Between Curse and Peace

Between Curse and Peace
Season 4 Episode 33 : Bond between sib



Elena dan Toni akan menebas kepala S.


S yang tubuhnya berakar langsung mengerahkan kekuatannya dan terlepas dari akar, dan bersamaan dengan itu dia melakukan jurus tebasan.


Elena terkena tebasan dan terdorong jatuh ke belakang, sedangkan Toni terjatuh akibat terkena tebasan.


SRAK!! Tubuh Ersya dari paras pinggang ke bawah tertebas dan terpisah dari tubuh atas.


CPLASH!! Tubuh Doni terbelah dua.


Tiba-tiba muncul di tubuh S besi-besi yang menancap.


"Kenapa... ada pedang di dalam tubuhku!? aku bahkan tak bisa menggerakkan tubuhku!" batin S.


"Padahal Jurus Pandora Doni harusnya berhasil! dan peluru yang terserap ke tubuhnya harusnya membuatnya lumpuh! ini buruk! ukh... aku sekarat! padahal kami baru saja memojokkannya! ini buruk, bagaimana aku bisa membantu mereka apabila aku mati!?" batin Ersya yang terus menekan masuk pedang beraliri listrik ke tubuh S di samping ujung bibirnya yang mengeluarkan darah.


"Akan ku lindungi... aku akan melindungi mereka" batin Doni yang tubuhnya terbelah dua.


"Gawat! kak Elena dan Toni akan bertarung sampai mati! aku tidak boleh membiarkan mereka mati! kami masih harus melawan Chandra! aku akan lindungi mereka berdua! bagaimanapun juga! serangan selanjutnya akan dilontarkan! jika aku tidak melakukan sesuatu... sebelum... aku... mati" batin Ersya dan mengumpulkan tenaga terakhirnya dan menekan masuk pedangnya ke tubuh S.


"Pedangnya memerah!? apakah karena ada reaksi Turquoise!? gawat! tubuhku sakit semua!" batin S saat melihat pedang Ersya.


"Jurus bela diri!! Ninja Ken!" Toni menggunakan jurus bela diri pedang dan mengerahkan tenaganya untuk menebas leher S yang benar-benar keras.


"Mereka masih di sana... peluru pistol yang ku campur dengan Morph-x juga darahku... ada di tubuh si S, dia terlalu terpaku akan mereka semua dan melupakan aku, aku harus memanfaatkan kesempatan ini" batin Doni saat melihat S.


"Jurus Pandora... teknik alam" gumam Doni.


KRAK!! Tiba-tiba tubuh S berakar lagi.


"Tubuhku berakar lagi! akan ku bereskan orang yang terbelah dua itu!" batin S.


Elena langsung menekan Bintang Paginya ke tengkuk S, memaksa untuk terpenggal.


"AAAARRGH!!" Seru Toni yang juga menekan pedangnya.


CPLASH!!! Akhirnya leher S berhasil tertebas.


Akhirnya mereka semua bisa bernafas.


Elena terbelalak melihat Toni yang pergi mengarah S yang sudah berubah menjadi abu dengan memegang pedangnya bersiap menebas.


"Toni! berhenti! cukup! Subjek Pandora itu sudah kalah! pertarungan sudah berakhir! tenanglah!" kata Elena yang menahan Toni.


Tapi Toni masih memberontak.


Elena akhirnya berhasil menenangkan Toni.


"Ersya... Doni... " gumam Elena.


"Mi... yu.. ki... san... kakak... Masahiko... san" kata Doni yang sekarat.


"Benar! kami sudah selamat" kata Elena yang menghampiri Doni.


"Masahiko-san... " kata Doni.


"Masahiko? Ersya maksudnya?" tanya Elena dan melihat Ersya.


"Aku tidak apa-apa... cepat tolong dia... " kata Doni.


"Dia masih hidup meski dalam keadaan terbelah begini? apa ini karena mutasi Subjek Pandora? tapi kehilangan banyak darah berefek bagi tubuhnya, kurasa takkan menjadi masalah dengan meletakkan Toni di sebelahnya" batin Elena sambil meletakkan Toni yang pingsan tepat di sebelah Doni.


"Ka... kak, kau masih hidup... syukurlah" kata Doni.


Elena menyelimuti adiknya yang sudah meninggal.


"Ersya... semua ini karenamu, karena dirimulah kami bisa menang, kakak benar-benar bangga padamu, kau menanamkan kebanggaan padaku dan Erlan sebagai kedua kakakmu, kau sungguh membuat kami bangga, terimakasih" kata Elena sambil menangis tenang.


Elena perlahan menutup mata adiknya.


Saat Ersya sekarat, Ersya sempat bertemu dengan Erlan.


*****


"Kak... Erlan" kata Ersya.


"Jadi begitu, rupanya aku telah mati" kata Ersya sambil tersenyum menyedihkan.


"Aku minta maaf padamu kak karena tidak bisa lanjut kembali berjuang bersama Andika dan yang lainnya... Aku minta maaf jika tidak bisa memberikan kontribusi dan perjuangan apapun" kata Ersya.


"Apa... sebenarnya keinginanmu jika kita berdua masih hidup dan kedamaian telah dicapai?" tanya Erlan dengan tegas, kaku, dan dingin.


Ersya agak kaget.


Mereka berdua terdiam, sedangkan Ersya membendung air matanya.


Puk! Erlan memeluk adiknya.


"Aku bangga padamu dan kerja kerasmu selama ini. Jujur saja, salah satu keinginanku adalah bisa berduel denganmu. Aku bangga padamu, jadi... mari kita habiskan waktu bersama dengan bercerita sepuas yang kau inginkan, adikku" kata Erlan sambil tersenyum.


Tes... Tes... Air mata Ersya akhirnya tumpah dengan deras.


GYUT!! Ersya memeluk kakaknya dengan begitu erat.


"Iya! iya! aku akan ceritakan semuanya! aku akan memberitahumu semuanya kak! iya! iya!!!" seru Ersya dengan terisak-isak.


"Iya... silakan"


"Mungkin... ini adalah momen yang paling membahagiakan buatku"


*****


Toni perlahan membuka matanya dan langsung terbelalak.


"WAAGH!!!"


Elena kaget dan berbalik ke belakang.


"Apa yang terjadi padamu, Doni!? tubuhmu mulai berubah menjadi abu seperti makhluk astral!" kata Toni yang histeris.


"Ka... Kak" kata Doni.


"Kau akan baik-baik saja! kakakmu ini akan melakukan sesuatu!" kata Toni sambil menangis.


"Kakak... maafkan aku, maaf karena aku telah... marah padamu... aku minta maaf... aku hanya... membuatmu... menderita" kata Doni.


"Kau bukan beban bagiku! tidak pernah! tolong jangan pergi!" kata Toni.


"Terimakasih telah... melindungiku selama ini..." kata Doni yang perlahan berubah menjadi abu.


"Kau katakan ini yang disebut melindungi!?" tanya Toni sambil menangis.


"Kita merasakan hal yang sama... kita ini saudara bukan? kau telah melalui masa lalu yang sulit, aku harap kau bahagia... aku ingin kau... hidup lama... karena bagiku... di dunia ini... hanya kakakku... orang yang.... paling aku sayang" kata Doni sambil menangis.


"Doni tidak!! jangan! kumohon!" kata Toni.


"Terimakasih... kakak" Doni akhirnya menjadi abu dan pergi untuk selamanya.


"Tidak!! Doni!! Arrgh!!!" seru Toni yang histeris.


"Huu.. hiks! hiks!" isakan tangisan Toni akan membuat siapapun yang mendengarnya akan menumpahkan air matanya.


"Doni... jangan pergi... kumohon... " ucapan Toni di sela-sela tangisannya.


Elena mendatangi Toni.


"Toni, aku mengerti perasaanmu, kita berdua sama-sama kehilangan adik kita disini, tapi kita harus bergegas... angkat kepalamu, semua ini tidak akan selesai sebelum Chandra dikalahkan" kata Elena yang air matanya menyesal dengan tatapan membunuh, dengan matanya yang memerah bagaikan lava.


Basa-basi dan Fakta 😋


Elena punya sikap yang peka, bahkan terhadap perasaan orang lain, bahkan ia mengetahui kalau Toni yang bar-bar itu dulu rupanya memiliki perasaan kepada Miranda Sparkle, Mantan Pilar pengintai.


Tapi, Toni memiliki perasaan kagum dan setia terhadap Nera, tapi menurut Elena, perasaan Toni kepada Nera sama dengan perasaan Toni kepada Miranda.


Daftar pekanya Elena :



Edward âž¡ Tsundere, sayang dan peduli pada kedua sepupunya, gugup jika presentasi di depan umum



2.Toni âž¡ Gak paham romansa, takut dengan suntikan, punya perasaan tapi gak bilang-bilang.


3.Meghan âž¡ punya rasa dengan Arsya, sering menggoda Edward hanya agar Edward mendonorkan darahnya yang Rh-null itu untuk di teliti, suka naik genderuwo dan buto ijo.


4.Ersya âž¡ Suka anime, gak bisa memasak, penyayang, sering bertengkar jika ketemu Rafi.


5.Rahmat âž¡ Tsundere, gak mau orang lain khawatir, marah dan kesal jika ada yang mendekati Vanora.


6.Vanora âž¡ Takut hewan berbulu, suka sama Rahmat, pengen punya adik perempuan


7.Farel âž¡ Phobia Katak, gugup saat bicara dengan orang lain, gak bisa memasak kayak adiknya, Farhan.