
Flashback saat percakapan para Pilar...
"Setidaknya kita memerlukan 2 pilar untuk menjaga Guru" kata Toni sambil bertopang dagu.
"Apakah kau tidak bisa melakukan sesuatu soal ini, Miyuki-san?" tanya Meghan.
"Mustahil, aku menjadi Pilar dan memiliki bawahan bernama Vino, dan sudah meminta seperti itu pada beliau selama 8 tahun bahkan pada Erlan, tapi Lord Fifth menolaknya" kata Elena.
"Beliau selalu mengatakan seseorang yang kuat seperti seorang Pilar, tidak boleh menyia-nyiakan waktu untuk seseorang seperti dirinya" kata Elena.
"Itu yang jadi masalah" kata Edward.
"Aku dengar... setiap anggota Keluarga Hasegawa tidak pernah punya pengawal dalam sejarah mereka" kata Edward dengan ekspresi biasa.
"Hasegawa adalah kerabat jauh Fujiwara, tentu saja kau tahu. Kau berasal dari keluarga cabang dan turunan Taira, sedangkan Andra akan mewarisi keluarga cabang juga nantinya. Berbeda dengan Amanda yang masuk kategori Fujiwara Utama alias bagian bangsawan" jelas Elena.
Flashback Off...
"Guru!! Guru!! aku bisa melihatnya! kediamannya!! tak apa, aku pasti bisa! aku pasti-..." belum selesai Toni berbatin.
JDDUAR!!!! Tiba-tiba ada sebuah ledakkan besar di kediaman Lord Fifth.
Toni terbelalak kaget.
Ersya kaget, Vanora panik, dan Rahmat langsung geram.
Doni dan Andika yang baru akan memasuki hutan untuk mencapai kediaman Lord Fifth langsung kaget tak bisa berkutik.
"Ledakan!! dan aura ini... banyak sekali bau daging dan darah yang terbakar!!" batin Andika saat merasakan aura melalui Turquoise-nya.
"Grr!!! Lord Fifth!!" Seru Chandra yang terbakar.
"Untung aku sudah meletakkan Zeydan di sebuah rubik yang terikat langsung denganku melalui astral meski rubik dan Zeydan tak didekatku! dengan begitu, aku bisa mengambil pasokan energi darinya! Lord Fifth... dia selalu tenang, tapi selanjutnya dia bersama keponakan dan dua pembantunya... meledakkan diri bersama!!" batin Chandra.
Flashback...
"Apa yang ingin kau tanyakan?" tanya Chandra.
"Kenapa? saat aku akan direbut oleh Pasukan pemberantasan 1 tahun yang lalu, si pasukan Dirgapati atas nomor 5 itu, melakukan perjanjian Pandora untuk merebut kekuatan kutukan Pandora ku?" tanya Zeydan.
"Bukankah, kau mengatakan kalau pasukan Dirgapati sudah tahu aku bekerja sama denganmu? ataukah kau telah menyiapkan sesuatu diluar sepengetahuanku?" tanya Zeydan.
"Kau meragukanku?" tanya Chandra.
"Kau itu adalah musuhku dulu, cukup janggal kau menerimaku untuk kerjasama menghancurkan pasukan pemberantasan. Apa yang kau rencanakan? tentu saja aku meragukanmu" jelas Zeydan.
"Aku juga begitu, apa sebenarnya tujuan sebenarmu mengkhianati pasukan pemberantasan? Bukankah-... " belum selesai Chandra bicara.
"Kau tidak perlu tahu, yang penting ada satu hal" kata Zeydan sambil berjalan melewati Chandra.
"Kalau kau menaruh perasaan keremehan pada pasukan pemberantasan, maka kau telah salah besar. Karena kau bisa jatuh ke lubang buaya nantinya. Kuingatkan kau" jelas Zeydan.
Flashback off....
"Aku membuat kesalahan, aku mengira Lord Fifth adalah Ninja yang masih manusia biasa, tapi ternyata dia benar-benar gila" batin Chandra yang berdiri diantara kobaran api.
"Aku sudah menduga dia akan melakukan sesuatu, tapi bukan yang seperti ini! dia membuat ledakannya lebih mematikan dengan menambahkan shuriken kedalamnya untuk menghambat regenerasi-ku! itu berarti masih ada perangkap lain lagi, Lord Fifth masih memiliki rencana lain setelah ini!" batin Chandra.
"Aku merasakan ada manusia, yang mendekat kesini, kemungkinan itu para Pilar... dia menjadikanku umpan! aku sangat terkejut dia bisa menyembunyikan niat membunuhnya" batin Chandra.
Sementara itu di penjara pinggiran kota Helvetia...
DEG!!! Erika, Pasha, Ilman, dan Dirga merasakan sengatan di Pin logo pemberantasan yang mereka miliki.
"Apa.. apa-apaan ini!?" tanya Ilman.
"Sengatan Pin ini membuatku merasakan firasat buruk!" kata Dirga.
"Sepertinya... sudah dimulai di Dimensi Astral" kata Pasha dengan menunduk dan syok.
"Perang Kehancuran Dunia Astral keempat" kata Pasha.
Sementara itu di hutan kota Magnaga...
Meghan mengobati dan menjahit luka robek di wajah Edward yang sedang pingsan setelah dia menembaki semua pasukan Rebellion yang mengejar.
"Syukurlah hujan abu tipis memisahkan kita dengan pasukan Rebellion tadi, mungkin saja hujan abu tipis terjadi setelah ledakan gunung berapi, aku sama sekali tak menyangka akan terjadi" kata Meghan.
"Kau tahu kenapa kau masih hidup meski terluka karena ledakan lava gunung berapi? kau pasti tahu Edward, karena kau adalah seorang Fujiwara... kau mempunyai banyak pasokan energi yang membuatmu masih tetap hidup" kata Meghan.
"Apa coba yang akan terjadi jika Arsya melihatmu terluka begini? heh, Arsya... aku ingin kau datang dan menjitak kepala Edward sekali saja, aku ingin melihatmu lagi" Gumam Meghan.
"Huft... selesai, baiklah, kurasa kita perlu segera membebaskan Yuna dan yang lainnya lalu kembali ke markas pemberantasan" kata Meghan mengalihkan pandangannya dari Edward dan mulai merapikan peralatannya.
BZZT!!! Pin pasukan pemberantasan yang dimiliki Meghan langsung menyengat.
Meghan kaget dan langsung berbalik ke arah Edward.
"Jangan-jangan... pasukan pemberantasan!! Lord Fifth!! Zeydan!" kata Meghan.
"Ck... si Chandra itu... benar-benar sudah melewati batas!!" kata Edward yang perlahan sadar dan akan bangun dari alas tidurnya.
"Jangan bangun dulu! kau masih terluka parah kau tahu?" tanya Meghan sambil perlahan meniduri Edward.
"Apa... yang terjadi? aku tidak ingat apapun setelah lava gunung berapi melukai diriku" lirih Edward.
"Dan sekarang sengatan pin membuatku merasakan firasat buruk di Dimensi Astral" kata Edward.
"Zeydan menyandera kami saat kami bersiap di restoran Magnaga untuk ke lokasi penyelidikanmu. Kami dibawa terpisah, aku dibawa oleh pasukan Rebellion yang mundur karena Hujan abu tipis. Sedangkan Yuna dan yang lainnya dibawa ke penjara pinggiran kota Helvetia" jelas Meghan.
"Kau... apa yang terjadi? Jangan-jangan, SP berhasil lolos?" tanya Meghan.
Edward hanya terdiam.
"Sudah ku katakan Ward, tidak ada gunanya kau menanyakan Pasukan Dirgapati atas sepertinya untuk hal yang berhubungan dengan informasi. Karena mereka hanya ingin meraih kekuatan... uh! aku sudah muak dengan kekuasaan" kata Meghan.
"Kau pasti punya alasan dan tujuan lain kan? sampai-sampai pikiranmu buta dan bermasalah, bagaimana bisa kau pede sekali kalau SP akan mengatakan hal yang kau inginkan?" tanya Meghan.
"Tujuanku... adalah membalaskan kematian Yumna dan perjuangan yang lainnya dengan membunuh Chandra, aku tidak tahu apakah bisa atau tidak" kata Edward.
"Sudah, istirahatlah sampai kita siap. Setelah itu kita ke Dimensi astral" kata Meghan yang agak kesal Edward tidak seprofesional dulu.
"Yumna, Yumna, terus! apakah bisa kau melihat dirimu, Edward?! Yumna sudah mati! sadarilah itu!" batin Meghan.
"Kakak... " gumam Meghan.
Sementara itu di Penjara pinggiran kota Helvetia...
Mereka berhasil keluar dari penjara.
"Rudy, tolong antarkan Tuan Fahmi dan keluarganya pulang dengan selamat!" kata Ilman.
"Serahkan padaku!" kata Rudy.
Tiba-tiba didepan mereka ada petugas.
"Kalian, silahkan ikuti saya" kata si petugas.
"Eh?" mereka kebingungan.
"Saya petugas yang diamanahkan Tuan Muzakki Al Farisi" kata si petugas.
"Paman Zaki!!" kata Erika dan Pasha bersamaan.
"Tapi pertama, kalian harus mengambil peralatan perang kalian dulu" kata si petugas.
Di ruangan penyimpanan senjata...
"Kami sudah siap, bersiaplah" kata Dirga di susul Ilman.
"Mungkin di Dimensi Astral terjadi sesuatu. Chandra Nagata... dia sudah bergerak" kata Ilman.
"Tunggu... "
"Ada apa, Pasha?" tanya Erika.
Pasha mendekati Ilman dengan tatapan serius, "Kapan... kapan itu terjadi? kapan Chandra Nagata bergerak? kapan perkiraannya?!"
"Saat... saat pin ini menyengat. Yang menandakan terjadi sesuatu di Dimensi Astral" kata Ilman.
"Pasha?" tanya Erika.
"Saat pin ini menyengat, Chandra Nagata bergerak, Chandra didesak oleh para Pilar dan yang lainnya... begitu pertahanan Chandra berkurang... maka kristal pengeras nya.... " Pasha menghentikan kata-katanya.
"Jangan bilang... Aram... " gumam Erika.
"Ugh, kita tidak bisa disini lebih lama lagi! kami akan menunggu di luar" kata Dirga.
"Ya"
Tinggal Erika dan Pasha yang belum selesai bersiap.
"Aku siap, bagaimana denganmu Erika?" tanya Pasha.
"Aku... tidak tahu. Pasha, menurutmu aku harus apa?" tanya Erika.
"Kalau begitu bantulah Ilman, cobalah berpikir sedikit" kata Pasha.
"Lalu kita harus apa... soal Zayn? bagaimana dengan Zayn?" tanya Erika.
"Aku tidak tahu!! Dan... !! kita juga tidak bisa berbuat apapun soal itu kan?!" bentak Pasha yang membuat Erika kaget.
"Nona Meghan dan Kapten mungkin telah terbunuh!! karena pasukan Rebellion yang dipimpin Vincent mungkin menodongkan senjata pada mereka!! terlebih lagi...!! Aram mungkin juga sudah kembali!!" seru Pasha dengan membentak.
"Tatanan pasukan pemberantasan akan mudah tercerai berai karena masalah Zeydan dan Chandra Nagata yang makin rumit!! Aah...! mungkin Adelia dan Lord Fifth juga dalam bahaya!! bahkan para Pilar!! para prajurit, Clarke! posisi mereka sudah tidak aman lagi!!" seru Pasha.
"A... Apa?" tanya Erika.
"Jadi!! tidak ada yang bisa kita lakukan!! kita tidak punya waktu untuk memikirkan Zeydan saat ini!! kau paham itu kan?!!" tanya Pasha.
Pasha terbelalak menyadari kalau ia sudah keterlaluan saat melihat Erika dengan beraut wajah sedih.
"Maafkan aku" kata Erika.
Pasha menunduk dan menuju pintu.
"Sekarang... kalian mengerti kan? yang harusnya di selamatkan saat misi perebutan Dinding selatan saat itu, bukan aku. Adanya Chandra Nagata yang mengidap Kutukan Fujiwara, dan Zeydan si pemegang kutukan Pandora. Artinya Zeydan hanya perlu waktu yang tepat untuk mengaktifkan koordinat Pandora" kata Pasha.
Akhirnya mereka memasuki ruangan dengan beberapa pasukan Rebellion, ada yang terluka, ada yang meninggal, dan lain sebagainya.
"Ada... apa ini?" tanya Dirga.
"Mereka adalah beberapa yang selamat setelah menghindari hujan abu tipis, tapi hujan abu tipis itu membuat partikel-partikel berbahaya mengenai mereka" kata si petugas.
Erika mendatangi Siska yang terbaring.
"Sepertinya... paru-paruku menghirup banyak... hujan abu tipis, yang membuat paru-paruku mengalami nekrosis, dan sudah tidak bisa di tangani secara medis. Sayang sekali... aku tidak bisa melihat nasib Gerakan pemberantasan" kata Siska.
"Kau... mencari... kain putih... ini kan?" tanya Siska yang menggenggam kain putih milik Erika.
"Tuan Zeydan... mengatakan... untuk membuang kain putih... itu" kata Siska.
Erika tercengang.
"Tapi jika ini di buang... setidaknya aku bisa memilikinya" kata Siska.
"Kembalikan" kata Erika.
Siska menatap Erika dan mengembalikannya dan Erika pergi.
"Aku sangat mengagumimu, aku menjadi anggota pasukan pemberantasan" kata Siska.
Erika sedikit menoleh dan membendung air matanya lalu pergi.
"Aku tak punya penyesalan, aku mengikutimu dan mengabdikan diriku sebagai prajurit" kata Siska.
Mereka dibawa ke kediaman Al Farisi.
"Paman Zaki! Nyonya... Sera!?" tanya Erika.
"Nona Erika! syukurlah anda selamat!" kata Sera.
"Kalian, aku sudah mendengar apa yang diperbuat Putraku... " kata Zaki.
Pasha dan Erika menunduk.
"Karena itulah, bawa ini" kata Zaki memberikan kotak pada Erika.
"Eh?" tanya Erika.
"Ibumu dulu menitipkan itu padaku, aku yakin Zeydan ingin melindungi kalian dengan caranya sendiri dan aku tidak tahu, kalian bawa Morph-x itu, dan selamatkan yang lainnya" kata Zaki.
"Terimakasih Paman!!" kata Pasha.
"Paman Zaki, aku titip Nyonya Sera disini, Nyonya Sera... kumohon jangan ikut dalam hal ini" kata Erika.
"Baiklah" kata Zaki.
"Pasha!" panggil seseorang.
Pasha berbalik
"Ayah... Ibu... " gumam Pasha.
"Paman Rafi?!" tanya Erika yang melihat Rafi ke kediaman Al Farisi bersama Putra dan Ariel.
"Hati-hati Erika" kata Rafi.
"Mm! Paman, kumohon aku percayakan keamanan agar Chandra Nagata tak mencelakakan kalian!" kata Erika mengiyakan.
Rafi terbelalak dan mengangguk.
"Pasha, kau... kau serius akan pergi?" tanya Putra, Ayahnya.
"Iya, itu benar, kami pasukan aliansi akan meredakan perang semampu kami" kata Pasha.
"Jangan! kau bisa mati!! anak sepertimu harusnya bisa mendapati pendidikan dan hidup yang layak!" seru Ariel, Ibunya.
"Ibu... " gumam Pasha.
"Nyonya Sindari" gumam Sera.
"Bibi Ariel" kata Erika.
Ariel berbalik.
"Kumohon izinkanlah Pasha, Pasha yang kau kenal dulu sudah tidak ada, Pasha yang selalu cengeng dulu telah mati, Pasha yang manja dan ketahanan tubuhnya lemah kini telah menjadi satu-satunya aset cabang pasukan pemberantasan paling penting, kuat, dan diandalkan" jelas Erika.
"Karena itu, izinkanlah ia, biarkan ia, menempuh jalan hidupnya sendiri. Kita hanya perlu membimbingnya dan membantunya mencapai apa yang ingin ia capai selagi itu hal baik" jelas Erika.
"Karena Zayn... mungkin ingin melihat Pasha dan aku lagi dan mengatakan sesuatu. Karena mungkin saja Pasha bisa mengajaknya bernegosiasi" kata Erika.
"Baiklah, aku mengizinkannya" kata Putra.
"Hati-hati... Pasha" kata Ariel.
"Terimakasih! Ibu! Ayah!" kata Pasha dan berpamitan.
"Mungkin saja... ini adalah pelukan dan pamitan yang terakhir, jadi aku dengan tulus memeluk dan berpamitan pada kalian berdua orang tuaku" kata Pasha.
"Ya, Hati-hati nak" kata Putra.
"Ayo! kita akan menyelamatkan Komandan Meghan terlebih dahulu!" kata Erika dan Pasha yang menyusulnya dengan berlari.
"Jadi tujuan kita!?" tanya Ilman.
"Hutan Magnaga" kata Pasha.
"Baiklah, aku akan mempercepat perjalanan dengan tali teleportasi. Aku yakin kalau Komandan Meghan pasti memiliki tali yang sama, jadi kita bisa ke lokasinya" kata Ilman sambil mengurus tali teleportasi.
Mereka berempat sudah siap akan berangkat.
"Ughh... PASHA!" Teriak Ariel.
Pasha kaget dan berbalik ke belakang.
"Berhati-hatilah! Pasha!! Erika!! semuanya! kalian harus tetap hidup!!" seru Ariel.
Erika dan Pasha terbelalak dan saling bertatapan, Pasha menatap Ilman dan Dirga yang tersenyum.
"Diusahakan!!" teriak Pasha dengan menangis haru dan bersamaan dengan mereka menghilang dari kediaman Al Farisi menuju Hutan Magnaga.
Rafi memandang kepergian mereka.
"Paman, kumohon aku percayakan keamanan agar Chandra Nagata tak mencelakakan kalian"
Rafi teringat perkataan Erika.
"Ya Allah Kak Ana, anak bungsumu ini... mirip sekali denganmu" batin Rafi sambil menangis diam.
Di Dimensi astral...
"Tidak ada gunanya aku memikirkan si Pak Tua itu! jangan panik, tubuhku akan segera beregenerasi! jurus Pandora! pemulihan diri!" batin Chandra.
CRAAAK!! Ada besi-besi paku yang menusuk tubuh Chandra.
"Aku dilumpuhkan! ada yang menggunakan jurus dari seorang Subjek Pandora! tidak masalah, aku hanya perlu menghisap besi-besi ini!" batin Chandra.
CRAK!! Ada sebuah tangan yang menusuk perut Chandra tapi Chandra menahan tangan satunya.
"Bella!? kenapa kau ada disini!?" tanya Chandra melihat Bella yang menusuk perut Chandra dengan tangannya.
"Dia mendekatiku dengan jurus Invisible... apa tujuannya? apa yang ia lakukan!?" batin Chandra.
"Kau... sudah menyerap dan menghisap pukulanku, Chandra! apakah kau tahu apa yang ada didalamnya!?" tanya Bella.
"Yaitu obat pemulihan untuk mengubah makhluk astral menjadi manusia!!" Seru Bella.
"Kau harusnya tidak bisa... " Chandra memberhentikan kata-katanya.
"Oh, tapi aku melakukannya! situasinya sudah benar-benar berubah! meskipun mustahil bagiku untuk melakukannya sendirian!" kata Bella.
"Kau benar-benar wanita yang keras kepala, Bella! dan kebencianmu terhadapku tidaklah adil!" kata Chandra sambil memegang kepala Bella.
"Apakah kau tahu darimana anak-anak kembar yang kau lahirkan secara haram saat itu!? mereka lahir karena hubungan gelap! kau terlalu tenggelam dalam nafsu!" kata Chandra.
"Ya! dan kau yang membunuh calon suamiku!! kau yang membuat anak-anakku lahir tanpa seorang ayah!! dan menjadikanku Subjek Pandora!! dan aku hanya ingin melihat anak-anakku tumbuh besar!!" kata Bella sambil menangis.
"Lalu pada akhirnya kau menyia-nyiakan mereka? dan sekarang kau telah membuat mereka kembali padamu? kau jugalah yang terlalu bodoh karena percaya padaku" kata Chandra dengan tersenyum menyeringai.
"Benar... aku juga yang menyia-nyiakan mereka sebagai seorang Ibu! aku tak berhak menjadi seorang Ibu! dan karena itulah... aku ingin mereka membalaskan dendam mereka! dengan membunuhmu!! untuk menebus dosaku, kau dan aku akan mati disini!!" Seru Bella dengan mata kanannya yang sudah ditusuk oleh jari Chandra sambil berdarah.
"Miyuki-san!! tolong lakukan!!" Seru Bella.
Elena melakukan jurus segel tangan.
"Jurus bayangan!! ledakan hitam!!" Seru Elena dan melontakannya pada Chandra dan membuat kepala Chandra langsung putus.