
"Aku... gak tahu" kata Amanda sambil mengusap air matanya di mata kanannya.
"Ng?" Andika terbangun perlahan.
"Ibu!?" tanya Andika dan bergegas ke Ibunya dan memeluknya lalu mendekapnya.
Amanda bereaksi biasa saja dan agak lemas sambil menyentuh lengan Andika yang mendekapnya.
"Andika, bagaimana yang lainnya? mereka baik-baik saja kah?" tanya Amanda.
"Ya, mereka baik-baik saja! Alhamdulillah, aku bersyukur kau baik-baik saja, Bu!" kata Andika sambil melepaskan pelukannya.
Ceklek! pintu dibuka seseorang.
"Oh, Ana! sudah sadar, nak?" tanya Adimas sambil tersenyum.
"Iya Paman" kata Amanda.
"Kalau begitu aku akan panggil Dokter Randi!" kata Andika sambil bergegas.
"Ya, Paman akan panggil Rafi dulu, ok?" kata Adimas sambil menutup pintu.
"Baik"
Tinggallah Amanda dan Edward berdua.
"Yumna, kau yakin tidak apa-apa? kau terlihat sangat lemas" kata Edward.
"Yah... tubuhku lemas sekali aku gak tahu, aku agak lemas untuk bernafas" kata Amanda.
"Saat kau koma aku pikir kau tidak akan selamat dan-..." belum selesai Edward bicara.
"Jangan bicara yang enggak-enggak kau, aku belum mati" kata Amanda.
"Kapten... apakah benar?" tanya Amanda.
"Maksudnya?" tanya Edward.
"Apakah benar kalau Erika... berhasil mengakhiri Zeydan? apakah benar Zeydan menjadi jahat?" tanya Amanda.
"Ya, itu benar dan itulah kenyataannya, kau istirahatlah dulu, pasca kekuatan yang kau gunakan dan bisa menghancurkan Pandora itu pasti membuat stamina dan energi di tubuhmu melemah" kata Edward.
"Ya, terimakasih"
Randi akhirnya datang bersama Andika, Adimas, Amir, Umar, Erika, dan Rafi.
"Sedang bicara apa?" tanya Adimas.
"Gak kok, Paman" kata Amanda.
"Ibu!!!" seru Umar dan loncat memeluk Amanda sambil menangis.
"Aduh!" gumam Amanda.
"Umar! jangan berlebihan!!" kata Amir.
"Tapi... aku benar-benar sangat bersyukur hiks... rupanya Ibu masih hidup!!" seru Amir dan memeluk Amanda sambil menangis.
"Kalian... fufu, maaf karena membuat kalian khawatir" kata Amanda.
"Oh ya, bagaimana yang lainnya? kak Toni, David, Wira, Nisa, Erika, dan yang lainnya?" tanya Amanda.
"Mereka baik-baik saja dan sudah mendapatkan perawatan, Toni paling kritis setelah dirimu dan Andika. Sampai saat ini dia belum siuman. Kau tiduran saja dulu" kata Randi.
"Oh ok, kalau begitu aku pasti hanya berhalusinasi melihat kak Toni bergelantungan di langit-langit" kata Amanda dengan lemas sambil tiduran.
Semuanya setelah Amanda menatap langit-langit kamar, terdapat Toni seperti merangkak berada tepat di langit-langit.
Edward dan Rafi dengan wajah keringat segan dan risih, Adimas terbelalak, Andika, Randi, Amir, dan Umar ketakutan.
"HUAA?! SEJAK KAPAN KAU TON?!" Teriak Randi.
"Kak... Toni! kau, mengejutkan kami" kata Andika.
Sedangkan Amir dan Umar hanya berpelukan merinding.
"Hiapp!!" Toni mendarat di besi ranjang.
"Aku terkejut kalau penglihatan dan reaksinya Amanda tajam seperti biasa" kata Toni.
"Ah tidak, karena aku tidur telentang tentu saja. Sekarang jadi agak lemas, kenapa kak Toni terlihat bugar?" tanya Amanda.
"Karena aku ini kuat! cukup kuat untuk mengalahkan Edward!" kata Toni.
"Hoax terbesar sepanjang sejarah" kata Edward.
"Jangan mengganggu Toni!!" seru Randi.
Akhirnya tinggallah kembali Amanda dan Edward berdua setelah Adimas dan Rafi akan ke ruang keluarga. Sementara itu Andika, Amir, Umar, dan Randi membopong paksa Toni untuk keluar dari kamar.
"Maaf Kapten, ini salahku" kata Amanda.
"Ini bukanlah salahmu, kenapa kau terus berpikir ini salahmu?" tanya Edward.
"Karena... Zeydan mati dan aku tidak berbuat apa-apa, bahkan hanya langsung mengusulkan saran agar langsung membunuh Zeydan tanpa memikirkan rencana lain" kata Amanda.
"Kau berperan besar dalam menghentikan perang ini, sadarilah posisimu" kata Edward.
"Tetap saja... " kata Amanda.
Edward langsung merasa bersalah juga, karena tak bisa berbuat apapun bahkan untuk negosiasi dengan Zeydan pun ia tak sempat.
"Istirahatlah, kalau kau butuh sesuatu, panggil saja aku" kata Edward dengan suram dan mau keluar dari ruangan.
Edward akan membuka pintu dan memutar engsel pintu.
"Kapten... " Amanda tiba-tiba bicara.
"Huft... apa lagi?" tanya Edward tanpa berbalik ke belakang dengan menghembuskan nafasnya.
"Aku ingin ikut, maksudku aku ingin keluar" kata Amanda dengan menunduk sampai-sampai perban di mata kiri dan kepalanya mendukung kesuramannya.
"Hm... " Edward berbalik dengan wajah iba dan kasihan.
"Ayo" kata Edward.
"Eh?" Amanda menengadahkan kepalanya dan melihat Edward menyediakan kursi roda.
"Kita juga harus menemui Cepheus dan tim Lupin Star lainnya" kata Edward.
Amanda dan Edward yang mendorong kursi roda berpapasan dengan Andika lalu Andika memutuskan untuk ikut.
"Ibu, aku ingin tahu cerita tentang kenapa Ibu bisa selamat, dan kenapa mata kanan ibu yang sebelah itu tergantikan dengan besi dan mata buatan?" tanya Andika melihat rangkaian besi yang melengkapi wajah Ibunya.
"Itu.... "
Di markas Lupin Star...
"Jadi, kau tidak keberatan menceritakannya kan?" tanya Amanda yang duduk di kursi roda dan menatap Cepheus sambil merajut syal yang dulu diberikan Erlan yang robek.
"Hm" Cepheus berpikir sambil melirik Andika yang sudah sangat berharap dan Edward yang serius mengharapkan penjelasan dari Cepheus.
"Kasih tahu gak ya?" goda Cepheus.
"Paman!!" seru Andika yang sudah berharap.
KRAAK!!!
"Cepheus... beritahu sekarang" kaga Edward yang mengaktifkan Silent-nya sambil meremas gelas di depannya sampai remuk.
"Hii!! Iya ya! jangan membunuhku!!" kata Cepheus.
"Ok, kita mulai cerita 6 tahun yang lalu saat penyegelan Pandora"
6 tahun yang lalu...
"Saat itu, aku sedang refreshing tengah malam, tapi aku kaget melihat Ana, Andra, Erlan dan Rangga terkapar... "
"Andra!? Ana!? kalian!? jangan bilang Pandora...!?" tanya Cepheus sambil melihat Pandora yang tertutup.
"Jangan bilang penyegelan Pandora...!?" Cepheus mengaktifkan arlojinya.
"Perseus! Cassiopeia! Andromeda! cepat ke hutan inti kematian sekarang!" kata Cepheus sambil menghampiri Amanda yang badannya banyak bekas tusukan besi.
"Besi Astral!?" tanya Chandra.
"Ini buruk sekali! Rangga sudah tidak bisa disembuhkan lagi tubuh barunya karena batu Mustika Delima Merahnya rusak parah" kata Cepheus.
"Kapten!" kata Andromeda.
"Apa-apaan ini!?" tanya Perseus.
"Sebentar saja kalau bertanya! cepat bawa mereka ke markas kita!" kata Cepheus sambil membawa Andra.
"Baik!"
Di markas Lupin star...
Semuanya di rawat.
"Hanya Ana saja yang selamat... " kata Andromeda yang kembali bersama Cassiopeia dari ruang kesehatan sambil menunduk.
Cepheus terbelalak.
"Begitu" kata Cepheus.
"Maklum saja, Andra tidak bisa bertahan karena dia memegang kunci segel Ryu yang ada didalam diri Ana yang membahayakan nyawanya, sedangkan Erlan mengambil jurus untuk menyegel Ryu yang sempat mengamuk" jelas Cassiopeia.
"Dan Rangga... dia sudah tidak bisa lagi diselamatkan" kata Cassiopeia.
"Siapa... yang menyerang mereka?" tanya Perseus.
"Ana sudah pernah mengatakan padaku kalau sekte yang pernah bertautan pada Pascal dan Bestari adalah... Dirgapati" kata Cepheus.
"Mustahil! bukankah Dirgapati seharusnya sudah hancur bersama Organisasi Night Darkness dan Sekte Hebitsukai!?" tanya Andromeda.
"Rumput liar takkan pernah berhenti tumbuh jika tak dicabut hingga akarnya" kata Cepheus.
"Itu bisa diumpamakan pada Pascal dan Bestari yang takkan menyerah" kata Perseus sambil beraut wajah berpikir.
"Ya, aku akan membahas ini dengan Lord Fifth, dan memalsukan kenyataan dan mengatakan pada semuanya kalau para penyegel Pandora sudah gugur, kedok Dirgapati telah terbuka, kita hanya perlu menunggu penyerangan saja" kata Cepheus.
"Dimengerti!"
Flashback Off...
"Ja... Jadi begitu" kata Andika mengangguk mengerti.
"Iya, dan kami kalah karena 10 pasukan Dirgapati atas menyerang kami semua dengan beruntun" kata Amanda.
"10 pasukan Dirgapati atas datang menyerang!? bahkan 1 pasukan Dirgapati atas saja membutuhkan setidaknya 2 Pilar atau 6 Prajurit elit untuk menanganinya!" kata Andika.
"Satu kekuatan Pasukan Dirgapati atas setara dengan 3 orang Pilar" kata Perseus.
"Jadi, apakah kalian sengaja meletakkan aku dan Zeydan di Hutan Inti Kematian alias tempat penyegelan Pandora agar... untuk memalsukan kejadian sebenarnya?" tanya Andika.
"Iya, jika misalkan berita Ana selamat sampai ke telinga Chandra, dia akan merencanakan perang yang pasti akan membahayakan" jelas Cepheus.
"Maaf, aku tidak tahu" kata Andika.
"Kalau saja kau tidak ikut mengendap-endap Andika, ini takkan terjadi" kata Perseus.
"Maaf" kata Andika.
"Cepheus, aku sangat berterimakasih padamu dan yang lainnya karena melindungiku, kalau bukan bantuan kalian, mungkin Chandra sampai akhir takkan dapat dikalahkan" kata Amanda.
"Aku sangat berterimakasih"
"Tidak apa-apa, itu bukan masalah" kata Cepheus.
"Jadi, ada apa hubungannya dengan matanya Ibu?" tanya Andika.
"Saat itu, mata kanan Ana sudah membuta dan meleleh, sehingga agar tidak mempengaruhi sel-sel mata dalamnya, kami mengganti matanya dengan efek buatan, hingga sekarang... Silent-nya hanya satu" kata Cepheus.
"Tapi aku tidak apa-apa sungguh" kata Amanda sambil tersenyum.
"Meski begitu, fakta kalau Nyai Bestari, Kitagawa Pascal, dan Chandra Nagata yang sebagai ketiga induk yang saling terhubung tidak akan pernah berubah, orang-orang seperti mereka akan menjadi ancaman terbesar apabila sampai muncul kembali" jelas Amanda.
"Baiklah... aku akan pamit" kata Amanda yang menyadari suasananya menjadi suram.
"Kemana?" tanya Andika.
"Ke makam Ayah dan Pamanmu"
"Lho?" tanya Andika.
"Amir, Umar, dan Erika sudah katanya, ayo kalau mau ikut" kata Amanda.
Edward juga memutuskan untuk ikut.
"Pakailah kursi roda, kau bisa saja ambruk kan?" tanya Edward.
"Aku tidak apa-apa, Dasar... tidak perlu pakai kursi roda" kata Amanda.
Sesampainya di sana...
Amanda dan Andika memasang wajah sedih sambil berdoa.
"Semuanya, kami berhasil mengalahkan Chandra... kami Pulang" batin Andika dan Amanda bersamaan.
Iya, terimakasih... selamat datang kembali.
Andika dan Amanda terbelalak merasakan ada yang berbicara di belakang mereka dan reflek berbalik ke belakang.
Andika dan Amanda bertatapan dan menangis.
Edward, Cepheus, Perseus, Cassiopeia, dan Andromeda bahkan sampai kaget.
"Ke.. Kenapa!?" tanya Andromeda.
"Jangan nangis!" kata Cassiopeia.
Cepheus dan Perseus sampai kebingungan tak tahu harus apa dan hanya bisa mengguncangkan tangan mereka untuk menghibur Andika dan Amanda.
Edward terbelalak, tapi dia juga tersenyum karena tahu... kalau Andika dan Amanda berhak merasakan kebahagiaan meski banyaknya pengorbanan.
Edward menengadahkan kepalanya ke atas.
"Kalian semua lihat? semua pengorbanan dan tekad yang dicurahkan dari hati kalian, serta dendam kalian telah terbayarkan, perjuangan kalian selama ini tidak sia-sia" kata Edward sambil membayangkan wajah para prajurit, Arsya dan para Pilar yang gugur tersenyum sambil menaruh tangan mereka di tulang belikat sebagai tanda penghormatan.
Edward menaruh tangannya di tulang belikat kirinya untuk tanda penghormatan kepada mereka yang gugur, serta tetesan air matanya yang tumpah melepaskan kepergian mereka bersama dendam yang ditanam selama ini.
Akhirnya Edward, Amanda, dan Andika berpisah dari squad Lupin Star.
Amanda memandang makam para pejuang yang gugur lalu menaruh tangannya di pohon.
Nafasnya menjadi tidak beraturan dan ia akan ambruk ke depan.
BRUK! Namun ada seseorang yang sudah memasang badan untuknya.
"Andika?" tanya Amanda yang tubuhnya berada di punggung Andika.
"Tuh kan, ngeyel sih di suruh pakai kursi roda gak mau" kata Edward.
"Maaf"
"Pegangan ya, Bu" kata Andika.
"Eh?" tanya Amanda.
"Tapi, apakah Andika akan baik-baik saja?" tanya Amanda.
"Biar saja Kenzo yang menggendongmu di punggungnya. Ayo cepatlah, kau mau dia yang gendong atau aku?" tanya Edward.
"Mikir dulu baru bicara! kita bukan mahram tahu!!"
"Haha, Bersandarlah padaku Bu" kata Andika yang agak tertawa karena tingkah Amanda dan Edward.
"Ah... hm" kata Amanda yang menurut.
Akhirnya mereka bertiga berjalan.
"Ini pertama kalinya aku menggendong Ibu. Dan Ibu sama sekali gak berat, aku seperti menggendong anak Panda, menggemaskan sekali" batin Andika dengan bahagia.
"Ada... Ada apa dengannya?" tanya Edward melihat Andika yang berbinar-binar.
"Entahlah" kata Amanda yang satu server dengan Edward.
Sepulangnya dari makam...
Di istana....
"Madam Sera" kata Amanda.
"Your Majesty Queen Aliana! You still..."
(Yang Mulia Ratu Aliana! Anda masih...) Sera menghentikan ucapannya.
"Yes, I have heard all the insurance and agreements that have been formed"
(Ya, saya sudah mendengar semua asuransi dan perjanjian yang ada) jelas Amanda.
"Aku sudah bicara banyak dengan Nyonya Sera sebelum kau datang tadi" bisik Edward.
"Begitu" kata Amanda.
"We want two are you to come a Bilton Country to take the property rights that Fujiwara left behind when led we country first"
(Kami ingin anda berdua datang untuk mengambil hak milik Fujiwara saat memimpin kamu dulu) jelas Sera pada Amanda dan Edward.
"Yes, but that's after Queen Aliana became the leader of the Fujiwara Clan"
(Ya, tapi itu setelah Ratu Aliana menjadi ketua alias pemimpin Klan Fujiwara) kata Sera.
"Hah!? maksudnya!?" tanya Amanda pada Edward dengan Kaget.
Karena yang dia tahu, sejak Ibu dan kakaknya masih hidup, Fujiwara tidak punya pemimpin selain Aika.
"Akan kujelaskan nanti" kata Edward yang berkeringat heran, karena ia sudah menduga Amanda akan berkata seperti itu.
Di ruangan istana...
"Apa!? aku yang gantikan pekerjaan hingga 4 bulan ke depan!? bahkan satu hari saja aku serasa harus menjinakkan harimau, kak!" kata Rafi.
"Rasain, Rafi" kata Nera yang disitu.
"Boleh ya? kumohon, lakukan demi aku" kata Amanda dengan memelas.
"DEMI AKU?! TENTU SAJA KAK! apapun akan kulakukan demi dirimu!!" batin Rafi yang terpesona dengan Amanda.
"Baik... memangnya kau mau kemana? 3 pekan pergi?" tanya Rafi.
"Tentu saja! Ke Amerika Serikat! lagipula Nyonya Sera juga ingin menunjukkan bisnis terkenal keluarga Clarke di sana" kata Amanda.
Edward sedang duduk di situ sambil membaca koran dan minum teh.
"Sama siapa? kau belum pulih benar kan?" tanya Rafi.
"Ng?" tanya Amanda.
"Sama Kapten" kata Amanda sambil menunjuk Edward.
GEBEDUK!! Edward terpentuk cangkir saat sedang minum teh dan kaget mendengar perkataan Amanda.
"Apa?!" tanya Edward kaget.
"Lho? kok aku?! kapan kau bilang?!" tanya Edward.
"Barusan" kata Amanda.
"Aku ikut kan ya!!" seru Nera dengan senang.
"Masa kau tega membiarkan adik sepupu kesayanganmu yang belum pulih benar ini sendirian pergi ke luar negeri? Dasar...?" tanya Amanda dengan aktingnya.
"Dasar ratu drama, kan dah gede" kata Edward.
"Edward!!" kata Nera sambil memegang bahu Edward dengan aura kesal.
"Jangan khawatir Nda! sebagai kakakmu di Rosement dulu, aku akan menemanimu! tenang saja!" kata Nera.
"Thanks kak Nera, kakak emang baik. Gak kayak si es batu" kata Amanda.
"Sekilas kau jadi mirip Toni" gumam Edward.
"Kau tahu kan? kalau aku ada dinas urusan di Meksiko bersama Toni?" tanya Edward.
"Itu dekat! ayolah! kau kan dinas ke Meksiko, aku dan kak Nera akan ke Amerika" kata Amanda.
"Ck, terserah. Kalau kau dalam bahaya segera telepon. Sudah tugasku untuk melindungi Fujiwara utama" jelas Edward.
Amanda terbelalak, tapi dia tahu kalau sekarang Edward melindunginya karena sebagai sepupu, bukan keterlibatan akan tradisi lama Fujiwara.
"Huh, kau ini amnesia ya? kau sudah bagian dari Fujiwara utama sekarang. Takatsukasa adalah cabang resmi satu-satunya Fujiwara. Utama dan Cabang yang dulu dibentuk untuk mengurangi dampak pembantaian" jelas Amanda.
"Keluarga bagian cabang kan setengahnya utama Fujiwara, tapi sekarang aturan tersebut sudah diubah oleh kak Andra. Takatsukasa-lah satu-satunya cabang sah Fujiwara, kau lupa?" tanya Amanda.
"Kalau begitu, anggap saja aku adalah generasi terakhir Fujiwara cabang" kata Edward.
"Ya ampun! kau begitu keras kepala Kapten. Kalau begitu, aku hanya akan terserang flu di Amerika" kata Amanda.
"Hah?" tanya Edward sambil berdiri karena kaget.
"Begitu aku menelpon, kau harus sampai ke Amerika dalam waktu 30 menit! ok?" tanya Amanda meledek.
"Yang benar saja!? kau pikir aku ini pengantar Pizza!?" tanya Edward.
"Haha, baiklah. Kalau gak salah masih ada 7 jam sebelum ke bandara" kata Amanda.
"Ya udah Nda! Yuk bersiap!" kata Nera.
"Ok, kak!"
*Se*karang... setelah 3 bulan yang lalu setelah perang berkecamuk, kami telah memperbaiki semuanya, perang berhasil dihentikan, tapi itu memakan banyak korban.
Dalam hal ini, kita patut mengenang semua jasa para pejuang yang gugur, banyak sekali keinginan mereka apabila mereka masih hidup setelah kejahatan musnah, diantaranya adalah...
Kedamaian, aku yakin Zeydan pasti menginginkan hal yang sama, yaitu kepedulian...
Di tempat Pasha...
"Yang diharapkan terus diterapkan di dunia ini" kata Pasha membacakan surat dari Adelia saat Adelia sedang berdua dengan Amanda.
Pasha, Aram, Gibran, Dirga, dan Ilman sedang pulang dari kuliah.
"Tulisan tangan Adelia sangat cantik, bahkan harum, aku tidak bisa berhenti menatapnya" kata Gibran sambil memegang surat dari Adelia.
"Berhentilah seperti itu pada atasan, kedudukannya sangat tinggi kau tahu? kau seperti tidak menghargai wanita" kata Ilman sambil memperbaiki dirinya.
"Kau sendiri? bagaimana dengan dirimu?" tanya Aram.
"Aku hanya ingin mencari gebetan sebelum Erika bergabung ke kampus ini, tapi aku yakin tidak ada yang sebaik dirinya" kata Ilman.
"Aku tidak mengerti, padahal kita masih remaja, tapi sudah di kandidat kan sebagai pihak negosiasi kedamaian antara pihak gerakan pemberantasan dan Klan Kitagawa" kata Ilman.
"Sekarang aku kecewa padamu yang masih hidup, Gibran" kata Ilman.
"Aku tidak terkejut kalau mereka mencoba membunuh kita karena kita berpihak pada Fujiwara" kata Gibran.
"Percayalah pada Ibunya Erika, Yang Mulia Ratu yang tidak segan-segan mengambil keluargaku dan menjamin Pasukan pemberantasan dibawah perlindungannya" jelas Dirga.
"Katanya Erika akan join ke kampus ini juga kan?" tanya Dirga.
"Aku harap... dia bisa membuat dirinya membaik" kata Pasha.
"Kau benar" kata Aram.
Pasha tersenyum menatap Aram.
Sementara itu Andika...
"Perang ini... berhasil kami menangkan, tapi perang ini menghasilkan banyaknya pengorbanan" batin Andika.
"Mereka semua berkorban tanpa takut mati, bukan karena telah muak dengan dunia yang dipenuhi oleh sekte dan organisasi yang mengganggu kehidupan... tapi karena mereka tak ingin.... orang lain merasakan kesakitan dan kesusahan yang mereka rasakan"
"Nisa!" panggil Andika saat melihat Nisa di taman istana.
"Andika" kata Nisa sambil tersenyum.
"Kau sedang apa?" tanya Andika.
"Aku hanya sedang mengunjungi pohon ini... pohon ini ada sejak kita masih kecil, aku ingin menikmati pemandangan ini meski sedikit, indah kan? daun-daun yang berguguran ini?" tanya Nisa sambil menatap pohon.
"Iya" kata Andika sambil menatap Nisa dengan tersenyum.
"Oh ya, tadi aku bertemu Pilar bela diri" kata Nisa.
"Benarkah!? aku harus menyapanya!" kata Andika.
"Memang harus!" kata Nisa.
"Dia berniat memberikan teman ular milik Pilar Karya, pada Tante Amanda... tapi Tante Amanda memintaku merawat Roza sampai dia kembali dari Amerika" kata Nisa, bersamaan dengan seekor ular putih yang keluar dari bajunya yang bernama Roza.
"Wah lucu ya" kata Andika sambil mengelus Roza.
"Aku... jadi agak cemas" kata Nisa.
"Soal?" tanya Andika.
"David dan Wira sedang berada di Dimensi Astral, kenapa kau khawatir?" tanya Andika.
"Bukan soal itu, aku khawatir pada Erika, apakah dia baik-baik saja?" kata Nisa.
"Kurasa... ia akan baik-baik saja"
Di taman paling belakang istana...
Erika sedang duduk di bawah pohon.
"Zayn... semuanya sudah membaik setelah perang, kau senang kan? kau ingin kami hidup lama, aku tahu itu" kata Erika sambil menatap batu nisan di sebelahnya dengan tersenyum.
Erika akhirnya mengingat pertama kali dia bertemu Zeydan di taman istana, dan Zeydan membawanya ke pohon yang sekarang sedang ia singgahi.
Tes... Tes... Air mata Erika menetes.
"Aku harap... aku bisa melihatmu lagi" kata Erika sambil menangis dan bersandar pasrah di pohon sambil mengadukan perasaannya kepada Yang Maha Kuasa dan kain putih miliknya menjadi agak longgar.
Tanpa disadari Erika, ada sepasang tangan yang menyentuh dan membetulkan kain putih di lehernya.
Erika terbelalak, karena ia merasa sangat familiar dengan aura itu dan lantas berbalik.
Tidak ada siapapun...
Erika hanya bisa tersenyum.
"Zayn... kau tidak putus asa akan impianmu, kau juga memberikan kain putih ini untukku. Terimakasih"
[POV ERIKA]
Sisi pedang yang membela keadilan, jika kau bisa menggunakannya untuk kebaikan
Kau pantas mendapatkan julukan Pahlawan
Jika kau memberanikan diri dan menyentuhnya, kau akan merasakan aura kejahatan yang mengancam kebaikan
Aku tidak bisa mencegahnya yang pergi terlalu jauh
Hanya karena jarak yang menghalangi
Jangan menyesali atas pilihan dan takdirmu
Karena kita punya hak mendapatkan kebebasan dan kedamaian
Tapi jika kita tidak punya tempat untuk pulang dan mengadukan kelelahan kita
Kurasa pemilik ragaku dan alam semesta inilah satu-satunya yang dapat kutetapkan kepercayaan yang besar
Aku hanya enggan untuk berpisah dengan seseorang
Dunia ini memang keras, tapi aku akan tetap selalu mencintaimu
Meski kau mengambil jalan apapun yang kau pilih, untuk melindungimu akan ku korbankan keraguanku
Rasa sakit yang menggema menusuk kalbuku, aku takkan pernah menyerah, karena itu pergilah...
Duka...
Walaupun ku lelah, walaupun ku hancur, ku tak peduli seberapa sakit pun, akan tetap ku lindungi dirimu
Meski aku melakukan kesalahan, aku tetap mengikuti kata hatiku
Karena yang namanya keberanian, berarti percaya pada diri sendiri
Akan kucegah jika kau menyimpang ke jalan yang salah meskipun harus membunuhmu
Jadi... entah di manapun dirimu berada, tetap hampa terasa hidupku tanpa dirimu
Apakah di sana, kau merindukanku? seperti diriku yang selalu merindukanmu
Seperti yang ku katakan sebelumnya, apapun jalan yang kau pilih...
Aku akan tetap selalu mencintaimu
Bonus Chapter!!
Di kamar Edward...
Edward terlelap dikamar hotel tapi terhentikan setelah bunyi telepon.
"Ng? Yumna? ada apa?" Edward akhirnya mengangkatnya.
"Assalamu'alaikum?" tanya Edward.
📞"EDWARD!!!" Teriakan yang memekik telinga.
"Innalillahi!! Ada apa?! kenapa Nera?!" tanya Edward sambil memegang telinganya.
📞"A.. aa... cough!! aaaa!! cough!! kapten! ke Amerika lah sekarang!"
"Ng? kenapa? oh, suara itu... firasat ku jadi tidak enak" kata Edward.
📞"Aaa cough! baguslah! sruuk! kalau kau tahu! sruuk! cepatlah ke Amerika dalam 30 menit! aku flu!"
📞"Ayo cepetan, Ward!!"
"Ck! merepotkan!"