
Malam harinya di ruang keluarga...
"Ya Allah, ngantuk! Ibunda, Andika tidur duluan ya" kata Andika yang menahan nguapnya.
Amanda yang memeriksa beberapa berkas putrinya tersenyum, "Iya, jangan lupa baca doa"
Erika sedang sibuk dengan makalahnya, melihat putrinya yang serius dengan kuliahnya membuatnya teringat masa-masa ia kuliah sampai begadang.
"Erika kalau udah ngantuk tidur aja, makalahnya kapan dikumpul sih?" tanya Amanda.
Dengan tatapan masih menatap layar laptop, Erika menjawab, "Besok kuliahnya ba'da dzuhur, Ma. Tinggal dikit lagi kok makalahnya"
Amanda hanya tersenyum, Erika melirik mamanya, "Mama gak tidur? kan agenda juga udah selesai?"
"Iya, ini lagi bersihin memo di ponsel. Lagian Erika tidurnya juga di ruangan Mama kan? Mama tidur bareng ya" ujar Amanda.
Erika tak merasa keberatan, "Ya boleh sih. Kalau emang lebih nyaman dikamar Mama tidur dikamar aja"
"Hihi, iya sayang"
Scroll... Scroll... Tiba-tiba Amanda terhenti karena melihat sebuah foto dan melihatnya.
"Foto ini... saat Aku sama Abang lagi mendaki gunung abis nikah, kan?" batin Amanda.
21 tahun yang lalu...
"Waaw!! Masya Allah, bagus banget pemandangannya, tapi capek juga mendaki gini" gumam Erlan.
"Alhamdulillah banget make syal! bakalan kedinginan nih, Alhamdulillah. Btw, bawa kamera gak-...ng? sayang? napa main ponsel dijalan? bahaya nanti kalau ketabrak orang?" ujar Erlan.
Amanda sibuk dengan ponselnya, "Ini! si Putra gak bisa bedain ukuran tabung reaksi yang baru dikirim ke lab kampus! duh, kan ada buku panduannya"
"Emang ada? sinyal digunung?" gumam Erlan.
Amanda menghela nafas, "Alhamdulillah! selesai juga masalah"
"Lagian jangan main ponsel digunung juga kali! nanti ketempelan, lho?" kata Erlan.
"Lah? kan tinggal baca surah Al-Jinn, Ayat Kursi, Al-Fatihah, surah 3 qul, banyak tuh? kenapa harus takut setan?" tanya Amanda.
Erlan tersenyum, ia tak heran karena tahu istrinya rajin membaca Al-Quran, "Haha! ya ketempelan abang dong! hihihihi! dan jadi bukan takut denger surah, malah dapat pahala dan makin cayang!"
"Duh geli, ini nih yang gak dibolehin digunung!" ujar Amanda.
"Lah? kan dah halal!" kata Erlan dengan sebal.
"Gak digunung juga plis"
Akhirnya mereka berdua sampai dipuncak tebing.
"Masya Allah tabarakallahu! pemandangannya indah banget!"
GREP! Erlan tiba-tiba memeluk Amanda dan menariknya menjauh dari tebing.
Amanda kaget sekali, "Loh?! loh?! loh?! Allahu Akbar! Abang ngapain?! aku mau lihat pemandangan!"
"Ntar kamu jatoh! aku gak bisa jagain karena aku agak em... serem aja ama ketinggian" ujar Erlan.
Amanda : 😑, "Kalau takut ama tinggi tuh ngomong aja, plis"
"Btw, coba lihat pemandangannya deh, Bang. Serius bagus banget!" kata Amanda.
Amanda tersenyum, namun tiba-tiba ia menjadi murung, Erlan menyadari hal itu, "Kenapa tah?"
"Gak... kayaknya, aku harus ke kampus. Putra kayaknya kesusahan, aku juga gak terlalu detail neranginnya, lagian aku juga pengen ngajarin Alen materi baru. Hehe, aku pulang duluan ya" kata Amanda sambil tersenyum getir, sebenarnya ia gak mau pulang, hanya gak enak dengan Putra.
GREP! Erlan menggenggam tangan Amanda, "Gak! kamu gak boleh pulang, harus disini"
"Lho?!"
"Masa gak inget yang di bilang kakakmu? kamu harus nurutin apa yang di bilang suami selagi itu hal baik, jika gak dipatuhi maka berdosa" kata Erlan.
Amanda jadi sebal, ia agak kesal dengan kakaknya mengatakan hal itu, namun itu memang benar, ia harus mematuhi pemimpin keluarga barunya.
"Lagian coba teriak di tebing ini, toh gak ada orang? luapin semua kekesalan, karena hanya Allah yang mengerti semua masalah kita" kata Erlan sambil menarik napas.
Amanda kaget, "Bener sih, tapi... bang?! beneran pengen teriak?!"
"MY LUV CANTIK BANGET, MASYA ALLAH!!!"
BLUSH... Amanda yang terdiam kaget wajahnya langsung memerah.
Wajah Erlan juga memerah, namun terukir jelas senyuman lebar di wajahnya, "Tenang aja Nda, gunungnya dibooking sampe sore! jadi bisa teriak sepuas mungkin!"
Amanda tiba-tiba maju, "IBU! ALHAMDULILLAH AKU BAHAGIA BANGET!!!"
Erlan terbelalak, "Ibu?"
"Dah yok balik! kita makan!" kata Amanda sambil berbalik duluan.
Erlan jadi bengong, "Eh Nda! kenapa tadi teriak ibu, dah?! Nda!"
"Secret~"
"Carilah lelaki pendamping hidupmu seperti ayahmu, oke?"
Amanda tersenyum, "Ibu, tenang aja. Gak usah sedih, karena... "
"Ih! jalannya cepet banget! santai!" ujar Erlan.
"Yah, jalannya jangan lambat dong" kata Amanda.
"Allah telah memberikanku jodoh lelaki yang terbaik dan mirip dengan ayah"
Flashback Off...
Amanda tersenyum, kenangan itu sudah lama sekali semenjak kematian suaminya, ia melihat Erika yang tertidur lantas mengangkatnya ke kasur.
"Kamu mirip banget sama Ayah kalau udah sebel, hihi" gumam Amanda.
Amanda kembali berbaring dan melamun, "Dari segala kehilangan yang telah kudapat, kamu adalah yang paling meninggalkan jejak"
"Sangat sulit untuk kurapihkan, sehingga selalu terputar dibenak dan dihatiku. Kamu bagian terbaik dalam hidupku, hidupku indah karena adanya dirimu"
Amanda tersenyum, ia tahu kalau Erlan tak mau dia sedih, jadi ia harus kuat. Cobaan didunia ini hanya sementara, setelah ia kembali ke sisi-Nya nanti, ia akan istirahat dan menuai semua bekal dan kebaikan yang ia tanam didunia.
Selalu terucap dihati dan doa kepada-Nya, untuk dapat bertemu dan berkumpul dengan keluarga beserta kekasihnya diakhirat nanti.
"Selamat jalan, Abang. Sampai bertemu disisi lain"