
Andika akhirnya membaca keseluruhan buku itu, begitu juga dengan Zeydan.
"Apakah kalian masih tak ingat? bagaimana kalian mendapatkan tanda ini?" tanya Meghan yang memakai topeng dan memeriksa Andika juga Zeydan.
"Tidak, kami sama sekali tidak ingat hanya ingatan terngiang-ngiang yang membuat kami pusing untuk mengingatnya" kata Andika.
"Begitu, baiklah... jangan di paksa" kata Meghan dan pergi.
"Sebelumnya siapa kau?" tanya Zeydan.
"Aku? aku adalah Pilar pengintai dan medis dari Pasukan gerakan pemberantasan sekte dan Organisasi sesat" kata Meghan.
"Baiklah, jika ingat sesuatu... katakan langsung padaku" kata Meghan.
BLAM!
"Siapa Ibu dan Ayahku!?" tanya Andika.
"Tenanglah, jika kau seperti itu terus itu akan membuatmu frustasi" kata Zeydan.
"Bagaimana aku tidak frustasi, Zeydan!? aku bahkan tak mengingat apa yang terjadi! bahkan bagaimana kita bisa terluka seperti ini" kata Andika.
"Kau benar, Eri bahkan terlihat kecewa dan sedih" kata Zeydan.
"Siapa? Ibu... dan Ayahku?" tanya Andika.
"Kutukan Pandora, tanda ini ya? sepertinya ingatan kita di hapus atau terhapus sendiri aku gak tau" kata Zeydan lagi.
Di Atap istana...
"Tetap saja, mereka tak ingat bagaimana mereka mendapatkan simbol kutukan Pandora itu" kata Meghan.
"Aku juga tak merasakan aura kebohongan dari dalam diri mereka" kata Edward.
"Begini, kau mempunyai keahlian khusus klan Taira kan? dapat melihat ingatan seseorang?" tanya Meghan.
"Tapi kemampuan melihat ingatan orang itu hanya tak akan bereksi pada 2 keturunan khas, yaitu Fujiwara dan Hasegawa, itulah kenapa dulu saat Pascal akan menghapus ingatan orang, Fujiwara dan Hasegawa tak terkena dampaknya" Jelas Edward.
"Tapi Zeydan?" tanya Meghan.
"Zeydan pengecualian, dia mendapat kutukan Pandora yang berasal dari gen energi Fujiwara Aika" kata Edward.
"Begitu? jadi susah dong" kata Meghan.
Di Ruang kerja Amanda...
"Pak Andi, karena Kak Andika dan Zeydan berhasil hidup meski terkena kutukan Pandora? apakah itu berarti, mereka berdua lah yang menyegel Pandora? karena jika tidak memiliki darah keturunan ninja asli maka mereka akan mati meski Pandora tersegel, tapi buktinya mereka masih hidup?" tanya Erika.
"Yang bisa saya jawab hanyalah, mungkin saja benar kalau Nak Andika dan Nak Zeydan yang menyegel Pandora, mungkin mereka tak menyegelnya dengan benar jadi mereka mendapat kutukan Pandora itu?" tanya Pak Andi yang berumur 85 tahun.
"Tapi... bagaimana caranya mereka menyegel Pandora tanpa kehilangan nyawa mereka? kertas apa yang melekat di kotak Pandora?" tanya Erika.
Pak Andi terdiam.
"Saya tidak tahu" kata Pak Andi dan pergi.
"Siapa yang menyegel Pandora? Mama, Papa, Paman Andra kah? tapi, mereka telah tiada... tidak! aku harus bisa mengesampingkan urusan Pandora, kami harus membincangkan soal kepemimpinan tahta" batin Erika.
"Paman Rafi, bagaimana?" tanya Erika.
"Ya, aku akan menggunakan jurus Mimesis untuk menyamarkan diriku menjadi Kak Ana" kata Rafi.
"Terimakasih, aku sangat terbantu" kata Erika.
"Erika, kamu gak menangis saat mengetahui orang tuamu telah tiada?" tanya Rafi.
"Aku.... Aku... " Erika membendung air matanya dan tumpah.
"Aku... tentu saja! tentu saja aku gak menangis! aku, aku bukan anak manja! tapi tetap saja, aku rindu Mama dan Papa, Paman!" kata Erika yang tersenyum sambil menangis.
Kak Ana gak menangis kok, Rafi.
"Kak Ana... " batin Rafi.
PUK! Rafi memeluk keponakannya.
"Menangis saja, gak usah malu... Paman mahram-mu kok, tenang saja, maaf apabila Paman gak bisa menjadi Paman yang baik" kata Rafi sambil memeluk Erika.
"Ukh!! Hiks! aku... aku rindu Mama! aku rindu Papa! aku... hiks, aku rindu kita menjadi keluarga lengkap seperti dulu, Paman!" kata Erika.
"Ya... Paman juga ingin hal seperti itu terwujud kembali, sangat! sangat ingin!" kata Rafi sambil memeluk erat Erika dan menahan air matanya.
"Kak Ana, aku berjanji... akan menjaga keempat anakmu"