
"Permisi" kata Adin.
"Eh? Adin! lama tak bertemu!" kata Meghan.
"Sudahlah, aku harus cepat... aku tak betah lama-lama di Dimensi ini" kata Adin sambil memberikan berkas pada Meghan.
"Ng? dari siapa ini?" tanya Meghan.
"Pangeran Rafizi meminta saya untuk mengantarnya pada Nona" kata Adin.
"Tumben banget si Rafi"
"Ya sudah, aku akan ke ruangannya kapten Edward" kata Adin.
"Eh! jangan! berikan berkas milik Edward padaku, dia bilang agar jangan ada yang menghubunginya dan jangan ada yang masuk ke ruangannya, dia sedang tak ada di markas" Jelas Meghan.
"Sungguh? dia kemana?" tanya Adin.
"Sebenarnya ini hanya diketahui oleh diriku saja, kau tak boleh tahu... aku hanya bisa bilang, setiap bulan purnama, Edward pergi untuk mengunjungi seseorang"
Di Tempat penyegelan Pandora...
Edward duduk bersandar di bawah pohon dan tertidur. Meski tertidur, wajahnya yang tampan takkan mengalihkan tatapan siapapun dari wajahnya.
Phantom Lady yang menaiki Gantole melihat tempat penyegelan Pandora dan juga Edward yang tertidur.
"Eh? dia... Kapten dari Pasukan Pemberantasan sekaligus Pilar pedang, Fujiwara Edward. Kenapa disini? dia juga tertidur pulas sekali" batin Phantom Lady yang termenung.
SRUK! Phantom Lady langsung menyelimuti Edward dengan sebuah jubah bertudung warna hijau gelap.
"Jubah ini buatan seseorang, jujur dia ingin selalu memberikannya padamu tapi tak sempat. Simpanlah ini baik-baik" batin Phantom Lady dan pergi.
"Ng? ck! berapa lama aku tertidur? ng? jubah siapa ini?" tanya Edward.
"Eh? auranya? Snif... Snif" Edward mencium bau aura jubah ini.
DEG!!
"Kenapa... auranya khas sekali? aku, seperti pernah mengenalnya, tapi... siapa?" batin Edward.
Edward hanya terdiam dan langsung memakai jubah itu.
"Bagus juga... " kata Edward dan tersenyum tipis tapi tetap dalam perasaan yang sangat hancur karena aura jubah itu membuatnya begitu nyaman memakai jubah bertudung hijau.
Edward meletakkan buket bunga Zinnia biru di tempat segel Pandora, karena dia tahu Amanda sangat suka bunga yang di sukai kupu-kupu itu.
"Aku berjanji akan membunuh Chandra dan membuatnya merasakan apa yang kalian rasakan, setidaknya membuatnya merasakan luka yang sama apabila aku tak sanggup membunuhnya, tapi aku akan pastikan aku sanggup!" kata Edward.
"Untukmu Yumna, aku membawakan Bunga Zinnia biru khusus untukmu. Ini memang langka, tapi aku mendapatkannya. Kau terlalu sibuk bekerja sampai-sampai tak sempat melihat Zinnia kesukaanmu, aku tahu kau pasti kesepian. Aku akan kesini dan menemanimu bercerita lagi nanti, aku pulang dulu" kata Edward lalu berbalik pergi.
"Ng? aura ini, sama seperti aura Yumna, apakah ini berarti... Yumna!?" batin Edward yang merasakan aura khas di jubahnya dan akan berbalik ke belakang tapi teringat ucapan Amanda.
Jangan bawa aku yang sudah mati nanti ke dalam pikiranmu terlalu dalam agar kau tidak tertekan, ok?
( Season 2 Episode 13 )
"Tapi, aura ini sama dengan Yumna... " batin Edward dan kembali berjalan.
"Yumna... apakah aku sudah gila karena merasakan auramu yang hangat?" tanya Edward yang terus berjalan perlahan dengan nada lirih dan terus berjalan ke depan menuju markas.
Dia merasa sangat aneh sekali, ia sangat sedih tapi seolah mengatakan kalau Amanda ada di sampingnya, ia bahkan merasakan jubah hijau yang di dapatnya ada aura hangat sepupunya itu. Dia masih waras kan?.
Edward terus saja mengulang waktu dengan mengingat kejadian pertama kali bertemu dan langsung menyerang Amanda di markas karena mengira Amanda itu penyusup. Takdir bahwa Amanda itu adalah sepupunya tidak pernah menjadi suatu kesalahan baginya.
Kisah dimana dia mengetahui Amanda yang dia sebut Yumna itu sepupunya karena satu Klan, hanya terukir waktu yang salah, dia ingin mengenal Amanda dari dulu agar Amanda tidak kesepian karena terpisah dari Andra karena peristiwa penculikan. Tetapi ia tetap bersyukur karena sang Pencipta memberikan kesempatan padanya untuk menemukan orang yang tepat baginya untuk menjadi sepupunya.
"Sepertinya, aku akan tetap seperti ini terus sampai akhir ya?" batin Edward.
Saat Edward sudah menjauh...
Phantom Lady yang rupanya masih mengawasi Edward akhirnya keluar dari tempat persembunyiannya.
Phantom Lady itu mengambil buket bunga Zinnia biru yang di bawa Edward sambil memandang Edward yang pasrah terus berjalan ke depan.
"Apakah... aku sudah meninggalkan beban berlebihan padamu? maafkan aku, tapi untuk mengalahkannya, aku tak bisa membuat orientasi dengan pasukan Pemberantasan. Hanya ini waktu yang sempat untuk ku berikan jubah itu, aku akan selalu datang ke sini pada saat Bulan purnama nanti" kata Phantom Lady sambil memandang jilbab tudung, jubah nya, dan rok panjang miliknya.
"Kalian semua, maaf aku harus menipu kalian dengan topeng ini, karena aku tak ingin kalian dalam bahaya dengan menghadapi Chandra" kata Phantom Lady lagi sambil memegang topengnya.
"Tapi Kapten... " Phantom Lady memeluk erat buket bunga Zinnia biru itu.
"Terimakasih Kapten, untuk bunganya" gumam Phantom Lady itu sambil tersenyum merekah.
Pengumuman!!
Tenang saja, bukan hiatus lagi tapi membahas hiatus.
Karena banyaknya pekerjaan, jadi bab akan saya usahakan untuk Update tepat waktu.
Mungkin di pertengahan bulan atau beberapa minggu kemudian akan ada hiatus lagi jadi mohon maaf.
Makasih yang udah baca.