Between Curse and Peace

Between Curse and Peace
Season 4 Episode 38 : Innocent person



"Dia dipenuhi dengan aura yang kejam, dia bagaikan lahar yang keluar dari letusan gunung" kata Akira yang menceritakan.


Aku sama sekali tak peduli dengan apapun selain mengabdikan diri pada Tuan Pascal dan Nyai Bestari.


"Setelah mengatakan itu, dia menyerang... dia memiliki kecepatan yang mengerikan, dan jangkauan serangan yang luas. Ketika aku mengelak, aku mendengar bambu terbelah dan jatuh cukup jauh di belakangku"


"Aku akhirnya sadar kalau kesalahan kecilpun, bisa membunuhku... untuk pertama kalinya aku merasakan hawa dingin di punggungku. Dia memiliki 6 jantung dan 4 otak, dan di saat aku menyempurnakan jurusku... dia tak bisa beregenerasi" kata Akira.


"Jurus macam apa itu!? aku ingin diajarkan!" kata Andika, tapi sia-sia... dia hanya bisa melihat pembicaraan Akira dengan kakeknya.


"Akhirnya aku melihat Gadis Subjek Pandora yang hanya melihatnya dengan sangat serius, dia tak membantu dan hanya melihat seakan-akan matanya terpancar cahaya harapan ingin agar aku cepat menghabisinya. Dan ketika aku maju satu langkah untuk menebasnya... aku mendengar suara gemertak gigi, dan tubuhnya meledak dengan sangat dahsyat" kata Akira.


"Dari 1800 potongan tubuh, hanya 1500 yang berhasil ku cincang dan ku potong... dan Gadis Subjek Pandora yang tadi hanya melihat berteriak dan menangis" kata Akira.


Aku berharap dia segera musnah! bersama Pascal dan Bestari! Si Chandra Nagata!!


Tapi... kenapa aku tidak kau bunuh?


"Dia bertanya begitu, lalu aku menenangkannya... akhirnya dia menjelaskan kalau dia adalah Pilar medis dari gerakan pemberantasan yang diculik Dirgapati karena keahlian medisnya yang menguntungkan sekte itu, dan akhirnya gadis itu menceritakan kalau Chandra Nagata si pemimpin sekte Dirgapati, mungkin akan berusaha takkan menunjukkan diri di hadapanku lagi" kata Akira.


"Dia akhirnya berkata... hanya seorang Fujiwara utama saja yang bisa membunuhnya selain aku, karena apabila orang lain bisa membunuhnya seperti aku tadi, si Chandra akan sempat meledakkan diri, tapi tidak pada Fujiwara karena apabila darah Chandra merasakan darah Fujiwara utama... maka dia takkan bisa meledakkan diri, bahkan regenerasi-nya akan melambat. Itu disebabkan karena Fujiwara utama sudah ditakdirkan untuk menghabisi Chandra, Pascal, dan Bestari untuk menuntaskan balas dendam Fujiwara Aika" jelas Akira.


"Aku lahir dengan darah garis keturunan Fujiwara cabang di tubuhku karena menuruni Ibuku yang meninggal" kata Akira.


"Akhirnya aku meminta si gadis untuk menjauhkan diri dari Chandra, dan nama gadis mantan Pilar itu adalah Bella Kencana" kata Akira.


Betapa kagetnya Andika mendengar nama gadis mantan Pilar itu.


"Ga.. Gadis mantan Pilar itu... adalah Nyonya Bella!?" tanya Andika.


"Akhirnya aku kembali ke markas, tapi aku mendengar kalau temanku Masahiro, yang mengabdikan diri pada Chandra membunuh sebagian besar pasukan pemberantasan" kata Akira.


"Aku... telah gagal membunuh Chandra sebagai orang yang memiliki darah Fujiwara cabang. Masahiro, mantan pasukan pemberantasan berubah menjadi Subjek Pandora dan berkhianat saat 60 tahun lalu dulu, para pasukan sangat kecewa padaku kecuali Pilar Fauna dan Lord Fifth yang menggantikan kedudukan Lord Fourth" jelas Akira.


"Dan aku berniat ingin keluar dari pasukan pemberantasan atas perbuatanku yang malah mempermalukan leluhur Fujiwara, dan aku juga meminta maaf pada Lord Fifth yang saat itu masih berusia 54 tahun, aku malah membebani beliau... " kata Akira.


"Tapi... Akira-san, itu bukan salahmu" kata Arif.


"Aku pikir... ibuku melahirkanku dengan sesuatu yang spesial di dalam diriku, yaitu untuk membunuh Chandra Nagata... pada akhirnya aku naif dan gagal" kata Chandra.


"Kaito, sepertinya... anak-anakmu lah yang akan mengalahkan Kitagawa Pascal, Nyai Bestari, dan Chandra Nagata" kata Akira.


"A... Apa!? kenapa tiba-tiba?" tanya Arif.


"Lagipula... Putri Silent sendiri sudah mempercayakan hal itu padaku" kata Akira.


"Eh? bukannya hanya Ibu saja Putri Silent? atau ada Putri Silent lain sebelum Ibu? aku yakin hanya Ibu" batin Andika.


"Putri... Silent? siapa yang kau maksud?" tanya Arif.


"Bu... Bukan apa-apa, lupakan saja" kata Akira yang keceplosan.


"Kau harus benar-benar bersyukur dengan kondisimu sekarang, karena kau memiliki keluarga yang jauh lebih beruntung daripada diriku" jelas Akira dengan datar tapi dengan ekspresi sedih.


"Akira-san... memiliki perasaan sedih yang mendalam, dan yang hanya bisa dia ajak cerita hanyalah kakek dan nenek, aku benar-benar ingin menghiburnya sebagai anak dari kerabat jauhnya, aku tidak bisa melakukan apapun" batin Andika.


Tiba-tiba Andika datang mendatangi Akira.


"Peluk dong" kata Andra.


"Eh? em... apakah kau tidak keberatan untuk menggendong Andra? kurasa dia sedang ingin kau menggendongnya jadi..." Arif menghentikan kata-katanya.


"Hahaha! Paman lebih tinggi lagi! haha! ayo!" kata Andra dengan senang saat di angkat tinggi-tinggi oleh Akira.


Andika tersentuh begitu pula Arif yang sudah menganggap Akira sebagai keluarganya, karena Akira-lah yang menjauhkan penganiayaan Kitagawa darinya dan Mika.


"Hahaha!!" Andra sangat senang.


Akira sangat terbelalak dan tercengang melihat Andra lalu air matanya bercucuran.


"Arif! aku sudah kembali! maaf lama ya, Ana agak rewel" kata Afifah sambil menggendong Ana.


"O.. Oh ya, Mika" kata Arif.


"I... itu nenek? cantik seperti Ibu, dan itu Ibu saat masih bayi?" tanya Andika.


Sedangkan Akira bersimpuh lutut dan menangis sambil memeluk Andra.


"Hm? oh! Akira-san! kenapa kau menangis, Dasar...? aku yakin semua baik-baik saja! aku akan memasakkan makanan yang enak untuk kalian! dan untuk dirimu! ayolah! senyum!" kata Afifah.


Akhirnya Akira merasa lebih baik setelah ditenangkan Afifah, Arif merasa sangat iba akan nasib Akira.


Andika hanya bisa melihat mereka, jauh di dalam pikiran, Arif dan Andika berharap agar hati Akira menemukan kebahagiaan meski sedikit.