
Elena : "Ha... Halo semuanya"
Ersya : *Dalam hati* Ck! kenapa aku disini?
Elena : "Maaf karena tak ada bab ke 39 karena banyaknya kerjaan creator, jadi untuk ini saya Elena dan Ersya akan mengisi bab klarifikasi"
Ersya : "Kita akan mengklarifikasi apa?"
Elena : "Apa ya? Em... oh ya! kita akan membahas tentang sifat-sifat tokoh novel dulu gimana, Sya?"
Ersya : "Terserah"
Elena : "Yang pertama, Andika... dia meski menuruni fisik Erlan dari rambutnya yang hitam lah? wajahnya, matanya yang hitam juga, dan tingginya yang melebihi anak SMA pada umumnya, sekitar 185cm tingginya"
Ersya : "Yang kedua, Amir dan Umar, mereka berdua kembar identik, menuruni kak Erlan juga sih? tapi warna rambut mereka itu coklat tua. Tinggi Amir itu 154,3 cm kan? *bertanya pada Elena*"
Elena : "Hm.. "
Ersya : "Kalau Umar itu 152,5 cm sih... dan mereka berdua punya target usia 17 tahun hafal 30 juz Al-Quran, hebat ya?"
Elena : "Yup! Amir dan Umar itu layak disebut reinkarnasi Amir dan Umar dari teman Amanda, mereka suka berlatih pedang, berkuda, memanah, dan berenang. Amir jelas menuruni sikap Amanda yang ramah, suka menuruti adiknya, sabar, dan juga pintar. Kalau Umar haha, ya sebaliknya... dia itu pemarah disaat yang tepat? dan juga tak ramah, pintar sih pintar tapi di setara dengan Amir"
Ersya : "Oh ya, ada sedikit bocoran! Kak Erlan, Andika, Amir, dan Umar takut pada Erika dan Ibu mereka kalau sedang marah! benar tak ada yang dapat melampaui ketakutan mereka terhadap kak Ana dan Erika"
Ersya : "Hm! kalau Amir dan Umar itu mirip sekali dengan Erlan, dan sikap yang berkebalikan dari Amanda. Berbeda dari Andika dan Erika. Andika meskipun memiliki rambut hitam Erlan, namun wajah Andika sangat mirip dengan Ibunya"
Elena : "Sebaliknya, walau memiliki em, tahu kan? warna pink seperti Ibunya, namun wajah Erika lebih mirip dengan ayahnya"
Ersya : "Apanya yang 'tahu kan?' maksudnya?"
Elena : "Kau gak boleh tahu! itu salah satu aurat perempuan!"
Ersya : "Warna rambut?"
GPLAK!! Ersya langsung dipukul Elena.
Ersya : *Nyut... Nyut dengan wajah datar* "Kalau itu aku juga sudah tahu warna rambut kak Ana, tapi gak tahu panjang apa pendek"
Ersya : "Alisnya"
Elena : "O.. Oh, maaf ya"
Ersya : *Dalam hati* "Malangnya diriku ini"
Elena : "Baiklah... kita akan membahas sedikit bocoran para Pilar!"
Ersya : "Kalau Meghan itu, dia suka melakukan penelitian aneh, seperti meneliti para makhluk astral yang bisa di sentuh secara fisik. Dan melakukan dengan cara sadis yang dia anggap menyenangkan, mirip *si*o*a*"
Elena : "Naudzubillah! bicara yang baik-baik! selanjutnya, Edward! dia itu sebenarnya lumayan menyenangkan untuk berteman! tapi pernah ada kejadian para Pilar yang membuatnya menjadi sikap dingin dan juga judes! dan mengejutkannya, dia hanya bisa berbasa-basi pada Amanda, Andra, dan Meghan!"
Ersya : "Ya, kita pernah melakukan 'itu' padanya, bahkan Lord Fifth menghukumnya"
Elena : "Ketiga! Rahmat, dia anggota nomor 3 Rosement! bisa lihat di novel Author The Unifying Butterfly, dia pintar sekali memasak! dan juga ahli dalam sulap, mirip para Lupin star yang belum debut di novel ini sih? memang bermuka datar dari dulu"
Ersya : "Keempat, Vanora... dia itu lumayan phobia sama hewan berbulu, kayak kucing? gitu, padahal sudah di kasih tahu sama Farel jangan takut"
Elena : "Kelima! Farel! dia itu memang pilar Fauna, pintar dalam menjinakkan hewan!"
Ersya : "Keenam, Toni! dia adalah Pilar beladiri menggantikan Nera, karena Nera cukup malas tak mau ikut Pilar karena tak bisa makan bebas seperti di Dunia nyata"
Ersya : "Ketujuh, Kak Elena! dia bahkan menangis terisak-isak saat mengetahui kak Andra is dead!" *Sambil berbisik*
Elena : "Kedelapan! Ersya, dia itu meski terkategori pintar dalam Teknologi, tapi dia benar-benar payah dalam mengurus tanaman!" *Balas Dendam*
Ersya : "Ck! kita bahas apaan lagi sekarang?"
Elena : "Baiklah! kalau gitu, ayo kita ke kebun! kita tanam bunga matahari!"
Ersya : *Dalam hati* "Kenapa belum selesai balas dendamnya?"
Elena : "Ok! See you guys!"
Ersya : "See ya... "