Between Curse and Peace

Between Curse and Peace
Season 3 Episode 14 : Decision (2)



Seorang prajurit bernama Vincent terbangun dan agak pusing karena terkena serangan batu oleh Chandra.


"Kenapa... aku masih hidup? para pasukan semua sudah gugur? kenapa, aku yang di perbolehkan untuk masih hidup?" tanya Vincent sambil melihat dari kejauhan Edward menghabisi semua para makhluk astral.


Sementara itu di atas dinding selatan...


"Pasha! Pasha!" kata Zeydan.


Tiba-tiba...


Ada Chandra disitu yang dibawa oleh Subjek Pandora.


"Kau... Chandra Nagata!!" Seru Zeydan dan mencoba melindungi Pasha.


"Zeydan? kau tidak mirip dengan Kenzo si pemegang kutukan berdarah kerajaan itu" kata Chandra.


"Eh?" tanya Zeydan.


Chandra melihat ke arah lain.


"Begitu, ternyata Mansa sudah tewas dan terhisap bersama energi hembusan aura panas tadi ya?" tanya Chandra.


Zeydan hanya terus waspada dan juga agak kaget melihat Chandra yang terluka.


Tiba-tiba Chandra melihat di ujung Dinding, dan ada Edward yang sedang terduduk untuk meredakan emosinya karena mata Silent-nya juga memutih karena amarah.


"Ck! jadi kau berhasil mengejarku sampai sini ya? Edward" kata Chandra.


"Suatu hari nanti, aku akan menjelaskannya padamu semuanya!" kata Chandra pada Zeydan dan langsung pergi.


Edward langsung ke arah Zeydan dengan menggunakan jangkarnya.


"Itu tadi adalah energi akhir Jangkarku! berikan tabung jangkarmu dan aku akan mengejarnya, cepat!!" Seru Edward.


"Ba.. Baik!" kata Zeydan sambil melepaskan tabung jangkarnya.


"Haah... " Pasha mulai menghembuskan nafasnya.


Zeydan terbelalak.


Di tempat Erika...


"Sepertinya, kau akan berada dalam tangan kami ya? Yusuf" kata Meghan sambil mengikat Yusuf yang sudah tak bisa bergerak.


Yusuf hanya sedang sekarat.


"Ng? apa ini? kotak apa?" tanya Meghan saat merogoh kantong Yusuf.


"Itu.... hanyalah silsilah orang dan syarat yang... akan mewarisi Shadow Of Lord, ada syaratnya... disitu" kata Yusuf.


Sedangkan Ilman sedang diikat oleh Erika dengan kain karena pergelangan tangannya patah, dan Salsa sedang terluka dan sedang diobati Dirga.


"Kenapa kau membantu? kenapa kau memberikan ini?" tanya Meghan.


BZRT! Erika mengikat kain terlalu kuat karena fokus dengan Meghan.


"A.. Aduh!" kata Ilman.


"Maaf" kata Erika.


"Tidak, hanya saja... aku ingin, membuang kenanganku saat menjadi prajurit pasukan... pemberantasan" kata Yusuf.


"Begitu? baiklah, aku akan meminta Ersya memeriksanya sampai sana" kata Meghan sambil menaruh kotak kaca itu ke dalam sakunya.


CTRANG!! Meghan mengeluarkan pedang dari saku pedangnya, dia ahli dalam menggunakan pedang meski tak selincah Edward.


"Waktunya temui ajalmu, agar kesalahanmu terampuni" kata Meghan sambil mendorongkan pedangnya ke leher Yusuf.


"Ukh!!" Yusuf masih bisa hidup meski di tekan pedang karena dia Subjek Pandora.


"No.. Nona Meghan!" kata Ilman.


"Sebelum itu, apakah kau berkenan ingin memberitahu rencana Dirgapati?" tanya Meghan.


"Tidak" kata Yusuf.


"Ok, terimakasih karena sudah membuat keputusan itu dan mempermudah perjalananmu menuju kematian" kata Meghan sambil terus mendorong.


"Tu... tunggu sebentar! apakah kita, tidak sebaiknya mengambil Morph-x yang ada di tubuhnya untuk percobaan dan penawar Morph-x yang belum bisa kita cari tahu?" tanya Ilman.


Meghan menjadi ragu karena ucapan Ilman.


"Walau begitu, kita harus bisa memisahkan darahnya dan juga dengan darah Morph-x yang telah menyatu, akan lebih baik kalau kita membunuhnya sekarang" kata Meghan.


"Sebelumnya, Yuna... berapa banyak energi Jangkarmu?" tanya Meghan.


"Em, sekitar 20%" kata Erika.


"Masih banyak dibandingkan milikku, kau pergilah ke tempat Zeydan lalu awasi sekitar... mintakan Edward untuk memberikan suntikan Morph-x padanya, jika ada suatu hal yang membuatmu tak bisa melakukannya tembakkanlah suar" kata Meghan.


"Dengan begitu akan menjadi sinyal aku harus membunuh Yusuf" kata Meghan.


"Dimengerti, Ketua" kata Erika dan langsung ke tempat Zeydan.


"Untuk apa?" tanya Ilman.


"Morph-x, jika disuntikan pada orang yang terluka, maka orang itu akan langsung sembuh" kata Meghan.


"Kita akan menyuntikkan Morph-x pada salah satu dari kita agar bisa mengubah Yusuf menjadi energi lalu memakannya, kita akan tunggu Yuna, jika dia datang kita akan membuat keputusan untuk mengubah Salsa menjadi Subjek Pandora menggunakan suntikan Morph-x, atau kita akan tunggu orang yang kondisinya lebih parah lagi" Jelas Meghan.


Sementara itu di tempat Zeydan...


Erika membendung air matanya sambil memegang kepalanya yang dilapisi jilbab saat sampai ke puncak dinding karena melihat kondisi Pasha.


"Ya! Pasha, aku mohon bertahanlah! ayo! teruslah bernafas!" kata Zeydan.


"Kapten! tolong berikan suntikan Morph-x dan ubah Pasha menjadi Subjek Pandora! agar dia bisa menyerap kekuatan para makhluk astral yang mati dan menyeimbangkannya!" kata Zeydan.


Erika terbelalak lalu menembakkan suar.


DOR!!


Di lokasi Meghan...


Mereka mendengar ada tembakan suar yang di tembakan Erika.


Tiba-tiba ada Subjek Pandora yang menyerang sambil membawa Chandra Nagata lalu akan membawa Yusuf.


"Nona Meghan! menghindar!!" Seru Ilman dan menggunakan jangkarnya lalu mendorong Meghan menyingkir dari situ.


Subjek Pandora bersama Chandra berhasil membawa kabur Yusuf.


"Nona! mereka membawa kabur Yusuf!" kata Dirga saat akan mengejar mereka.


"Hentikan itu Dirga! jika kau mengejarnya, kau takkan tahu kapan akan kehabisan energi jangkar, lagipula dia itu bukanlah tandingan kita untuk saat ini" kat Meghan.


"Sudah kubilang... ini adalah keputusanku" kata Meghan.


Sementara itu Edward...


Edward memegang kotak suntikan yang 17 tahun yang lalu Ray berikan padanya sebelum Ray menemui ajalnya.


"Ya, aku akan berikan pada Pasha" kata Edward.


Vincent datang sambil menggendong Arsya di punggungnya.


"Kapten Edward! akhirnya aku menemukanmu! komandan Arsya tengah sekarat! dia mengalami luka di perutnya dan terkena pendarahan lalu darahnya tak mau berhenti mengalir! kumohon, suntikan Morph-x itu pada komandan Arsya!" kata Vincent.


Edward membatu dan mengambil kembali suntikan Morph-x itu.


"A... Apa yang anda lakukan? bukankah kau bilang akan memberikannya pada Pasha?" tanya Zeydan.


"Memang benar, tapi... sekarang Arsya ada disini, jadi akan kuberikan pada Arsya, lagipula dia masih bernafas" kata Edward saat mengaktifkan Silent-nya lalu melihat detak jantung Arsya yang melemah.


Edward berdiri dan akan ke arah Arsya, sedangkan Zeydan menghadang Edward.


"Kau bilang akan mengambil kesimpulan untuk Pasha?" tanya Zeydan.


"Aku hanya bisa mengambil keputusan untuk yang menguntungkan dan meninggalkan yang merugikan" kata Edward.


TRANG! Erika yang berada di belakang mereka melepaskan pedangnya dari sakunya dengan air mata yang bercucuran, berniat menyerang Edward dengan pedangnya.


Edward sedikit melirik Erika.


"Kalian berdua... apakah kalian tahu? apa yang sedang kalian perbuat dan lakukan saat ini?" tanya Edward.


"Apa yang kalian berdua katakan itu, apakah kalian ingin? membuat Arsya, komandan dari Pasukan pemberantasan sekte dan organisasi sesat mati begitu saja?" tanya Edward.


Erika dan Zeydan hanya terpaku.


"Sudah tak ada waktu lagi, minggir" kata Edward.


Zeydan mencegahnya dengan menggenggam suntikan yang juga di pegang Edward.


"Zeydan, jangan terbawa arus oleh emosimu, kesampingkan perasaan pedulimu itu untuk hal ini" kata Edward.


"Kesampingkan perasaan peduli ku, katamu?" tanya Zeydan.


"Barusan kau berniat akan memberikannya pada Pasha agar dia bisa menyeimbangkan kekuatan makhluk astral yang kalah? kenapa kau tidak langsung memberikannya?" tanya Zeydan.


"Karena aku pikir kalau Arsya masih punya peluang untuk hidup" kata Edward.


"Tapi, kau takkan menyangka kan? kalau Vincent akan membawa komandan kesini?" tanya Zeydan.


"Kau benar, tapi karena Arsya ada disini... aku akan suntikan Morph-x ini padanya" kata Edward.


Zeydan memperkuat genggamannya


BUAK!!! Edward memukul wajah Zeydan kearah menyamping dan membuat Zeydan terpental.


"!!?, HAAAA!!!!" Erika kaget melihat Zeydan dan langsung mengarah ke Edward.


Edward menoleh, Erika langsung mendorong dirinya, dan akhirnya dia terlentang tak bisa bergerak karena Erika menindih tubuhnya.


"HNGGK!!!" Erika benar-benar marah entah kenapa, perasaan nya campur aduk.


Edward terbaring telentang karena tak bisa bergerak karena Erika menindih tubuhnya, tangan kanannya yang memegang suntikan Morph-x tertahan oleh Erika, sedangkan tangan kanan Erika yang ingin menggores leher Edward menggunakan pedang ditahan oleh Edward.


"Ukh!!" Edward kesulitan karena Erika menahannya juga menggunakan Silent.


"He.. Hei!" kata Vincent yang melihat Erika.


"Kekuatan dan tenaganya melemah, karena pertarungan sebelumnya! dengan begini... aku bisa merebut secara paksa Morph-x darinya!" batin Erika.


Edward juga mengaktifkan Silent-nya, tapi itu tak terlalu berpengaruh karena Silent Erika jauh lebih kuat karena Silent Erika murni dan dicampur dengan emosi amarah.


Meski Edward mengaktifkan Silent-nya, itu bukanlah urusan Erika, yang menjadi prioritas utamanya adalah suntikan yang harus ia rebut.


"Kau harusnya juga bisa mengerti! kalau tanpa adanya pengarahan dari Arsya, maka pasukan pemberantasan akan tercerai-berai!" kata Edward.


"Kapten benar, Erika! jangan gegabah! lepaskan pedangmu dan berhentilah melakukan hal yang konyol-... " belum selesai Vincent bicara.


"Ukh!!" Erika menatap tajam pada Vincent.


Vincent agak ngeri melihat Silent Erika.


"Walau... tidak ada Komandan, semuanya akan tetap sama saja" kata Zeydan yang menahan sakit pukulan Edward.


"Zayn!!" Seru Erika.


"Kalau tidak ada Pasha, kita juga... tak bisa membasmi Dirgapati! karena, ini adalah... faktanya kan?" tanya Zeydan yang berusaha bangun.


"Alasan kita bisa mengetahui identitas asli Aram, itu karena Pasha. Alasan kita bisa meneliti sedikit konsumsi penawar Morph-x dan itu berpotensi besar, itu karena Pasha. Alasan kita bisa, berada di Eslaqar dengan mudah karena persetujuan Pasha dengan ayahnya! itu semua karena Pasha!! dan karena itulah, kita bisa tahu dimana Yusuf yang bersembunyi di Dinding, itu karena Pasha!" Seru Zeydan.


Erika dan Edward terdiam mendengar Zeydan.


"Yang akan menghancurkan Sekte Dirgapati itu bukan aku yang memiliki kemampuan lebih besar darinya maupun komandan Arsya! tapi Pasha!! aku benar kan, Eri!?" tanya Zeydan dengan berteriak.


Erika kembali pada pandangannya dengan Edward, Edward mencoba melepaskan tangannya yang memegang suntikan tapi Erika mencegahnya.


"Tolong, berikan itu padaku!!" Seru Erika.


Pedang Erika semakin mendekati leher Edward.


"Yang akan memimpin Pasukan pemberantasan untuk mengalahkan Dirgapati, adalah Komandan Arsya" kata Vincent yang akhirnya bicara.


"Tutup mulutmu dan diam saja!!" Perintah Erika.


"Meski kau adalah Putri Raja sekaligus anaknya Lord Eight, mana mungkin aku bisa diam saja!! asal kalian tahu, di balik Dinding selatan, tak ada yang selamat! mereka semua gugur! jangan pikir hanya kalian yang menderita akan hal ini!" kata Vincent.


Zeydan, Erika, dan Edward mendengarkannya Vincent.


"Semuanya, terbunuh oleh Chandra Nagata, si pemimpin Dirgapati yang telah membunuh orang tuamu, Erika! Komandan Arsya hanya meyakinkan diri walau dia sadar akan mati itu adalah resikonya! karena pengorbanan mereka yang tak sia-sia itulah yang membuat Kapten Edward berhasil menyerang Chandra Nagata!" Jelas Vincent.


"Aku sadar dan menyadari aku pingsan karena shock, sedangkan aku melihat para prajurit semua gugur satu persatu dan tak ada satupun dari 175 prajurit disitu yang selamat!"


"Jujur, aku merasa ini tak adil! kenapa aku yang selamat? dan disaat aku melihat Komandan Arsya yang terluka sekarat, aku berencana membuatnya istirahat dari semua ini" kata Vincent.


Zeydan, Erika, dan Edward tercengang dan kaget mendengar perkataan Vincent.


"Lalu... melihatnya yang bisa bertahan sampai seperti ini, aku akhirnya mengerti dia masih harus memimpin kita untuk menghancurkan Dirgapati! dan disitu juga aku mengerti! kalau kita hanya memerlukan yang handal untuk menyingkirkan kejahatan! aku juga tahu kalau aku harus mencari orang yang handal itu dan Komandan Arsya adalah orangnya!" Jelas Vincent.


"Karena itulah jangan menghalangiku!!!" Seru Vincent sambil mendekati Erika dan Edward.


"Ukh!!" Sedangkan Erika benar-benar sudah muak karena Vincent lalu menarik pedangnya dari leher Edward dan berniat akan menebas Vincent.


"Berhenti!!!" Seru Edward yang ingin menghentikan Erika.