
"Generasi penerusku dari selku sendiri adalah hal yang tak pernah ku bayangkan, membuat hatiku jadi tergerak, benar... tidak ada yang perlu ditakutkan. Jika soal tanganmu kau bisa menumbuhkannya saat kau menjadi Subjek Pandora dan adanya campuran darah orang itu" kata S.
"Aku adalah Pasukan atas yang bisa bertarung layak seperti ini, dan aku percaya orang itu... seharusnya padamu" kata S lagi.
"Izinkan aku hentikan pendarahan ini, manusia itu rapuh, tapi jika kau mati karena kehilangan darah, atau jika orang itu tidak menerimamu... dan kau mati, itu jadi takdirmu, namun hanya kaulah yang bisa sampai sejauh ini" ucap S.
Doni yang tengah bersembunyi di sebuah dinding langsung menembakkan pistol pada S.
S menghilang dan langsung muncul di belakang Doni.
"Kau juga sependapat... iyakan?" tanya S.
Doni berkeringat dingin.
CTRANG!!! Tangan kiri Doni yang memegang pistol langsung terpotong.
"Doni!! Ukh!!!" Seru Ersya yang berusaha melepaskan dirinya.
Doni akan mengambil pedangnya dari saku pedang, tapi baru selesai menarik, tangan kanan Doni langsung dipotong oleh S.
"Ghhaa!!!" Doni menahan sakit.
S melihat Doni.
"Hm... begitu, jadi kau sudah meminum Morph-x tapi kau tidak bisa mengendalikan kekuatan Subjek Pandora" kata S.
CTRASH!!! S memotong perut Doni hingga terpisah dari pinggang dan kakinya.
"!!!?" Ersya kaget dan berusaha terus untuk melepaskan dirinya.
"Ukh!! ini tidak bisa ditarik! gawat!" batin Ersya.
"Oh? kau belum mati juga ya? meski perutmu sudah dibelah? sekitar 100 tahun yang lalu... ada seorang dari pasukan pemberantasan yang menjadi Subjek Pandora sepertimu, dia mati setelah kupotong tubuhnya... jadi, kalau kau mungkin kepalamu?" tanya S.
"Aku tak punya alasan untuk membiarkan Subjek Pandora palsu sepertimu tetap hidup" kata S dan akan melakukan jurus.
Doni langsung berkeringat dingin.
"Cepat! satukan kembali tanganku! ayo!" batin Doni.
Saat jurus S akan mengenai tengkuk leher Doni...
"Jurus Ninja Ken! Taiatari!!" kata Toni yang tiba-tiba datang dan menggunakan jurus pedang Kendo kepada S.
S langsung terpental dan kembali tenang.
"Pilar bela diri.... " gumam S.
"Kau sudah paham ya? aku ahli bela diri, yang akan memotong tubuhmu secara sadis!" kata Toni.
"Kakak... " gumam Doni yang didengar oleh Toni.
"Kau ini benar-benar... kau ini adik yang menyedihkan, aku lari dari rumah karena masalah dengan Ayah yang ingin menelantarkanku dan kau mengikutiku... menurutmu kenapa aku sampai sejauh ini?" tanya Toni
"Karena aku ingin melindungimu dari jauh!! karena aku tidak ingin kau ditelantarkan oleh Ayah!!" Seru Toni.
Flashback saat Doni berbicara dengan Andika...
"Em, soal dia, Pilar Bela diri kakakmu" kata Andika.
"Kurasa tidak" kata Andika.
"Eh?" tanya Doni.
"Jujur saja dulu aku tidak punya pengalaman sebagai seorang kakak karena aku ini dulunya tidak menghiraukan adikku, dan kami mengurus diri sendiri masing-masing" kata Andika.
"Tapi, aku akhirnya memberanikan diri bertanya pada Ibuku dan dia bilang kalau.... "
Hihi... Pamanmu sekaligus kakakku Andra, beliau sangat menyayangiku dulu, bahkan rela membelikan apapun untukku! Dasar...
Eh? sungguh!? Paman dulu sebaik itu!?
Iya! dan akhirnya aku mengerti kalau dia benar-benar menyayangiku sebagai adiknya.
"Jadi?" tanya Doni.
"Aku akhirnya mengerti dan kata Ibuku, sebenci apapun kakak ataupun saudara kita, mereka teteplah menyayangi kita dengan cara mereka masing-masing" kata Andika.
"Saat kita berhadapan dengan Pilar Bela diri, dia terlihat marah, tapi anehnya aku sama sekali tidak merasakan secuilpun! aura amarah darinya, jadi... jika kau mau mengatakan sesuatu lagi, kau tidak perlu takut, karena Kak Toni... menyayangimu selama ini, Doni" kata Andika sambil tersenyum.
Flashback Off...
"Kau harusnya hidup bahagia! punya seorang kekasih dan anak! selama ini aku tak bisa melakukan apapun untuk Ayah kita, dan Ibu kita, jadi kau harus hidup bahagia!" kata Toni.
Doni menangis melihat kakaknya.
"Maaf kakak... aku benar-benar minta maaf padamu" kata Doni.
Toni terdiam.
"Huh, Pasukan pemberantasan bersaudara? membuatku kangen saja" kata S.
"Beraninya kau memotong dadu adikku!!! tidak bisa dimaafkan!!" Seru Toni dengan marah.
Toni berlari ke arah S untuk menyerangnya, S mulai menyerang Toni.
"Kecepatan mereka.... setara!" batin Doni saat melihat Toni dan S saling beradu pedang.
"Heh, kau membuatku bersemangat" kata Toni.
"Kakak! ukh! cepat satukan tanganku kembali! regenerasi-kan kembali! ayo!" batin Doni.
Karena pedang yang bertumpu, membuat Toni tidak bisa mengedipkan matanya.
Toni dan S membuat jarak.
Sekeliling tubuh Toni terkesa tebasan pedang.
"Ng!? bau darah apa ini..." batin S.
"Heh, mulai bereaksi ya? kau tidak tahu kalau darahku adalah Golden Blood alias Rh-null!!" kata Toni dengan menyeringai.
"Mustahil, Rh-null hanya dimiliki oleh Fujiwara Yumna" kata S.
"Aku juga memilikinya! ini akan membuatmu tidak bisa berkonsentrasi!" kata Toni.