
Sesampainya di tempat seleksi terakhir.
"Banyak juga yang mengikuti seleksi" batin Amanda.
"Kenapa harus malam hari sih?" batin Amanda sambil melihat pedangnya.
"Kak Andra sedang koma karena penyakit, aku harus menjadi kunoichi dan membuat kak Andra bangga, aku mohon kak... sadarlah dari koma" batin Amanda.
"Kenapa disini banyak pohon bidara?" tanya Amanda.
Ingatlah, kalau Pohon Bidara adalah pohon yang sangat dihindari Jin. Amanda mengingat ucapan Amir.
Akhirnya Amanda memasuki hutan.
"Silent!"
"Kenapa ada aura lezat disini?"
"Aura ini!? ada makhluk astral!?" tanya Amanda dan melihat ke belakang.
"Makhluk pemakan janin!?" tanya Amanda.
"Oh? kau bisa tahu hanya dengan melihat? apakah itu mata Silent? bagus sekali, aku akan sangat kuat jika memakanmu" kata hantu nenek.
"Aku tidak akan memaafkan dirimu yang telah memakan para janin hanya untuk kekuatan! kemarilah kalau kau memang sangat ingin mata ini, tapi jangan salahkan diriku jika kau mati" kata Amanda.
"Hi.. Hi!"
Pedang setiap ninja yang bertugas, selalu di campur dengan aroma ramuan bidara.
"Berpengaruh gak ya?" batin Amanda sambil memegang tangkai pedangnya.
CTRANG!! dan benar saja, si hantu langsung berubah menjadi abu dan mati.
"Berpengaruh sekali" gumam Amanda dan melanjutkan perjalanan.
****
"Kenapa aku merasakan ada hawa yang aneh" kata Aika.
"Aku gak tahu, sebaiknya kau diam saja dan jangan mengganggu" kata Amanda.
****
"Eh!?" tanya Amanda melihat salah satu peserta seleksi.
"Kau baik-baik saja!?" tanya Amanda.
"Y.. ya, aku baik-baik saja" kata si peserta yang ketakutan.
"Eh!?" tanya Amanda melihat sesosok makhluk.
"Buto Ijo!?"
"Enak sekali... aku haus, aku ingin lebih kuat lagi" kata Buto ijo yang besar itu.
"Dia jauh lebih besar dari ukuran sebenarnya" batin Amanda.
"Aku harus lari selagi dia meladeninya" batin si peserta.
"Ah? seorang gadis? kau memiliki aura dan energi yang sangat besar, aku bisa menelanmu" kata Si Buto ijo.
"Sayangnya, aku tak sudi tuh?" tanya Amanda.
"Ng? logo kantong makanan itu" gumam Buto ijo melihat kantong cemilan yang di berikan Pak Andi.
"Hei!! bulan hijriyah apa sekarang!?" tanya si Buto Ijo.
"Te.. Tentu saja Bulan Dzulhijjah" kata Amanda.
"AAA!!! Heh! kenapa hal ini mengingatkan ku pada orang itu!?" tanya Buto ijo.
"Ka.. Kau ini kenapa?" tanya Amanda.
"Kau! apakah kau murid Andi!?" tanya Buto Ijo.
"Kau, kau mengenal Kakek?" tanya Amanda.
"Dia kakekmu!!?" bentak Buto Ijo.
"Bu.. Bukan, dia hanya memiliki darah keturunan leluhur ayahku" kata Amanda.
"Termasuk kerabat Ayahmu ya?" tanya Buto Ijo.
"Memangnya... kenapa?" tanya Amanda.
"Logo itu? heh, bagus... Bulan Dzulhijjah mengingatkan ku saat Andi menyegelku saat itu" kata Buto Ijo.
"Aku jadi ingat bagaimana aku memangsa satu persatu muridnya" kata Buto Ijo.
"Apa!?" tanya Amanda.
"Yang satunya adalah adiknya, selalu pemarah, dan menurut pada kakaknya, tangkas, tapi termakan olehku bersama kakaknya, mereka sekarang menjadi energi yang membuatku seperti ini" kata Buto Ijo.
"Ja.. Jangan bilang!?" tanya Amanda.
"Be.. Bersaudara kembar identik!? Amir, Umar... tapi, jika mereka telah tiada, kenapa aku bisa bertemu mereka?" batin Amanda.
Di Lapangan latihan gunung...
"Hei, Umar... apakah kau pikir, Ana bisa menghabisi iblis yang membunuh kita dulu?" tanya Amir.
"Aku gak tahu, belum ada yang bisa membelah batu sebesar yang dia belah, dia memang istimewa" kata Umar.
Kembali ke hutan...
"Baiklah! waktunya serangan!" kata Buto Ijo.
Amanda menembakkan jangkar ke salah satu tubuh Buto Ijo dan ke atas untuk menebas tangan Buto Ijo.
CTRANG!!! Dan benar saja, Amanda berhasil menebasnya. Dan tangan Buto Ijo yang terpotong seperti terkena asam dan mengerut karena cairan bidara.
SRUT! Tapi tangan Buto Ijo itu kembali seperti semula.
"Regenerasi!?" tanya Amanda.
"Hahaha, jangan meremehkan kemampuanku!" kata Buto Ijo.
____
"Kau tahu kan? alasan kita mati saat itu?" tanya Amir.
"Ya, itu juga salahku... karena leher Buto Ijo itu sangat keras, aku tidak bisa memenggalnya dan pedangku patah" kata Umar.
____
"Kau tidak akan bisa memenggal kepalaku!" batin Buto Ijo.
"Titik terlemah dan membuat mati makhluk astral ada dua, yaitu bagian jantung dan memenggal kepalanya!" batin Amanda dan akan mengeluarkan dua pedang.
CRING!!! Amanda berhasil memenggal kepala Buto Ijo dan langsung pergi ke belakang tubuh Buto Ijo lalu menusuk jantungnya.
"Aku.... kalah!?" batin Buto Ijo.
"Hei, kau tahu? mata Silent ini?" tanya Amanda.
"Ka.. Kau! apakah benar... yang di rumorkan itu!?" tanya Buto Ijo yang sekarat.
"Putri bungsu Lord Sixth, memiliki darah Hasegawa dan Fujiwara, Putri Silent!?" tanya Buto Ijo.
"Aku tahu kau gak bersalah dan di perbudak untuk sekte dan organisasi yang tak bertanggungjawab, tapi karena telah memangsa banyak korban termasuk Amir dan Umar aku tak bisa memaafkanmu, jadi... istirahatlah dengan tenang" kata Amanda sambil menunduk.
Tubuh Buto Ijo langsung menjadi Abu dan hanya tersisa batu khodam yang tertancap di jantungnya.
"Ini bukan batu Mustika Delima Merah" batin Amanda sambil melihat tubuh Buto Ijo yang perlahan hangus.
"Amir... Umar... apakah kalian lihat? dendam kalian sudah terbalaskan, istirahatlah juga dengan tenang" kata Amanda.
Amir dan Umar tersenyum lalu menghilang.
Amanda akhirnya kembali ke gerbang tempat seleksi dimulai.
"Yang kembali hanya beberapa orang? padahal yang ikut itu 56 orang lebih" gumam Amanda.
Amanda hanya tinggal perlu menerima surat kelulusan dari burung yang telah di latih, sekarang dia hanya perlu kembali ke pondok.
Sesampainya di depan pondok...
Andra keluar dari Pondok.
"Ka.. Kak Andra!!?" Seru Amanda kaget.
Andra melihat Amanda dan berlari menghampiri adiknya.
"Kak Andra! kau baik-baik sa-... " belum selesai Amanda bicara.
Andra memeluk adiknya dengan erat dan menyandarkan kepala Amanda ke badannya sambil memeluknya.
"Syukurlah, Alhamdulillah kau kembali dengan selamat Ana... selamat kau sudah menjadi seorang Kunoichi, Mama dan Papa pasti senang mengetahui ini" kata Andra sambil tersenyum.
Amanda menangis.
"Huaa!!! Aku kembali kak!! aku berhasil! kenapa kak Andra tiba-tiba sakit!? tapi... aku berhasil! aku bersyukur kak Andra masih diizinkan untuk terus di sampingku!! huaa!!" Amanda menangis penuh rasa syukur sambil memeluk erat Andra.
Pak Andi yang terpaku sambil membawa kayu melepaskan kayu dari genggamannya karena syok sekaligus tak percaya dan bersyukur, Amanda dapat kembali dengan selamat.
"Kau berhasil" kata Pak Andi sambil memeluk Andra dan Amanda.
"Syukurlah, Nak Ana kembali dengan selamat" kata Pak Andi sambil menangis.
"Alhamdulillah... "