
"Nona Adelia! Kapten Edward dan Ibu terpisah dari pertempuran!!" kata Umar.
"Apa!? bisa gawat kalau begitu terus! apalagi kalau Chandra sampai mendapatkan kekuatan kutukan Pandora dari Pangeran Andika, Erika yang anti akan matahari dalam kutukan Fujiwara! dan kotak Pandora! maka dia akan jadi sangat kuat! karena hanya menunggu terbitnya matahari itu Chandra bisa musnah!" kata Adelia.
"Kalau begitu... saya akan meminta Erika untuk mundur dari pertempuran!" kata Amir.
"Ya!" kata Adelia.
Tiba-tiba ada yang memegang lembut kedua bahu Amir.
Biarkan saja Erika... kau harus percaya pada adikmu, Chandra takkan mendapatkan apapun yang dia inginkan.
Amir terbelalak.
"Tidak, saya membatalkan niat saya, kita biarkan Erika tetap di medan pertempuran" kata Amir.
"Apa!? apabila Chandra mendapatkan Erika, maka habislah sudah!" kata Adelia.
"Apa yang kau pikirkan, Amir!?" tanya Umar.
"Iya, tapi... Ayah mempercayakan hal itu, dan membiarkannya pergi" kata Amir sambil menangis.
Di Dimensi astral...
Amanda terbelalak melihat putranya.
"Andika..." gumam Amanda dan menaruh tubuh Andika dan memegang kepala anaknya.
"Apa... yang kau lakukan padanya, Chandra!?" tanya Amanda.
"Aaa.... ah... " Andika memaksa bernafas.
"Andika?! kau... syukurlah" kata Amanda.
Amanda merogoh tas pinggangnya.
"Aku punya obat dari Pak Randi sebelum kemari, ini obat ampuh yang dititipkan Nyonya Bella pada Pak Vandro. Namun Pak Vandro memberikannya pada Pak Randi. Ini obat yang dapat meredakan penetralan Kutukan Pandora dari ambisi Pandora" batin Amanda yang menaruh Andika di pangkuannya dan pelan-pelan memasukkan pil itu ke mulut Andika.
"I... bu... maaf... kan... aku... aku... tidak... bisa... ber... gerak... ka... rena... terinfeksi.... darah... Chandra" lirih Andika dengan terbata-bata.
"Biarkan... aku... di... sini... I... bu... harus... membantu... Kak Rahmat... dan... Kak... Vanora..." kata Andika.
"Kau yakin baik-baik saja?" tanya Amanda.
"Aku... juga... tidak yakin... soal itu... namun... sepertinya... akan... ada... efek obat... yang... tengah... menetralisir... darah... Chandra... biarkan... aku... disini... untuk... menyiapkan diri... aku mohon" bisik Andika.
"Baiklah kalau begitu. Para pasukan, prajurit yang tersisa, tim medis bersama Pak Vandro akan segera sampai ke medan pertempuran. Kumohon jangan memaksakan diri, pulihkan dirimu dengan benar" Jelas Amanda.
"Iya... maaf... jika... aku... menjadi... beban... untukmu... " lirih Andika lagi.
Amanda memeluk Andika.
"Istirahatlah dengan benar, jangan memaksakan dirimu, hindarilah pertempuran sampai kau benar-benar pulih. Jika kau masih merasa terus memburuk, mundurlah dari perang, pergilah ke portal Dimensi untuk ke dunia nyata. Apakah kau bisa mendengarku?" tanya Amanda yang memeluk Andika dengan berbisik.
Andika melihat Ibunya dengan pandangan nanar kunang-kunang.
Andika memejamkan matanya sambil menangis, terbesit dipikirannya sudah berapa lama? ia tak merasakan pelukan hangat itu?.
"Baik... "
Di sisi lain, Vanora dan Rahmat terluka.
Vanora akan terkena hantaman Chandra.
"Vanora!!" seru Rahmat.
"Jangan khawatirkan aku!" kata Vanora.
TRANG!! Tiba-tiba ada yang menepis serangan Chandra.
"Eh?" tanya Vanora.
"Maaf, aku terlambat" kata Elena.
"Dia adalah Pilar yang mengalahkan S" batin Chandra.
Ada pedang yang menebas Chandra dari atas ke bawah, tapi karena regenerasi Chandra, tidak ada luka sama sekali pada Chandra.
Dan ternyata itu adalah pedang ini Toni, Toni melemparkan beberapa botol cairan pada Chandra.
Dan tubuh Chandra langsung terbakar.
"Serangan yang licik!" kata Chandra.
"Hal yang seperti ini patutnya kurang untukmu! kau harus mendapatkan yang lebih lagi!" kata Toni dengan marah.
Amanda masih memeluk Putranya, tapi untuk saat ini dia harus tahu kalau dia sedang ada di tengah-tengah pertarungan.
"Eh? Wira!" panggil Amanda.
"Ra... Ratu Aliana!? bukankah anda-.... " belum selesai Wira bicara.
"Tolong jangan seperti itu dulu Wira! ceritanya akan sangat panjang! tolong titip Andika! rawat dia!" kata Amanda.
"Ba... baik!"
"Wira dengar! jika kau bertemu David dan Nisa... "
Setelah Amanda memberitahu rencana pada Wira, akhirnya menyusul ke area perang.
"Andika! tolong bertahan!" kata Wira.
"Nisa... David, semoga kalian cepat kemari" batin Wira.
Di alam bawah sadar Andika...
"Dimana... ini? aku tidak bisa memegang apapun, semuanya tembus" kata Andika.
"Eh? ada seseorang di sana" kata Andika dan mendatanginya.
"L.. Lho!? bukankah itu... Kakek!? Ayahnya Ibu!?" tanya Andika melihat kakeknya sedang mengajak bermain Andra saat masih kecil.
"Jadi, aku hanya melihat penerawangan ini saja? apakah ini memori? jadi ini kakek dulu" kata Andika, dia tak pernah bertemu kakek nenek dari pihak ayah dan ibunya.
"Istana juga sedikit berbeda" kata Andika lagi.
"Andra! haha! ayo sini!" kata Arif.
"Iya yah!" Andra berumur 8 tahun saat itu.
"Paman lucu juga" gumam Andika.
"Eh? yah! itu!" tunjuk Andra pada seseorang.
Andika ikut berbalik melihat apa yang di tunjuk Andra.
"Eh!? apakah itu... Akira-san!? Kitagawa Akira!? yang katanya dia tak pernah membenci Fujiwara maupun Hasegawa!? dia juga dikenal sebagai orang dengan tingkat berpedang terkuat! apakah dia... termasuk kerabatnya Kakek?" tanya Andika.
"Jadi begitu ini adalah kenangan lama" gumam Andika.
Di Dimensi astral...
"Andika! sadarlah! aku mohon!" kata Wira.
"Aku tidak bisa mendengar detak jantungnya Andika! apakah detak jantungnya sudah berhenti!? aku tidak tahu karena detak jantungku benar-benar keras!" batin Wira.
"Wira!" panggil seseorang.
"Innalillahi!!" seru Wira.
"Aku senang kau selamat! Nisa sedang mengobati lukanya! ayo! kita bawa Andika pada Paman Vandro! dia hebat sekali menangani luka para pasukan!" kata David.
"I... iya!"
Di alam bawah sadar Andika...
"Sudah lama ya, sekitar dua tahun.. bahkan setelah Andra berusia 5 tahun saat terakhir kali kamu berkunjung kemari" kata Arif.
"Benar, lagipula... jalur keluar masuk dari Kitagawa lumayan sulit, apalagi... pasti aku akan dihukum jika ketahuan membela Fujiwara dan Hasegawa" kata Akira.
"Kau benar Akira-san, aku cukup masih heran kenapa kau mau berteman denganku yang titisan Hasegawa, dan istriku yang seorang Fujiwara utama" kata Arif lagi.
"Huft... aku sebenarnya juga penasaran, kenapa Kitagawa tersesat oleh cerita turun temurun" kata Akira.
"Eh? apa maksudnya?" tanya Arif.
"Ternyata... Fujiwara dan Hasegawa sama sekali tidak berbahaya, itu semua hanya karena ingin memendam dalam cerita sebenar Perang Kehancuran Dunia Astral pertama" jelas Akira.
Andika terkejut, begitu juga Arif.
"Ngomong-ngomong... anakmu yang kedua 2 bulan yang lalu telah lahir ya?" tanya Akira.
"Benar, namanya Aliana Jahzara Ameera... di klan namanya adalah Fujiwara Yumna" kata Arif.
"Begitu, aku turut senang akan kelahiran Putrimu" kata Akira.
"Jangan terlalu formal begitu Akira-san, usia kita hanya berbeda 3 tahun kan?" tanya Arif.
"Begitu ya"
"Kudengar... istrimu berasal dari Fujiwara juga ya?" tanya Arif.
"Benar, dulu... di saat aku bertemu dengan seorang Kitagawa bernama Kitagawa Masahiro teman kakekku, dia bergabung pada sekte sesat sejak ratusan tahun lalu setelah membunuh kakek dan keluargaku" kata Akira.
"Dan dulu saat masih kecil berumur 7 tahun, aku kehilangan keluargaku... dan bertemu seorang gadis kecil seumuran denganku dari Fujiwara bernama Misora, dia berkata kalau keluarganya dibantai oleh Kitagawa" kata Akira.
"Dan akhirnya aku menceritakan kalau aku ini dari Kitagawa, dan dia sama sekali tak ketakutan, dia bilang kalau dia menganggapku teman, dia bilang kalau aku tidak seperti anggota Klan Kitagawa yang membunuh keluarganya, aku akhirnya menjelaskan kondisiku yang kehilangan keluargaku akibat penganiayaan sesama Klan, karena keluargaku adalah satu-satunya bagian Kitagawa yang mengetahui cerita asli tentang Perang Kehancuran Dunia Astral pertama" jelas Akira.
"Apa!?" tanya Arif.
"Ya, dan Kitagawa yang mengetahui faktanya dijuluki oleh Kitagawa pemberontak, keluargaku di eksekusi sedangkan aku satu-satunya yang selamat" kata Akira.
"Akhirnya aku mengajaknya untuk tinggal bersama di rumah rahasia peninggalan Ayah yang jauh dari pemukiman warga dan jauh dari perkotaan, yang disediakan apabila saat-saat terdesak. Aku dan Misora layaknya bunga dan tangkainya, mata Misora bagaikan batu obsidian yang berkilau" kata Akira.
"Disitu, untuk pertama kalinya aku tidak merasa seperti orang asing yang dibenci, Misora... adalah gadis yang selalu bicara sepanjang hari, dia bagaikan alunan musik indah dan merdu yang tidak pernah berhenti bersuara, dia terus menggenggam tanganku layaknya layangan yang sobek, dengan genggamannya itu, itu seperti menyambung kembali tali layangan tersebut" jelas Akira.
"10 tahun kemudian... kami berdua menjadi sepasang kekasih, kami hidup bahagia meski berdua, dan akhirnya Misora mengandung anak pertama kami, kami memutuskan untuk tidak ingin membuat anak kami menyandang marga Kitagawa maupun Fujiwara" jelas Akira.
"Kenapa?" tanya Arif, sedangkan Andika hanya mendengarkan.
"Karena aku ingin anakku mengambil jalannya sendiri, dan tidak terlibat akan masalah keluarga Ayah maupun Ibunya" kata Akira.
"Dan pada saat dimana Misora mendekati masa kelahiran anak kami... aku mencari bidan, dan tapi dalam perjalanan... aku mendapati masalah karena adanya makhluk astral abnormal"
"Dan aku memberantas makhluk astral itu, setelah itu ke tempat bidan dan bidan berkata kalau dia akan sampai esok hari, aku buru-buru pulang ke rumah" kata Akira.
"Tapi saat aku sampai ke rumah... Misora dan bayinya sudah tewas, karena ternyata... ada kelompok dari Klan-ku yang menewaskan Misora dan bayinya karena mengetahui Misora seorang Fujiwara" kata Akira.
Arif tanpa sadar langsung merinding dan berkeringat dingin. Jujur meski ia titisan Hasegawa, ia tak pernah melihat pembantaian sebenarnya. Dari mendengar cerita Akira saja, sudah bisa ia bayangkan betapa tragis dan sadisnya pembantaian Kitagawa terhadap Fujiwara, Clarke, dan Keluarga Hasegawa.
"Aku sangat syok dan terpaku memegang tubuh istri dan putraku selama 10 hari, seorang pasukan pemberantasan yang mengikuti jejak merasa menyesal karena tak bisa berbuat apapun"
"Mimpiku... adalah hidup bahagia dengan tenang bersama keluarga kecilku, dimana wajah dari orang yang kucintai bisa ku lihat dari dekat, menggenggam tangan mereka erat-erat" kata Akira.
"Aku akhirnya menjadi pasukan pemberantasan di saat kepemimpinan Lord Fourth" kata Akira.
"Beberapa waktu setelah itu... aku akhirnya bertemu dengan seseorang alias induk ketiga setelah Kitagawa Pascal dan Kanjeng Nyai Bestari, di saat aku melihatnya... aku akhirnya mengerti kalau aku dilahirkan untuk menghabisi orang itu" kata Akira.