Between Curse and Peace

Between Curse and Peace
Season 3 Episode 29 : Maaf ya



Andika sedang duduk bersama Doni, Wira, dan David.


"Doni... Maaf ya, saran ku yang saat itu ingin membantumu untuk berbaikan dengan Pilar Bela diri malah tak sesuai harapan dan ekspektasi" kata Andika.


"Tidak perlu, aku justru berterimakasih karena jika ku pendam terus hal itu aku bisa-bisa tak tahan untuk memendam semua yang ingin ku katakan pada kakak" kata Doni.


"Terimakasih karena sudah bisa memaklumi ku, jujur saja aku tidak bisa berpengalaman menjadi seorang adik karena aku anak pertama" kata Andika.


"Tak apa... aku juga tak bisa berpengalaman menjadi seorang kakak karena aku anak kedua sekaligus bungsu" kata Doni.


Andika dan Doni tertawa kecil.


"Apakah... kalian pernah mendengar kalau seseorang di masa lalu bisa melihat masa depan sekilas pada generasinya nanti ataupun anaknya sendiri?" tanya Wira.


Andika, Doni, dan David menatap Wira.


"Maksudmu?" tanya Doni.


"Ayahku pernah berkata begitu, dia melihat sekilas wajahku yang tengah memakai pedang dan memakai seragam berwarna coklat kehitaman dengan logo asing, dan dia mengatakan kalau aku akan menjadi anggota pasukan khusus" Jelas Wira.


"Dan ternyata aku menjadi anggota pasukan pemberantasan! lucu ya, haha!" kata Wira.


"Kurasa itu bisa terjadi, teman Ayahku yang dulunya pasukan pemberantasan juga melihat takdir masa depanku, dia berkata kalau suatu saat akan ada kehancuran dan banyak orang yang akan mati" kata Doni.


"Teman... Ayahmu? bukan ayahmu sendiri?" tanya Wira.


"Itu mungkin saja bisa, karena mungkin Doni dan teman Ayahnya itu mempunyai ikatan batin bagaikan keluarga, semua orang di dunia ini adalah keluarga bukan? jadi jangan heran kalau seseorang yang tak ada ikatan darahmu bisa melihat masa depanmu meski sekilas" jelas Andika.


"Kurasa begitu" kata Doni sambil tersenyum menyungging akrab pada Andika.


"Tapi... apa maksudnya masa depanmu yang akan ada kehancuran dan akan ada banyak orang mati?" tanya David.


"Entahlah, kuharap akan ada hal yang lebih baik dari itu" kata Doni.


"Benar" kata Andika.


"Kayaknya di dekat markas ada ribut-ribut, ada apa?" tanya Doni.


Akhirnya Andika dan Doni ke luar markas.


"Ini?!" tanya Doni.


"Apa... yang...?!" tanya Andika kaget


"Terjadi?!" tanya Andika, tentu saja dia kaget, banyak mayat yang diselimuti dan sudah selesai dikremasi.


"Oh, mereka adalah prajurit yang gugur" kata Meghan sehabis mengotopsi.


"Sebanyak ini?! makhluk astralnya jarang muncul lagi kan?!" tanya Doni.


"Ada beberapanya yang harus diurus, mungkin makhluk astral abnormal" kata Meghan.


"Meghan!" panggil Vanora.


"O... Oh! iya! dah Kenzo, Doni" kata Meghan.


Andika melihat ada seseorang yang dihampiri Edward.


"Ini... logo pasukan milik temanmu yang gugur" kata Edward sambil memberikannya pada salah satu pasukan.


"Ukh... hiks! hiks! Kapten Edward!!" katanya sambil menangis.


Edward akhirnya melanjutkan tujuannya untuk memberikan laporan.


Andika menutup mulutnya sambil menangis tak bersuara.


"Mereka... gugur seperti ini... sedangkan aku? apa yang aku lakukan? aku aman-aman saja dan hanya bisa memperhatikan dari markas, mengapa aku tidak ikut misi? hanya karena... aku ini aset penting begitu?" batin Andika.


"Andika" kata Doni sambil memegang bahu Andika untuk mengisyaratkan agar masuk ke markas.


Di Dunia nyata...


Di kediaman Al Farisi...


"Hihi!" Nina, Ibunya Nisa dan Zeydan sedang tertawa memandang sebuah foto.


"Ada apa, Nina?" tanya Zaki.


"Ini, foto lama saat Alen, Dennis, gak tahu Amanda sama Pangeran Aliandra itu kakak adik, ingat gak?" tanya Nina.


"Hmm, Alen sama Dennis sih sopo?" tanya Zaki.


"Duh, adik tingkat dulu lho!" kata Nina.


"Hmm... "


Flashback 17 tahun yang lalu....


Alen lagi mengarah ke rumah Amanda.


"Rumahnya Kak Amanda katanya di komplek ini ya?" tanya Alen.


Amanda dengan pakaian bagus lewat di depan.


"Eh!? Kak! kak Amanda!" panggil Alen.


Tapi kayaknya Amanda tidak mendengar dan hanya lewat saja melewati sebuah lorong.


"Kak Aman-... eh!?" tanya Alen melihat sebuah pemandangan di depan rumah Amanda saat dia sedang di samping lorong.


"Nii-san! aku sayang kamu!" kata Amanda sambil memeluk kakaknya, Andra.


"Kak... kak Amanda pacaran sama siapa tuh!?" batin Alen yang mengintip.


( Alen tidak suka anime seperti Dennis dan Amanda, jadi maklum kalau dia... gak tahu bahasa Jepang )


"Iya" kata Andra yang memakai kacamata hitamnya dan tersenyum lalu mengelus kepala Amanda dengan satu tangan.


"I... itukan,... Raja Aliandra!? Kak Amanda, kok bisa sih!? kak Amanda laku banget!" batin Alen yang bersembunyi di semak-semak.


"Meluk yang erat dong!" kata Amanda.


"Dulu saat pelukan pertama kali minta mandi dulu" kata Andra.


"Itukan dulu" kata Amanda.


"Ma... Mandi!?" batin Alen.


"Duh, jangan gini Len, fokus!" batin Alen lagi.


"Tapi, bukannya... Kak Amanda lagi persiapan buat pernikahan sama Kak Erlan ya!? hmf, mencurigakan, ada yang salah disini" batin Alen.


"Yo! Alen si Alien!" kata Dennis.


"Berisik!" gumam Alen sambil menyuruh Dennis ikut sembunyi.


Setelah di jelaskan...


"What!? seriusan!?" tanya Dennis sambil berbisik.


"Iya makanya itu!"


"Amanda laku banget ya" gumam Nina yang tiba-tiba datang.


"Ka... Kak Nina!? Kak Zaki juga!?" tanya Alen.


"Lho? wajarkan Amanda sama Yang Mulia Raja? Amanda kan-... " belum selesai Zaki menjelaskan.


"Hm, penyelidikan sahabatku! gak mungkin The Flawless yang polos itu selingkuh!" kata Nina.


"Oi, dengerin kek" kata Zaki.


"Ayo anak-anak buah!" kata Nina.


"Hah!? anak buah!?" tanya Zaki.


"Tapi... apakah benar Kak Amanda sama Yang Mulia Raja... " gumam Alen sambil memandang Amanda berjalan sambil merangkul Andra.


"Jangan terlalu ngerangkul gitu dong" kata Andra.


"No! No! kan biar lebih cocok kan? Dasar..." kata Amanda.


Di sebuah restoran...


"Kak Rahmat!" Amanda mendatangi restoran milik Rahmat.


"Pesan steak dua ya kak, Waffle Ice Cream buat makanan penutup" kata Amanda.


"Ya udah" kata Rahmat.


Setelah selesai makan, mereka dihidangkan makanan penutup, sedangkan Nina dan... *ehem* anak buahnya sedang memata-matai.


"Wah! bagus banget tuh!" kata Amanda yang bertopang dagu sambil menyuapi Andra.


"Hm... enak" kata Andra sambil tersenyum dan menyambut suapannya.


"Kan! Kak Rahmat emang top banget" kata Amanda.


"Thanks" kata Rahmat dengan datar.


"Untuk teknik sulapnya, gimana tuh? wah! pasti seru, nonton bareng ya?" tanya Amanda pada Andra.


"Hm!" kata Andra mengiyakan.


"Tatapannya Amanda, em... memang senang dan seperti tatapan orang jatuh cinta" kata Nina yang mulai menyelidiki.


"Kak Amanda... memang cocok sih" gumam Alen.


"Hah! kalau kayak gini terus, aku jadi kasihan sama Erlan!" kata Nina sambil ke arah Amanda.


"Ka... Kak Nina!" kata Alen.


"Siapa? yang kau kasihani!?" tanya seseorang.


"Amanda!" kata Nina.


"Nina!?" tanya Amanda.


"Nona Falesia?" tanya Andra.


"Kak... Erlan!? waktunya gak pas banget sih!!" batin Alen yang ketakutan.


Erlan mendatangi meja dua orang.


"Ng? Vian?" tanya Andra.


"Er.... Erlan?" tanya Amanda.


"Amanda.... dan Andra!?" tanya Erlan.


*Glek!!* Nina, Alen, dan Dennis ketakutan.


"Pfft!! kau lagi syukuran buat kelulusan S2 nya Adikmu ya? hahaha!" kata Erlan.


"Haha, tumben ketemuan?" tanya Andra sambil tersenyum.


"Eh? adik perempuan?" tanya Alen.


"Hm? Alen gak tahu ya? atau gak lihat berita?" tanya Erlan.


"Amanda dan Andra itu kan... saudara kandung" kata Erlan dan Rahmat dengan kompak sembari Rahmat yang sedang mengelap piring.


"Eh? APA!?" tanya Alen, Dennis, dan Nina.


"Kan, tadi mau dikasih tahu kalian malah motong" kata Zaki.


"Eh! hm... kayaknya aku sudah memberitahu Nina deh, dan pernah Dennis nanya lewat Line saat ngelihat berita" kata Amanda sambil berpikir.


"What!?" tanya Alen.


"Mbak Detektif, Maniak Anime, ini maksudnya gimana ya?" tanya Alen.


"W... Wah! suasananya bagus ya, Den? ayo pesan makanan deh!" kata Nina.


"A... Ayo!" kata Dennis.


"Sudah pastinya mereka lupa" batin Andra.


"Lalu, kau kesini mau ngapain, Vian?" tanya Andra.


"Ini" Erlan mengalungkan syal biru di leher Amanda.


"Selamat untuk kelulusanmu, jangan lupa hari H ya" kata Erlan sambil tersenyum.


BLUSH! Amanda ngeblush.


"Kau menghabiskan waktu 3 pekan hanya untuk merajut syal? pantas saja kau begitu linglung dan tidak terlalu memikirkan soal gaya tuxedo milikmu" kata Andra.


"Aku cuman mau ngasih itu doang, dah!" kata Erlan sambil pergi.


"Hihi!" Amanda senang.


Nina tersenyum.


Flashback Off...


"Oh, peristiwa perselingkuhan yang kau maksud?" tanya Zaki.


"Itu pertama kalinya aku melihat Amanda tersenyum senang begitu" kata Nina.


"Tapi... hmf... "


Zaki, Ayah Zeydan sedang melamun sambil memikirkan pembicaraannya dulu dengan Amanda setelah beberapa hari pernikahan Amanda dan Erlan.


Flashback....


"Amanda, selamat atas pernikahanmu ya" kata Zaki.


"Terimakasih, tapi kau sudah mengatakannya 15 kali setelah 4 hari yang lalu pernikahanku!" kata Amanda.


"Maaf, jadi... ada apa? kau katanya ingin memberitahu hal penting sampai-sampai seorang Putri bangsawan berkunjung ke kediamanku yang biasa ini" kata Zaki.


Kediaman Al Farisi selisih 45% lebih sedikit dari kekayaan keluarga Ameera.


"Lu sombong apa songong?" Amanda.


"Ini dia Morph-x" kata Amanda sambil memperlihatkan kotak persegi panjang dengan isi suntikan sampel dan botol sampel Morph-x.


"Morph-x? yang bisa mengubah seseorang menjadi Subjek Pandora hanya dengan menyuntikkannya? tapi akan mati 13 tahun kemudian seperti pemegang kutukan Pandora?" tanya Zaki.


"Benar, Zaki! aku ingin kau dan Nina menyimpan ini di rumahmu" kata Amanda.


"Untuk apa?" tanya Zaki.


"Morph-x di Dimensi Astral sudah beredar secara ilegal oleh sekte yang sedang menjadi musuh bebuyutan pasukan pemberantasan, jadi tiba saat dimana Morph-x dibutuhkan oleh Pasukan pemberantasan, berikanlah pada Kakek... maksudku Lord Fifth atau pada Shadow Of Lord" Jelas Amanda.


"Baiklah... aku berjanji akan menyimpannya" kata Zaki.


"Iya, dikarenakan... sebenarnya aku menuruni kemampuan Ibuku yang sering mendapati peringatan yang dituruni juga oleh Klan Taira" Jelas Amanda.


"Aku... entah merasakan firasat buruk nantinya dan aku melihat kalau akan ada sebuah perang yang hampir menghancurkan Dimensi Astral, dan aku berusaha mencari tahu maksudnya dan secara sekilas. Namun, aku menyadari kalau ada orang yang diberikan peringatan yang sama. Dan petunjuk yang ada adalah, ia sedarah denganmu" jelas Amanda.


"Maaf apabila lancang, tapi... apakah kau mencurigaiku? aku dan Nina sahabatmu dan Erlan dari kecil kan?" tanya Zaki.


"Aku tak mencurigaimu dan hanya ingin mencegah itu... aku ingin melemahkan Dirgapati" kata Amanda.


"Eh? kenapa kau tidak menghancurkannya saja?" tanya Zaki.


"Karena... aku merasa kalau setelah Tanggal Emas nanti... aku, Erlan, dan kak Andra takkan hidup lama setelah itu. Aku yakin kalau nantinya akan ada yang menghancurkan sekte Dirgapati" kata Amanda.


Zaki sangat kaget.


"Jadi... aku ingin mencegah itu dengan mencari orang yang sedarah denganmu, ataupun keturunanmu untuk melihat masa depan secara lengkap itupun kalau bisa... maaf jika itu membuatmu tersinggung" kata Amanda.


"Gak kok, aku mengerti... lagipula, aku juga mendengar kalau dulu banyak korban yang berjatuhan dengan adanya sekte-sekte yang mengincar korban" kata Zaki.


"Makasih Zaki, kau bisa menceritakan ini pada Nina, tapi... aku mohon! simpan Morph-x ini! kalau kau ingin menyelamatkan Erika dan Pasha dan yang lainnya, kau harus bisa mengendalikan dan menjaga kekuatan yang diturunkan turun-temurun oleh Pasukan pemberantasan dari 300 tahun yang lalu! aku mohon akan ku serahkan padamu dan Nina, Dasar... " kata Amanda.


"Aku mengerti kalau Morph-x ini adalah kekuatan yang diturunkan pasukan pemberantasan namun... Erika? Pasha? siapa yang kau maksud?" tanya Zaki.


Amanda terbelalak.


"Entahlah... ingatan siapa ini? aku tidak tahu" kata Amanda.


Flashback Off...


"Pada akhirnya... kau tidak menemukannya? siapa sebenarnya yang akan menghancurkan Dimensi Astral yang sedarah atau menuruni darah keturunanku?" tanya Zaki.


"Erika dan Pasha... ingatan siapa yang dikau lihat Amanda?" tanya Zaki.