Between Curse and Peace

Between Curse and Peace
Season 2 Episode 10 : Dimensi Misterius (4)



Malam harinya...


"Setidaknya ada 2 jenis saja yang di ketahui" kata Nisa yang sedang berjalan dengan Andika.


"Setelah itu, ada baiknya kita bicara dengan Nona Ratri-... " belum selesai Nisa bicara.


"Anu, maaf Nisa... aku selesai dulu untuk hari ini" kata Andika dan langsung pergi berlari ke istana.


Sesampainya di Pintu Utama lorong yang mengarah ruang keluarga...


Andika membuka pintunya.


Andika menghembuskan nafas perlahan agar tenang dan membuka pintunya.


Ceklek!


Dia melihat Ayahnya membaca koran, Ibunya tengah memasak, sedangkan dia tidak melihat adik-adiknya.


"Tumben? cepat sekali? gak baca-baca dulu di perpustakaan?" tanya Erlan.


"Hehe... " gumam Amanda sambil tersenyum.


"Ayah... Ibu... " Andika membendung air matanya.


PUK! Amir dan Unar menjahili Andika dengan meletakkan selimut putih ke kepalanya.


"Ya! ku tangkap kau!" kata Amir.


"Aku juga!" kata Umar.


"Hei! aku baru saja melipatnya! jangan di hambur lagi! Dasar... " kata Erika yang tengah duduk di karpet sambil melipat beberapa kain.


"Jangan lupa salamnya... Andika" kata Amanda sambil tersenyum dan meletakkan mangkuk di meja makan.


Andika memejamkan matang dengan erat untuk menghapus air matanya.


"Assalamu'alaikum, aku pulang" kata Andika.


Di Kediaman Al Farisi...


"Jadi... Mama dan Papa sudah gak ada karena menyegel Pandora?" tanya Nisa.


"Kakak sudah menanyakannya sebanyak 28 kali" kata Zeydan.


"Jadi... mama dan papa sudah gak ada?" tanya Nisa.


"29" kata Zeydan.


"Baiklah! aku akan ke rumah Andika sekarang!" kata Nisa.


"Jangan lupakan roti sandwich-nya" kata Zeydan.


"Ya!"


Nisa sedang berlari ke arah istana dan melompat dari bangunan ke bangunan lainnya.


"Maafkan aku Andika! aku sudah salah! aku malah menyakitimu secara tidak langsung, sekarang aku mengerti bagaimana pedihnya tak kehilangan orang tua" batin Nisa dan sampai ke jendela luar ruang keluarga lantai 3.


"Maafkan aku Andika! Ayo-... Eh?" tanya Nisa saat melihat ke dalam.


"Hahaha! bisa saja!" kata Andika yang sedang tertawa.


"Ok... baiklah, sekarang tinggal Ibu yang memukul!" kata Amanda yang matanya di tutup kain.


Rupanya mereka sekeluarga tengah bermain pukul balon, jika yang di katakan warna biru, maka harus memukul balon berwarna biru tanpa melihat menggunakan palu yang terbuat dari karet, jika salah maka akan di kenakan sanksi sesuai kesepakatan.


"Duh! palunya terlalu lemah! baiklah!" Amanda langsung membunyikan jari-jarinya dan meninju meja.


JDRUAK!! Meja langsung terbelah dua bersamaan dengan balon yang pecah.


"U.. Uaa!" kata Erlan yang kaget.


"Waw!" kata Amir dan Umar.


"Ma.. Mama! mejanya hancur!" kata Erika.


"Hahahaha!!" Andika hanya tertawa lucu melihat tingkah Ibunya.


Mereka berenam tertawa karena Amanda yang menghancurkan meja.


Nisa hanya melihat, karena ini pertama kalinya dia melihat Andika tertawa lepas begitu.


Nisa akhirnya memutuskan untuk tidak mengganggu Andika, dia juga menjadi bersalah karena tidak bersyukur atas masih adanya orang tua di sisinya.


Di Taman....


"Ada apa? katanya kau memanggilku? maaf... aku sedang sibuk" kata Andika yang sedang bersandar di sisi pohon lainnya.


"Aku tahu... " kata Nisa yang di balik sisi pohon lainnya.


"Apakah, tidak sebaiknya kita mencari informasi?" tanya Nisa.


"Ni.. Nisa, iya... aku sedang mencari kok, hanya saja... " Andika terdiam.


"Apakah, kau... ingin tinggal disini?" tanya Nisa.


"A... Apa!? Apa... maksudmu,... Nisa?" tanya Andika perlahan dan termenung.


Mereka berdua terdiam dan pergi dari situ.


Nisa : "Aku pertama merasa betah disini..."


Andika : "Aku akhirnya mengerti, aku mulai merasa nyaman di Dimensi ini"


Nisa : "Karena aku punya kebebasan... "


Andika : "Karena Ayah disini, Ibu disini... "


Nisa : "Mau bagaimanapun juga"


Andika : "Aku tahu, aku tahu ini palsu"


Nisa : "Aku sadar..."


Andika : "Aku tak ingin kembali, aku tak ingin merasakan perasaan bersalah dengan meninggalkan mereka"


Tiba-tiba...


Pin tanda untuk berkumpul di markas tiba-tiba menyimbolkan warna merah, artinya ada hal darurat.


Di ujung belakang markas pemberantasan....


Ternyata Chandra yang menyerang.


"Siapa kau!?" tanya Erlan.


"Nona Ratri... " Amanda membawa pergi Ratri.


"Hmf... dimana si pemegang kutukan itu?" gumam Chandra.


"Chandra!!" Seru Andika.


"Menjauhlah Andika!" kata Erlan.


Andika akan maju.


"Andika berhenti! Ibu tidak akan memaafkanmu! jika kau berani-berani mati sebelum kami!!" Seru Amanda.


"Ibu!!" batin Andika.


Andika melihat Chandra.


Chandra langsung melontarkan Black Hole.


"Andika!!!" Teriak Amanda.


Andika fokus dan mengaktifkan logo Kutukan Pandora-nya lalu mengarahkan tangannya ke Black Hole itu. Dan Black Hole itu langsung hancur dan membuat cahaya yang sangat menyilaukan di mata.


Di Alam bawah sadar Andika...


"Andika... "


"Eh!? I.. Ibu!?" tanya Andika.


"Andika, aku tidak punya banyak waktu, tenanglah... karena ini Ibu yang asli, haha! kau memang tak banyak berubah ya?" tanya Amanda.


"I.. Bu, aku... aku" Andika menunduk.


Amanda memegang kedua pipi Putranya.


"Tenanglah, mau bagaimanapun juga... semuanya telah terjadi, kau harus dapat merelakan yang telah pergi, hm? Kau harus melanjutkan hidup" kata Amanda.


"Bu! Ibu sama Ayah dimana!? jasad kalian tidak di temukan! beritahu aku!" kata Andika.


"Karena aku tidak punya banyak waktu Andika, jadi... aku tak bisa memberitahu itu, tapi ingatlah, yang bisa ku beritahu adalah... Chandra tidak akan mati sebelum seorang Fujiwara menghabisinya" Kata Amanda.


Andika menangis.


"Tapi, aku... minta maaf! karena aku, kalian-... " Belum selesai Andika bicara.


"Jangan merasa bersalah Andika, yang sepenuhnya bersalah adalah aku, karena aku tak bisa melindungi kalian, Chandra benar-benar bisa membahayakan jika dia mendapatkan kekuatan Pandora, kau harus menjaganya" kata Amanda.


"Ini adalah Dimensi Mimpi, semua yang ada adalah mimpi dan impian yang tak pernah terwujud... kau harus keluar dari Dimensi buatan Chandra dan mimpimu sendiri!"


"Baiklah, setelah itu.. Pulanglah ke Dunia mu, Erika akan membantumu dan Nisa kembali. Semua ini Palsu, kecuali aku yang datang memberitahumu ini asli. Ok... Andika, Ibu pergi dulu, Andika jangan sedih ya? Andika kan kuat? hm?" tanya Amanda yang pergi perlahan sambil tersenyum.


Setelah Andika sadar...


Andika membuka matanya, dia masih berdiri dan melihat Chandra.


"Heh, baiklah... aku akan biarkan kau menyimpan kekuatan Pandora itu nanti, sampai di suatu hari aku akan mengambilnya" kata Chandra.


CKR!! CKRAK!!! Tiba-tiba perisai itu hancur karena Kunai bersamaan dengan perginya Chandra.


Ternyata itu adalah Kunai milik Erlan.


"Andika!" kata Amanda.


"Syukurlah kau baik-baik saja!" kata Amanda sambil menangis.


Tiba-tiba ada angin lembut bersamaan dengan adanya cahaya di depan Andika yang perlahan membesar.


"Apa.. apa itu?" tanya Erlan.


"Jangan bilang, kita harus kembali?" tanya Nisa.


"Maksudnya!?" tanya Amanda.


"Aku harus pergi" kata Andika.


"Tidak boleh! itu akan berbahaya!" kata Erlan.


"Kak Andika!" kata Amir, Umar, dan Erika yang baru tiba.


"Sebenarnya, aku dan Nisa ini bukanlah berasal dari sini... " kata Andika.


"Juga, itu karena kami tersesat dan di jebak ke Dimensi yang di buat musuh, aku benar-benar minta maaf karena telah menipu kalian" kata Andika sambil menatap orang tua palsunya dengan ketiga adiknya.


"Apa... apa maksudmu!?" tanya Amanda.


"Ayahku, adalah Shinobi Legendaris ke Delapan! dan Ibuku adalah Terano Ryu, mereka berdua meninggal karena melindungi orang-orang, diriku, juga... adik-adikku, ini semua hanyalah mimpiku, aku harus pergi dari sini" kata Andika.


Amir, Umar, dan Erika melihat mereka.


"Andika! aku mohon! jangan pergi... " kata Amanda sambil memegang bahu Andika.


"Aku... pergi" kata Andika sambil dengan lembut melepaskan genggamannya.


"Andika!"


Cahaya itu perlahan membesar.


"Kau yakin akan pergi?" tanya Erlan.


Andika terhenti langkahnya begitu juga Nisa.


"Aku tak tahu siapa dirimu, tapi aku tak bisa menganggapmu sebagai orang asing" kata Erlan.


"Begitu ya? Oh ya,.... terimakasih untuk semuanya! meskipun kita hanya sekali menikmati ini seperti keluarga, tapi... ini pertama kalinya aku mendapatkan kesempatan ini sejak umurku yang ke 15 tahun!" kata Andika tanpa berbalik ke belakang.


"Terimakasih untuk makanannya! terimakasih karena sudah perhatian padaku, memarahiku, dan menyayangiku, aku benar-benar takkan melupakan semuanya, maaf jika aku terkesan lancang dan menipu" kata Andika di sela-sela cahaya yang melebar.


"Kak Andika!! jangan pergi!" kata Erika.


Amanda memeluk Erika sambil menangis.


"Maaf, tapi untuk terakhir kalinya aku ingin bilang... terimakasih!! terimakasih banyak! Ibu! Ayah! Amir! Umar! Erika!" kata Andika.


Nisa mengusap air matanya.


Cahaya perlahan melebar, keluarga palsu Andika hanya bisa pasrah dengan kepergiannya.


Setelah cahaya hilang...


"Eh? kita... ada di ruang kesehatan markas?" tanya Andika.


"Begitu... sepertinya hanya jiwa kita yang ke sana" kata Nisa.


Andika melihat semuanya.


"Hmf... kita, sudah kembali... ke dunia kita" kata Andika.


Nisa menatap Andika dengan kasih


"Kak... Andika!" kata Erika sambil memeluk nya.


"Yun-... chan" kata Andika.


"Aku berhasil menarik jiwanya kembali! Zayn!" Seru Erika.


"Syukurlah!" kata Zeydan.


"Kenapa kau bisa... menarik jiwaku dan Nisa?" tanya Andika.


"Aku akan menceritakannya nanti" kata Erika.