Between Curse and Peace

Between Curse and Peace
Season 3 Episode 25 : Kesalahan yang terpendam



Andika sedang bersama Radith, bodyguard pribadi Andra, Pamannya.


"Jadi, Paman Radith dulu sering menemani Ibu dan Paman?" tanya Andika.


"Iya, saya selalu berada di samping Tuan Aliandra dan menemani Nona Aliana apabila Nona kesepian saat Tuan sibuk" kata Radith.


"O.. Oh" kata Andika.


"Tidak terlalu banyak bicara, bicara hal yang formal, Ibu tidak bosankah saat bicara dengan Paman ini?" batin Andika.


Tiba-tiba di aula latihan...


TRAK!!! BRAK!! Ada suara tumpuan pedang kayu.


"Eh? ada suara tumpuan pedang?" tanya Andika.


"Wah, mereka mulai lagi" kata Radith.


"Eh?" tanya Andika dan melihat dari jendela, ada Edward dan Toni memegang pedang kayu.


Edward dengan wajah tenang dan dingin seperti biasanya bersiap dengan pedangnya, sedangkan Toni dengan urat-urat menahan amarah dan berekspresi suram bersiap dengan pedang.


Edward dan Toni langsung bertarung dengan pedang, jika dibandingkan... Toni akan lebih suka bertarung dengan tangan kosong, bahkan kemampuan berpedang Erika sama seperti Toni.


"Wah! wah! kau tak ada bedanya dengan kami! apa bedanya sebenarnya kawan?" tanya Toni.


CTRAK!! Pedang kayu Edward dan Toni patah saat Edward melancarkan serangannya.


"Baiklah.. saatnya kita akan bertarung dengan tangan kosong! aku akan melanjutkan hal ini sampai ada yang mati!" kata Toni dengan kesal sambil tersenyum.


"He... hentikan!" kata Andika menengahi mereka.


"Apa masalahmu hah bocah!? kau bahkan berani mengintip! tidak sopan!" kata Toni.


"Apakah kita tidak bisa makan Nagasari saja? aku akan meminta Yun-chan untuk membuatkan yang banyak setelah dia pulang nanti" kata Andika.


"Kau sedang mengejekku ya!?" tanya Toni.


"Apa!? tidak! aku sungguh-sungguh!kau suka Nagasari kan, Kak Toni?" tanya Andika.


"Disaat aku selalu melewati ruanganmu, aku merasakan aura kue Nagasari! dan auranya mengingatkanku disaat Ibuku membuatkan brownies, ja.. jadi kupikir..." kata Andika yang memberhentikan kata-katanya karena melihat Toni yang semakin geram.


"Toni... kau suka Nagasari?" tanya Edward dengan ekspresi biasa.


"Nagasari itu enak... pisang didalamnya menjadi lebih manis jika dibuat menjadi Nagasari, Rahmat sering membuatkannya untukku saat di Rosement, jadi-... Ukh!!" Toni langsung pergi sambil marah.


Sementara itu di markas...


Andika akan ke ruangan Edward sambil mengingat pesan.


-Andika... saya Lord Fifth, ingin meminta tolong padamu untuk suatu hal. Tolong bicaralah dengan Edward dan bujuk dia, akhir-akhir ini dia tak ingin berpartisipasi dalam pelatihan para Pilar dan juga untuk rencana yang membutuhkan kerja sama.


Saya ingin melakukannya, tapi semakin hari, kondisi saya semakin memburuk... untuk beberapa alasan, saya ingin kamu yang menyampaikannya pada Edward-.


Terimakasih


Andika juga sempat berkirim pesan dengan Amir dan Umar. Amir dan Umar juga cerita kalau mereka dinamakan sesuai dengan nama mendiang teman Ibunya yang dulunya adalah pasukan pemberantasan yang telah gugur.


Andika sampai terbelalak, tapi dia cukup lega bisa berkirim kabar dengan adik kembarnya.


Sesampainya di ruangan Edward...


Edward sedang duduk sambil meminum tehnya, dan melihat foto Andra, Amanda, dan dua temannya yang saudara kembar, dulu juga pasukan pemberantasan tapi sudah gugur dan mengingat saat dia ke lokasi penyegelan Pandora.


3 tahun yang lalu...


Tap! langkah kaki Edward terus menyusuri tempat penyegelan Pandora yang sudah ditangani ahli oleh Gerakan Pemberantasan.


Area itu benar-benar bagaikan pembantaian, beberapa pohon ada bekas cakaran dan goresan dalam, bercak-bercak darah.


Edward syok parah, dia terpukul sekali, dua sepupunya... tidak mungkin meninggalkannya kan!?.


"Kami berjanji dan akan usahakan untuk kembali"


Edward mengingat ucapan mereka.


"Ukh... "


"Apa-apaan ini!?" tanya Edward dengan nafas tak beraturan, hatinya sudah tidak sanggup menerima kenyataan untuk kehilangan lagi.


"MEREKA!! KEMBALIKAN MEREKA!! HIKARU DAN YUMNA! KEMBALIKAN MEREKA PADAKU!!"


Edward berteriak dengan meluapkan semua yang ada dihatinya, meski... dia berteriak di alam semesta ini, dua sepupunya itu tidak akan kembali kan?


"Hah... Hah... Hah..." Saking cemas dan syoknya, nafasnya menjadi tidak beraturan.


Tok! Tok!


Flashback Off...


Tok! Tok! Tok! ada suara ketukan langsung menyadarkan lamunan Edward.


"Hah... Hah... Hah... " Edward mencengkeram seragamnya bagian depan dengan sangat kuat karena nafasnya menjadi tidak beraturan.


Edward menoleh ke arah pintu.


"Kapten Edward! ini aku! apakah aku boleh masuk? ini Kenzo!" kata Andika.


"Kenzo? tidak... aku pasti salah dengar, dia mungkin sudah pergi sekarang" batin Edward.


"Sruuup!! Huuuft" Edward mengambil nafas agar tenang dan tidak kehilangan kendali lalu meminum tehnya.


Ceklek! Andika membuka pintu.


"Halo, Kapten!" kata Andika.


"Ada apa?" tanya Edward dengan tatapan tak bersahabat.


"Bukankah... aku harus latihan seleksi pemeriksaan logo kutukan Pandora-ku?" tanya Andika.


"Aku tidak berpartisipasi dalam pemeriksaan kutukan Pandora, bahkan tak bersedia" kata Edward.


"Ng? saat aku menggunakan Turquoise-ku, ada aura amarah dari dalam dirimu... apakah kau sedang marah?" tanya Andika.


"Ya, aku marah... karena kau terlalu sering menggunakan jurus dan tidak menggunakan pedang" kata Edward.


"Eh? tapi... Paman Radith juga mengatakan soal pedang, kalau gerakan pedang itu memiliki banyak cabang, dan tak semuanya aku ahli seperti adikku jadi... " Andika memberhentikan kata-katanya.


"Bukan itu maksudku, aku ingin kau menjadi Pilar pedang, kursi Pilar pedang sedang kosong sekarang" kata Edward.


"Eh? Bukankah kau adalah kapten sekaligus Pilar pedang?" tanya Andika.


"Aku hanyalah Kapten Figuran, sedangkan aku juga bukanlah Pilar pedang... aku hanyalah seseorang yang bisa selalu melihat kematian orang lain dan berakhir dengan duka" kata Edward sambil berdiri dan pergi dari ruangannya.


"Eh? maksudnya?" tanya Andika.


Dan begitulah, Andika terus menerus mengganggu dan mencoba mengajak Edward bicara, Edward tidak bisa marah karena terkadang wajah Andika mirip dengan Amanda.


Dan Edward akhirnya mengalah setelah Andika muncul di langit-langit kamarnya.


"Aku... sebenarnya tidak pernah lolos dari seleksi terakhir ujian penerimaan pasukan" kata Edward.


"Eh? seleksi di... hutan dekat gunung yang memiliki banyak tumbuhan bidara? setahuku... sekarang seleksi itu telah ditiadakan karena seleksi itu banyak sekali memakan korban dan sedikit yang berhasil kan?" tanya Andika.


"Ya, benar... lalu ada dua anak kembar yang keluarganya menjadi korban tumbal pesugihan oleh sekte terlarang, namanya Amir dan Umar, dan aku pergi ke seleksi terakhir bersama mereka berdua" kata Edward.


DEG! Andika kaget.


"Amir dan Umar... temannya Ibu yang dulu meninggal?" batin Andika.


"Disaat itu, usiaku 15 tahun, kami bertiga langsung akrab bersama... saat seleksi terakhir, hampir semua makhluk astral dikalahkan oleh Amir dan Umar saat itu. Semua orang selain Amir dan Umar diterima menjadi anggota pasukan" kata Edward yang bercerita tanpa menatap Andika.


"Saat aku diserang oleh seorang makhluk astral, Amir dan Umar menyelamatkanku dan menyerahkanku pada Meghan dan pasukan pemberantasan, aku terpilih menjadi Kapten dan Pilar pedang karena berhasil bertahan selama 7 hari. Padahal teknik pedang ku di bawah mereka berdua" jelas Edward.


"Aku sempat mendengar kalau Ibumu bertemu mereka, entah bagaimana. Jadi, aku juga kaget mendengar kalau karena mereka berdua Ibumu selamat saat seleksi terakhir, aku langsung menjadi malu dan canggung... aku tak pantas berdiri di samping Pilar-pilar lainnya, aku tak pantas menjadi Pilar pedang" Jelas Edward.


"Dan... karena itu, Pamanmu Hikaru dan Ibumu Yumna menyadarkanku dan aku sadar posisi mereka berdua sama seperti Amir dan Umar. Tapi begitu aku dilarang untuk ikut dalam penyegelan Pandora dan mereka mati, aku jadi berpikir... kenapa aku tidak bisa menyelamatkan pengganti Amir dan Umar disaat itu?" tanya Edward.


Andika terdiam sambil menangis syok.


"Kematian mereka berempat di dunia ini mengubah segalanya didalam diriku... dari cahaya menjadi kegelapan, dari kebahagian menjadi kesedihan, dari kesenangan menjadi kesengsaraan, dari senyuman menjadi kebencian" jelas Edward.


"Andai saat seleksi terakhir Amir dan Umar aku membantah mereka dan membantu mereka, andai saja saat penyegelan Pandora aku membantah Hikaru dan Yumna dan menemani mereka. Mereka berempat takkan mati dan kau dan Zeydan takkan mendapatkan kutukan Pandora" kata Edward.


"Semua yang terjadi adalah salahku, aku ingin mempercayai teman-temanku... tapi seakan-akan kepercayaanku hanyalah kebohongan belaka, aku hampir tidak percaya terhadap apapun lagi dan mulai memilih pilihanku sendiri"


"Ikut saja pelatihan seleksi pemeriksaan pada Pilar lainnya... itu yang terbaik buatmu, aku takkan pernah mendapatkan tanda ninja itu karena Amir, Umar, Hikaru, dan Yumna mungkin bisa. Jangan mencampuri urusanku dan jangan mencoba memahamiku, itu hanya akan membuang-buang waktu saja" kata Edward yang pergi dengan kesal, meninggalkan Andika yang terpaku sendirian.


Basa-basi dan Fakta 😋


Edward memiliki masa lalu yang kelam. Mulai dari kehilangan Amir dan Umar temannya, Andra dan Amanda sepupunya, Edward telah berjanji pada keempat orang berharga baginya, tapi tak pernah sempat ia lakukan karena semuanya telah tiada.


Karena itulah Edward jadi tak ingin memberikan janji pada seseorang takut karena tak bisa menepatinya lagi.