
Erika sampai ke dinding selatan.
"Butuh pengisian sekitar 30 menit untuk energi jangkarku yang sudah setengah" gumam Erika saat sampai ke atas dinding selatan.
"Eh? Zayn! Pasha!" Seru Erika yang kaget melihat Zeydan dalam wujud kutukan Pandora yang terkapar dengan kondisi dinding tempat Zeydan terkapar ada bekas seretan.
"Pasha! kau kenapa? apa yang terjadi pada Zayn!?" tanya Erika.
"Sebenarnya.... "
Flashback...
Pasha, Ilman, Dirga, Salsa sudah kembali duluan, sedangkan Erika masih bersama Ray.
Zeydan sedang melawan Yusuf yang dalam bentuk Subjek Pandora.
Tapi hanya dengan sekali tendangan, Zeydan langsung terpental sampai atas Dinding.
Flashback Off....
"Yusuf... sudah sekuat itu!?" tanya Erika.
"Dimana Komandan Arsya!? Ketua Meghan dan Kapten?" tanya Erika.
"Komandan Arsya bersama sebagian besar pasukan menghadapi makhluk astral di luar dinding" kata Pasha.
"Apa!?" tanya Erika melihat pasukan Arsya berasa di luar Dinding.
"Ck! aku dan teman-teman kita akan menahan Yusuf! Pasha, berhati-hatilah karena Mansa belum di temukan!" kata Erika.
"Y.. Ya! Zeydan! bangunlah! ayo!" kata Pasha.
"Zeydan! bukankah pada malam sebelum berangkat misi ini aku, kau, dan Erika berbicara soal kita akan melihat Matahari, Bulan, dan Bintang? apakah setelah sampai kesini, bahkan bertarung demi menghapus semua sekte dan organisasi sesat, kau akan menyerah begini saja?" tanya Pasha yang khawatir tapi tersenyum.
"Aku mohon bangunlah! ayo! Zeydan!! kami mengandalkanmu! kita akan berusaha! apakah kau rela Erika dan teman-teman kita kehilangan nyawa mereka?" tanya Pasha.
Sementara itu Erika, Ilman, Dirga, Salsa mereka mengurus Yusuf.
BZZT!!! Ada suara gesekan listrik.
"Eh!?" mereka kaget melihat Mansa yang berubah menjadi Subjek Pandora.
"Ck! Mansa sekarang mengarah ke Zeydan meski lebih jauh daripada Yusuf! Pasha dan Zeydan dalam bahaya!" kata Dirga.
"Ilman!"
"Eh?" tanya Ilman pada Erika.
"Pasha memintamu untuk mengatur kami! karena pemikiranmu setara dengan Pasha! kami akan mengandalkan perintahmu disini!" kata Erika.
"Eh? A... Aku!?" tanya Ilman.
"Cepatlah, Ilman!" kata Salsa.
"Ikram percaya padamu!" kata Dirga.
Ilman terbelalak.
"Ki... Kita akan mengalihkan perhatian Yusuf! kita takkan bisa menghadapi Mansa dan Yusuf dalam wujud Subjek Pandora secara bersamaan! kita alihkan perhatian Yusuf pada kita!" kata Ilman.
"Ya!" kata mereka.
Mereka berkumpul di depan untuk menahan Yusuf menggunakan jangkar.
Tapi Yusuf langsung pergi dan tidak menghiraukan mereka.
"Ck! dia tak menghiraukan kita dan menuju Pasha dan Zeydan!?" tanya Ilman.
"Kita harus menahan Yusuf bagaimana pun caranya!" kata Erika.
"Erika! tunggu!" kata Salsa.
"Kita ikuti Erika!" kata Ilman.
📞"Kalian dengarkan aku!"
"Ada apa Kapten?" tanya Ilman yang mendengar suara Edward dari Handsfree.
📞"Kalian jangan coba-coba mendekati Subjek Pandora kedua! jika dia mengeluarkan aura panas yang berasal dari elemen Klan Kitagawa jangan di dekati! jika di dekati dalam sekali hembusan saja akan membuat kalian terkena luka bakar dan juga kematian!"
"Dimengerti!" kata mereka.
Sementara itu Meghan...
Meghan dan seorang asistennya bernama Fauzi bersama beberapa prajurit sedang mengejar beberapa makhluk astral.
Tiba-tiba saja suatu hal buruk yang tak diinginkan terjadi, Mansa melepaskan aura panas dan mengarah sangat cepat ke arah pasukan Meghan ke dinding selatan.
"Nona Meghan!!" Seru Fauzi.
WUSH!!!
Sementara itu di tempat Erika.
Semuanya sedang berdiri untuk menghemat energi jangkar.
WUSH!!
"Gawat! itu aura panas yang dilepaskan Mansa!" kata Dirga.
Erika mengaktifkan Silent-nya.
"Perisai Ghaib!!"
Ilman, Dirga, dan Salsa terlindungi karena Perisai Ghaib yang dimunculkan Erika tepat waktu, sedangkan Zeydan dan Pasha baik-baik saja karena jangkauan aura tak sampai pada mereka.
"Terimakasih Erika" kata Ilman.
"Cepat! kita harus membantu Zayn!" kata Erika.
Sementara itu Zeydan...
Zeydan kalah saat berhadapan dengan Yusuf, tapi Yusuf berhasil terpental dan terlempar jauh, tapi karena melindungi Zeydan, Pasha menderita luka bakar yang membuatnya koma.
"Pa.. Pasha!? kau... melindungiku?" tanya Zeydan tak percaya.
"Ukh... Hiks, kenapa? kenapa kau dan Eri selalu saja melindungi ku? seharusnya aku yang melindungi kalian!" kata Zeydan sambil menangis.
Sementara itu....
Edward sampai ke tempat Arsya di luar dinding.
"Arsya!" kata Edward.
"Edward... ya?" tanya Arsya.
"Ada apa?" tanya Edward.
"Tidak, sepertinya... kita mengambil kesalahan karena datang dengan pasukan pemula dan beberapa pasukan atas, lihat lah, pasukan kita bertarung dengan makhluk astral dan mati satu-persatu. Aku mengambil tindakan yang salah sebagai seorang komandan pasukan pemberantasan" kata Arsya dengan tersenyum getir.
Edward mengerutkan keningnya lalu berlutut dengan satu kaki dan menaruh tangannya di pahanya, seperti yang dia lakukan dulu pada Amanda.
"Pimpinlah pasukan itu untuk menghabisi Dirgapati, aku sebenarnya sudah berjanji pada Yumna dan Ray, akan membunuh Chandra, aku sekarang akan berjanji juga padamu... aku akan membunuh Chandra demi kalian, dan juga demi semuanya" kata Edward dengan menatap Arsya dengan tatapan tajam.
Arsya terbelalak lalu tersenyum.
"Edward... terimakasih" kata Arsya.
"Ya, aku akan memeriksa daerah kiri dinding selatan lalu kembali, jalankanlah tugasmu" kata Edward sambil menggunakan jangkarnya dan pergi.
Arsya hanya tersenyum lalu memimpin pasukan dan melawan Chandra yang menjadi siluman buto ijo dan berada di barisan depan dengan bersemangat.
Beberapa waktu kemudian...
Edward selesai dan sedang memeriksa dalam dinding melihat pasukan semua berantakan.
Tiba-tiba ada serpihan batu yang beterbangan, Edward langsung berfirasat buruk dan pergi ke tempat Arsya.
Beberapa saat kemudian...
Semua pasukan dan juga Arsya terkapar dan kalah karena dilemparkan batu berkeping-keping oleh Chandra.
Edward terbelalak.
Di tempat Chandra...
"Mereka tak ada yang menyerah ya? hmf... aku tak sangka akan turun tangan dalam pertarungan di Dinding selatan di Dimensi pasukan pemberantasan, mereka semua mati ya?" batin Chandra yang dalam wujud Buto ijo dan melihat diantara para pasukan makhluk astral yang di sebelah nya berjejeran.
Chandra tak terlalu bisa melihat karena situasi tertutup asap-asap suar para pasukan pemberantasan.
"Kasihan sekali, mereka malah mati sia-sia" batin Chandra.
"Ng? semua makhluk astral-ku rubuh?" batin Chandra.
JRRK!! Tiba-tiba ada jangkar yang menancap di bahu Buto Ijo Chandra.
Chandra melihat.
Terdapat Edward yang wajahnya penuh dengan simbahan darah makhluk astral yang ia bunuh tanpa ampun, Edward datang dengan memegang pedangnya yang bersiap menebas dengan wajah amarah.
Chandra kesal karena masih ada yang berani melawannya dan memajukan tangannya untuk menghempaskan Edward.
"HHHIIAAAA!!!" Edward langsung berputar dengan jangkarnya dan menebas sekeliling tangan Buto Ijo yang raksasa itu.
Chandra kebingungan dan terbelalak.
"Eh?" batin Chandra yang tercengang melihat ada seorang prajurit yang secepat itu.
Flashback...
Saat Chandra, Yusuf, dan Mansa berbincang.
"Ada seorang prajurit pasukan pemberantasan yang harus ku waspadai dan ku hindari bila perlu?" tanya Chandra.
"Benar, selain seorang Fujiwara dan Pilar Pedang, Kapten Edward itu sangatlah berbahaya" kata Yusuf.
Flashback Off...
CRAAK!!! Tangan Buto Ijo Chandra langsung terpecah berceceran akibat tebasan cepat Edward.
"Jadi dia itu Edward yang seorang Fujiwara!?" batin Chandra.
Edward langsung berbalik dan menembakkan Jangkarnya lalu mengarah dengan sangat cepat untuk kembali menebas Chandra.
"Gawat! tengkuk dan punggung kiriku!" batin Chandra.
( Kepala, Tengkuk dan Punggung kiri adalah bagian paling lemah dan menjadi titik penebasan makhluk astral atau pun siluman).
Chandra tertipu, yang diincar Edward adalah matanya, Edward langsung menebas mata Buto Ijo Chandra.
"A... Apa!? aku tidak bisa melihat! apakah dia menghancurkan pandanganku!?" batin Chandra.
Edward benar-benar seperti dirasuki oleh siluman harimau putih yang mengincar mangsa saking di kelilingnya amarahnya yang memuncak bahkan Silent-nya sampai berwarna putih karena marah.
Edward langsung mengarahkan Jangkarnya ke bawah dan menebas kaki Buto Ijo Chandra.
"U... UWAA!! Kali ini kakiku!?" batin Chandra.
Edward langsung melompat ke atas dengan sangat tinggi sambil mempersiapkan pedangnya.
"Aku benar-benar melihatmu sangat bersenang-senang menghempaskan serangan batu itu!!!" Seru Edward dengan sela-sela nada amarah saat berbicara.
Edward langsung menembakkan jangkar ke tubuh Chandra di bawah dengan kecepatan penuh untuk melakukan penebasan.
"Biarkan aku membantumu untuk melanjutkan kesenanganmu!!!" Seru Edward dan berdiri di punggung Buto Ijo Chandra yang ambruk karena kakinya patah di tebas Edward.
"HHNG!!! HAAAA!!!!" Edward langsung melakukan tebasan berkali-kali dengan sangat cepat dan menggorok tengkuk Buto Ijo Chandra.
Dan Chandra yang kesakitan, siluman Buto Ijo-nya hilang dan Edward langsung mencekok mulut Chandra dengan ujung pedangnya dengan menekan sambil menginjak tubuh Chandra agar tidak bisa bergerak.
"Jadi kau ya? Chandra Nagata, pemimpin Dirgapati? yang membunuh para penyegel Pandora? kau juga kan? yang membunuh Yumna, sepupuku? kau benar-benar harus dibalas dengan perbuatan yang sama atas perbuatanmu 3 tahun yang lalu" kata Edward dengan wajahnya yang bersimbah darah dengan penuh amarah.
"Hoi, jawablah dasar tidak sopan" kata Edward.
CRASH!!! Edward langsung menebas wajah Chandra tanpa rasa kasihan.
"Aku benar-benar sangat ingin menghabisinya, atas perlakuan yang dia perbuat pada Yumna aku tak bisa memaafkannya, tapi... kami masih membutuhkannya untuk interogasi, kemana jasad Yumna dan yang lainnya hilang"
"Aku harus bisa mengesampikan perasaan dendamku, dan mengambil sampel darahnya untuk di teliti apakah benar sampel darahnya dapat melengkapi Morph-x atau tidak, kuharap masih ada yang hidup diantara para pasukan! satu saja... setidaknya satu saja!!" batin Edward sambil membayangkan Arsya.
Tiba-tiba...
Ada Subjek Pandora lain yang membawa Chandra pergi.
Edward terduduk karena menghindar tapi terjatuh.
Edward kembali berdiri dan terbelalak.
"Oi, kau mau kemana, tunggu" kata Edward dengan berdesis.
Chandra terbelalak.
"Kau Fujiwara ya? Fujiwara Cabang, aku benar-benar akan menghabisimu atas perbuatanmu seperti aku menghabisi sepupumu, Edward!!" batin Chandra.
Chandra lalu mengisyaratkan semua makhluk astral yang ada untuk menghabisi Edward.
"Kau sudah tidak mempunyai senjata lagi kan, Edward? aku yakin kau akan mati disini" desis Chandra.
"Tunggu, aku... " Edward sangat terbelalak melihat dia yang membuat Chandra berhasil kabur.
TRANG!! Edward menjatuhkan pedangnya karena syok.
"Tapi.. aku sudah berjanji pada Yumna, pada mereka bertiga untuk membunuhmu" kata Edward yang terbelalak sambil membayangkan Amanda, Arsya, dan Ray.
Diantara makhluk astral yang berombongan datang, itu sama sekali tak bisa mengalahkan rasa penyesalan dan bersalah Edward karena tak bisa membunuh Chandra.
CTRANG!!! Edward mengambil kembali mata pedang menggunakan gagang pedang dan memperbaiki posisi tebasannya.
"AKU SUDAH BERJANJI!!!" Teriak Edward dan mulai menghabisi satu persatu makhluk astral yang mendatanginya.