Between Curse and Peace

Between Curse and Peace
Season 2 Episode 34 : Perasaan bersalah



Andika terus saja menemani Erika.


"Yun... maafkan aku" kata Andika sambil menunduk di pinggir kasur Erika.


"Apa yang harus ku katakan pada Paman Rafi mengenai kondisimu? Dasar... "


"Aku bahkan tak bisa menjalankan amanah Ibu untuk menjagamu" kata Andika lagi.


Tok! Tok! Tok! Andika melihat ke pintu.


Ceklek! pintu di buka.


"Anu, Andika?" tanya Nisa.


"Nisa rupanya" kata Andika yang lemas karena matanya bengkak dan sembab karena menangis.


"Ini, ada makanan... kau belum makan dari pagi kan? ini sudah malam" kata Nisa.


"Makasih, aku akan makan nanti" kata Andika.


"Andika dengar! ini sudah yang ke 2 kali! bahkan makanan sebelumnya yang ku bawakan malah kau biarkan basi!" kata Nisa.


"Aku tak selera makan Nis, percuma saja aku makan... sebelumnya aku makan sedikit malah langsung muntah, seperti ada yang menekanku, tapi kurasa aku sudah tahu itu apa" kata Andika tanpa menatap Nisa.


"Apa?" tanya Nisa.


"Perasaan bersalah" kata Andika.


"Begitu" Nisa merasa kasihan dan cukup mengerti dengan Andika karena bagaimanapun juga Erika adalah satu-satunya keluarga yang ada di dekat Andika saat ini.


"Nisa, maaf... bukannya aku bermaksud, tapi bisakah kau keluar? aku ingin sendiri" kata Andika.


"Ok, sampai kau merasa membaik" kata Nisa.


"Yah, mungkin aku tidak akan merasa membaik sebelum Yun-chan sadar" kata Andika dengan senyum kesedihan.


BLAM!


Di taman Dimensi...


"Begitu ceritanya" kata Nisa yang menceritakannya pada Ilman, Dirga, Salsa, Wira, David, Pasha dan Zeydan yang tidak menatapnya.


"Aku dan Wira mengerti perasaan Andika, setelah kak Farel tiada ditambah adiknya yang terluka pasti membuatnya benar-benar tertekan" kata David.


"Kurasa begitu, Zeydan?" tanya Nisa.


"Hm?" tanya Zeydan tanpa menatap mereka.


"Apakah... kau tidak ingin menjenguk Erika?" tanya Nisa sambil menatap yang lainnya.


"Aku, Salsa, Dirga, dan Ikram tadi sudah menjenguknya dan dia belum sadar" kata Ilman dengan menunduk.


"Kau belum menjenguk Putri Erika?" tanya Wira.


Zeydan hanya diam tanpa menatap mereka.


"Setidaknya jawab aku!!" Seru Nisa.


"Aku... tidak tahu harus menjawab apa" kata Zeydan.


"Jenguk Erika sekarang!" kata Nisa.


"O.. Oi! Nisa, sabar" kata David.


"Apakah, seorang yang telah membuat kesalahan sepertiku yang bahkan membuatnya terluka bisa menjenguknya dengan gampang?" tanya Zeydan dengan lemas.


"Ukh!! Maka dari itu kau harus menjenguknya!" kata Nisa.


Zeydan melepaskan cengkeraman kakaknya.


"Maaf, aku tidak bisa" kata Zeydan dan pergi lalu melompat ke satu pagar ke pagar lainnya.


"Ze... Zeydan! kak Nisa maaf, sepertinya, Zeydan tertekan... aku akan menyusulnya! Zeydan!" kata Pasha dan ikut menyusul Zeydan.


"Anak itu benar-benar!" kata Nisa dengan menggerutu.


Zeydan ada di atap markas.


"Zeydan, ada apa?" tanya Pasha.


"Bukankah sudah jelas, Pasha? aku yang harusnya saat itu kemampuanku setara dengan Aram bisa melindungi kalian berdua, tapi apa? kau bahkan terluka lebih parah dariku, apa lagi Eri" kata Zeydan dengan menunduk.


"O.. Oh? luka di lengan tangan ini bukan masalah sih, aku juga yakin Erika takkan menganggap serius soal-... " belum selesai Pasha bicara.


"Tak menganggap serius? heh, lelucon macam apa itu? apakah benar, ada seseorang yang terluka bahkan tak sadar diri sampai 3 hari takkan menganggap serius soal lukanya? haha... lelucon macam apa itu Pasha?" tanya Zeydan dengan tertawa getir.


Pasha belum pernah melihat Zeydan sehancur ini, perasaan bersalah Zeydan benar-benar berat dibandingkan dengan tumpukan batu.


"Zeydan, dengar... Erika berkata padaku kalau saat umurnya yang ke 16 tahun akan tiba 2 minggu lagi, jika saat itu tiba, dia ingin melihat sinar matahari dengan bebas, bulan, dan bintang... bersama kau, bersamaku! kita bertiga!" kata Pasha.


Ucapan Pasha membuat Zeydan menoleh padanya.


"Saat matanya di suruh untuk membatasi penglihatan terhadap sinar matahari langsung, bulan, juga bintang sampai yang ke 16 tahun... dia ingin sekali melihat itu! bukankah kita harus menemaninya?" tanya Pasha.


Zeydan sedikit terbelalak.


"Apakah... dia akan memaafkan ku atas luka-lukanya?" tanya Zeydan.


"Aku yakin! dia pasti memaafkanmu, lagipula dia juga ingin selalu melindungi sahabat dan orang-orang yang baginya itu berharga!" kata Pasha.


"Apalagi dirimu Zeydan" batin Pasha.


"Kalau begitu, ayo kita ke ruang bawah tanah markas" kata Pasha.


"Untuk?" tanya Zeydan.


"Kita akan melihat kristal yang mengurung Aram"