
"Izinkan saya untuk pergi ke tempat penyegelan kotak Pandora, sekaligus tempat dimana Mama dan Papaku tiada" kata Erika.
Pak Andi terdiam.
"Memangnya... untuk apa? bukankah Nak baru saja tiba sehari disini?" tanya Pak Andi.
"Hanya untuk mengecek saja Tuan, saya yakin ada bukti yang tertinggal disitu" kata Erika sambil menunduk.
"Tidak... "
"Ah?" Erika menaikkan pandangannya melihat Pak Andi yang sedang memperhatikan jendela.
"Nak Erika gak bisa ke sana, saya tidak mengizinkan" kata Pak Andi.
"Tapi, kenapa? apakah ada alasan yang kuat dan dapat membuat Anda melarang saya melakukan hal itu?" tanya Erika.
"Ya, ada... karena kau adalah satu-satunya anggota Klan Fujiwara melalui Ibumu sekarang, penyegelan Pandora belum sepenuhnya berhasil dan masih ditahan oleh kertas segel yang tidak kita ketahui sampai kapan itu bisa bertahan, Kertas segel jika digunakan pada Pandora, itu akan membuat kita tak bisa memperoleh Tanggal Emas, alias tanggal dimana Pandora disegel" Jelas Pak Andi.
"Tapi itu membuat kita bernasib sedikit baik karena Tanggal Emas tidak akan kita temui sampai kita menemukan para penyegel Pandora" kata Pak Andi lagi.
"Tapi... apa hubungannya dengan itu, Tuan?" tanya Erika.
"Kau memiliki Silent murni dan darah Putri Silent alias julukan Ibumu, Pandora mungkin akan bereaksi jika merasakan aura Fujiwara di tempat penyegelan, jadi... jangan ke sana" kata Pak Andi tanpa menatap Erika sama sekali.
"Ah, baik! baik.. maafkan saya, kalau begitu saya permisi" kata Erika.
BLAM!
"Sebenarnya itu hanyalah alasan pendukung saja, alasan utamanya adalah karena saya tidak bisa membuatmu mengetahui fakta sebenarnya tentang orang tuamu" kata Pak Andi.
"Semoga Lupin Star tetap aman" gumam Pak Andi.
Di Ruang Privat...
Edward sedang meminum teh, sudah menjadi kebiasaan baginya jika meminum sesuatu dia akan memegang mulut cangkir dan tidak memegang tangkai gelas.
Edward terdiam sambil mengingat ucapan Amanda dulu.
Karena kita mencari kekuatan bukan untuk di kuasai, tapi untuk melindungi orang lain...
"Kekuatan... " gumam Edward.
Tugas seorang pemimpin adalah melindungi rakyatnya, bukan karena ingin meraih keberuntungan bagi diri sendiri...
"Melindungi?" gumam Edward.
GEBRAK!!! Meghan menggebrak meja.
"Yo!! Edward!! ngapain bergumam dan melamun? ntar dirasuki makhluk halus tahu rasa" kata Meghan yang memang biasa ceria.
"Diamlah, kacamata menyebalkan" kata Edward dengan singkat.
"Bagaimana dengan penyelidikan?" tanya Edward pada Ersya.
Edward membukanya dan membacanya.
"Dan tidak ada yang dapat membuat kesimpulan terhadap yang dilakukan Kak Ana, Kak Erlan, Kak Andra, dan penelitian Kak Ana, tapi sebenarnya aku sudah membuat teori" kata Ersya.
"Wah! menarik! apaan tuh?" tanya Meghan.
Edward hanya fokus membaca dan membuka dokumen-dokumen dan beberapa berkas.
"Aku mempunyai teori dan firasat, kalau Kak Ana sudah memperkirakan kalau hal penyerangan di Tanggal Emas itu akan terjadi" kata Ersya dengan suram.
Edward terdiam dan tangannya yang membuka berkas terhenti.
"E.. Eh? kenapa Ward? tadi berisik banget saat buka kertas?" tanya Meghan.
"Jadi? kau ingin menyalahkan Yumna hanya karena Yumna sudah memperkirakan hal itu akan terjadi tapi malah tak mencegahnya? dan kau ingin menyalahkan Yumna? menyalahkan kakak ipar mu sendiri? aku tidak terima!" kata Edward dengan tampang serius.
"Aku tak menyalahkannya Tn. Fujiwara, hanya teori, kau tidak mendengar ya? lagipula, apakah kau masih tidak bisa menerima kalau kak Ana dan lainnya telah tiada?" tanya Ersya dengan menaruh kedua tangannya di mulutnya dengan gaya bertopang dagu dan menatap tajam.
"Dan satu lagi, itu bukan sekedar 'hanya' ini masalah serius, jika memang benar maka-... " belum selesai Ersya bicara.
"A.. Aduh! Guys! jangan suram-suram, baiklah! ehem! kita akan membelakangi urusan itu nanti, bagaimana dengan Kutukan Pandora?" tanya Meghan pada Ersya.
"Hah... baiklah, memangnya tak ada yang mau menyajikan minuman?" tanya Ersya.
"Ini teh kalau kau mau, tapi pedas seperti pedasnya lidahmu jika sedang menari" kata Edward sambil memasukkan kembali berkas-berkas.
KRT!! Urat kesal Ersya muncul.
"Sayangnya aku gak haus" kata Ersya.
"Lalu kau minta minum tadi buat apa? aku tak suka basa-basi" kata Edward.
"Tapi Kak Ana suka basa-basi, kau gak protes saat ngomong dengannya dan hanya diam saja?" tanya Ersya.
"Aku bicara tentang basa-basi, bukan soal Yumna" kata Edward.
"Ya.. Ya, terserah lah... kutukan Pandora, kami belum mendapatkan apapun, para peserta masih ujian" kata Ersya.
"Kita biarkan saja kalau begitu" kata Meghan.
"Tidak, jangan dibiarkan... jika ada hal apapun cepat laporkan padaku, terutama kau Ersya, kau memang Rajanya telat" kata Edward sambil menutup pintu dan pergi.
BLAM!
"Grr!! Mentang-mentang gitu! sok kuat lu ntong!" kata Ersya.
"D... Duh! sabar dong, Er" kata Meghan.
"Si Farrel juga kemana sih? temenin gw dong Rel!" batin Meghan.