Between Curse and Peace

Between Curse and Peace
Season 4 Episode 40 : One by one



Amanda dan Chandra akhirnya bertarung satu sama lain.


Amanda terus merekam gerakan Chandra sebelum menyerangnya, jadi dia bisa tahu serangan yang akan dilontarkan Chandra.


"Serangan Chandra sangat tak bisa diperkirakan, karena, dia mempunyai pembidikan serangan yang tepat! kalau aku salah langkah saja, aku bisa mati hanya sekali serangan, karena... Pascal dan Bestari, jauh lebih lemah dibandingkan monster ini!" batin Amanda.


"Tak ada yang bisa kau lakukan sekarang, Yumna! aku bisa membaca semua gerakanmu!" kata Chandra.


"Mereka belum siap, aku harus bertahan" batin Amanda dan maju menyerang Chandra.


Di Benteng...


Edward dan yang lainnya berusaha terus sekuat tenaga.


Flashback saat perjalanan ke benteng Zeydan...


"Inti Pandora?" tanya Edward yang sambil berlari bersama yang lainnya.


"Ya, Zeydan pernah membicarakan hal itu pada saya, tapi untuk fungsinya saya tidak mengetahuinya!" kata Pasha.


"Kemungkinan besar, Inti Pandora adalah koordinat yang menghubungkan kekuatan terbesar seorang pemegang Kutukan Pandora yang dimana mereka bisa mengontrol sebuah kumpulan atau kelompok yang memiliki kendali... yang artinya, bisa saja makhluk-makhluk astral yang dikirim kemari itu dikendalikan oleh Inti Pandora. Bisa dibilang yang dikendalikan itu adalah boneka perumpamannya" jelas Pasha.


"Zeydan mendapatkannya karena ia dan Chandra saling berbagi kekuatan setelah mendatangi dan menyerap kekuatan satu persatu bagian Dimensi, sudah jelas kalau setelah itu Zeydan sudah memenuhi kriteria untuk menguasai koordinat Pandora" Kata Aram.


"Aku pernah mendengar Chandra mengatakan hal itu, alasan aku dan Mansa dulu menculik Kakaknya Erika dan Zeydan adalah karena kami ingin tahu siapa yang memegang koordinat Pandora di antara mereka" jelas Gibran.


"Tunggu sebentar! apakah... itu artinya Kak Andika akan dikendalikan juga?" tanya Erika.


"Kak Andika pengecualian, Kak Andika bisa menetralisir atau bahkan tidak dapat dikendalikan, kecuali lain lagi... " Pasha langsung menunduk suram dan menghentikan perkataannya.


"Apa?" tanya Gibran yang diarahkan Vandro untuk bergabung dengan tim Edward.


"Kecuali.... untuk Subjek Pandora dan Makhluk astral"


Mereka tercengang kaget.


"Ck... kenapa Koordinat Pandora bisa jatuh ke tangan orang yang paling berbahaya!?" gerutu Gibran.


"Tunggu, ada yang salah disini" kata Aram.


"Apa maksudmu?" tanya Erika.


"Kalau benar Inti Pandora telah diaktifkan... kenapa? aku, kau, dan Gibran... baik-baik saja dan tidak menyerang?" tanya Aram.


Mereka jadi bingung.


"Apakah, karena Zeydan sengaja untuk tidak mengendalikan kita dengan Inti Pandora?" tanya Dirga.


"Kalau memang benar, Zeydan ingin memudahkan jalan bagi kita untuk membunuhnya!?"


Flashback Off....


"HIAAA!!" Ilman menyerang semua makhluk astral dan Subjek Pandora abnormal dengan jurus yang dialiri elemen listrik.


SRUK! Makhluk-makhluk astral kiriman Dirgapati itu meregenerasi kembali.


"Huh!? Apa-apaan ini!? mereka tidak ada habisnya!" kata Ilman yang sudah diobati oleh Vandro.


"Mereka juga dikendalikan oleh Inti Pandora!?" tanya Gibran.


"Dirga!? bagaimana?" tanya Ilman yang mengulur waktu untuk Dirga.


"Gawat! bubuk kelor dan bidara tidak akan cukup untuk menangani semuanya!" kata Dirga.


"Cobalah untuk menduplikasikannya dengan menuangkan air ke dalam bubuk tersebut! lalu oleskan di pedang kalian dan makhluk astral tersebut tidak akan beregenerasi!" kata Edward.


"Dimengerti!" kata Dirga.


Gibran, Pasha, dan Aram terus melawan makhluk astral di tempat lain sembari mengumpulkan tenaga untuk berubah menjadi Subjek Pandora, di tempat yang cukup jauh dari yang lainnya.


"Aku hanya bisa menggunakan sedikit kekuatan Subjek Pandora untuk melawan mereka sembari kekuatanku kembali untuk mengaktifkan Subjek Pandora kembali!" batin Gibran.


"A... Ah!" Lantai pijakan benteng tiba-tiba tergeser dan membuat Dirga hampir masuk ke lubang benteng dimensi lain.


"GRAAA!!" Bersamaan dengan itu, makhluk astral besar akan memakan Dirga.


"Dirga!!" seru Gibran yang tidak bisa menyelamatkannya karena jaraknya jauh.


BRUK! Edward langsung mendorong Dirga dan akhirnya Dirga selamat dan terjatuh ke pijakan wilayah benteng rubik Zeydan.


KRAUK!! Namun karena Edward sedikit pusing dan luka serta matanya yang masih dalam proses pengobatan dan pemulihan ia jadi tak bisa mengontrol pergerakannya dan akhirnya satu kakinya dimakan makhluk astral.


BRUK! Simbahan darah segar keluar dari bekas kaki Edward yang dimakan.


"Ukh..." Edward cukup kesakitan dan kehilangan keseimbangan dan akan jatuh.


"Kapten!!" seru Dirga dan sempat menangkap Edward.


"Pendarahan, harus ku hentikan pendarahannya, dimana! dimana perbannya?!" batin Edward sambil mencoba merogoh tas pinggangnya dibelakangnya untuk mencari sesuatu.


"Ukh... " Erika melihat teman-temannya kesulitan menghadapi para musuh dan Edward sebagai pemegang komando terluka.


Erika menebas satu musuh yang langsung menjadi abu.


"Aku akan menghabisi semuanya, jadi hancurlah kalian!!!" Teriak Erika dengan Silent nya yang menyala.


"Erika! kau mulai menggila!!" seru seseorang.


Sebelum makhluk astral sempat melukai Erika, Aram menangkap tangan Erika dari atas.


"Jangan mulai menggila! kesempatan ini tak boleh di sia-sia kan!" kata Aram yang sudah berhasil berubah menjadi Subjek Pandora.


"Aram!?" tanya Erika.


"Makhluk astral ini terus beregenerasi!" kata Ilman.


"Aku takkan sempat untuk menghabisi Chandra!" batin Edward.


"Kapten! ck, aku ceroboh! ini salahku!" kata Dirga dengan penuh penyesalan.


"Ambilkan perban di tas pinggang ku Dirga! cepatlah!" kata Edward.


"Kapten!" kata Pasha yang menghampiri.


"Pasha apa yang kau lakukan disini?!! cepat bantu yang lainnya!!" bentak Edward.


"Perhatikan dulu dirimu!!" seru Pasha.


Pasha akhirnya mengumpulkan tenaganya di telapak tangannya lalu menyalurkannya pada kakinya Edward yang dimakan, dan kakinya Edward dengan cepat tumbuh kembali.


"Ba... Bagaimana-... " Edward lumayan tertegun dan terkejut akan regenerasinya.


"Ini bagian dari kemampuanku sebagai Subjek Pandora, aku mempunyai salah satu kemampuan untuk menyembuhkan diriku maupun orang lain dengan waktu singkat. Mungkin aku mewarisi ini saat menyerap kekuatan Mansa yang tercecer dulu" jelas Pasha.


Gibran berhasil berubah menjadi Subjek Pandora dan berusaha melindungi yang lainnya.


JDUAR!! Sebuah serangan ledakan mengagetkan pasukan aliansi disitu.


Ternyata, salah satu Subjek Pandora abnormal menyerang Pasha dan membuat Pasha terkurung di sebuah gelembung ke atas.


DOR!!! Ilman menembak gelembung yang mengurung Pasha dengan pistol.


"Ini buruk! bahkan peluru saja tidak mempan!" kata Ilman.


"Itu perisai astral, yang berasal dari kekuatan Klan Kitagawa" kata Edward.


"Jangan bilang, kita harus membunuh Subjek Pandora yang menyerang Pasha dengan gelembung?!" tanya Dirga.


WUSH!! Erika dengan jangkarnya langsung mengarah ke Subjek Pandora abnormal tadi.


"KEMBALIKAN PASHA KEMBALI!!!" Seru Erika dan menebas si Subjek Pandora.


Pasha akhirnya berhasil keluar, Erika mulai kehilangan keseimbangan karena menangkap Pasha.


CRING!!! Ada rantai yang membelit Erika, berkat rantai itu Erika dan Pasha terselamatkan.


"Eh? rantai Fujiwara?!" tanya Erika.


"Aram?!" tanya Gibran.


"Jadi begitu, sudah lazim untuk Subjek Pandora memiliki kekuatan dari klan yang ada, namun tidak bisa menggunakannya sepenuhnya" batin Edward.


"Pasha, kau baik-baik saja?" tanya Erika.


"Ya... aku baik-baik saja, tapi aku butuh waktu.... aku tidak bisa berubah menjadi Subjek Pandora karena gelembung tadi merebut tenagaku" kata Pasha dengan lemah.


"Mama... Zayn tidak mau berhenti, bagaimana ini?!" batin Erika dengan hampir putus asa.


Di pertarungan...


DEG!! Amanda langsung kaget.


"Erika?!" batin Amanda.


BRUK!! Akhirnya Amanda terjatuh karena tidak konsentrasi.


"Amanda!" kata Elena.


"Cairan aneh ini adalah cairan pelumpuh dari tubuh Chandra! dia sengaja ingin membuat kami tak bisa bergerak!" batin Toni yang bersikeras ingin bergerak.


"Aku... harus bisa! lepaskan dari cairan ini! jika aku mati, maka beban mereka untuk bertarung akan semakin berat! aku harus bisa! berjuang lagi! demi Vanora!" batin Rahmat.


"Sudah putus asa ya? bagus, tidak perlu aku membuang-buang tenaga lagi" kata Chandra.


"Bukan, hanya aku sudah tahu jangka serangan dan kecepatanmu" kata Amanda sambil menyeka darah di pinggir mulutnya.


"Apa!?" tanya Chandra.


"Maksudnya!?" batin Elena.


"Aku sudah melakukan serangan yang berbeda sejak kita bertarung tadi untuk menguji serangan balasan darimu, dan aku juga tahu kalau kau menggunakan teknik serangan yang sama pada Akira-san dulu, dan aku mengerti apa yang dikatakan Akira-san soal Topan dibalik awan" kata Amanda.


"Artinya kau mempercepat seranganmu sampai-sampai kau ingin membuat kami berpikir kalau seranganmu itu astral, hingga membuat pikiran kami berkecamuk dan menipu pandangan kami untuk menyembunyikan arah seranganmu yang sebenarnya, aku mengerti, sekarang... aku sudah siap" kata Amanda.


"Huh, tak masuk akal!!" seru Chandra dan mulai menyerang.


Amanda mulai fokus, dan merasakan kalau Chandra menyerang lewat kiri, tapi Amanda menyerangnya lewat kanan.


"Sudah kuduga... kau ingin menipu indra kami agar seranganmu tak bisa dibaca" batin Amanda dan mulai melemahkan Chandra.


"Hebat, Chandra sampai tak berkutik" batin Toni.


"Kalau begitu! rasakan ini!" kata Chandra.


"Bagus... tepat waktu, mereka sudah siap!" batin Amanda sambil tersenyum.


Tiba-tiba ada yang menyerang lengan Chandra hingga tangan Chandra putus.


"Serangan apa itu!?" batin Rahmat karena dia bingung, tangan Chandra putus tapi Amanda tetap di tempat.


Di sisi lain, beberapa tangan Chandra yang memanjang juga terputus.


"Apa?" batin Elena.


Ada seekor kucing yang datang dan melemparkan beberapa serum suntikan kepada para Pilar.


"Aku... tidak tahu apa yang terjadi, tapi sepertinya kucing itu datang memberi bantuan!" kata Toni sambil tersenyum menyungging dan mulai bisa bergerak dan terlepas dari cairan aneh Chandra.


"Jangan langsung bergerak! biarkan pemulihannya berjalan! jika tidak, maka cairan dari Chandra itu akan menggerogoti tulang kalian!" kata Amanda.


"Siapa yang menyerangku? Yumna tetap ada di tempat, sedangkan para Pilar baru pulih, kucing itu tak ada apa-apanya" batin Chandra sambil memenggal kepala kucing itu dengan sekali tebasan.


"Moi!" kata Amanda, itu adalah kucing dari Lord Fifth yang dirawat Bella.


"Bella! meski dia sudah mati dia tetap mengganggu! tunggu, ada sesuatu yang menebasku tadi... satu... dua... mereka ada tiga orang!" batin Chandra dan mulai menyerang.


Dan ternyata, tiga orang itu adalah Nisa, David, dan Wira! mereka disuruh Amanda untuk menggunakan jurus tembus pandang dan menyerang Chandra selagi Moi melemparkan vaksin penyembuh, tapi jurus invisible itu takkan bertahan lama.


Jurus invisible mereka langsung musnah begitu Chandra menebas.


"Ck! tak ku sangka dia secepat ini menyadarinya!" batin Nisa.


"Hentikan ini, Chandra!!" Seru Wira.


"Huh!! kau dari tadi belum juga musnah!?" tanya David pada Chandra.


"Kalian, belum gugur!?" tanya Elena.


"Tentu saja! dan aku membawa lensa-lensa kontak ini!" kata David.


Amanda akhirnya mulai menebas Chandra dengan pedang Fujiwara peninggalan ibunya.


"Kenapa... aku merasakan ada campuran aura darah lain di dalam tubuh para Pilar!?" batin Amanda.


"Wah! dengan pedang Fujiwara itu, regenerasi Chandra jadi melambat 20%!" kata Toni.


Nisa dan Wira memakai lensa kontak secepat mungkin.


"Jurus pengintai! intaian predator!" kata Nisa dan menebas Chandra.


Wira melihat Rahmat.


"Tuan Rahmat!!" batin Wira.


"Jurus Karya! mentalist!!" Wira akan menebas juga.


"Berkat mereka... aku bisa memperkuat pedangku!" batin Rahmat dan langsung mengaliri pedangnya dengan tanda ninjanya.


"Elena! bersiaplah!" kata Toni.


Toni dan Elena menyatukan pedang mereka, dan pedang mereka berubah warna sesuai tanda ninja mereka.


"Bagus! dengan ini.... pemanasan sudah berakhir!" kata Toni.


"KAAK!!! MATAHARI AKAN TERBIT SATU JAM TIGA MENIT LAGI!" Teriak burung gagak.


"Tidak masalah! karena kami akan menahan dan menghabisi Chandra disini!"