
Di dimensi astral...
Pertarungan antara Chandra vs Elena, Vanora, Rahmat, dan Toni belum juga ada yang menang.
Amanda masih terus perlu ke area pertarungan karena mengumpulkan para pengawal pemberantasan untuk merawat korban yang terluka dan menyuruh mereka untuk memperkuat kunci segel portal Dimensi agar Chandra tidak bisa keluar.
Chandra semakin cepat melepaskan serangan.
"Apa-apaan ini!? serangannya semakin cepat!" batin Elena.
"Aku tidak bisa melindungi Elena lebih lama lagi!" batin Rahmat.
Vanora hampir terluka parah.
"Aku tidak bisa melihat serangannya! aku hanya bisa bergantung pada intuisi dan keberuntungan untuk menghindar! daripada memotongnya, aku harusnya bisa langsung menusuk lengannya-... " belum selesai Vanora berpikir.
"Hm!? ada sesuatu yang menahanku!" batin Vanora dan Vanora langsung terluka entah kenapa.
"Ohok!!!" Vanora langsung tersedak karena serangan.
Rahmat yang terkejut langsung ke arah Vanora.
"Serangan macam apa itu!? aku yakin sekali kalau Vanora sudah menghindar!" batin Elena.
Akhirnya Elena dan Toni mengambil alih untuk menyerang Chandra.
Rahmat membawa Vanora kepada para pengawal.
"Rawat lukanya" kata Rahmat.
"Baik!"
"Tidak tidak! aku masih... sanggup! aku tidak ingin menjadi penghambat kalian! aku juga... ingin melawan... Chandra sampai Amanda datang!" kata Vanora.
"Tidak, sudah cukup" kata Rahmat.
"Tidak! aku bahkan belum memberikan kontribusi apapun!" kata Vanora.
"Jaga dia" kata Rahmat sambil pergi.
"Te... Tentu!" kata pengawal.
"Tunggu! aku akan pergi bersamamu, Rahmat! tidak Rahmat... jangan sampai kau terbunuh!! aku tidak ingin ada yang mati lagi!" kata Vanora.
"Vanora... kau tahu? banyak sekali orang yang cinta akan harta, dan semua hal di dunia yang fana ini, bahkan orang-orang yang mementingkan kesenangan sendiri itu sampai-sampai mengorbankan nyawa orang lain, aku ingin bertemu denganmu dalam pertemuan yang normal, tidak... itu mustahil untukku"
"Vanora, aku memiliki garis keturunan korup yang mementingkan diri sendiri bahkan sampai menumbalkan orang lain, Ayahku yang seorang pesulap ternama menjadi Pilar Karya sebelum diriku, Ayah membawaku pergi dari keluarganya yang bermuka dua"
"Tapi Ayah meninggal karena terkena santet oleh keluargaku yang hanya mementingkan diri sendiri, lalu Andra membawaku ke Rosement dan kita bertemu di situ, meski begitu... jika keluargaku memiliki dosa besar, aku pula begitu"
"Jujur saja Vanora, aku ingin mati dengan mengalahkan Chandra, dan aku harap itu bisa membersihkan darah kotorku, dan apabila aku masih diizinkan untuk melihat hari esok, di dunia yang damai tanpa adanya manusia yang mementingkan nasib sendiri... aku ingin menyatakan perasaanku padamu"
Di beberapa benteng yang dekat dengan benteng dimensi Zeydan...
"Kita masuk lewat sini" kata Edward.
"Seperti dugaan, banyak sekali! Dimensi dan ruangan" kata Ilman.
"Berhati-hatilah, kita tidak tahu mungkin saja akan ada serangan yang menunggu kita" kata Pasha.
Tiba-tiba ada 5 Subjek Pandora abnormal.
"Gawat! itu Subjek Pandora abnormal!" kata Dirga.
CTRASH!!! Edward bergerak sangat cepat, menghabisi Subjek Pandora seperti itu sudah sangat mudah baginya.
"Kita tidak boleh menyia-nyiakan tenaga disini! Zeydan adalah prioritas utama selain Chandra untuk mengakhiri perang ini" kata Edward sambil memasukkan pedangnya ke saku pedang dan menariknya setelah terpulihkan.
"Kalian pergilah! aku akan menyusul!" kata Aram sambil berubah menjadi Subjek Pandora.
"He... Hei! Aram!" kata Erika.
"Pergilah, Erika!" kata Aram.
"Ba... Baik"
Aram akhirnya mengurus yang satu ini.
"Apa-apaan ini!? ini lebih dari banyak!" kata Dirga mengamati betapa banyaknya makhluk astral dan Subjek Pandora abnormal di depan mereka.
"Lihat! dibelakang makhluk astral yang ada, itu rubiknya Zeydan!" kata Pasha.
"Ck! kita tidak punya pilihan lain, kita harus lawan!" kata Edward dan menembak menggunakan jangkarnya lalu menyerang semua makhluk astral.
"Ayo!"
Di pertarungan dengan Chandra...
Tiba-tiba...
WUSH!!! CTRANG!! Ada pedang yang menancap pada kepala Chandra.
"Apa!?" tanya Elena dan Toni.
"Aku datang... Chandra" kata Amanda.
"Amanda!" kata Elena.
Amanda kembali mengingat sebelum dia menyusul Chandra, Edward memberikan sesuatu yang dimiliki Fujiwara cabang, yaitu berupa sebuah pedang dan beberapa potongan pedang kecil.
Chandra menyerap pedang yang di lempar Amanda.
"Ayo kita bertarung"
Amanda, Elena, dan Toni menghadapi Chandra, karena adanya Amanda... Chandra lebih banyak menyerang ke Amanda, hingga Elena dan Toni tak banyak menerima dampak serangan.
"Serangan yang menipu mata, ini bukan serangan astral, hanya kecepatannya yang tidak masuk akal tapi aku bisa mengimbanginya dengan Silent" batin Amanda.
Beberapa pedang kecil juga Amanda lemparkan dan di serap oleh Chandra.
"Kau tidak akan bisa memotongku karena regenerasi-ku! kau tidak akan bisa menusukku karena aku akan menyerapnya!" kata Chandra.
"Kalau begitu, kau layak di sebut monster!!" kata Toni.
"Kak Elena! kak Toni! perhatikan serangan Chandra menggunakan insting tanda ninja kalian!" kata Amanda.
Rahmat datang dan join ikut pertarungan.
"Amanda... apakah kau berniat ingin membuat Chandra lebih banyak menyerang dirimu?" batin Elena.
"Heh, bisa... aku bisa memprediksi serangan Chandra dengan intuisi dan insting tanda ninja!" kata Toni.
"Aku bisa saja langsung membunuh Chandra, tapi itu bisa membahayakan kak Elena, kak Toni, dan kak Rahmat!" batin Amanda.
Tiba-tiba pedang Elena terpeleset.
"Gawat! aku tidak memegangnya dengan erat!" batin Elena.
Dan serangan Chandra akan mengenai Elena.
TRANG!! Toni menangkis serangan yang akan mengenai Elena.
"Jangan lengah! jika tidak kau akan mati!" kata Toni.
"Waktunya membuat kalian diam" kata Chandra sambil melakukan mantra.
"Terlahir dari kegelapan lebih gelap dari kegelapan, segala sesuatu yang kotor dicabut tuntas"
Chandra langsung menembakkan serangan aneh ke arah para Pilar kecuali Amanda yang membuat para Pilar menjadi kaku membeku.
"Semuanya!!" seru Amanda.
"Sekarang waktunya kita bertarung satu lawan satu, Yumna" kata Chandra.
Di rubik Zeydan...
"Sudah kau pasangkan granat dan peledak lainnya?!" tanya Edward dengan menekan Earpiece nya.
📞"Sudah kapten!" kata Dirga yang sudah melilitkan beberapa kabel dan peledak di rubik Zeydan.
"Ilman! sekarang!" perintah Edward.
Ilman akhirnya menebas beberapa makhluk astral dan melompat lalu menarik kabel-kabel untuk mengaktifkan peledak.
"Kumohon... hentikan ini Zeydan!!!" seru Ilman dengan membendung air matanya.
JDUARR!!!
"Sudah kuduga... kalau Rubiknya tidak bisa dihancurkan begitu saja" kata Dirga.
"Bagaimana ini sekarang?" tanya Ilman.
"Mustahil, makhluk astral dan Subjek Pandora abnormalnya... tambah banyak?!" tanya Gibran yang berkomunikasi dengan Dirga.
"Zayn... kumohon berhentilah aku mohon!!!"
Basa-basi dan Fakta 😋
Saku pedang prajurit pasukan pemberantasan memiliki kombinasi dari cairan regenerasi buatan Meghan.
Yang jika saat bertarung pedangnya patah, maka hanya perlu memasukkan tangkai pedang ke saku dan menunggu sekiranya 5 detik agar pedang tersebut pulih kembali.
Di dalam saku pedang tersebut juga terdapat jangkar, yang berbasis teknologi buatan Ersya. Apabila energi jangkar tersebut habis maka tak dapat digunakan dan memerlukan waktu untuk mengisi energi tersebut dengan cara tidak menggunakan jangkarnya sampai pengisian penuh.