Between Curse and Peace

Between Curse and Peace
Episode 26 : Rencana mengerjai Andika



Akhirnya Zeydan dan Erika pergi ke taman latihan...


"Lho? Kak Amir? kak Umar? kalian belum ke Arab?" tanya Erika.


"Kau akan pergi 3 hari lagi dan akan jarang ke dunia nyata entah sampai kapan, jadi kami akan mengantar mu untuk terakhir ini, seperti kak Andika dulu" kata Amir.


"Benar" kata Umar.


Erika agak terbelalak melihat mereka.


"E... Eri terharu? diakan biasanya gak peduli" batin Zeydan.


"Kalian.... terimakasih" kata Erika dengan acuh tak acuh.


"Datar amat bos" kata Umar.


"Emang masalah?" tanya Erika.


"Ya gak sih" kata Umar.


"Ahaha, Eri, Umar... sudah dong" kata Amir, sudah biasa baginya yang menjadi solusi akur bisa Erika dan Umar bertengkar.


"Dasar! kalian begini saja masih suka bertengkar?" tanya seseorang.


"Kak... Kak Andika!" kata Erika.


"Hah? kenapa kau bisa ada disini?" tanya Amir.


"Aku minta izin pada Markas agar bisa menjenguk Erika di hari terakhirnya di dunia nyata" kata Andika.


"Kek dah mau meninggal aja hari terakhir" gumam Zeydan.


"Ya sudah, aku ambilkan buku catatan di kamar dulu ya" kata Andika.


"Ya!"


Setelah Andika pergi.


"Erika, Zeydan, sebenarnya kami juga merencanakan kalau akan nge-prank kak Andika malam nanti!" kata Amir.


"Hah? Prank gimana maksudnya?" tanya Erika.


"Penasaran aku tuh" kata Zeydan.


"Begini, nanti malam kita pura-pura tuh bilang kak Andika kalau ada yang mau datang, dan suruh kak Andika menjadi pocong agar menakuti tamu yang di maksud tapi sebenarnya gak ada tamu, lalu bersembunyi di kolam renang indoor! terus bilang tamunya bakalan lewat ke pintu kedua kolam renang! setelah itu, kita takutin kak Andika! lebih tepatnya... Prank di atas prank!" kata Umar.


"Emang pakai apa kita takutin kak Andika?" tanya Erika lagi.


"Nah itu! dia! kita punya pengawal yang tingginya sama seperti tuyul!" kata Umar.


"Emang ada?" tanya Zeydan.


"Ada! kita tunggu aja nanti malam, sekarang kita berlatih dulu" kata Amir.


"Yo! Aku dah bawa peralatannya!" kata Andika di bantu seorang pelayan.


Ada pedang, panah, kunai, shuriken, dan beberapa alat untuk membantu dalam jurus.


"Pedang dan Panah? apakah di perlukan?" tanya Umar.


"Di dimensi, semua peralatan akan legal kecuali senjata api yang hanya bisa digunakan yang berwenang saja" kata Andika.


"Bagus ya" kata Erika yang membungkuk duduk sambil melihat shuriken kecil.


Zeydan sedikit membungkuk dan memasukkan kedua tangannya ke saku celana.


"Jadi ini? kunai dan shuriken?" tanya Zeydan.


"Ya, sekarang... aku akan ikut melatih kalian" kata Nisa.


"Ni Nenek lampir darimana datangnya dah?" tanya Zeydan.


"Sudahlah jangan bertengkar, ayo" kata Amir.


Ronde pertama...


"Sekarang, latihan pedang! kami cukup ahli, kalian melihat saja" kata Umar pada Andika.


"Baiklah"


"Ok Erika, Zeydan, sekarang tebas orang-orangan sawah ini secara Horizontal" kata Amir.


"Apakah harus?" tanya Zeydan.


"Kau tak mendengarkan ya?" tanya Umar.


"Sabar, Mar... baiklah, mulai sekarang!" kata Amir.


Erika dan Zeydan mengayunkan pedang secara bersamaan.


Erika berhasil menebas orang-orangan sawah sampai kepala orang-orangan sawah itu copot.


Sedangkan Zeydan ya... berhasil sih, hanya saja kepala orang-orangan sawah itu gak sepenuhnya copot.


"Zeydan! kau tahu gak sih cara mengayunkan dengan bener!? sini!" kata Nisa.


"Sudahlah! aku bukanlah anakmu atau apapun! aku hanya adikmu! jangan memperlakukan ku seperti anak kecil!" kata Zeydan.


"Kau ini menang keras kepala! di kasih tahu, di bantu malah nolak! pakailah otakmu sesekali!" kata Nisa.


"Jadi kakak mau bilang aku gak ada otak?" tanya Zeydan.


"Orang kau mukulnya harus yang keras tapi malah gak sempurna di kasih tahu malah gak terima" kata Nisa.


"Ya iyalah gak terima! orang kau bilangin aku gak ada otak" kata Zeydan.


"Zeydan! Nisa! sudahlah jangan bertengkar terus! Amir! Umar! lanjutkan ronde selanjutnya" kata Andika.


"Ya"


Ronde kedua...


"Sekarang, lempar kunai dan shuriken ke tanda panah di pohon itu" kata Amir.


"Tunggu! bagaimana jika Zeydan dan Andika tes menggunakan dorongan kekuatan kutukan Pandora?" tanya Nisa.


"Apakah tak berbahaya?" tanya Umar.


"Insya Allah tidak" kata Nisa.


"Baiklah... "


Andika dan Zeydan mulai mengumpulkan energi secara bersamaan di tanda kutukan dan mulai merasakan aliran energi besar di tubuh mereka.


Ekor mata mereka tiba-tiba ada garis hitam pekat yang melebar dan menyelimuti kedua mata mereka.


CRING! Andika dan Zeydan melempar shuriken sampai membuat dahan pohon menjadi retak.


"Ku.. Kuat sekali" kata Amir.


"Ini membuktikan kalau dengan kuatnya kekuatan kutukan Pandora, dapat kuat pula ambisi Kak Andika dan Zayn suatu hari nanti" batin Erika.


"Kami harus tetap membuat Andika dan Zeydan tidak kehilangan kendali dan terus memikirkan dan membuat potensi besar dalam ambisi yang tak akan kita tahu ambisi apa itu" batin Nisa.


SRING! kedua kelopak mata mereka kembali seperti semula.


"Wah... Wah... bagus sekali?" tanya seseorang yang bertapak di tiang.


"Siapa kau?" tanya Umar.