
Pasha ke lokasi perang saat Edward sudah pergi duluan.
Pasha melihat area perang porak-porandakan, akhirnya ia melihat Andika yang pingsan menerima pengobatan lalu bertemu dengan Vandro dan Vandro menceritakan insiden sebelum Pasha ke lokasi perang.
Beberapa waktu yang lalu...
Perang sudah berakhir.
"Andika... dimana? dimana dia?" tanya Amanda sambil memegang lukanya.
"Yang Mulia! disini!" kata pengawal.
Amanda terbelalak melihat Andika yang kehilangan satu tangannya karena radiasi Chandra masuk dan menghancurkan sel-sel tangannya.
Sebelum sempat Amanda memenggal kepala Chandra, Andika sempat menarik semua sel-sel Chandra ke tangannya menggunakan kekuatan kutukan Pandora. Namun sialnya, Andika malah kehilangan tangannya.
Andika duduk kaku tak bergerak sama sekali sambil menunduk, tubuhnya terasa dingin, dia kehilangan banyak darah.
Amanda tertekuk lutut dengan syok sambil mengecek denyut nadi Andika.
"Yang Mulia, kami bisa mengambilkan peralatan medis!" kata Pengawal.
"Pengawal" kata Amanda dengan menunduk.
"I... iya, Yang mulia?" tanya Pengawal.
"Kain yang kau pegang itu, tolong selimutkan pada Andika" kata Amanda.
"Eh?" tanya Pengawal yang memegang stok lipatan kain putih sepanjang selimut untuk korban yang telah tewas.
"Andika... dia terasa... agak dingin" kata Amanda sambil tersenyum dipaksa.
"Yang... Yang Mulia... " Para pengawal dan tim medis menangis mendengar hal itu.
"Andika... kau begitu kedinginan karena sangat kelelahan ya? kau terlalu senang karena perang selesai sampai-sampai denyut nadimu tidak terasa ya? aku... benarkan? kau... tidak pergi kan? kau hanya sedang senang kan?" tanya Amanda dengan wajah dipaksakan tersenyum dengan bergetar.
Amanda memegang tengkuk belakang Andika dan menyatukan dahi Andika dengan dirinya.
"Kau sudah berusaha dengan sangat baik. Ayahmu pasti bangga sekali" bisik Amanda.
Edward dengan wajahnya yang diperban dan diobati Meghan sebelumnya, dan pakaiannya yang penuh dengan simbahan darah, membendung air matanya dengan penuh penyesalan sembari mengepalkan tangannya karena dia terlambat datang.
Di alam bawah sadar...
Chandra dengan perasaan sangat syok memandang Andika karena selnya ada di tubuh Andika.
"Kitagawa Kenzo, kau adalah harapan terakhirku. Zeydan tidak akan bisa untuk menjadi inti keduaku. Jadilah Raja iblis, karena kau adalah kakak kandung Kitagawa Yuna, kau bisa menaklukan matahari untukku" kata Chandra yang selnya mulai mengambil alih pikiran Andika.
"Karena itu, bersamaku... bantulah aku..."
****
".... hancurkanlah para pasukan pemberantasan itu"
Andika tiba-tiba membuka matanya, pupil mata Andika berbentuk vertikal merah seperti kucing.
"Eh!? Andika?" tanya Amanda.
Edward berada di belakang Amanda.
Andika tiba-tiba meregenerasi tangannya dengan sangat cepat.
"Gawat!!" kata Edward.
Andika akan menebas Amanda menggunakan tangannya yang menjadi tajam.
Edward langsung menggendong dan membawa Amanda menjauh dari Andika.
"Andika, ada apa dengannya?!" tanya Amanda.
Edward mengaktifkan Silent-nya.
"Chandra itu! dia merasuki Andika dengan memasukkan sel-selnya! jika saja aku terlambat 0,1 detik saja tadi, dia pasti sudah membunuh Yumna dengan keji!" batin Edward.
Chandra yang merasuki Andika melihat matahari terbit.
"Aargh!!! matahari! arrgh!!" kata Andika yang wajahnya mulai terbakar meleleh.
"Menjauh darinya!!" kata Edward sambil melindungi para pengawal.
"Bagi kalian yang masih bisa bergerak, ambil senjata kalian! lalu berkumpul bersama!!" teriak Edward.
"Andika... " gumam Amanda sambil menangis.
"Seseorang membuat keributan?" tanya Wira yang berada jauh.
"Andika berubah menjadi Iblisl!!! seret dia ke cahaya matahari agar dia mati!!!" Perintah Edward dengan berteriak.
"Bunuh dia sebelum dia membunuh seseorang!!!" teriak Edward.
Andika akan berlari untuk menuju tempat yang tidak terkena matahari.
Edward mencegahnya.
"Takkan kubiarkan kau menuju bayangan! matilah selagi Chandra selemah ini! Andika!" batin Edward.
DUAK!! Andika meninju leher Edward.
"UHUK!!!" Edward begitu kesakitan.
"GKKK! AHKK!!" Tenggorokan Edward terluka karena tinjuan Andika dan membuatnya muntah darah.
Andika akan menebas Edward.
TRANG!!! David datang dan menebas tangan Andika sebelum Andika sempat menebas Edward lalu tangan Andika yang ditebas tadi meregenerasi kembali.
"Apa yang terjadi padamu, kawan!!? dia adalah Kapten pasukan pemberantasan!! Pilar pedang! sekaligus saudaranya Ibumu! sadarlah! hei!" kata David.
"Sadarlah, Andika!!" Seru Wira yang dibopong oleh seorang pengawal.
"Pantas saja Andika tidak terbakar matahari lagi! itu karena Andika pemegang kutukan Pandora! alasan kenapa Chandra ingin mengambil Pandora adalah untuk membebaskan Bestari dan menjadi anti matahari kalau misalkan dia tidak berhasil mendapatkan Yuna!" batin Edward.
"Kita tidak bisa bertarung lagi, bagaimana ini? bagaimana dengan Ibumu, Andika?" tanya Wira sambil menangis.
Andika melompat dan akan mengarah ke David.
"Andika!! berhenti!!" seru Wira.
"Kita sudah seperti saudara kandung, kita berteman dari pertama kali sekolah di SD dan SMP, tak peduli seberapa besar rintangan yang ada, kita harus menjalaninya sebagai sahabat"
Andika akan mendekati David.
"Akan ku tebas Andika! aku akan menghentikannya!" batin David.
David tiba-tiba teringat kenangan saat Andika tersenyum padanya.
David, kau boleh memakai buku milikku dulu.
Saat pedang David akan sampai pada leher Andika.
"Aku tidak bisa menebas Andika, aku salah Andika... aku tidak sanggup! karena kita adalah sahabat!" batin David sambil menangis.
Andika akan menebas David.
CTRAK!!! Ada suara cipratan darah yang menciprat ke wajah David.
Edward sampai kaget.
Amanda memeluk anaknya, sampai-sampai kedua ujung bahunya berdarah karena di tusuk oleh tangan Andika.
"Andika... maafkan Ibu, Ibu sudah membuatmu menanggung semuanya dipundak mu! kenapa Andika selalu menderita!? kenapa orang baik selalu berjuang setiap harinya? selalu ditindas lagi dan lagi! memang menyebalkan, tapi sebagai Ibumu aku tidak akan menyerah!" kata Amanda sambil menangis.
"Semua ini hampir berakhir, jadi jangan jadi makhluk astral! ayo kita pulang... dan kita akan bersama seperti dulu" kata Amanda.
"GRAAAAR!!!!" Andika mengamuk, bahkan mencakar dalam ujung bahu Amanda.
"Ukh!!!" Amanda menahan sakit dari luka di perutnya, dan luka cakaran Andika.
"Tidak Andika!!" kata Wira yang datang sambil memeluk Andika dari belakang, sedangkan Andika terus mengamuk dan ingin dilepas.
"Dia ini Ratu Aliana!! Ibumu! dia sudah kembali! dia sekarang di depanmu! kau sendiri yang ingin Ibumu kembali kan!? jangan lakukan ini atau Ibumu bisa mati!" kata Wira sambil menangis.
BLETAK!! David menjitak kepala Andika.
"Sudah cukup, Andika!! sudah diamlah!! jangan sakiti Ibumu!" kata David.
"Kau ini... bukanlah orang yang seperti itu! kau itu orang yang sangat baik!! jadi cepatlah kembali jadi Andika yang dulu!!" seru David sambil menangis dan memukul-mukul kepala Andika.
BLETAK! BLETAK! BLETAK!
"GRAAAA!!!!" Andika langsung mengeluarkan radiasi besar, bahkan David, Wira, dan Edward terpental.
Andika langsung menelungkup dan Amanda memeluknya dan hampir terbaring.
"Jangan menyerah Andika! kumohon, Nak!" kata Amanda.
Ada tentakel yang memanjang dan akan mengenai David.
Edward langsung menebas tangan-tangan itu sebelum mencelakai siapapun.
"Dia sudah merasakan aroma darah dari Yumna tapi tak ada reaksi apapun! tidak ada harapan! aku harus membunuh Andika sebelum dia mencelakakan orang lain! kutukan Fujiwara yang ditanamkan Yumna dan darah Fujiwara milik Yumna sendiri pada Chandra tidak berfungsi pada Andika!!" batin Edward.
"Aku... harus menahan pusing ini!" batin Edward yang mulai ambruk tapi langsung mengendalikan dirinya.
Saking pusingnya Edward, ia teringat kenangan lama yang muncul kembali.
Flashback...
Amanda, Andra, Rafa, dan Erlan. menemani Edward yang berziarah ke makam ibunya.
Membantu Edward membersihkan makam, memberikan bunga dan mendoakan sang Almarhumah.
"Ibu... mereka berdua adalah keponakanmu, Fujiwara adalah marga yang kami bertiga pegang. Lain kali, kumohon kau bisa akur dengan Nyonya Mika, sehingga kau, Ray, dan kakakmu Nyonya Mika bisa berkumpul sebagai ketiga saudara" jelas Edward.
Amanda dan Andra langsung menundukkan kepala mereka.
Akhirnya sepulang dari makam, mereka duduk di taman istana di bawah pohon, mereka memang sudah berniat piknik.
"Ini dia! aku memasak bento, nasi katsu, dan nasi kebuli untuk bekal! silakan dimakan, Dasar... " kata Amanda.
"Tentu Ana, terimakasih. Edward, ayo dimakan" kata Andra sambil mengambil bento menggunakan sumpit.
"Bismillah, umm! enak sekali, Ana" kata Andra.
"Enak sekali, Amanda!" kata Erlan dengan lahap.
"Kau rakus sekali, Lan!" kata Rafa.
"Ah? umm... ah! enak sekali" kata Rafa.
"Su... sungguh? Alhamdulillah! kapten! ayo dimakan!" kata Amanda.
"Hm. Bismillah" kata Edward.
"Benar kata Hikaru, ini enak" kata Edward.
"Benarkah?! hentikan itu kalian berempat aku jadi malu! hehe! Dasar..." kata Amanda tersipu malu.
"Ya ampun, Ana" kata Andra.
"Kau juga makanlah, Yumna" kata Edward.
"Tentu. Bismillah, Umm!" kata Amanda.
Edward akhirnya makan.
"Kapten"
Edward berbalik.
"Apakah... kau masih mengingat Tante Hannah dan teman-teman yang telah berjuang bersamamu yang telah tiada?" tanya Amanda sambil menunduk.
"Ah. Ana, tidak baik seperti itu saat sedang makan" kata Andra dengan lembut.
Tuk! Edward menaruh sumpitnya.
"Ya, dan aku tidak akan pernah melupakan mereka" kata Edward.
"Bertemu Hikaru, bertarung dengan Yumna..." Edward menatap Rafa.
"Melihat kekanak-kanakannya Rafa... " kata Edward.
"Apa katamu?!!" tanya Rafa
"Itu terasa seperti baru terjadi kemarin" kata Edward sambil menunduk.
"Kelak saat aku mati, aku tidak tahu akan masuk surga atau neraka, tapi aku hanya bisa menjalani hidup ini sampai tugasku selesai. Lagipula, aku juga cukup sebal dimarahi kalian" jelas Edward.
"Jadi aku akan tetap hidup untuk melanjutkan tekad dan impian yang diidamkan oleh mereka, bersama kalian berdua, bersama yang lainnya" kata Edward.
"Ya" Kata Amanda dan Andra.
"Halah, kang Drama ( ͡° ʖ̯ ͡°)" kata Erlan.
"Setuju, bro 👍" kata Rafa.
"Berisik!" kata Edward.
WHOSSH!! Angin sejuk membuat daun-daun berterbangan dengan indah.
"Cantik ya" kata Andra.
"Ya" kata Amanda.
Edward mengambil daun yang mendarat di jilbab Amanda dengan tersenyum kecil.
"Jangan mengotori jilbab yang diberikan Hikaru, itu mahal" kata Edward sambil memejamkan matanya.
"Te... terimakasih" kata Amanda sambil memegang pipinya dan agak tersipu.
"WEH! calon bini gw!" kata Erlan.
"Oi, Edward!" kata Rafa.
Amanda dan Edward berbalik.
"Aku juga dong! lihat nih daun-daun di kepalaku!" kata Rafa dengan semangat, sedangkan Erlan jijik dengan kelakuan Rafa.
"Itu sih kau sendiri yang pasang" kata Edward dengan datar.
"Kau menyebalkan!!" seru Rafi kecewa.
"Bodoamat"
"Haha" Andra tertawa kecil.
"Kapten, apa boleh aku meminta daun yang kau pegang?" tanya Amanda.
"Boleh saja sebenarnya, tapi kau ini aneh, bukankah banyak disini?" tanya Edward.
"Aku hanya mau yang Kapten ambil" kata Amanda sambil menengadahkan tangannya.
Edward akhirnya memberikannya.
"Terimakasih, akan kusimpan, meskipun hanya daun, ini adalah kenangan yang amat berharga" kata Amanda sambil tersenyum.
Andra tersenyum melihat keakraban Adik dan adik sepupunya, sedangkan Edward hanya agak tercengang melihat Amanda pertama kalinya tersenyum lembut, tapi Rafa dan Erlan kaget melihat itu.
"Edward!! aku juga dong!!" seru Rafa dan Erlan.
"Ck! kalau untuk Hikaru dan Yumna aku beri secara khusus! tapi kalian ambil saja yang ditanah!" kata Edward.
"Kejam!!" seru Rafa dan Erlan kecewa, sedangkan Amanda dan Andra hanya tersenyum.
"Haha! ya ampun kalian berdua ini" kata Andra.
"Dengar, ada yang ingin aku katakan" kata Amanda sambil menunduk.
Perhatian mereka langsung intens tertuju pada Amanda.
*****
VWOSSH!!! Tiba-tiba ada serangan bola astral, yang dikumpulkan Andika dari mulutnya untuk menyerang Edward.
"Kumohon jangan membunuh siapapun! Ibu mohon Nak! kau harus berhenti!" kata Amanda sambil meletakkan tangannya di mulut Andika.
JDUAR!!! Alhasil bola astral itu tidak mengenai siapapun.
"Yumna!!!" teriak Edward.
Tangan kiri Amanda langsung berdarah karena menahan serangan.
"Pusing ini!!! menghalangiku!" batin Edward sambil memulihkan pandangannya.
*****
"Apa yang ingin kamu katakan?" tanya Erlan
"Setelah kita berhasil mengalahkan semua organisasi dan sekte sesat yang mengancam keselamatan manusia, mari kita mundur dan menjalani hidup dengan damai tanpa adanya masalah seperti itu" jelas Amanda.
"Kehidupan kita dulu sejak kecil mungkin tidak sebaik Rafi, atau bahkan tidak sebebas kak Rafa sekarang, karena kita lebih fokus untuk mencari kebenaran hidup kita yang sebenarnya. Hal itu membuat kita menyadari kalau kehidupan kita dulu yang terus mencari kebenaran... tidak akan pernah kembali" jelas Amanda.
"Namun, karena Allah telah memberikan kehidupan ini sebagai bekal dan persiapan, marilah kita jalani hidup ini bersama, dengan bahagia dan damai bersama-sama"
"Meski salah satu diantara kita nanti tiada, jangan merasa terlalu sedih tetaplah hidup damai dan bahagia seperti serasa saling melengkapi" kata Amanda sambil tersenyum.
*****
"Menyingkir Yumna!! Kenzo! kumohon berhenti!!" seru Edward dengan histeris.
"An... dika..." gumam David yang terluka.
"Ada yang aneh disini, kenapa Andika tidak berhenti?! padahal darah Amanda tepat mengalir di depannya! apakah... kau berusaha melawan Chandra, Andika?" batin Vandro.
"Chandra! meski dia sudah matipun! dia masih saja mengganggu orang yang hidup, aku tidak bisa membantu karena aku harus mengobati Toni! dia terluka parah sekali!" batin Vandro dengan panik.
Nisa berjalan tertatih-tatih.
"Andika, tante Amanda... " gumam Nisa.
"Aku sangat sedih melihat kalian berdua" kata Nisa.
Flashback...
"Nisa, kau bisa mengambil ini, ini adalah obat ketiga untuk mengubah makhluk astral/subjek Pandora menjadi manusia, ada campuran darah Fujiwara didalamnya, mungkin juga bereaksi pada Kenzo, kau hanya perlu mencari Morph-x nya saja, ini buatan Guruku, aku menghormati beliau, jadi gunakan itu sebaik mungkin" jelas Meghan sambil memberikan serum suntikan.
Flashback Off..
Nisa menggenggam serum yang sudah ia campur dengan Morph-x dari Erika dan Pasha, dia juga ingat, bagaimana Amanda mendonorkan darahnya, dan menimbulkan dirinya mempunyai radiasi Silent tapi bukan Silent.
"Tante Amanda... jadi inilah alasan kenapa aku mempunyai radiasi Silent" kata Nisa dan mengaktifkan radiasi nya untuk melawan radiasi Chandra dari Andika.
"Baiklah... " Nisa akhirnya berlari dengan cepat ke arah Andika.
"Eh!? kakaknya Zeydan!?" batin Edward.
Nisa bergerak cepat, Andika langsung menebas area kanan-kiri tulang belikat Nisa.
Tepat waktu, Nisa menyuntikkan serum pemulih itu pada Andika.
"Sudah cukup Andika, kembalilah pada kami... kau tidak seharusnya membuat Ibumu menangis" kata Nisa sambil menangis.
"Ibu!?"
Di alam bawah sadar Andika...
Andika tengah terdiam sambil terbaring syok.
"Kau akan menjadi yang terkuat jika menyatukan kekuatan denganku, Kitagawa Kenzo. Ayo, buatlah perjanjian denganku" kata Chandra yang menghasut.
Karena Andika yang semakin melemah, ia mulai mengikuti Chandra tanpa sadar.
"Andika"
Andika berbalik dan terbelalak.
"A... Ayah.. " Andika menangis.
"Bangunlah, sadarlah, jangan biarkan keegoisan dan kejahatan Chandra mempengaruhi dirimu" kata Erlan.
"Aku... tidak... hiks.. tahu caranya... hiks... bagaimana ini? hiks... " lirih Andika yang melemah.
"Kau, selama ini berjuang demi kedamaian, supaya semua orang bisa hidup dengan bahagia. Kau harus mengutarakan semua isi hatimu, dan keinginan yang kau pendam selama ini. Itu akan membuatmu kuat dan bertekad" kata Erlan.
"Aku... tidak memerlukan kekuatan... Ya Allah, aku hanya ingin bisa berkumpul... dengan keluargaku lagi. Engkau telah mengizinkan Ibuku masih hidup, kumohon... biarkan aku dan Yun-chan adikku pulang... ke tengah-tengah keluarga kami. Aku mohon" rintih Andika.
Bagaikan doanya yang terjawab, Andika tiba-tiba merasakan teriakan orang-orang diluar sana yang menyuruhnya berhenti. Dan melihat samar-samar ibunya berusaha keras menghentikannya, dan Nisa yang mulai ambruk karena diserang olehnya setelah berusaha menyuntikkan serum penyembuh padanya, dan Ayahnya yang tersenyum bangga dan perlahan menghilang.
"Aku... selalu ingin ini semua berakhir, dan aku hanya ingin satu hal, yaitu berkumpul bersama keluargaku" batin Andika.
Basa-basi dan Fakta 😋
Meghan tidak bisa akur jika sedang berhadapan dengan Vandro, jadi bisa dibilang jika mereka berdua menjadi partner, maka seakan-akan seperti ibarat antara Air dan Minyak, takkan pernah tercampur alias takkan pernah akur.