Between Curse and Peace

Between Curse and Peace
Season 2 Episode 22 : Berbicara empat mata



Erika mengetuk pintu.


"Masuk" kata Edward.


Erika membuka pintu dengan ekspresi datar dan tak bersemangat.


"Ada apa?" tanya Edward sambil mengelap pedangnya.


"Nona Meghan memintaku untuk datang" kata Erika.


"Ng? Meghan?" tanya Edward.


"Ck... si kacamata menyebalkan itu" batin Edward, dia tahu kalau Meghan mencoba menjebaknya.


"Kalau sudah disini ya mau bagaimana lagi?" batin Edward.


"Ya, aku ingin bicara sedikit" kata Edward.


"Ku harap itu tak membuang-buang waktu" kata Erika sambil duduk di kursi.


"Tentu saja tidak... " kata Edward.


"Kurasa kau belum pernah mengenal nama Chandra Nagata ya?" tanya Edward.


"Chandra... Nagata?" tanya Erika.


"Jadi begitu, Kenzo belum mengatakan apapun bahkan Zeydan ya" kata Edward.


Edward memberikan foto.


"Ini diambil dari alat milik Meghan, alat yang mengcopy foto Chandra dari otak milik kakakmu dan Zeydan. Ini adalah foto Chandra Nagata pemimpin Sekte Dirgapati sekaligus yang membunuh Ibumu, Ayahmu, dan Pamanmu, juga tangan kanan ibumu, Rangga" Jelas Edward.


"Ini... Chandra Nagata?" tanya Erika saat melihat foto Chandra dan beberapa foto tempat penyegelan Pandora yang berantakan akan simbahan darah.


"Ya, ng?" Edward menaikkan alisnya saat melihat Erika dengan aura menahan amarah sambil menggenggam foto Chandra karena sangat marah melihat foto orang yang membunuh orang tuanya dan pamannya.


"Chandra... Nagata ya? ukh!!" Erika menahan sakit kepalanya.


"Kau kenapa?" tanya Edward.


"Tidak apa... kepalaku hanya pusing" kata Erika sambil melihat foto Chandra.


Apapun yang terjadi, tolong... buat Erika agar tidak marah


Edward tiba-tiba saja mengingat ucapan Amanda.


"Oi"


Erika berbalik.


"Berapa usiamu?" tanya Edward.


"Sekitar 1 bulan lagi aku berumur 16 tahun, kenapa?" tanya Erika.


"Saat kau berumur 16 tahun nanti, kau wajib melihat sinar matahari, bintang jatuh, dan juga bulan Purnama" kata Edward.


"Kenapa memangnya? apakah itu misi?" tanya Erika.


"Kau ini memang terlalu terbutakan akan misi dan juga belajar ya? Ibumu dulu berpesan padaku agar saat kau berumur 16 tahun tepatnya pada saat matamu sudah sembuh seutuhnya, dia berharap bisa melihat itu semua bersamamu. Sayangnya dia sudah tiada karena si Chandra pembuat masalah itu muncul" Jelas Edward.


"Ibuku... meminta diriku? memangnya, kau tahu apa soal Ibuku!?" tanya Erika dengan kesal.


"Kenapa?" tanya Edward yang heran ekspresi mood Erika berubah.


"Soal obat mata ini! aku juga ingin menanyakan itu, kalau kau ingin membuatku melihat Bulan, Matahari, dan Bintang... jawab pertanyaan ku! kenapa saat aku menaruh tetes mata itu, mataku langsung baik-baik saja!? padahal Silent itu adalah mata yang tak bisa sembarangan di beri obat!!" Seru Erika.


"Di obat tetes mata itu, aku sudah menerima beberapa cairan yang cocok untuk mata khusus seperti Silent dari Meghan karena seseorang yang sangat berharga bagiku melebihi siapapun di dunia ini dulu pernah mengalami hal yang sama seperti dirimu saat matamu bermasalah, soal Ibumu itu aku ketahui dari Lord Fifth, jelas?" Tanya Edward dengan berat hati menjelaskan pada Erika.


Erika terbelalak, bagaimanapun dia kaget melihat orang yang benar-benar dingin dan terlihat tak peduli mempunyai orang yang sangat berharga?.


"Lagipula, apakah kau ingin menyepelekan permintaan Ibumu sendiri? meski dia telah meninggal? lebih baik kau jangan seperti itu, jalankan perkataannya, kalau itu memang demi dirinya" kata Edward.


Akhirnya Erika menuju kamarnya.


Dia menangis karena kenapa Mamanya begitu sayang padanya?.


Erika memasang foto Chandra di dinding dan melemparkan panah kecil ke arah Chandra dan berjanji akan mengalahkan Chandra dan membiarkannya merasakan apa yang telah dia perbuat.


"Chandra... aku akan mengalahkanmu apapun yang terjadi, dan merasakan pembalasan atas apa yang kau lakukan pada Orang tuaku, dan juga pamanku, aku berjanji" Batin Erika.