
"Jadi... Yun-chan bersama Dirga dan Pasha akan pergi ke rubik dimana Zeydan berada?" tanya Andika.
"Dan aku akan pergi ke sisi ini karena disini makhluk astral kiriman Dirgapati paling banyak" kata Ilman.
"Aku dan Andika akan terus ke sisi lain untuk mencari Chandra" kata Edward.
"Kami bertiga akan pergi ke lokasi E untuk membutakan dan untuk membuat benteng labirin ini tidak berfungsi, akan berbahaya jika menonaktifkan-nya secara tiba-tiba" kata T.
"Kalau begitu, segera!" kata Edward.
"Baik!"
Edward dan Andika mulai bergerak ke lorong lain.
"Kenapa disini mirip seperti lorong tanpa batas!?" tanya Andika.
DRRK!! Andika hampir jatuh.
GREP!! Edward menangkap Andika.
"Hati-hati! akan repot jika terpisah!" kata Edward.
"Terimakasih Kapten! kau menyelamatku!" kata Andika dan ada makhluk astral dibelakang yang bersiap menyantapnya.
Andika langsung menebas si makhluk astral dengan pedangnya.
"Ayo, kita lanjutkan perjalanan!" kata Edward.
Erika, Pasha dan Dirga...
Erika terus berlari untuk menelusuri rubik Zeydan dengan Silent-nya.
"Ini buruk, aku tidak bisa menemukannya" kata Erika.
"Cobalah untuk fokus, Erika" kata Dirga.
"Ya"
"Andai saja... saat Zayn bertanya bagaimana aku menganggapnya, aku menjawab hal lain selain keluarga maka, mungkin Zayn gak akan seperti ini. Apa yang harus aku lakukan?" batin Erika.
"Erika? Erika?"
"Erika!!" Seru Pasha dan Dirga.
"Eh?! iya?" tanya Erika.
"Kenapa melamun? kita harus segera!" kata Dirga.
"Aku... gak tahu" kata Erika.
"Erika... aku gak tahu apa yang kau pikirkan tapi, kau mungkin sedang dalam penyesalan" batin Pasha.
"Ayo! Erika!" kata Pasha sambil tersenyum memaksa.
"Pasha... kau berusaha" batin Erika.
"Ba... baiklah!"
Sementara itu Elena dan Ersya...
Elena dan Ersya bertemu dan memutuskan untuk bersama-sama mencari lokasi Chandra dan membunuh makhluk astral kiriman Dirgapati tanpa setengah-setengah.
"Makhluk astralnya banyak sekali" kata Ersya.
"Sepertinya mereka dibuat setara dengan Pasukan Dirgapati bawah, mereka berusaha membuat kita lelah" kata Elena.
"Kak, bagaimana dengan Lord Fifth?" tanya Ersya.
"Beliau sudah meninggal... itu adalah sebuah kematian dan pengorbanan yang besar" kata Elena tanpa menatap Ersya dan terus berlari.
"Tak bisa kubayangkan apabila beliau di temukan makhluk astral atas kesalahannya sendiri... apakah beliau sengaja dijadikan umpan?" tanya Ersya.
"Benar, karena hidupnya tak lama lagi" kata Elena tanpa menatap adiknya.
Ersya sangat kaget sekarang.
"Guru... saat aku sekarat karena diserang makhluk astral, beliau terus berada di sampingku, beliau melakukan hal yang sama pada anggota pasukan pemberantasan lainnya, bahkan saat dia sedang sekarat, seperti seorang kakek yang menyayangi cucunya" kata Ersya.
"Ya, kakak tahu" kata Elena.
"Bukan hanya kak Erlan saja! Chandra bahkan merebut kakek keduaku juga!! akan kupastikan dia menderita sebelum dia mati!" kata Ersya sambil mengikuti Elena dengan menangis sambil berlari.
"Tenang saja, semua merasakan hal yang sama" kata Elena yang mengaktifkan Turquoise-nya dengan aura emosi kemarahan.
Sementara itu di labirin benteng tempat Toni berada...
Toni sedang syok.
"Guru... aku tidak bisa melindunginya" batin Toni.
Ada makhluk astral yang datang dan hendak menyerang Toni yang syok.
CTRANG!!! Toni menebas mereka dengan sekali tebasan tanpa bergerak sedikitpun.
"Mereka terus saja berdatangan, menjijikkan! kemarilah! akan ku habis kalian semua!!" kata Toni yang menangis sambil tersenyum menyeringai.
Sementara itu Rahmat dan Vanora...
Rahmat terus menebas dan menghabisi makhluk astral yang ada.
"Menjauh dari Vanora... jangan berani-berani kalian mendekatinya" kata Rahmat.
Vanora tersipu dan sangat kagum.
"Rahmat! kau hebat sekali!!" batin Vanora.
"Apakah kau terluka?" tanya Rahmat.
"Tidak!" kata Vanora.
"Baiklah, ayo kita ke tempat selanjutnya" kata Rahmat.
Kondisi yang lainnya...
Doni sedang berlarian di benteng karena tersesat.
"Apa ini? tempat apa ini? benteng labirin dimensi!? kakak... semoga kau baik-baik saja! dimana Andika dan yang lain!?" batin Doni.
Sedangkan di sisi lain, Wira dan David terus menghabisi para makhluk astral yang ingin menyerangnya.
"Ck! mereka terus berdatangan!" kata Wira.
"Kita harus bertemu yang lainnya!" kata David.
Di tempat lain, Ilman terus berlari dan celingak-celinguk.
"Aku mendengar sesuatu! orang itu sepertinya di dekat sini, orang itu tak bisa di maafkan... aku takkan pernah memaafkan orang itu!" batin Ilman.
Di tempat Meghan....
Meghan terus berjalan di sebuah lorong yang terdapat banyak ruangan.
"Dimana aku? aku merasakan ada bau darah" batin Meghan saat dia menatap sebuah ruangan dan membukanya.
Ada seorang makhluk astral yang memakan pasukan pemberantasan perempuan disitu.
"Ng? Ah, ada yang datang! wah... seorang perempuan! kau terlihat segar dan lezat! aku harus berterimakasih pada E nanti!" kata si makhluk astral menatap Meghan.