
2 minggu kemudian...
Angkatan 85 sedang menjalankan misi di Eslaqar.
Untuk menyelidiki tentang Organisasi Dirgapati.
Di sebuah rumah yang jauh dari pemukiman warga...
"Tak ku sangka kita sedang menjalankan misi di Dunia nyata dan bukan di Dimensi Astral!" kata Ilman.
"Tapi tetap saja, kita tidak bisa menggunakan alat komunikasi seperti Ponsel dan lainnya. Bahkan tidak boleh menggunakan kompor? pdan jika ingin penerangan kita harus menggunakan lilin atau lampu minyak apalagi untuk memasak kita akan menggunakan kayu bakar" kata Zeydan sambil menyalakan api dengan kayu.
"Memang, bahaya jika menggunakan listrik, karena perusahaan listrik mungkin akan curiga kenapa ada listrik di luar pemukiman, bukan?" tanya Pasha.
"Kumuh sekali rumah tua ini" kata Ilman.
"Benar, makanya Kapten Edward menyuruh kita membersihkan dalam 30 menit, sekiranya cukuplah untuk kita tidur di kamar masing-masing" kata Pasha.
"Ketua Meghan sedang menyelidiki jejak Dirgapati bersama Pilar Karya, Pilar Aura, dan Pilar Teknologi" kata Dirga.
"Kami kembali" kata Erika sambil merangkul lebih dari 20 balok besar dengan tangan kanannya dan tangan kirinya memegang kapak.
"I... iya!" Salsa keberatan karena membawa 10 balok kayu karena membantu Erika.
"Kau memotong kayu!? jangan! istirahat saja! bagaimana dengan tulang rusukmu!?" kata Ilman sekaligus kagum dengan kuatnya Erika.
"Sudah ku larang dan ku sarankan untuk istirahat saja atau membantu yang ringan-ringan saja, tapi dia tak mau ya sudah. Bahkan aku melihatnya melakukan sit up dan push up tadi pagi" kata Zeydan.
DEG!
"Apaan kau mesum!?" tanya Ilman sambil menggenggam kerah baju Zeydan.
"Hah!? apaan maksudmu!? lepaskan atau bajuku bisa sobek di buatmu!" seru Zeydan.
"Oi! sudah selesai membersihkan?" tanya Edward dengan pakaian jas formal yang terlihat elegan.
Semuanya terdiam.
Edward mengarahkan telunjuknya di bawah sela-sela meja.
"Berdebu... apakah 30 menit saja belum cukup!?" tanya Edward dengan kesal.
"Ma.. maafkan kami!" kata mereka.
"Ck! cepatlah, lalu kita akan berbicara soal misi yang ada" kata Edward.
Semuanya selesai saat sore.
Erika memasak makan malam bersama Zeydan, Pasha, Salsa, Ilman, dan Dirga.
"Salsa! berhentilah mencuri makanan!" kata Pasha.
"A... Aku hanya mengambil sebuah kentang!" kata Salsa.
"Salsa... letakkan itu kembali" kata Erika sambil mengaduk adonan.
"Baik" kata Salsa yang pasrah.
Ilman bertopang dagu dan menatap Erika dengan perasaan kagum dan naksir.
"Dia... memang calon ibu rumah tangga idaman" batin Ilman.
BRAK!! sebuah batang sapu menghantam meja.
"Jangan ngelamun dan bantu membersihkan lantai atas" kata Dirga.
"Kaget!" kata Ilman.
Beberapa menit kemudian makanan siap dan mereka makan malam.
"Jadi, sensor milik Pilar Teknologi mendeteksi adanya korban yang dimakan dan menjadi korban tumbal oleh sekte Dirgapati paling banyak di Eslaqar?" tanya Ilman.
"Ya, sensor mendeteksi bahwa banyak orang-orang yang hilang pada malam hari setiap pukul 22.00" kata Edward.
"Apakah kita tidak bisa bertemu Walikota? beliau Ayahnya Pasha dan sahabat orang tuanya Erika dan Zeydan kan?" tanya Salsa sambil memakai wafer.
"Sudah, dan Ayah sudah mengumumkan kepada penduduk kota agar selalu pulang sebelum pukul 22.00" kata Pasha.
"Kita akan mendeteksi secara diam-diam, karena sekte itu juga bisa menggunakan jurus terlarang dan membuat orang mati hidup kembali" kata Edward.
SEMBYUR!!! Ilman yang sedang minum kaget dan muncrat tepat mengenai Dirga.
"Gak sopan" gumam Dirga.
"Maafkan saya!" kata Ilman.
"Maksud anda bagaimana, Kapten?" tanya Zeydan.
"Maksudnya, bukan beneran hidup... mereka menggunakan DNA polimerase dan sampel darah lalu mengambil DNA keturunannya, dan lalu melakukan segel tangan dan orang tersebut akan hidup. Tapi ini hanyalah semacam jurus, bukan orangnya asli, tapi terkoneksi langsung pada orang yang telah meninggal" Jelas Erika.
"Mereka menggunakan itu untuk apa!?" tanya Salsa.
"Kita tidak tahu pasti, yang pastinya mereka pasti akan menggunakan jurus terlarang itu entah kapan" kata Edward.
"Apa saja yang mereka incar?" tanya Dirga.
"Yang pastinya, mereka mengincar wadah-wadah, dan juga seperti batu Mustika Delima Merah, apalagi manusia dengan energi tinggi yang membuat mereka semakin berbahaya" kata Edward.
KAAK! KAAK! KAAK! Ada burung gagak yang membawa pesan.
Edward membuka jendela lalu mengarahkan lengannya dan membiarkan gagak itu bertengger di lengannya lalu mengambil pesannya.
Edward membacanya dan agak terbelalak.
"Semuanya, cepat kemaskan barang kalian, dan bawa perlengkapan yang ada dan juga yang penting-penting saja semuanya lalu pergi dari sini dan jangan sedikitpun sampai-sampai meninggalkan jejak. Setelah selesai... taburi Bidara dan bubuk kelor di setiap penjuru rumah, cepat!" kata Edward dan langsung berdiri untuk membereskan barangnya.
45 menit kemudian...
Ada beberapa orang berjubah hitam mendatangi rumah yang sebelumnya Edward dan lainnya tempati, sedangkan Edward dan yang lainnya berada di tebing yang agak jauh dan melihat hal itu.
"Pesan dari ketua Meghan dan Komandan Arsya kalau ada pesugihan dari Dirgapati yang diutus untuk mengamati Pasukan Pemberantasan!?" tanya Dirga saat Erika memegang pesan dan dilihat semuanya.
"Tindakan kita sudah dicurigai... syukurlah bubuk Bidara dan Kelor bekerja pada saat yang tepat, jadi mereka takkan bisa melihat jejak kita" kata Edward.
"Ternyata benar... mereka adalah sekte yang kegiatannya bukan main-main bahaya dan tragisnya" kata Zeydan.
"Kapten... aku punya cara untuk mengumpan mereka agar membuka kedok mereka" kata Pasha.
Edward sedikit berbalik.
"Apa?" tanya Edward.
"Begini..."
"Kau yakin!?" tanya Erika.
"Ng!" kata Pasha.
"Baiklah... akan ku diskusikan dengan Meghan juga Arsya" kata Edward.
"Rencana yang brilian, Pasha!! haha!" kata Zeydan sambil melingkarkan lengannya ke leher Pasha.
"Terimakasih"
Fakta dan basa-basi 😋
Jika Pasha sedang mencari tahu tentang suatu pelajaran, dia akan setara dengan harimau yang mengincar mangsa.