
Anggota Lupin Star termasuk Phantom Lady pergi ke istana Carna untuk menemui semuanya.
Amir, Umar, dan Adelia benar-benar sangat terkejut sekali... melihat Phantom Lady. Amir dan Umar sampai hampir menangis karena itu.
Anggota Lupin Star akhirnya akan pergi ke Dimensi Astral untuk mengalahkan Chandra Nagata, lalu Amir, Umar dan Adelia melanjutkan pekerjaan mereka kembali.
Amir teringat akan Phantom Lady dan menangis terharu di sela-sela pengarahannya.
"Jangan menangis, jangan berhenti untuk memberi arahan pada pasukan... kita takkan kalah karena Lupin star akan membantu pasukan kita" kata Adelia.
"Baik!" kata Amir.
Di ruang tamu istana...
Ayah Farel, Adimas, dan Daniel sedang duduk.
"Nona Adelia, Pangeran Amir, dan Pangeran Umar benar-benar hebat, beliau tetap mengarahkan pasukan pemberantasan dari jauh meski terguncang akan kematian Lord Fifth" kata Adimas.
"Begitulah, dan kita dikejutkan dengan 'dia' yang ternyata masih hidup, saya yakin mendiang Nona Ratri dan Lord Fifth pasti tahu hal ini tapi merahasiakannya" kata Tuan Maykatra, Ayah Farel.
"Benar, anak-anak ini... walaupun mereka memasuki dunia kedewasaan yang mereka lakukan harusnya berbaur dengan teman-teman mereka untuk melalui pertumbuhan yang normal, tapi mereka lebih hebat dari yang kita ekspektasikan" kata Daniel.
"Seperti yang dilakukan Farel, aku akan mengorbankan nyawaku untuk melindungi mereka, sehingga aku takkan mempermalukan nama keluarga Maykatra" kata Tuan Maykatra.
Di Dimensi Astral...
Di tim Erika...
Erika dan Pasha yang terpisah dari Dirga langsung berusaha mencari rubik yang mengurung Zeydan.
"Apakah Erika bisa mencari cara lain untuk menghentikan perang, Zeydan, dan Chandra... karena, Erika satu-satunya yang berhasil menaklukan matahari, jika Chandra mendapatkan Erika dan menaklukan matahari maka habislah sudah" batin Pasha.
"Bagaimana keadaan Aram, Gibran, dan T?" batin Pasha.
Sementara itu Andika...
Andika terus menghadapi L.
"Jurus Pedang!! Aliran merapi!!" Andika menebas tangan L tapi L bisa meregenasikannya kembali, dan menghindari serangan L dengan jurus teleportasi.
Edward terdiam.
"Andika... kau sudah banyak berkembang, jadi tidak heran kalau mengatakan bahwa kekuatanmu meski tanpa kutukan Pandora setara dengan seorang Pilar" batin Edward.
"Santan basi berbau asem" kata Andika.
"Ca.... kep?" tanya Edward.
"Dibersihkan menggunakan serok" kata Andika.
"Ca... cakep?" tanya Edward.
"Sumpah, sejak kapan santan basi dibersihkan pakai serok?" batin Edward.
"Sebaiknya anda jangan macem-macem" kata Andika.
"Cakep?" tanya Edward lagi.
"Kalau masih mau melihat hari esok!" kata Andika.
"Cakep" kata Edward.
"Btw tu pantun darimana, Ken?" tanya Edward.
"Dari Paman Andra" kata Andika.
L menatap Andika.
"Aku ingat, 'Dia keponakanku, jangan sakiti dan remehkan dia, dia dan teman-temannya lah nanti yang akan menghancurkan Dirgapati' aku ingat perkataan Lord Seventh sebelum kematiannya" kata L.
"Kau memang tidak lemah, aku mengerti sekarang. Tapi Lord Seventh itu hanyalah julukan figuran saja, ia benar-benar lemah" kata L.
"Tapi aku cukup kagum mulutnya memiliki seribu bahasa. Aku memujinya" kata L.
"Tidak, kau mengejeknya" kata Andika dengan kesal.
"Tapi kau hanyalah orang yang tidak berguna! semua teman-teman dan pasukan yang lainnya mati tapi kau tidak bisa berbuat apapun" kata L.
"Ap-... " belum selesai Andika bicara.
"Dia tidak lemah, jangan hina dia. Dia dan teman-temannya akan menjadi penerusku dan yang lainnya. Mereka adalah generasi masa depan yang akan melanjutkan tekad dan perjuangan kami. Jangan menghina mereka. Sebagai Pilar, sudah tugas kami untuk memastikan api semangat perjuangan mereka terus membara" Kata Edward
Andika membendung air matanya, karena perkataan Edward tadi sekilas terlihat seperti Farel dan Andra.
"Kenzo, persiapkan dirimu" kata Edward.
"Baiklah, waktunya permainan" kata L dan akan melontarkan serangan pada Andika.
DAR!!!
"Hentikan, L" kata seseorang.
"Karena lawanmu sekarang, adalah aku" kata T yang menangkis serangan L.
"T!?" tanya L.
"Bang T!" kata Andika.
"Urus yang lainnya bersama Pilar pedang, Kenzo" kata T.
"Baik! terimakasih!" kata Andika.
"T!? kau..!? jangan bilang...!?" tanya L.
"Aku tak tahu apa yang kau pikirkan, tapi sebaiknya jangan sakiti mereka" kata T.
L sedikit berat hati untuk melawan T.
"Kenapa? apakah ada masalah?" tanya T.
"Ck! hanya karena kau lebih kuat 2 pangkat di atas ku! aku takkan kalah" kata L.
L dan T langsung bertarung dengan sengit.
Di kediaman Maykatra...
Farhan sedang khawatir.
"Kakak! kau tahu!? sekarang sedang ada perang di Dimensi Astral! duh! bahkan Ayah saja pergi ke istana Carna, semoga Ayah dan Kak Andika baik-baik saja!" batin Farhan.
Flashback Off...
Tapi Andika dan Edward tak bisa ke mana-mana karena tak ada jalan keluar.
"Karena Chandra... dia membuat kekasihku, meninggal!!" Seru T.
Edward akan menebas L.
JDAK!! L menendang Edward dengan sangat jauh karena Edward tidak waspada.
"Kapten!!!" Seru Andika.
"Kau mengkhianati kami ya, T? heh... tak ku sangka kau akan seperti ini" kata L.
T terus menghindar, L lumayan terluka karena T lebih kuat.
"Gawat! ini akan jadi pertarungan yang sangat lama! sedangkan kami harus ke tempat Chandra secepat mungkin! Nyonya Bella takkan bisa bertahan lama!" batin Andika.
L akan memberikan pukulan pada Andika.
"Kenzo!!!!" Seru T.
Andika tidak bisa menghindar karena dia terpojok.
"Aku benar-benar marah sekarang, ada rasa yang bagaikan panas mendidih tapi bukan api, kerja bagus karena sudah menendangku sangat jauh, Pasukan Dirgapati atas nomor lima" kata Edward.
"Kapten!" kata Andika yang lega.
Edward sedang menahan diri.
"Aku... ini pertama kalinya aku melihat ada orang yang sama menyebalkannya dengan Chandra, aku tidak ingin mengeluarkan kekuatan besarku disini secara sia-sia, aku ingin Chandra yang merasakan sakitnya" batin Edward yang suhu badannya meningkatkan, dan detak jantungnya meninggi karena amarah, lalu tubuhnya tidak terkendali dan kaku.
"Ka.. Kapten" gumam Andika.
SWOSSH!!! Tiba-tiba ada sebuah tanda yang muncul secara horizontal yang muncul di antara sekitar mata kiri Edward dan membesar.
"Tanda ninjanya muncul, itu karena dia seorang Fujiwara... tandanya hampir sama istimewanya dengan tanda Aquamarine Silent yang ada di dahi Fujiwara Yumna, ini benar-benar luar biasa" batin T yang takjub.
"Tandanya... muncul" batin L.
"Edward! jangan sia-siakan kekuatanmu disini! itu hanya akan memboroskan energi saja!" kata T.
"Terserah, aku akan meledakkan diri untuk membuat kalian bertiga musnah!" kata L.
"Gawat!" kata Edward.
"Kalian pergilah! aku akan disini untuk mencegah ledakannya mengenai kalian! aku yang akan terkena ledakannya! cepat pergi dari sini dan cari Chandra Nagata!" kata T.
"Tidak mungkin!" kata Andika.
GREP!! Edward menggenggam kerah baju Andika bagian belakang.
"Kita harus ke tempat Chandra! ayo cepat!!" Seru Edward.
JDUAR!!
Andika dan Edward kaget tapi berhasil melompat.
T tersenyum.
"Entah kenapa... memori ku terputar kembali" batin T.
Flashback...
Aku di didik oleh seorang pria ahli bela diri bernama Pak Dian, beliau mengangkatku sebagai muridnya saat aku menghajar orang-orang sekitar, karena aku adalah mantan napi.
"Jadi... namamu adalah Aby ya?" tanya Dian.
"I... iya" kata T yang bernama asli Aby.
"Aku Dian, aku menjalankan beladiri semacam Muay Thai, aku tak punya murid dan hanya fokus merawat Putriku yang sakit, istriku meninggal setelah melahirkannya" kata Dian dengan tersenyum.
"Kau tidak keberatan menitipkan Putrimu pada seorang napi?" tanya T.
"Yah, Tuan Napi, aku hanya menitipkannya padamu beberapa jam saja" kata Dian dan mengantarkan Aby ke ruangan putrinya.
Dan di situlah aku bertemu Rena.
"Dia Putriku Rena, Rena, dia Aby... kalian bisa berteman, baiklah... aku akan ke sumur untuk mengambil air, Aby jaga dia ya" kata Dian.
Rena dan Aby hanya berdua.
"Em... kau terluka? apakah kau baik-baik saja?" tanya Rena.
Dan Dian selalu menitipkan Rena pada Aby.
"Maaf karena kau tidak bisa pergi bermain dan berlatih, dan hanya bisa merawatku saja" kata Rena.
Rena sangat lemah saat dia sedang sakit, dia tidak boleh dehidrasi dan harus banyak minum, saat ke kamar mandi aku juga harus menuntunnya.
"Aku tak pernah memikirkan main-main sebelumnya saat disini, saat aku sedang tidak melakukan apa-apa kecuali berlatih, jadi kau tidak usah mencemaskanku" kata Aby.
"Malam ini akan ada bintang jatuh, kau bisa pergi melihatnya" kata Rena yang terbaring.
"Aku akan melihatnya bersamamu apabila pusingmu sudah menurun" kata Aby.
"Eh?" tanya Rena.
"Dan jika kita tidak bisa melihatnya tahun ini, kita akan melihatnya beberapa tahun kemudian" kata Aby lagi.
Rena mulai menangis, dan hal yang paling sebal bagiku adalah melihatnya menangis di tengah-tengah pembicaraan.
Dan beberapa tahun kemudian, Rena mulai bisa menjadi gadis-gadis seusianya dan mulai sembuh, dia juga menjadi sangat ceria saat dia sudah sembuh.
Suatu hari...
"Aby, kemarilah" panggil Dian.
"Ya?" tanya Aby.
"Jujur, maukah kau untuk mengambil alih tempat bela diri ini? dan juga... Rena akan ku titipkan padamu untuk menjaganya" kata Dian.
Aby terbelalak dan menatap Rena yang wajahnya tersipu malu hingga memerah sambil menunduk.
Aby juga menjadi memerah dan mengutarakan kalau dia setuju.
"Aku... hanya punya mereka berdua, aku melindungi mereka berdua karena mereka berdua sudah menjagaku, sudah ku bayangkan betapa indahnya kami bertiga di sebut keluarga, aku pergi ke makam orang tuaku untuk meminta restu atas pernikahanku yang akan tiba beberapa hari lagi"
"Dan tiba saat aku kembali... "
"Dek Aby! darimana saja!? kami sedang mencari-cari!" kata pelayan yang membantu persiapan pernikahan.
"Ada apa mbak?" tanya Aby.
"Ada yang mencemari saluran air di rumah ini! para pesugihan itu kejam sekali! itu karena mereka tidak bisa mengalahkanmu dan Pak Dian untuk menjadikan dek Rena sebagai tumbal! mereka benar-benar kejam! bahkan dek Rena ikut terbunuh!" kata pelayan.
Aby memasuki ruangan dimana Dian dan Rena terbunuh, mereka di selimuti dengan kain putih.
"Aku tak menyangka hal buruk yang sesuai dengan ekspektasiku terjadi, bahkan lebih buruk lagi... padahal, aku sudah membuat janji dengannya saat itu"
Sebelum menjelang kematian Rena...
"Aby, apakah... kau ingat janji dimana kita akan melihat bintang jatuh?" tanya Rena.
"Eh? tidak" kata Aby.
"Bahkan jika kita tidak bisa melihat bintang jatuh tahun ini, kita bisa melihatnya di beberapa tahun berikutnya, kau mengatakan itu kan?" tanya Rena.
"Em, iya... sepertinya begitu" kata Aby.
"Aku, jujur hanya mendengar itu saja aku sudah senang... jadi, apakah benar? akankah kau nanti menjadi suamiku?" tanya Rena.
"Iya, aku akan melindungimu, dan melindungi Ayahmu yang akan menjadi Ayahku juga seumur hidupku" kata Aby.
Dan setelah peristiwa kematian Dian dan Rena, tercatat di kantor hakim bahwa para kelompok pesugihan di bantai oleh seseorang yang tak di ketahui.
Sehabis Aby dari sana dengan bersimbah darah, dia pergi dengan kemarahan.
"Dan disitulah aku bertemu Chandra"
"Aku tak ingat mengirimkan seorang makhluk astral" kata Chandra.
"Minggir" kata Aby.
SRUK!!! Chandra langsung menusuk wajah Aby dengan tangannya.
"Kekuatanmu setara dengan Pasukan Dirgapati atas, mau kau join?" tanya Chandra.
"Dengan menjadi pengikutku maka, kau bisa mendapatkan keabadian setelah aku mendapatkan tujuanku, kau juga akan menjadi sangat kuat kau tahu?" tanya Chandra.
"Aku... tak peduli" kata Aby.
"Aku akhirnya di ubah menjadi Subjek Pandora, dan hanya berpura-pura berpihak pada Dirgapati, dan bekerja sama dengan Gibran, Mansa, dan Aram yang ku temui"
"Disitu, yang kuingat terakhir kali hanyalah Rena yang tersenyum bahagia saat menatap bintang jatuh, dan pada akhirnya... aku hanya bisa menangis di akhir takdir dengan memeluk calon istriku yang sudah tak bernyawa"