerja kerasmu selama ini membuahkan hasil" kata Harry, Ayahnya.


"Ayah... "


"Usaha yang memuaskan, Miyu" kata Liana, Ibunya biasa memanggil Elena dengan sebutan "Miyu".


"Ibu... "


Elena melihat kedua adik laki-lakinya yang tersenyum.


"Kerja bagus... kakak"


"Erlan... Ersya... "


Dan Elena juga melihat Andra.


"Kau sudah berusaha yang terbaik, Elena"


******


"Ayah, Ibu, Erlan, Ersya... Andra, kalian lihat? semuanya memenangkan perang berkat kalian juga" kata Elena yang tersenyum dengan meneteskan air matanya dan matanya tertutup untuk selama-lamanya.


"Dia... sudah meninggal" para pengawal langsung menangis sedih karena melihat kepergian Elena.


Sementara itu, Rahmat dan Vanora di letakkan di alas yang bersebelahan untuk diobati.


"Rah... mat? apakah... kita menang?" tanya Vanora yang tubuhnya diselimuti kain.


"Ya, kita menang... Chandra sudah musnah" kata Rahmat.


"Syukurlah, aku tidak merasakan sakit lagi... kurasa aku akan tiada" kata Vanora karena kedua lengannya telah hilang akibat menarik sel-sel Chandra.


"Aku juga mungkin begitu, kau takkan pergi sendirian" kata Rahmat.


"Tidak, jangan mati dulu... aku minta maaf karena tak banyak membantu, tidak seperti Meghan dan Miyuki-san" kata Vanora sambil membendung air matanya.


"Tidak, itu tidak benar... jangan berkata seperti itu, apakah kau ingat pertama kali kita bertemu di Rosement-nya Andra?" tanya Rahmat.


"Ya, di situ aku tersesat dan kau membantuku" kata Vanora.


"Tidak, justru sebaliknya... kau selalu bersemangat atas hal-hal kecil, kau pasti sudah berjuang keras untuk menjadi seorang Pilar, tapi kau tetap mempedulikan orang lain" kata Rahmat.


"Aku senang berbicara dan menjadi akrab denganmu, dan aku senang menjadi laki-laki biasa, aku yakin Amanda, Andra, dan yang lainnya juga seperti itu. Keceriaan dan kebaikan hatimu, telah menyelamatkan banyak orang, jadi kau harus bangga, aku takkan membiarkan.... siapapun bicara sebaliknya" kata Rahmat.


"Hiks... Huaa!! aku sangat senang, aku... sangat menyukaimu, Rahmat!! kau selalu pintar dalam segala hal! makanan juga... terasa enak jika dimakan bersama denganmu, Rahmat! karena kau juga orang yang asik meski datar! kau juga.... hiks! yang membantu memperbaiki hubunganku, Vandro, dan Mama!" jelas Vanora sambil menangis.


"Rahmat... kumohon! seandainya saja kita masih diizinkan untuk hidup dan bisa melihat hari esok... bisakah aku menjadi istrimu!?" tanya Vanora.


"Tentu saja! asalkan... kau tidak keberatan bersamaku! dan kali ini aku akan membuatmu bahagia... kan kukorbankan segalanya untuk melindungimu" kata Rahmat sambil menangis.


Vandro hanya mendengarkan dari balik pohon sambil menangis.


Di benteng Zeydan...


Benteng dan rubiknya jatuh dan hancur.


Ilman, Dirga, Gibran, dan Aram juga selamat, dan para pengawal datang untuk mengobati mereka.


"Chandra... sudah kalah" kata Gibran dengan membendung air matanya.


"Tak kusangka dia melakukan hal itu, jika saja Zeydan tidak gegabah, pasti dia takkan bekerja sama dengan Chandra! tapi... kau terlalu sok bertanggung jawab!" kata Dirga yang sehabis bertemu dengan Zeydan di Dimensi Paralel.


"Huaa... tolong, jika aku mati, beritahu istriku Erika, kalau aku mencintainya" kata Ilman yang ngelindur akibat kecapean bertarung dan terluka.


"Dia bukan istrimu!" kata pengawal yang mengobati Ilman.


"Dan katakan padanya kalau aku pemberani, dan aku memikirkannya sampai akhir hayatku" kata Ilman.


"Orang ini tak berhenti ngelindur!" kata pengawal.


Sementara itu Pasha...


Pasha sedang pingsan dan sempat di bawa ke Dimensi paralel bertemu Zeydan.


*****


"Zeydan..." kata Pasha.


"Kemenangan akhirnya telah dapat di petik ya" kata Zeydan.


"Pasha, aku akan menceritakan semua yang aku lakukan dan alasan aku menjadi jahat, akan kuceritakan padamu disini" kata Zeydan.


Pasha terbelalak.


"Kau tahu? di saat aku pergi ke kawasan Dirgapati memang niat sebenarku untuk menghabisi Chandra dengan kekuatan kutukan Pandora-ku, tapi aku salah langkah... dan akhirnya tahu yang sebenarnya kenapa kalau hanya Fujiwara utama-lah yang bisa mengalahkan Chandra" jelas Zeydan.


"Karena disitu, Chandra hampir menghasutku... dan karena hampir masuk ke jebakannya, aku jadi terpaksa berbohong padanya dan berkata kalau mengajukan padanya untuk bekerja sama menghancurkan pasukan pemberantasan" kata Zeydan.


"Aku akhirnya terpaksa berbohong terus sampai saatnya aku jujur"


"Mengirim kalian dengan surat sebagai untuk meyakini Chandra, maaf jika saat aku memanggil kalian ke kawasan Dirgapati, aku tidak bermaksud membuat kalian celaka, dan apabila kalian tahu tujuan utama ku ingin menghabisi Chandra maka Chandra mungkin akan membunuh kalian, jadi aku terpaksa menjadi jahat untuk menjauhkan kalian dari rencanaku yang sudah gagal" jelas Zeydan.


"Jadi, kau melakukan semua ini... menemui Chandra itu karena kau ingin menghabisinya!? bahkan tanpa orientasi!?" tanya Pasha.


"Itu benar, aku tidak bisa membuat semuanya terlibat dalam rencanaku yang semena-mena ini, namun aku cukup bersyukur, jika saja aku tidak datang ke kawasan Dirgapati saat itu, Chandra pasti sudah menyerang kita lebih cepat dari dugaan, karena saat aku berbicara dengannya berdua, dia mengatakan akan menyerang pasukan pemberantasan, tapi aku terus berusaha mengulur waktu agar Chandra tidak melakukannya"


"Di peringatan yang kudapatkan dulu mengatakan kalau akan ada korban dari orang terdekat ku jadi aku ingin mengakhiri Chandra Nagata dengan tanganku sendiri agar hal itu tidak terjadi"


"Akhirnya aku menceritakan rencana palsuku pada Adelia yaitu bekerja sama dengan Chandra Nagata, itu agar membuat alasan atau setidaknya waktu agar Adelia tidak melakukan penitisan baru" kata Zeydan.


"Bahkan aku juga tidak tahu kapan akhir dari cerita palsu yang dibuat-buat oleh Kitagawa Pascal untuk menutupi fakta sebenarnya perang kehancuran dunia astral pertama, Fujiwara Aika sendiri ingin seseorang bisa menghancurkan dan membuka fakta Perang Kehancuran Dunia Astral pertama, dan orang itu adalah Eri" jelas Zeydan.


"E... Eri!? Erika maksudmu? apakah kau barusan bilang Erika?!" tanya Pasha.


"Iya, kau tidak mendengar ya?" tanya Zeydan.


"Bu... Bukan begitu! hanya kenapa Erika?" tanya Pasha.


"Aku sendiri tidak tahu apa sebenarnya yang Eri lakukan, karena tujuan Aika menjadi Kara dan Tante Amanda menjadi Terano-nya sekaligus wadahnya, adalah karena ingin memastikan Kotak Pandora aman, dan ingin membunuh siapapun yang ingin mengancam Klan Fujiwara, tapi itu tak berhasil... karena pembantaian Fujiwara setelah Perang Kehancuran Dunia Astral pertama terus berlanjut sedangkan Aika tersegel sebagai Kara, jadi Aika hanya bisa menjaga kotak Pandora saja di situasi Klan Fujiwara yang mendekati kepunahan" jelas Zeydan.


"Dan akhirnya, Aika ingin ada yang melepaskan dan menuntaskan dendamnya terhadap Kitagawa Pascal yang membunuh kerajaan dan rakyatnya" kata Zeydan.


"Tapi... alasan kuat kenapa aku membenci Chandra karena dia telah merenggut nyawa orang tuanya Eri" kata Zeydan.


"O... Oh, aku sedikit mengerti kenapa Erika yang dipilih" kata Pasha yang menganggukkan kepalanya mendengar penjelasan Zeydan.


"Oh ya? bisa kau jelaskan?" tanya Zeydan.


"Aika adalah Ratu Silent, yang dapat menguasai Kotak Pandora seutuhnya. Makanya, ia bisa merasakan firasat kepada setiap Fujiwara yang ada. Lalu mungkin ia sudah memperhatikan kita sejak lama. Dan Erika mungkin terpilih karena sesuatu yang Erika lakukan" jelas Pasha.


"Masuk akal, tapi kenapa Eri yang dipilih biarkan saja itu tidak dibahas" kata Zeydan.


"Lalu bagaimana menurutmu?" tanya Pasha.


"Apa?" tanya Zeydan.


"Soal Erika. Apakah nantinya ia akan bahagia dengan orang lain? atau bagaimana ya?" tanya Pasha.


"Yah, aku tak tahu soal itu" kata Zeydan.


BUAK!!! Pasha meninju wajah Zeydan hingga Zeydan jatuh terduduk.


"Aduh!" kata Zeydan.


"Apa-apaan itu!? kau mengatakan kata 'tidak tahu' untuk hal yang telah kau lakukan!? aku tak ingat pernah memaafkanmu untuk perkataanmu itu! jangan beri aku omong kosong itu! apakah kau pikir bisa pergi begitu saja dengan mengatakan, 'lupakanlah aku'!!?" tanya Pasha.


"Aku sedikit memaklumi dan mengerti kalau kau mencoba menjauhkan Erika dari rencanamu! tapi kau telah menyia-nyiakannya! kau telah menyakiti perasaan Erika! kau telah menyakiti orang yang telah menganggapmu begitu berharga dan satu-satunya orang yang rela mengorbankan nyawanya untukmu!!" seru Pasha, sedangkan Zeydan hanya terduduk sambil menunduk.


Zeydan hanya terdiam sambil menunduk seperti menyesal.


"Yah, Erika harus melupakan penghancur hati sepertimu, aku yakin perempuan seperti dirinya mampu menemukan pria yang lebih baik" kata Pasha.


"Tidak!" kata Zeydan.


"Hah? apa?" tanya Pasha.


"Aku tidak mau hal itu! aku tidak ingin itu terjadi! aku tidak ingin dia menemukan pria lain! aku hanya ingin perasaannya hanya untukku!! meskipun aku mati, aku ingin dia menjagaku di hatinya untuk waktu yang lama!!" seru Zeydan dengan blak-blakkan.


"E... Eh? a... apa? aku... tidak tahu kau bisa mengatakan hal secanggung itu secara keseluruhan" kata Pasha yang juga ikut malu akibat Zeydan.


"Ukh... jangan katakan pada Eri kalau aku mengatakan hal itu! aku sebenarnya tidak bermaksud mengatakan hal semenyakitkan itu pada Eri! cuman... ukh!!" Zeydan seperti menyesali tindakannya.


"Aku tidak ingin kalian terlibat dalam rencanaku saja, aku menipu Rebellion dengan menyuruh Vincent dan membawa kalian ke penjara bawah tanah di pinggiran kota Helvetia, sedangkan aku mengatakan pada Chandra kalau kalian ada di Magnaga, itu semua kulakukan untuk melindungi kalian, aku sebenarnya ingin mengkhianati Chandra disaat pertengahan perang, tapi aku tak menyangka dia akan menyimpanku di dalam rubik" jelas Zeydan.


"Jadi... cerita tentang Klan Fujiwara cabang yang mengalami kerja paksa itu, itu tidak berpengaruh pada Fujiwara utama seperti Eri dan Tante Amanda, Eri sering pusing hanya karena Silent-nya sering kekurangan energi, aku terpaksa mengarang cerita untuk menjauhkannya agar dia tidak ikut campur dan membahayakan dirinya tanpa mengetahui aku salah langkah! Karena aku tahu kalau Eri adalah orang yang sulit ditumbangkan" jelas Zeydan.


"Aku sudah banyak membuat hal yang merugikan untuk kalian semua. Salsa kehilangan nyawanya, Pasukan pemberantasan banyak yang gugur, Vincent mengorbankan dirinya dan beberapa temannya yang ikut serta dalam rencanaku dengan menggunakan Rebellion, aku bahkan sudah membuat hidup kak Andika dan Adelia terbebani oleh tanggung jawab lalu menderita dan terlihat seperti neraka" kata Zeydan.


"Akhirnya semua ini terjadi karena diriku yang salah langkah, aku sebenarnya tidak ingin mati! aku ingin hidup bersama Eri! bersama kalian semua! tapi... nasi sudah menjadi bubur" kata Zeydan.


"Tujuanku hidup adalah karena tidak ingin hidup sia-sia... " kata Zeydan.


"Ze... Zeydan! aku yakin pasti ada cara lain!" kata Pasha.


"Tidak ada, bahkan kau bisa kesini karena tenaga terakhirku dari kekuatan kutukan Pandora. Pasha, tolong rahasiakan perbincangan kita ini ok? karena sepertinya... hanya inilah kenangan terakhirku bersamamu, aku sudah membawa Eri ke Dimensi paralel juga sebelum kau" jelas Zeydan.


"Lagipula misal saja ada cara lain takkan kulakukan, karena aku pasti takkan dimaafkan atas apa yang aku lakukan sampai-sampai mengkhianati gerakan pemberantasan" kata Zeydan.


"Tapi aku benar-benar bersyukur, dengan matinya diriku, kak Andika dan Adelia tidak akan mengorbankan dirinya untuk penitisan baru dan semua pemegang kutukan Pandora maupun Subjek Pandora tidak akan ada lagi konsekuensi kalau mereka akan mati 13 tahun kemudian setelah menerima Morph-x ataupun kutukan Pandora, mereka akan hidup layaknya manusia biasa, dan Eri... dia akan hidup bebas tanpa adanya aku yang sebagai prioritasnya" jelas Zeydan.


"Meskipun... nantinya aku diizinkan kembali ke masa lalu dalam bentuk anak-anak, aku tidak akan bisa mengubah takdir yang ditentukan untukku, karena aku pasti nantinya akan mengulang perang ini. Jadi itulah aku ingin kalian yang membunuhku dan tidak bernegosiasi denganku, karena inilah takdirku" Jelas Zeydan lagi.


"Pasha, kaulah yang akan menumpas Dirgapati, karena kau adalah satu-satunya Subjek Pandora yang tidak berkhianat dan sangat beresiko dan ancaman yang amat besar bagi Dirgapati apabila kau hidup, sekarang... kaulah yang telah mengalahkan mereka" jelas Zeydan lagi.


"Lalu... bagaimana dengan Erika?" tanya Pasha.


"Eh? soal apa? sudah kuberi tahu tadi kan?" tanya Zeydan.


"Bukan... bagaimana caranya aku memberitahu dia kalau kau tidak membencinya? bagaimana aku perlu memberitahu dia kalau kau sebenarnya peduli padanya?" tanya Pasha.


"Itu.... "


Di Dimensi Astral...


Pasha terbangun setelah kesadarannya kembali dari Dimensi Paralel dan sudah berubah menjadi manusia biasa.


"Eh? kekuatan Subjek-ku... hilang!? bagaimana bisa?" tanya Pasha.


"Pasha" kata seseorang.


Pasha berbalik ke arah suara.


*****


"Itu.... aku ingin Eri, mengambil jalannya sendiri, dan mengetahuinya sendiri" kata Zeydan.


"Tidak mungkin seperti itu!" kata Pasha.


"Bisa, aku tahu betul Eri... aku yakin dia pasti bisa" kata Zeydan.


Tiba-tiba pinggiran mulut Zeydan keluar darah dan dada kiri Zeydan lubang bekas tusukan.


"Ze... Zeydan!" kata Pasha dan menyadari kalau Erika sudah berhasil.


"Eri sudah berhasil, baiklah, ini juga akan menjadi pertemuan kita untuk terakhir kalinya, waktunya perpisahan, Pasha" kata Zeydan dengan wajah berat hati tak ingin berpisah.


"Zeydan! terimakasih karena niatmu ingin membunuh Chandra! terjadinya Perang dan kami semua tidak mati, itu semua juga karena dirimu yang sebelumnya melindungi kami di Helvetia! meski usahamu terdengar sia-sia, tapi akan kupastikan itu tidak terjadi! terimakasih karena sudah menjadi sahabat kami!" kata Pasha dengan tatapan memelas.


Zeydan menatap Pasha dan memeluknya.


"Terimakasih atas semuanya, Zeydan" kata Pasha sambil memeluk Zeydan.


"Aku selalu akan mengenang dirimu, aku tahu kau melalui hal-hal yang sulit" kata Pasha.


"Ketahuilah, semuanya menyayangimu, Zeydan... terimakasih untuk semuanya" kata Pasha dengan air mata mengalir.


"Selamat tinggal... sahabatku" kata Zeydan sambil meneteskan air matanya.


Air mata kedua sahabat itu tumpah bersamaan dengan munculnya cahaya yang mengiringi perpisahan mereka untuk selamanya.


*******


Pasha melihat Erika yang menggendong Zeydan ala bridal style dengan Zeydan yang pinggiran mulutnya ada bekas keluar darah dan di dadanya bekas tusukan.


Erika berlutut untuk menurunkan tubuhnya dan Pasha kaget dan langsung menangis sekeras-kerasnya sambil memeluk Zeydan.


"Kau... bertemu Zayn di Dimensi paralel kan? aku yakin dia mengatakan sesuatu padamu" kata Erika tanpa menangis sama sekali dan membiarkan Pasha memeluk Zeydan.


"Iya.. hiks! aku sudah mendengar semuanya dari dia" kata Pasha sambil menangis.


"Kalau begitu, aku harus segera pergi ke dunia nyata, untuk memakamkan Zayn, karena jika kami terlalu lama disini... aku yakin Zayn tidak akan mengizinkanku untuk memberikannya pemakaman yang layak" kata Erika yang berlutut dan menatap wajah Zeydan yang sudah tak bernyawa.


"Ya, tolong jaga dia baik-baik" kata Pasha.


"Kita bertiga saat kecil dulu sering bermain 'di sana' aku yakin Zayn ingin kembali dan mengenang kebersamaan kita bertiga sembari istirahat 'di sana' bukan begitu?" tanya Erika.


"Ya, kuserahkan padamu Erika... karena Zeydan... pasti juga ingin melihatmu untuk terakhir kalinya" kata Pasha.


Erika yang berjalan langsung berhenti karena tersentak.


"Pasha, kumohon lihat kondisi medan perang, karena aku yakin juga, Zayn pasti ingin tahu apa yang terjadi" kata Erika.


Pasha mengerutkan keningnya.


"Ya, tolong jaga hatimu Erika" kata Pasha sambil pergi.


"Ya... tentu, kau juga. Jaga dirimu" kata Erika.


Keduanya berpisah disisi yang berbeda, diluar mereka mungkin tampak tegar bagaikan ksatria, namun hati mereka telah hancur karena kepergian sang sahabat.