
Pak Andi sedang dirawat karena penyakitnya sambil mengingat saat dia mengawasi latihan angkatan 85.
Beberapa bulan yang lalu...
Semuanya sedang latihan dalam membunuh makhluk astral.
CTRANG!!! Ilman, Mansa, Yusuf, dan Aram berhasil menghabisi boneka yang disamarkan menjadi makhluk astral.
"Mereka bertiga kecuali Nak Ilman kompak dalam satu sama lain meski saling berlawanan antara sikap mereka" batin Pak Andi.
"Baiklah!! aku akan menghabisi boneka yang itu!" kata Dirga.
CTRANG!! Namun sudah ada yang melakukannya.
"Apa!?" tanya Dirga.
"Yuhu!!" kata Salsa.
"Dirga Alfiansyah, memiliki semangat dan kepekaan yang bagus, namun dia tidak gercep dalam melakukan sesuatu jika itu tidak membuatnya seperti suasana dalam pertarungan sesungguhnya" batin Pak Andi.
"Sedangkan Puspita Salsa, memiliki semangat yang luar biasa, dan mampu mengesampingkan perasaan takutnya jika sedang dalam pertarungan" batin Pak Andi lagi.
Sedangkan Pasha sedang berlatih dalam kecepatan.
"Pasha Alifiandra, memiliki fisik yang tidak seberapa, tidak bisa mengangkat beban berat, tidak cepat dalam mengayunkan pedang, tidak ahli dalam jurus, namun dia memiliki kepintaran yang di atas rata-rata" batin Pak Andi.
Sementara itu Erika dengan wajah dinginnya menebas 5 boneka makhluk astral dengan cepat, sedangkan Zeydan hanya satu.
"Kitagawa Yuna, sebagai pengguna Silent murni dan penerus Klan Kitagawa yang dulu dibantai Fujiwara Ray, dia sangat cekatan dalam mengayunkan pedang dengan kepekaannya yang tinggi, mahir dalam menggunakan jurus meski jarang melakukannya, memiliki fisik yang setara dengan 2 laki-laki dewasa, dan kepintarannya bisa disetarakan dengan Pasha Alifiandra, dia cocok untuk menduduki peringkat pertama" batin Pak Andi.
"Sedangkan untuk kadet Al Farisi, tidak cekatan, tapi pantang menyerah, sebagai pemegang kutukan Pandora, dia layak untuk termasuk dalam 10 besar tingkatan pasukan" batin Pak Andi lagi.
Di pertarungan duel antar prajurit...
Semuanya bertarung dengan satu lawan satu, sesama prajurit.
"Aram?" tanya Zeydan yang melihat Aram menjadi lawannya.
"Hm, kau akan melawanku" kata Aram.
Yah, seperti yang diperkirakan, Aram menang dengan cepat dan Zeydan kalah.
"Gerakanmu itu... memang tidak berubah seperti saat SMP dulu" kata Zeydan.
Aram langsung menghindar.
Tiba-tiba... GUBRAK! Yusuf yang tiba-tiba terpental langsung mendarat di tubuh Zeydan.
"A... Aduh! eh? kenapa Yusuf ada disini?" tanya Zeydan yang melihat Yusuf tak berdaya.
"Aram, apakah kau mau melatihku dengan gerakanmu itu?" tanya Erika dengan wajah suram, dingin bagaikan predator.
Aram menatap lama Erika, mengingat saat mereka duel di SMP.
"Baiklah, ayo... aku akan menghajarmu" kata Aram.
"Kau salah mendengar ya? aku bilang melatih" kata Erika.
"Yah, tak ada salahnya kan?" tanya Aram.
Perdebatan Erika dan Aram menarik perhatian para prajurit
"Wah, aku yakin Aram pasti menang" kata Mansa.
"Apa yang kau katakan!? Erika adalah yang terkuat!" kata Ilman.
Pak Andi menatap mereka.
"Ini akan menjadi pertarungan yang mengagumkan jika dilanjutkan, namun akan merugikan jika dilanjutkan juga" batin Pak Andi.
Dan duel antara Erika dan Aram dihentikan.
Flashback Off...
Sementara itu Zeydan dan Andika...
Andika dan Zeydan pergi ke tempat seleksi, yaitu pada Ersya.
"Zeydan" kata Andika.
"Ng?" tanya Zeydan.
"Terimakasih ya... " kata Andika.
"Terimakasih? maksudnya?" tanya Zeydan.
"Karena saat itu kau membela Yun-chan, jika saja kau tidak membela dan melindunginya saat persidangan... meski dia tak bersalah mungkin akan ada masalah dan fitnah lain saat itu" kata Andika.
"Eh? persidangan?" tanya Zeydan.
Flashback...
Andika dan Zeydan masuk persidangan beberapa hari selang setelah Zeydan masuk ke pasukan pemberantasan saat umurnya masih 15 tahun.
Di persidangan...
Ada banyak orang yang berpartisipasi yaitu kepolisian militer yang memang sudah diizinkan untuk menjaga rahasia tentang Dimensi Astral, dan juga beberapa orang kaya yang berpengaruh dapat mensponsori dana dalam gerakan pemberantasan.
Andika dan Zeydan duduk di kursi yang berbeda tapi bersebelahan dengan kondisi tangan yang diikat.
"Kak Andika?" tanya Zeydan.
"Tenanglah Zeydan" kata Andika.
Zeydan juga melihat Erika dan Pasha yang menatapnya dengan khawatir.
"Kalian... " batin Zeydan yang agak lega karena temannya disitu.
"Jadi... disini kami akan melakukan persidangan terkait kekuatan kutukan Pandora yang ada di dalam diri Kitagawa Kenzo dan Zeydan Al Farisi saat misi sebelumnya berlangsung karena di misi yang adanya Kitagawa Kenzo dan Zeydan Al Farisi disitu kekuatan kutukan Pandora mereka aktif" kata Pak Andi yang sekaligus Lord Fifth.
Para pilar juga berkumpul, Rafi, dan juga Daniel, Paman dan kakek Andika.
"Baiklah, ayo kita mulai sidangnya" kata Lord Fifth.
"Saya akan memutuskan tentang apakah kalian akan melakukan renggutan paksa kutukan Pandora agar terlepas permanen, atau akan menerima kalian seutuhnya resmi menjadi anggota pasukan pemberantasan, ataupun mengeluarkan kalian dari pasukan pemberantasan sekaligus merenggut paksa kutukan Pandora" jelas Pak Andi.
"Karena saat menurut peristiwa dulu, Kutukan Pandora di dapat oleh seseorang yang diberikan langsung oleh Pandora jika tidak berhasil menyegel Pandora dan malah kehilangan kendali dan mulai menghancurkan segalanya karena kekuatan kutukan Pandora yang besar. Kedua ada juga orang yang menerima kutukan Pandora dan langsung mati setelah menerimanya" jelas Pak Andi.
"Dan hal itu terletak di logo tangan kanan dan kiri kalian, jadi diantara peserta yang hadir dalam persidangan... ada yang menganggap kalian bisa menghancurkan segalanya jika di biarkan, ada juga kalian bisa menggunakan kekuatan Pandora dengan efisien, tergantung gugatan dan kesimpulan pada pihak kepolisian militer atau pihak pasukan pemberantasan" jelas Pak Andi.
"Baik, saya dari pihak kepolisian militer, memberikan pendapat kalau Pangeran Andika dan Tuan Zeydan tidak akan berbahaya dengan kekuatan kutukan Pandora di dalam diri mereka, karena mereka tak berpengalaman meski mendapatkannya dari 3 tahun yang lalu... dengan keahlian mereka, memberantas sekte dan organisasi sesat akan lebih mudah" jelas komandan kepolisian militer.
"Saya tidak setuju! akan lebih cepat mengeksekusi mereka berdua! meski salah satunya mewarisi darah raja dan darah klan kebangsawanan murni, mereka tetaplah manusia yang akan menjadi ancaman yang besar!" kata seorang pria gemuk.
"Kurasa... aku pernah melihatnya, dia dulu adalah orang yang akan menjalin kontrak perusahaan dengan Ayah!" batin Zeydan.
Andika hanya menatap mereka dengan tatapan datar, tenang, dan biasa saja.
"Tuan Wiliam, tolong patuhi peraturan yang berlaku... anda tak sepatutnya memilih hak sendiri. Selanjutnya kita akan mendengarkan pendapat dari perwakilan Pasukan pemberantasan" kata Pak Andi.
"Tentu, saya Arsya komandan kesembilan pasukan pemberantasan, kami secara resmi dan sependapat dengan 8 Pilar yang ada telah sepakat akan membuat Kitagawa Kenzo dan Zeydan Al Farisi untuk bergabung pada gerakan pemberantasan sekte dan organisasi sesat" jelas Arsya.
"Karena selain Pasukan pemberantasan lebih ahli dan memiliki keamanan yang ketat, karena Lord Eight sekaligus Ayah dari Kitagawa Kenzo yaitu Erlan Ameera atau Kitagawa Mizuki adalah pemimpin Dimensi Astral yang kedelapan" jelas Arsya.
"Juga dapat meningkatkan kemenangan untuk memberantas sekte dan organisasi menjadi lebih efisien" kata Arsya lagi.
"Apakah hanya itu?" tanya Ratri.
"Ya, itu saja pendapat dari kami" kata Arsya.
"Begitu... terimakasih atas pendapat dari kedua pihak yang berbeda, akan saya pertimbangkan" kata Pak Andi.
"Tunggu sebentar! bukankah pasukan pemberantasan wajib melindungi kami dari para pesugihan, para pemberi tumbal, organisasi sesat, dan lain sebagainya!? kalau adanya musuh yang ikut berpartisipasi dan bergabung pada pasukan pemberantasan seperti mereka berdua, apa manfaatnya ada pasukan pemberantasan bagi kami!?" tanya Wiliam.
"Kau banyak omong dan cerewet, Pak tua... kenapa kau tidak memilih untuk diam saja?" tanya Edward.
"Kau mengatakan kata 'kami', apakah kau berpikir pasukan pemberantasan ada untuk melindungi kalian?" tanya Edward.
"Baik... kita lanjutkan perbincangan, Andika Ameera atau Kitagawa Kenzo dan Zeydan Al Farisi, apakah kalian yakin? akan dapat mengendalikan kekuatan kalian dengan baik? dan takkan mencederai pasukan lainnya?" tanya Pak Andi.
"Kami yakin!" kata Andika dan Zeydan.
"Baiklah... tapi dalam pertempuran di misi sebelumnya, ada laporan misi tersebut berkata seperti ini : Sejak perubahan Kitagawa Kenzo dan Zeydan Al Farisi baik-baik saja sampai akhirnya, Zeydan Al Farisi dalam bentuk wujud Kutukan Pandora melancarkan tinju bertenaga tinggi sebanyak tiga kali pada Kitagawa Yuna" kata Pak Andi membaca inti laporan.
Semuanya terdiam.
"Tidak... mungkin" gumam Elena.
Zeydan sangat kaget bahkan Andika, Zeydan langsung mengalihkan pandangannya dan melihat Erika juga Pasha.
Erika hanya berkeringat khawatir dan melirik Tara yang di sebelahnya.
"Sesuai dugaanku, kak Andika takkan tahu hal ini karena mengambil rencana B dan terpisah dari kami, dan Zeydan tak ingat apapun saat dia kehilangan kendali" batin Pasha.
Tara melirik Erika.
( Bagi yang lupa Tara, dia adalah Kitara Santika, yang masuk ke pasukan pemberantasan dan dulunya adalah kakak kelas di SMP Helvetia, bisa lihat di season 1 ).
"Apa maksudnya dia menulis kebohongan di dalam laporannya? seolah-olah menyembunyikan kebenaran buruk akan bermanfaat bagi pasukan!" batin Tara yang ada di sebelah Erika.
"Apakah Nona Kitagawa Yuna hadir?" tanya Pak Andi.
"I.. iya?" tanya Erika.
"Jadi, apakah benar kalau Zeydan telah menyerangmu sebanyak tiga kali?" tanya Pak Andi.
Erika mengingat kembali kejadian itu.
Flashback saat misi...
Zeydan dalam mode kekuatan kutukan Pandora.
"Zayn! kau berhasil! bangunlah! ayo! eh?" tanya Erika saat Zeydan mendekatinya dengan gaya menyerang.
"Erika menghindar!" kata Pasha.
Erika langsung menghindar.
Zeydan menyerang lagi dengan tinjunya.
Erika langsung menghindar ke dataran yang agak tinggi dan mulai mendekati Zeydan.
"Zayn! apakah kau lupa akan aku!? ini aku! Erika! Eri! keluargamu! apakah kau tidak ingat itu!?" tanya Erika.
Zeydan langsung menyerang Erika.
"Gawat! Kitagawa! mundur lah!" kata pemimpin regu pasukan.
Flashback Off....
Erika terdiam sambil menatap Zeydan yang menatapnya dan Andika menatap Erika dengan tatapan tenang dan biasa saja.
"Iya, itu benar" kata Erika.
"Mengejutkan! dia berani menyerang Putri Raja!?" bisik beberapa orang.
"Dia memang pantas di hukum mati karena mencoba menghabisinya!" bisik beberapa anggota kepolisian militer.
Zeydan sangat kaget dan terbelalak.
"Aku... mencoba membunuh Eri!?" batin Zeydan.
"Akan tetapi, Zayn dan kakak saya sudah menyelamatkan saya 2 kali dalam bentuk wujud Kutukan Pandora-nya" kata Erika.
"Pertama, disaat saya sedang berhadapan dengan 4 orang berjubah tak di kenal.
Kedua, disaat ada makhluk astral yang hampir menyerang saya dan Pasha" kata Erika.
"Dengan begitu, itu cukup membuktikan bahwa Zayn dan kakak saya tidak cukup berbahaya selagi dia benar-benar tidak serius dan dikendalikan dalam emosi amarah, saya ingin hal ini masuk dalam perhitungan persidangan" kata Erika.
"Tapi maaf, saya tidak bisa langsung memasukkannya dalam perhitungan, Yang mulia. Memang benar kasus ini masuk dalam laporan Anda, tapi saya menyimpulkan kekacauan dan angan-angan di dalamnya. Dan tidak cukup objektif, tapi karena anda adalah anaknya Lord Eight sekaligus keluarga bangsawan, karena itu laporan Anda sedikit bernilai karena kedudukan Anda" jelas komandan kepolisian militer.
Erika hanya berkeringat khawatir.
"Saya juga mengerti kenapa Anda berada di pihak tuan Zeydan, ini memang sedikit tidak dapat di percaya akan tetapi... tapi disaat Pangeran Andika berusia 14 tahun, Putri Erika, dan Tuan Zeydan berusia 12 tahun, mereka membunuh 7 orang dewasa hingga tewas, perbuatan mereka dapat di sahkan karena sebagai motif untuk perlindungan diri, tapi hal itu menyebabkan keraguan akan tingkat sifat dasar manusianya" jelas Komandan kepolisian militer.
"Ini tidak bisa dipercaya!" bisik mereka lagi.
"Saya sebagai Paman mereka mengetahui dan memaklumi kejadian itu, karena itu diiringi mereka yang sedang dalam bahaya, jadi tingkat keraguannya saya minta di hilangkan keputusannya dalam persidangan" kata Rafi sambil melirik Lord Fifth yang ada selang dua kursi bersebelahan darinya.
"Tapi itu tidak bisa diperkirakan meski Andika menuruni darah raja! keselamatan masyarakat dan kami harus dipertimbangkan! jadi Zeydan berhak di eksekusi! dan itu juga berlaku untuk Putri Erika!" kata Wiliam.
Erika, Andika, Pasha dan Zeydan kaget.
"Aku bahkan ragu kalau dia itu cukup manusiawi! dia terkena kutukan Fujiwara bukan!? dia bisa saja seperti dua pemegang kutukan Pandora itu! dia harus di singkirkan kedudukan bangsawannya untuk hal ini!" kata Wiliam lagi.
Erika dan Nisa yang mendengar itu kaget.
"Benar, dia harus di eksekusi untuk keamanan!" bisik beberapa orang.
"Kenapa kalian langsung mengambil keputusan begitu!!? sedangkan kalian saja tidak tahu apa itu kutukan Pandora, kutukan Fujiwara dan sebagainya kan!?" tanya Andika dengan membentak.
"Yang dikatakan Andika sangat benar! kalian tidak punya wewenang memberikan tuduhan tanpa bukti seperti itu!!" seru Nisa.
"Jika tidak dicegah, maka dia bisa seperti Andika dan Zeydan! jadi dia harus dieksekusi!" kata William.
Erika hanya terdiam dan berwajah kaku suram agak ketakutan mendapati dirinya menjadi bahan perdebatan.
"Tidak!!!" teriak Zeydan.
Semuanya terdiam.
"Zeydan... " gumam Andika.
"Maksudku, tolong jangan lakukan itu! mungkin aku dan kak Andika memang seorang monster, tapi Eri sama sekali tidak ada hubungannya dengan hal ini dan semua itu!" bantah Zeydan.
"Dia sama sekali tidak ada hubungannya! aku mohon!" kata Zeydan.
Rafi dan Daniel bertatapan.
"Semuanya tolong diam, jika kalian terlalu banyak menyalahkan hal-hal yang belum jelas tujuan, bukti, dan spekulasi kenyataan, jika terlalu menekankan bagi cucu saya, maka saya akan menyatakan hal ini sebagai penistaan terhadap keluarga kerajaan" kata Daniel.
Semuanya langsung terdiam.
"Lagipula, memang benar kalau Andika dan Zeydan mendapatkan kutukan Pandora disaat Tanggal Emas, dan mereka tidak berbohong, tapi kutukan yang didapatkan Erika tidak sama seperti Pandora yang mempunyai kekuatan besar dan jelas-jelas kutukan Fujiwara takkan membahayakan" Jelas Rafi.
"Karena, mendiang Kakak sepupu dan kakak ipar saya, Aliana dan Erlan juga sudah menjanjikan kalau kutukan Fujiwara tak ada kaitannya dengan kutukan Pandora" jelas Rafi.
"Baiklah, saya sudah melakukan kesimpulan dan keputusan dengan Shadow Of Lord bahwa kalau Andika dan Zeydan akan diterima secara resmi dan mendapatkan perlindungan tetap dari pasukan pemberantasan" kata Pak Andi.
"Dan apabila dia berbahaya, akan saya yang urus" kata Edward.
"Apakah kamu yakin?" tanya Pak Andi.
"Yah, membunuh mereka apabila membahayakan itu takkan menjadi masalah, bahkan saya sekarang takkan setengah-setengah untuk menghajar mereka berdua habis-habisan" kata Edward.
Erika langsung kaget dan ingin menghajar Edward.
GREP!! Pasha mendekap lengan Erika untuk menghentikannya.
"Hentikan, Erika!" kata Pasha.
"Masalahnya bukan dari keberadaan-..." belum selesai Edward bicara.
Edward melihat Erika yang menatapnya dengan Silent serta tatapan membunuh dengan kesal.
Edward mengalihkan pandangannya dari Erika.
"Baiklah, sepertinya diskusi akan berakhir, akan saya utarakan keputusan yang sebenarnya" kata Pak Andi.
"Tunggu sebentar Lord Fifth! Arsya, sebelum itu aku ingin bertanya apa sebenarnya rencanamu di Dimensi Astral?" tanya Komandan kepolisian militer.
"Aku tidak merencanakan apapun dan hanya menjalankan sesuai perintah dan juga tugasku sebagai Komandan Pasukan pemberantasan kesembilan" kata Arsya.
"Baiklah, keputusan sudah tidak dapat digugat kalau Andika Ameera atau Kitagawa Kenzo dan Zeydan Al Farisi akan menjadi bagian dari Gerakan Pemberian Sekte dan Organisasi sesat"
Flashback Off..
"Oh, saat sidang 2 tahun yang lalu itu? aku sebenarnya hanya mengatakan kenyataannya... Eri juga tidak ada hubungannya tentang hal ini" kata Zeydan.
"Walau bagaimanapun... terimakasih"
Andika berjalan bersama Zeydan sambil berpikir.
"Aku masih penasaran, siapa yang ada dimimpiku waktu itu?" batin Andika.
Flashback...
"Pergilah! dasar monster!" kata seorang pasukan.
Kenapa? kenapa... kau mengusir Andika? padahal, Andika hanya melihat sebentar...
"Ukh! kau ini kenapa, Dasar...!?" tanya Andika yang didorong hingga jatuh.
"Kau, mempunyai kekuatan besar yang seperti monster, kau menyebabkan Shinobi Legendaris kedelapan tewas, kau tidak pantas meski anaknya, kau harusnya dieksekusi saat persidangan" kata si pasukan.
Andika...
Andika melihat si pasukan itu.
"Weee!! menyebalkan! sok-sokan gak punya hak, mengejek saja bisanya kayak ga ada kerjaan! kasih makan ayam saja sana! Dasar... " kata Andika.
"Apa kau bilang!!?" tanya si pasukan itu.
"Wee!" Andika lari.
A... Andika! tunggu! pfft, tapi... dia terlihat seperti... Ibunya
Andika berlari sampai ke kamarnya.
"Duh, sore begini lapar" gumam Andika.
Andika... kau lupa pesan Ibumu? yah, kau memang keras kepala seperti Ayah
"Makan, mie cup saja deh" kata Andika sambil membuka lemari.
Kau, memiliki hati yang kuat seperti Ibumu, jadi... wajar saja, kalau kau... menangis
"Ini... salahku" gumam Andika sambil menangis bercucuran.
Dan sebagai seorang Ayah, sudah seharusnya aku disisimu, tapi... aku tidak bisa
Erlan yang ingin membelai Andika yang menangis mengurungkan niatnya.
Jangankan disisimu, menyentuhmu saja aku tidak bisa
Andika akhirnya tertidur.
Di dunia ini, aku tidak bisa memegangmu seperti saat kau lahir dulu, tidak bisa bertengkar denganmu seperti dulu, tidak bisa... di sisimu lagi seperti dulu
Akan tetapi... kalau di mimpi....
Erlan menyatukan dahinya dengan dahi Andika sambil tersenyum.
Di mimpi Andika...
Setidaknya... aku disini, bukan sebagai Raja, bukan sebagai Shinobi Legendaris, bukan sebagai Ninja, melainkan... sebagai Ayah dengan empat anak
"Halo Andika" kata Erlan dengan menyamarkan wajahnya.
"Lho? kau siapa? kenapa... ada disini dan tahu namaku, Dasar...?" tanya Andika.
"Namaku Kitagawa Mizuki, aku datang ingin bermain bersamamu, aku bisa mengetahuimu karena-..." Erlan tersadar dari ucapannya.
"Ng? kenapa?" tanya Andika.
"...Aku selalu memperhatikanmu" kata Erlan sambil tersenyum rindu.
Andika terdiam.
"Ti... tidak mau ya? 😅" tanya Erlan.
"Yah, mau bagaimana lagi baiklah! haha!" kata Andika.
Sejak menjelang ajalku, aku selalu berpikir apa sebenarnya pilihan dan keinginanku di dunia ini, mungkin benar kata Amanda, aku tidak bisa bersama Andika apabila Andika tahu diriku, tapi setidaknya disini bisa
Erlan akhirnya tersenyum dan berdiri lalu menggenggam tangan Putra sulungnya dengan kasih sayang.
"Baiklah, mau main apa?"
*****
Andika terbangun.
"He? apa... tadi?" tanya Andika sambil memperhatikan tangannya.
"Ada seorang laki-laki asing yang mengajakku bermain, dia... memiliki tangan yang besar, tapi sangat lembut dan juga hangat sekali, dengan kehangatan yang tidak biasa" batin Andika.
"Tapi, wajahnya tidak bisa kuperhatikan, dia juga tersenyum dengan sangat tulus" batin Andika.
"Ayah... pfft... haha!" Andika tertawa dengan senang.
Tanpa Andika sadari, ada seseorang yang duduk di samping ranjangnya dengan tersenyum.
Aku yakin, kau bisa mengalahkan Chandra Nagata Andika, kau bisa melampauiku dan Ibumu, karena setidaknya... aku bisa pergi dengan tenang setelah melihatmu tersenyum dan tertawa seperti itu
Serpihan aura itu akhirnya menghilang setelah Andika tersentak dan menoleh ke sisi ranjangnya.
[POV ERLAN]
Mengapa? dirimu menangis? padahal aku masih disini
Aku bahkan, sangat menyedihkan, karena tak bisa bertemu sepenuhnya dengan dirimu hingga detik ini
Jangan pernah kamu lupakan semua kisah yang kita lakukan malam ini akan jadi hal yang terindah
Apakah aku masih? memiliki kesempatan untuk bisa di sampingmu? esok hari...
Tertawa bersama... Tersenyum Bahagia... hanya itu yang ingin aku lihat darimu
Kau baik hati bagaikan bunga zinnia yang memberikan harumnya, sejak kau... lahir
Tapi sekarang diriku ingin beritahu, sudah cukup disini untukku, hanya dengan melihat senyummu
Kita bahkan, sering bertengkar, hanya demi membuat pembicaraan diantara kita
Aku yakin, kehidupanmu, akan jauh lebih bahagia jika kita hidup bersama sebagai keluarga
Kau tahu? aku menginginkan untuk kembali ke dunia ini, ku rindu rasakan bahagia bersama mu
Sungguh ku rindukan bahagia, bersama dirimu, karena itu tetaplah tersenyum...
Sebelum kita berpisah