
"Kau bilang... kau mendengar suara Chandra?" tanya Ratri.
"Iya, benar... saat itu saya langsung gelisah dan melihat sekeliling ruangan karena berpikir kalau Chandra ada di markas tapi tidak... mungkin karena Chandra telah menerima kutukan Fujiwara juga" kata Erika.
Ratri mengerutkan keningnya.
"Lalu suara Chandra berhenti bergeming saat saya gelisah dan detak jantung saya melebihi 160 bpm" kata Erika.
"Tidak sampai 200 bpm seperti yang di alami Ersya, apakah ini karena kutukan Fujiwara? bukan karena kemunculan tanda ninja?" batin Ratri.
"Erika, sebelumnya Mohon maaf karena saya tidak punya wewenang untuk memberitahu lebih lengkap tentang Kutukan Fujiwara yang ada di diri kamu, saya hanya bisa memberitahu beberapa hal yang sesuai wewenang saja" kata Ratri.
"Baik"
"Pertama, mungkin karena kutukan Fujiwara itu sama jenisnya, karena kutukan Fujiwara yang sama antara teknik untuk memberikannya, ada juga yang lain teknik pemberiannya tapi sama secara ikatan batin" jelas Ratri.
"Chandra dan kamu mungkin menerima kutukan Fujiwara dengan jenis yang sama sampai-sampai kalian bisa terhubung satu sama lain itupun tak selalu terjadi atau bisa dibilang kadang-kadang" jelas Ratri.
"Makanya mungkin kamu jadi kaget lantaran mengira Chandra ada di markas tapi tidak, mungkin ikatan kutukan itu tiba-tiba aktif karena suatu hal... apa sebenarnya yang sedang kau khawatirkan Erika?" tanya Ratri.
"Saya... tidak sedang mengkhawatirkan apapun, hanya saat mendengar suara Chandra langsung terbesit berpikir pada Kak Andika dan juga Zayn" kata Erika.
"Begitu ya, kuharap ini membantu, terimakasih atas partisipasinya, Erika" kata Ratri.
"Tentu"
Di kamar Andika...
"Yun-chan agak pusing ya? hmf, kasihan" kata Andika.
"Aku perlu ngabarin Ibu sama Ayah dulu deh" kata Andika sambil memegang kertas untuk menyerahkannya pada burung gagak agar dikirimkan.
Andika akan menulis dan tiba-tiba tersadar.
Tes... Tes... air mata Andika menetes dan mengalir deras hingga membasahi kertas di depannya dan mengingat percakapan Ayah dan Ibunya di telepon dulu.
Eh? Erika sakit? ya sudah, nanti Ayah segera pulang ya.
Andika, sebelum kami pulang, minta kan kepada pelayan untuk membuatkan bubur buat adikmu ya, Ibu akan pulang secepatnya
"Hiks... Hiks.... " Andika menangis tak bersuara.
"Aku lupa... sampai kapanpun aku mengirimkan surat, menelpon, dan mengirim pesan pada mereka, mereka takkan pulang, mereka takkan pulang!! karena mereka sudah pergi" batin Andika yang duduk menekuk lutut sambil menaruh tangannya di atas lututnya sambil menangis.
Ada yang menaruh tangan di kepala Andika, Andika menengadahkan kepalanya.
"Akhirnya, nangismu bisa lepas ya?" tanya Ersya.
"Paman... " gumam Andika.
"Kau harus tahu, apapun yang pergi itu takkan pernah bisa kembali lagi walaupun sekali, kau mungkin tertekan, ini mengingatkanku saat orang tuaku tiada saat aku berusia 5 tahun" kata Ersya.
"Menangis saja, tidak usah ditahan, jangan sok kuat meski kau kuat, manusia pasti punya emosi" kata Ersya.
"Ukh.... hiks! hiks! ini salahku" kata Andika.
"Tidak ada gunanya merenungi hal itu, setidaknya kau masih punya peluang karena jasad mereka belum ditemukan, itu berarti kau hanya bisa berdoa hal baik akan terjadi, kau tidak sebatang kara" kata Ersya.
"Sekarang, temui Erika" kata Ersya.
"Hiks... baik!!" Andika masih heran, gara-gara ulahnya... Ibu, Ayah, dan Pamannya tiada, tapi dia tak dibenci sama sekali.
"Itu bukanlah salahmu, ini salahnya Chandra, ok?" tanya Ersya.
Andika hanya terdiam.
"Paman benar... aku tidak sebatang kara" batin Andika.
Ersya menatap punggung keponakannya yang perlahan pergi.
"Saat mendengar kematian kak Erlan, Kak Ana, dan Kak Andra, semuanya menangis... tapi hanya kau dan aku yang tidak, mungkin kau bisa melepaskan tangisan itu sekarang Andika" batin Ersya.
"Ya ampun kak Erlan... putra sulungmu ini, mirip sekali denganmu" batin Ersya sambil meneteskan air matanya.
"Aku ada usul" kata Rahmat.
"Kita takkan tahu kapan Chandra Nagata akan menyerang, entah secara besar-besaran ataupun tidak entahlah, jadi ada baiknya kita duduk dan membahas ini terlebih dahulu tidak masalah, bukan?" tanya Rahmat.
Akhirnya mereka duduk.
"Saat dalam misi, ada baiknya mungkin kita akan memunculkan tanda ninja di misi masing-masing semampu kita, dengan begitu kita juga bisa menetralkan kekuatan dan tenaga kita akan menjadi seimbang dengan bangkitnya tanda ninja itu" Jelas Rahmat.
"Itu tidak akan gampang, kau sudah mendengar penjelasan dari Ersya tadi kan?" tanya Elena.
"Itu benar, dia mungkin mendapatkan siklus tanda itu karena tekanan dan banyaknya energi yang terkuras karena pertarungan, tapi... apabila kita terus melawan tekanan dalam diri mungkin kita bisa membangkitkan tanda ninja saat itu juga" Jelas Rahmat.
"Baiklah, aku akan mengajukan permintaan pada Lord Fifth, untuk melakukan seleksi pemeriksaan Kutukan Pandora pada Andika dan Zeydan terutama pada Andika, karena dia mempunyai Tanda Ninja sejak dia lahir" jelas Elena.
"Mau bagaimanapun juga itu takkan gampang" kata Meghan.
"Apaan!? gampang sekali malah!!" seru Toni.
"Aku selalu iri dan heran pada orang bodoh yang mengatakan ini hal yang mudah" kata Edward.
"Kau mengatakan sesuatu lagi!?" tanya Toni dengan kesal.
"Bukan apa-apa" kata Edward.
"Apakah... Pilar-Pilar sebelumnya berhasil memunculkan tanda?" tanya Vanora.
"Apa maksudmu?" tanya Ersya.
"Bisa jadi pertarungan yang pernah para Pilar sebelumnya alami pernah berpotensi atau bahkan ada yang pernah memunculkan tanda ninja itu kan!?" tanya Vanora.
"Itu masuk akal, akan ku tanyakan pada Ketua Nera nanti" kata Toni.
"Aku akan meminta Vandro menanyakannya pada Mama" kata Vanora.
"Vanora... tolong titip salamku pada guru ya" kata Meghan.
"Ya!" kata Vanora.
"Aku ingin menemui pengawal pribadinya Andra, Radith" kata Rahmat.
"Kita akan mengakhiri perbincangan sampai sini saja" kata Edward.
"Huh! kau terlalu dingin! apakah tidak bisa kau tersenyum walaupun tipis?" tanya Toni.
"Aku hanya pernah tersenyum pada Empat orang, yang sudah tiada sekarang" kata Edward sambil pergi.
BLAM! pintu di tutup.
"Toni, maklumi dan pahami saja Edward" kata Meghan.
"Apa? memaklumi dan memahami si es batu itu!? jangan harap! aku bahkan heran pada orang-orang yang pernah di senyumi olehnya! kok bisa-bisanya orang-orang yang pernah disenyumin olehnya itu mau berteman dengannya!" kata Toni.
Edward berjalan terus berjalan melewati koridor dan mendengar ucapan Toni.
"Ya, kau benar Ton... meski begitu, merekalah yang telah menemukan senyumanku, akan tetapi mereka berempat sudah tiada sekarang. Mereka juga bisa melihat sesuatu yang tak bisa kulihat! Jadi sebaiknya kau jangan pernah mau memahamiku!" batin Edward dengan kesal.
Basa-basi dan Fakta 😋
Toni dan Edward selalu berselisih dan tak pernah akur, Toni akur kepada semua Pilar kecuali Edward.
Edward tidak banyak bicara pada Pilar-pilar lainnya, dia hanya banyak bicara pada Farel, Meghan, dan Arsya.
POV EDWARD!
"Without you here, everything feels meaningless and boring"
"Even though people laugh at me, if i'm lonely then i'm lonely"
"I want to repeat the past with you, where all memories always shine"