
Andika dan Erika mendapatkan cuti dan memutuskan untuk berjalan di malam hari.
"Akan berjalan-jalan di Dimensi?" tanya Erika.
"Keberatan? kakak ingin melihat bunga peace lily, yang katanya menghasilkan oksigen pada malam hari, Dasar..." tanya Andika.
"Gak juga, apakah Zayn tidak ikut?" tanya Erika.
"Yang cuti adalah kita, kenapa bahas Zeydan? hayo? kenapa?" tanya Andika meledek Erika.
Erika tersipu.
"G.. Gak! Zayn-kan keluarga kita, Dasar... " kata Erika.
"Keluarga?" tanya Andika.
"Aku sudah menganggap Zayn keluarga kita, keberatan?" tanya Erika.
"Gak sih, kita ke sana yuk!" kata Andika sambil menggenggam tangan adiknya dan menariknya sambil berlari.
"E.. Eh!?" tanya Erika.
Andika tiba-tiba berhenti di sebuah dahan pohon.
"Kenapa kak-... " belum selesai Erika bicara.
Andika langsung mendekap adiknya dari belakang dengan menyandarkan dirinya ke pohon.
Erika di peluk dari belakang oleh kakaknya dengan mulutnya yang di bungkam dengan tangan Andika sedangkan tangannya didekap oleh Andika.
Erika kebingungan sambil melihat sedikit wajah Andika, terlihat Andika dengan wajah keringat dingin dengan ketakutan.
Erika melihat ada makhluk astral besar yang setinggi 10 meter terus melewatinya dan Andika, dia mengerti kalau Andika berusaha agar dia tak tertangkap.
KRAK!! Andika tak sengaja menginjak ranting.
CRASH!!
"Menghindar!!" seru Andika.
Andika dan Erika menghindar dari dua sisi yang berbeda, dan menghindari serangan cakaran astral.
"Kalian berdua... manusia bertenaga tinggi, aku lapar..." kata si makhluk astral yang besar itu.
"Ck! dia susah dikalahkan kalau begini terus! mana aku gak bawa pedang pula!" batin Andika.
Dan ternyata ada female astral being, alias makhluk astral wanita.
"Yun-chan! maafkan aku, tapi aku akan mengatasi si besar itu! kau bisa atasi si makhluk astral wanita itu?" tanya Andika.
"Mm!" Erika mengangguk dan syukurlah dia membawa pedang.
Erika dan si female astral being bertarung di tempat yang berbeda dengan Andika vs makhluk astral yang setinggi 10 meter itu.
KRAUK!! Andika menggigit tangannya dan mengoleskan darahnya ke punggung tangannya dimana letak logo Pandora.
"Kau... pemegang kutukan Pandora ya? heh, ini tak masalah, aku tak takut! baiklah" kata si makhluk astral.
Di situasi Erika...
Erika bersiap dengan pedangnya.
"Aku akan mengakhirimu dengan cepat!" kata Erika.
"Coba saja! ng? Silent ya? kau keturunan Fujiwara?" tanya si makhluk astral wanita.
"Dia bahkan tahu Silent? seluas apa informasi Silent tersebar!?" batin Erika.
"Aku akan mulai duluan! HIAA!!" kata si makhluk astral wanita.
Erika langsung maju dan akan memulai dengan pedangnya.
CTRANG!!!
Di tempat Andika...
CTRANG!!! Pertarungan Andika dan si Makhluk astral besar setinggi 10 meter itu selain susah, luas wilayah untuk bertarung sangat tidak stabil.
Andika dan si makhluk astral besar tidak ada yang mau mengalah, ini adalah pertarungan antara hidup atau mati.
WUSH!! Andika menghindari tendangan belakang.
"Meski tubuhnya besar, seharusnya itu bisa membuatnya susah bergerak karena beban tubuhnya! tapi mustahil dan mirip seperti kak Toni yang gesit!" batin Andika sambil menggunakan Turquoise-nya untuk melakukan ilusi.
SRING!! Ilusi Turquoise-nya Andika di lepaskan, tapi langsung di hancurkan oleh si makhluk astral besar itu.
"Tidak berfungsi!?" tanya Andika.
"Kau harus tahu... kalau ada beberapa jenis makhluk astral yang akan anti untuk ilusi!" kata si makhluk astral besar.
"Baiklah! kalau begitu aku akan mengalahkanmu dengan dua pilihan!" kata Andika sambil melakukan segel tangan.
"Apa itu?" tanya si makhluk astral besar.
"Pilihan pertama, aku akan mengalahkanmu disini dengan kemampuanku!" kata Andika.
"Raigeki!!" Jurus berelemen dasar petir itu di lontarkan ke arah si makhluk astral besar.
Si Makhluk astral besar langsung menghindar.
"Pilihan kedua... adalah dengan menunggu matahari terbit yang akan membakarmu sampai menjadi abu!!" Seru Andika sambil menyerang.
Di situasi tempat Erika...
Pertarungan yang sengit.
Erika menangkisnya dengan pedang dengan cepat.
"Dia memperkirakan seranganku dengan Silent-nya! dia memiliki aura Kitagawa... artinya dia salah satu keturunan dari klan pendekar ninja!" batin makhluk astral wanita.
"Aku harus mengakhirinya dengan cepat" kata Erika sambil melakukan jurus dan membuat pedangnya memiliki bubuk aura bidara dan serbuk kelor.
"Jurus pedang... Api Kitagawa!!!" Seru Erika sambil melesat dan menebas si makhluk wanita.
CTRANG!!!!
Dan karena reaksi serbuk Bidara dan kelor, itu membuat si makhluk astral wanita langsung menjadi abu bagaikan terkena matahari.
Erika menyimpan pedangnya di saku pedangnya dan melakukan segel tangan.
"Aku harus membantu kak Andika" batin Erika.
"Makko Ryudan!!" Dan Erika pergi ke tempat Andika dengan jurus teleportasi milik kakeknya dari klan Hasegawa.
Di situasi tempat Andika...
Andika terus menerus menghindar.
"Matahari akan terbit sekitar 7 menit lagi! aku tak sangka kalau cuti kami hanya diisi dengan hal yang sama seperti misi biasanya, maafkan aku Yun-chan!" batin Andika.
Erika datang.
"Kak Andika!" kata Erika.
"Yun-chan! cepat cari tempat berlindung! matahari akan terbit dan itu akan membuat matamu lumpuh dan meleleh!" kata Andika di sela-sela pertarungan.
"Aku akan berlindung bersamamu, Dasar...!" kata Erika.
Andika terbelalak, tapi perhatiannya pada adiknya teralihkan disaat si makhluk astral besar memanggil banyaknya makhluk astral berenergi rendah tapi seperti lebih dari 30 makhluk astral yang ada.
"Gawat! aku akan menghabisi mereka!" kata Erika dan langsung pergi ke arah tebing yang dekat dengan munculnya para makhluk astral itu.
"Yun-chan!! jangan!! ukh!" Andika terus menghindari serangan.
"Tetaplah bertahan kak! bantuan akan datang!" kata Erika.
"Eh?" batin Andika.
Andika langsung melakukan serangan terakhir.
CTRANG!!
PSSH! si makhluk astral besar langsung berubah menjadi abu.
Andika berjalan tertatih-tatih menuju adiknya yang berhasil membunuh sebagian besar.
Andika tersenyum tapi senyumnya yang merekah langsung hilang disaat melihat matahari yang terbit di arah timur, sedangkan cahaya matahari akan mengenai langsung ke adiknya, sedangkan makhluk astral itu berada di balik tebing yang terlindungi bayangan yang cukup jauh dari lokasi mereka.
"Gawat!! Yun!!" Seru Andika yang akan berlari mendekati Erika.
Andika memeluk adiknya yang wajahnya Erika perlahan meleleh.
"Ukh!" Erika merasa kesakitan.
"Peluk kakak! sembunyilah di dalam jubahku ayo!!" Seru Andika panik.
Makhluk astral yang jaraknya dari mereka itu jauh, mulai berusaha mendekati mereka.
Erika menggenggam tangan kakaknya agar tenang, lalu memberikan isyarat tegas dari matanya pada Andika.
Tubuh Andika tiba-tiba reflek langsung ke arah para makhluk astral itu dan bagaikan tatapan adiknya adalah isyarat kalau dia harus membunuh semua makhluk astral itu.
Tiba-tiba...
CTRAK!! Ada banyak tembakan jangkar.
"Eh? logo itu... Pasukan pemberantasan!?" tanya Andika.
Ya, bantuan telah datang... Erika sempat membuat kembang api darurat yang sudah ia campur dengan suar untuk mengirim sinyal pada pasukan pemberantasan.
Semuanya memberantas. Pasha, Zeydan, Nisa, Wira, bahkan David juga datang, dan makhluk astral yang sangat banyak itu kalah.
"Andika! kau baik-baik saja! syukurlah!" kata Nisa.
"Ya... tapi, aku..." Andika memberhentikan kata-katanya sambil menangis.
Jika dia terkena sinar matahari sangat berlebihan sebelum kutukan Fujiwara-nya musnah, maka sinar matahari yang terlalu berlebihan itu akan melelehkan mata dan otaknya yang akan berdampak kematian pada Yuna.
Andika mengingat ucapan Meghan sambil menangis.
"Tapi... aku mengorbankan Yun-chan, aku mengorbankan adikku sendiri!! maafkan aku Ibu! Ayah! Amir, Umar!" Andika menangis terisak-isak.
Nisa menutup mulutnya dengan tangannya dan langsung sedih.
Pasha terbelalak, Wira dan David hanya menunduk.
Sementara itu tak jauh dari tempat Andika, Zeydan merangkul seseorang.
"Semuanya sudah baik-baik saja, Eri" kata Zeydan.
Andika terbelalak karena merasakan aura seseorang.
Terlihat Erika yang dibantu berjalan oleh Zeydan.
Erika terlihat bagaikan kayu yang tidak hangus terbakar, dan berjalan perlahan dibantu Zeydan.
"Pagi kak"