Between Curse and Peace

Between Curse and Peace
Additional chapter : Past (2)



Amanda perlahan membuka matanya.


"Huft... semoga mereka baik-baik saja" kata Amanda.


"Di Era mana aku sekarang? yang pastinya aku belum lahir tentunya" kata Amanda dan mulai berjalan.


"Apakah di Era yang semakin jauh, atau ke Era yang mendekati masa depan? yang pasti aku tidak tahu apa yang terjadi di masa depan" batin Amanda saat melihat suasana hutan yang rindang.


"Eh?" Amanda melihat seseorang.


"Anu, apakah kau baik-baik saja?" tanya Amanda.


"Siapa kau?" tanya seseorang itu dan berbalik.


"Kapten!!?" batin Amanda melihat Edward.


"Ahaha, tidak... aku adalah anggota pasukan baru kok" kata Amanda dengan berbohong.


"Jadi aku masuk ke Era dimana saat aku belum menjadi pasukan pemberantasan" batin Amanda.


"Oh, janganlah mengganggu, pergilah dari sini" kata Edward dengan dingin.


"Pantas saja banyak yang tak ingin bicara dengan Kapten, ternyata Kapten sedingin ini... di Era-ku Kapten tak sedingin ini tuh" batin Amanda.


"Oi! kau tidak mendengar ya?" tanya Edward.


"Bukan begitu, aku hanya ingin di dekat air terjun ini saja, apakah mengganggu?" tanya Amanda.


Edward menatap lama Amanda, sedangkan Amanda gugup saja.


"Ck, duduk saja tapi jangan mengganggu" kata Edward.


Amanda akhirnya duduk di sebuah dahan pohon sedangkan Edward juga duduk di dahan pohon lain.


"Wah, ternyata aku masih ada kue brownies, Kapten mau?" tanya Amanda.


"Kenapa kau memanggilku Kapten, sudah ku bilang jangan menggangguku kan?" tanya Edward.


"Oh, maaf... hanya saja, kau memakai pin Kapten di seragam milikmu" kata Amanda.


Edward hanya diam.


"Apakah kau mau brownies?" tanya Amanda.


"Kau terlalu memaksa, bocah! ck!" Edward akhirnya mengambil satu potong brownies.


"Apakah... enak?" tanya Amanda.


Edward hanya memakannya saja.


"Oh? gak enak ya? ya sudah! ku simpan lagi" kata Amanda.


"Ck! lumayan" kata Edward.


"Gitu dong! setidaknya memberikan kepastian!" kata Amanda.


Kau ini tidak ahli dalam memberikan kepastian ya, Edward? haha!


Edward terbelalak saat mengingat sesuatu.


"Kenapa?" tanya Amanda.


"Tidak"


"Memangnya kau sedang ada masalah, ya?" tanya Amanda.


"Ng? maksudmu?" tanya Edward.


"Iya, soalnya... kau terlihat seperti berekspresi biasa, tapi kau sedang merasa kehilangan begitu?" tanya Amanda.


Edward hanya terdiam meski sedikit terbelalak.


"Aku juga kehilangan kok" kata Amanda sambil menaruh tangannya di batang kayu dan menatap air terjun.


Edward sedikit menoleh dan menatap Amanda.


"Sejak masih bayi, aku kehilangan kedua orang tuaku, keluarga besarku hampir terpecah-belah karena konflik antar keluarga lain, saat sudah dewasa, aku kehilangan keluarga angkatku, terkekang oleh kekangan kebohongan, dan melalui banyaknya penderitaan sampai aku bisa bertemu dengan kakak kandungku" kata Amanda.


"Betapa senangnya saat bertemu dengan kakak dulu, dan selalu tertanam di lubuk hatiku, akan hidup bahagia hingga maut memisahkan, sekarang kakak kandung ku sudah meninggal" kata Amanda sambil tersenyum untuk melawan rasa sedihnya.


"Kau... "


"Kau... sangat tegar ya" kata Edward.


"Eh?" Amanda terbelalak.


"Hahaha! Dasar... tak kusangka kau akan tertarik dengan kisah hidupku!" kata Amanda.


"Ya, kau benar, aku sedang kehilangan" kata Edward.


"Eh?" tanya Amanda.


"Dua calon pasukan pemberantasan bersaudara, dulunya adalah sahabatku, mereka bernama Amir dan Umar" kata Edward.


"!!?" betapa terkejutnya Amanda, tapi dia sekarang mengerti kalau dia berada di Era dimana Andra sedang menjabat sebagai Lord Seventh.


"Saat ada seleksi terakhir di hutan dengan banyaknya pohon Kelor dan Bidara, di sana aku hampir mati, jika saja Amir dan Umar tidak melindungi dan menyelamatkanku" kata Edward lagi.


"Tapi, andai saja mereka berdua ikut lari... mereka pasti akan selamat, tapi takdir berkata lain, semesta sudah berkehendak kalau Amir dan Umar harus tidak di alam ini lagi, mereka gugur dan tewas" jelas Edward.


Amanda terbelalak sekali.


"Aku menjadi Kapten sekaligus Pilar Pedang, karena berhasil bertahan selama sepekan, seharusnya Amir dan Umar yang menjadi Pilar Pedang dan Kapten" kata Edward.


"Setidaknya, kau lebih tegar daripada aku, kau terlihat baik-baik saja menjalani semua penderitaan itu, sedangkan aku... malah hanya berdiam diri tidak jelas seperti ini" kata Edward.


Edward jujur kalau dia masih sangat bingung, kenapa dia mau bercerita kepada orang asing? bahkan pada para Pilar saja dia tak berselera.


"Gak kok!!"


Edward kaget.


"Kau itu orangnya percaya diri!! dingin! bukankah kau sendiri pernah bilang!? jangan pernah menyesali apa yang terjadi dan apa yang menjadi keputusanmu!!" seru Amanda.


Amanda ngos-ngosan sambil gugup, bicara apa dia ini sebenarnya? ia mungkin akan berpikir akan di omeli oleh Edward.


Edward tercengang.


Berpikir dulu! baru bertindak! kalau penyesalan tentu saja selalu ada di akhir! kalau di awal namanya pendaftaran!


"Amir... Umar... kalian" batin Edward.


"Tapi, apakah aku pernah bilang begitu?" tanya Edward.


DEG!! Edward memang pernah bilang begitu, tapi saat Amanda sudah bergabung di Pasukan pemberantasan, sekarang Amanda ada di Era di mana dia belum bergabung pada pasukan pemberantasan, tentu saja Amanda kaget.


"Ahahaha! kau mirip dengan seseorang jadi kupikir kau pernah mengatakannya" kata Amanda gugup.


"Begitu" kata Edward.


WUSH!! Portal cahaya muncul kembali dan mengisyaratkan Amanda untuk segera pergi.


"Baiklah... sebenarnya, aku bukan dari sini, maaf jika aku terkesan membohongimu, aku harus pergi sekarang" kata Amanda.


"Aku ingin meminta tolong agar kau menitipkan salamku kepada Lord Seventh. Katakan padanya aku sudah bahagia, bilang padanya aku akan selalu merindukan dan menyayanginya untuk selamanya" kata Amanda.


"Ah, ya. Tapi siapa kau sebenarnya?" tanya Edward.


Amanda menatap Edward.


"Hmf... Yumna... Yumna kau bisa mengingat itu sebagai namaku" kata Amanda sambil tersenyum.


"Yumna ya?" Edward berpaling, Amanda merasakan kalau Edward berat hati melihat dirinya harus pergi.


"Brownies-nya enak" kata Edward.


Amanda terbelalak.


"Terimakasih... Kapten"


Cahaya langsung memenuhi sekeliling kawasan air terjun.


Edward yang pusing karena sebagian ingatannya di lupakan oleh Amanda langsung terbangun.


"Aku... dimana?" tanya Edward.


"Ng?" Edward melihat sebuah tempat bekal dengan beberapa potongan Brownies.


"Punya... siapa ini?"