
Gagak menyebarkan kondisi kalau Ersya dan Doni telah gugur.
Andika yang mendengarnya menangis karena kehilangan Paman dan sahabatnya.
"Makin banyak yang gugur... Paman Ersya, Doni... akan kupastikan pengorbanan kalian tak akan sia-sia, semoga Yun-chan dan yang lainnya baik-baik saja, Dasar... " batin Andika.
Di istana Carna...
"Sudah terlambat, Nyonya Bella tak mampu menahannya lagi, Chandra telah bangkit kembali" kata Adelia.
"Tim pertama hampir sampai! tim kedua tepat di belakang mereka!" kata Umar yang melihat peta Dimensi menggunakan lensa kontak jarak jauh dari Ersya.
Adelia terbelalak.
"Tunggu! jangan pergi dulu! hentikan mereka!!" kata Adelia.
"Eh?" tanya Umar.
"Jangan kirim mereka ke tempat Chandra! tetap di sana sampai para Pilar datang!" kata Adelia.
Di benteng tepat Chandra berada...
"Disini kita menemukannya! ini Chandra!" kata para pasukan yang datang ke benteng di tempat kepompong daging Chandra.
"Kita akan mencincang kepompong daging ini!" kata pasukan yang ada.
CRAK!! Chandra dengan rambutnya yang memutih keluar dari kepompong dagingnya.
"Eh-... "
CTRASH!!! BRAK!! CTRANG! Semua pasukan di tumbangkan Chandra dengan sangat sadis dan cepat.
Di istana Carna...
"Tunggu sampai Pilar datang! mereka hanya akan jadi bahan pemulihan Chandra saja! kenapa tidak ada yang mau mendengar!?" tanya Adelia.
****
Semua pasukan akhirnya gugur, dan gagak terlambat memberikan pesan.
"Mereka semua sudah mati" kata Chandra.
Bahkan gagak yang menyebarkan pesan pun dibunuh oleh Chandra.
"Setelah ratusan tahun aku sudah melupakan rasa dari makanan yang lezat, tapi sekarang aku sangat lapar... rasanya lezat sekali" kata Chandra sambil memegang kepala seseorang di tangannya.
"Kau telah repot-repot membawakanku makanan yang amat lezat, terimakasih Lord Fifth" kata Chandra.
"Entah itu siapapun yang menggantikanmu sementara, aku tak tahu siapa yang melakukannya, tapi mereka luar biasa" kata Chandra.
"Jika kau tunduk padaku, aku bisa saja menjadikanmu Subjek Pandora, karena aku baru saja kehilangan sebagian besar anak buahku" kata Chandra.
*****
"Perintahkan pada tim kedua untuk mundur!! jangan ada yang dekati Chandra! jika dia makan lagi, dia akan memulihkan staminanya!" perintah Adelia.
*****
"Bagaimana rasanya, Bella? meskipun obat 'pengubah Subjek Pandora / makhluk astral menjadi manusia' sudah kau gunakan, tapi efeknya tidak ada tuh?" tanya Chandra sambil memegang kepala Bella yang tersisa.
"Pada akhirnya... hari ini kau... akan musnah!" kata Bella yang wajahnya perlahan menjadi abu.
"Sampai sekarang pun, ratusan manusia telah mengatakannya padaku, tapi maaf saja... semua itu tidak terjadi" kata Chandra.
"Ukh! anak-anakku menderita! muridku gugur! kembalikan mereka! kembalikan senyuman mereka!" kata Bella sambil menangis.
"Kalau begitu, akan ku buat anak-anakmu menyusul muridmu dan dirimu, dan kau matilah" kata Chandra.
CRAK!! Chandra mengepalkan tangannya yang memegang kepala Bella, dan Bella akhirnya tewas di tangan Chandra.
Di sisi lain benteng...
BRUK!! Vandro terhantam ke sebuah dinding.
"Paman Vandro!? kau baik-baik saja!?" tanya Gibran yang bersamanya.
KRRK!!! Vandro mencengkeram erat lantai benteng bertanah itu.
"Ffghh!!! Ukh!!!" Vandro menahan amarah karena Ibunya terbunuh oleh Chandra.
Dan tim kedua gugur dan tewas di tangan Chandra.
*****
"Semua mundur! apakah Edward belum di sana!?" tanya Adelia.
"Dia dan kakak ada di arah sebaliknya!" kata Amir.
"Ukh! semua prajurit mati satu persatu! Chandra telah kembali dan kematian Nyonya Bella jadi sia-sia!" batin Adelia.
*****
"Sudah cukup... mulai saat ini, aku akan menghabisi pasukan pemberantasan sampai ke titik terakhir" kata Chandra.
Di istana Carna...
"Sudah terlambat, ini salahku... karena memberikan perintah yang salah, dan karena itu Chandra banyak membantai para petarung kami!" batin Adelia.
"Nona Adelia!" panggil Umar.
"Semua yang telah di perjuangkan selama bertahun-tahun, untuk melawan sekte dan organisasi sesat..."
"Nona Adelia!"
"....Akan jadi sia-sia karena kesalahanku" batin Adelia.
"Nona Adelia!!"
Umar dengan mengumpulkan kemauannya melayangkan tangannya kuat-kuat dan menampar pipi Adelia.
PLAK!!!
Adelia bahkan sampai ambruk.
"Umar!!" Seru Amir.
"Kuatkan dirimu, Shadow Of Lord!! cepat berikan perintah selanjutnya! perang ini masih belum berakhir!" kata Umar.
Adelia menatap Umar dengan memegang pipinya yang lebam dan mulutnya sedikit mengeluarkan darah.
"Benar... akulah pemimpin sementara sekarang, karena aku adalah bayangan sekaligus wakil para Lord atau pemimpin gerakan pemberantasan dan Dimensi astral, Nona Phantom Lady juga mempercayakan itu padaku" batin Adelia.
"Kakek Andi... Kak Ratri... mereka berdua, dan para Lord serta Shadow Of Lord sebelumnya juga pasti! pasti sudah bosan dan lelah akan semua penderitaan ini!" batin Adelia.
"Terus jaga jarak dengan Chandra! para gagak! lebarkan pandangan kalian! jangkauan serangan Chandra sangat luas! jadi jangan sampai terlalu dekat dengan Chandra! kumpulkan para Pilar, dan seluruh pasukan lain, kumpulkan seluruh petarung dalam satu tempat secepatnya! kita akan menunggu pasukan Lupin Star" Jelas Adelia memberikan perintah.
"Pangeran Amir... Pangeran Umar... terimakasih" kata Adelia.
Umar hanya diam.
"Tentu" kata Amir.
Di Dimensi astral tepatnya di benteng labirin...
"CHANDRA TELAH BANGKIT! PARA PILAR DI PERINTAHKAN UNTUK BERKUMPUL! KAAK!!" gagak memberikan perintah dan peringatan.
"Tidak mungkin! selama kami disini, Chandra bangkit!?" tanya Vanora.
"Ersya dan Doni telah gugur... tapi mereka mengalahkan pasukan Dirgapati atas nomor 1! sementara yang kulakukan hanyalah membuang-buang waktu!" batin Rahmat.
"Jurus Pandora pasukan Dirgapati atas keempat itu... tidak memiliki hal yang mematikan, tapi dia seolah membuat ini seperti permainan kejar kejaran! dan dia menahan dua Pilar, aku harus melakukan sesuatu untuk keluar dari situasi ini" batin Rahmat.
Di tempat Vanora...
GREP!! Tiba-tiba ada yang menahan jubah Vanora.
"Apa!? siapa!?" tanya Vanora.
Di tempat Andika dan Edward...
Andika dan Edward begitu waspada.
Dan mereka begitu terbelalak melihat siapa yang di depan mereka.
"Chandra!!!" batin Andika.
"Huft... Huft!!!" Andika menahan amarah dengan nafasnya, karena melihat orang yang membunuh orang tuanya, dan kedua pamannya ada tepat di depan mata.
Dan karena Chandra jugalah, semua teman-temannya dibunuh.
"Andika... tenangkan dirimu, dinginkan pikiranmu" kata Edward dengan amarah luar biasa melebihi amarah saat dia mencapai Killer Mode, yang Aquamarine Silent-nya langsung bangkit meski tidak murni, Aquamarine Silent-nya bangkit karena dia benar-benar marah melihat makhluk yang sangat dibencinya yang sudah membunuh sepupunya.
"Kalian sangat gigih, aku sudah muak dan lelah dengan kalian semua, dan aku sudah kehilangan kesabaranku, kalian selalu berambisi untuk membalaskan dendam keluarga atau teman kalian yang ku bunuh" kata Chandra.
"Apa tidak cukupkah bagi kalian untuk hidup?" tanya Chandra.
Andika dan Edward terbelalak.
"Memangnya kenapa kalau aku membunuh orang yang kalian sayangi? pertimbangkan keberuntungan kalian dan teruslah jalani hidup" kata Chandra yang menaruh hasutan dalam perkataannya.
"Bagaimana bisa kau berkata seperti itu!?" tanya Andika yang kaget.
"Anggap saja mereka terkena bencana, kalian harusnya hidup tenang dan jangan pikirkan mereka... ada satu alasan, karena pasukan pemberantasan itu tidak normal, aku hanya ingin mencapai tujuanku, itu saja! tapi memang membutuhkan tumbal" kata Chandra.
"Tarik kata-katamu, Chandra Nagata!!" seru Edward yang menyadari kata-kata Chandra mengandung hasutan, tapi ia tak terpengaruh.
"Gawat, Kenzo akan terpengaruh!" batin Edward dan menoleh pada Andika yang agak menunduk dan tercengang.
Andika terbelalak sekali dan langsung teringat kepergian Ayah dan Ibunya karena ulah Chandra.
"Chandra... kami..." Andika memotong kata-katanya.
"....Tidak akan mengizinkanmu untuk berada di dunia ini lagi" kata Andika yang terpaku dan Turquoise di matanya aktif dan urat-urat dimatanya terlihat menandakan amarah yang meluap-luap dan mendidih.