
Di markas Lupin Star...
"Lord Fifth sudah menjalankan bagiannya" kata Cepheus.
"Kakek... " gumam Phantom Lady yang tahu kalau Lord Fifth dan Ratri sudah tewas.
"Kita berangkat sekarang!" kata Perseus.
"Ya, kau juga harus bersiap... karena hanya kau satu-satunya yang bisa membunuh Chandra Nagata" kata Cepheus pada Phantom Lady.
Phantom Lady kembali mengingat.
Flashback 6 tahun yang lalu...
Cepheus, Andromeda, Lord Fifth, Phantom Lady dan Ratri tengah rapat.
"Dimensi Astral telah diluaskan hingga 234,7 km², dan setiap 4 area di jaga dengan pasukan pemberantasan yang elit karena meski setiap area terkecil sedikitpun memiliki energi yang besar sekali" kata Ratri.
"Kami juga sudah menyelidiki kalau ada beberapa kawasan di dunia nyata bahwa Chandra mengambil beberapa energi besar dari manusia yang ditumbalkan" kata Andromeda.
"Ini buruk" gumam Cepheus.
"Tapi, aku sangat berterimakasih pada Lupin Star" kata Phantom Lady.
"Itu bukan masalah, sekarang... kota akan menunggu laporan dari Perseus dan Cassiopeia" kata Cepheus.
Di area kecil Barat Dimensi....
"A.... Apa yang terjadi!!?" tanya Cassiopeia yang tengah berjalan bersama Perseus untuk mengunjungi area kecil bagian Barat Dimensi pada malam hari.
"Tidak mungkin, apakah... Chandra sempat kesini!!?" tanya Perseus.
Ya, Pasukan pemberantasan yang menjaga Area Barat tewas bahkan Perseus dan Cassiopeia sangat syok sekali.
Di markas rahasia Lupin Star...
KLIP!! Notifikasi hologram komunikasi aktif.
"Kapten!!" seru Perseus pada Cepheus.
"Ada apa!? bagaimana kondisinya!?" tanya Cepheus.
"Pasukan elit di area Barat Dimensi telah dikalahkan!! meski hanya sebagian kecil Area Utara yang sangat kehilangan keseimbangan energi!" kata Cassiopeia.
"Apa!!? berapa yang telah dikalahkan!?" tanya Ratri.
"Terlihat seperti keseluruhan" kata Perseus.
Phantom Lady dan Andromeda menutup mulut mereka dengan tangan.
"Ck.... Chandra itu!!" kata Cepheus sambil mengepalkan tangannya saking geramnya.
"Nampaknya, Chandra telah mengambil sebagian energi di area barat dan tidak sempat semuanya dugaan karena matahari akan segera terbit" jelas Perseus.
"Begitu" kata Lord Fifth.
"Dimana lokasi Chandra?" tanya Andromeda.
"Sekitar ada di sektor J-19" kata Cassiopeia.
"Kenapa Chandra ada di sektor J-19? Oh! aku tahu!" kata Phantom Lady dan mulai mengetik di hologram keyboard.
"Kenapa?" tanya Ratri.
"Chandra ingin mengambil ke semua energi di Dimensi Astral dengan tujuan ingin mengumpulkan dan memulihkan kekuatannya! lalu mencari cara agar bisa membuat dirinya kebal akan matahari!! lihat ini!" kata Phantom Lady sambil mengarahkan cahaya hologram ke tengah-tengah layar proyektor.
"Setelah semua energinya terkumpul, kemungkinan besar itu takkan membuatnya kebal akan matahari! jadi dia akan merebut Kotak Pandora, Andika, dan Erika kalau Erika sampai bisa menaklukan matahari setelah kutukan Fujiwara-nya selesai di usianya yang ke 16 tahun! jika penerawangan ku benar, maka Perang besar akan terjadi!!" jelas Phantom Lady.
"Ratri, tolong katakan pada Ersya untuk menguatkan radar sinyal untuk berjaga-jaga kalau Chandra datang ke kawasan, jika ada notifikasi dari radar, maka segera nonaktifkan aliran energi di kawasan yang akan di datangi Chandra, tapi jangan katakan padanya apapun selain itu" kata Lord Fifth.
"Lalu jangan lupa untuk mengevakuasi semua pasukan pemberantasan, mereka tidak akan bisa mengalahkan Chandra semudah itu" kata Lord Fifth.
"Tentu, Tuan Shinobi Legendaris!" kata Ratri.
"Peringatan evakuasi dari Ersya untuk area selatan selesai" kata Ratri.
"Setidaknya, Perang Kehancuran Dunia Astral yang sebelumnya bisa dilalui, tapi aku khawatir untuk perang yang ku premonition-kan akan lebih banyak yang dikorbankan dan Chandra akan lebih kuat daripada yang lainnya" jelas Phantom Lady.
"Begitu... " kata Lord Fifth.
KLIP! Ratri mendapatkan notifikasi video dari Ersya.
"!!? Area selatan Dimensi diambil alih! tapi, para pasukan memang sudah dievakuasi" kata Ratri.
"Itu lebih cepat dari dugaan" kata Andromeda.
Akhirnya Ratri menggantikan Lord Fifth untuk rapat dengan para Pilar dalam perencanaan untuk merebut kembali area selatan Dimensi yang membuat peristiwa itu Arsya, Komandan Pasukan gugur.
Flashback Off....
Phantom Lady mengepalkan tangannya yang menggenggam pedang.
"Baiklah"
Di hutan Magnaga...
"Apa yang kita lakukan!? seharusnya kita langsung menyerang!" kata Ilman.
"Ilman benar, kita bahkan tak tahu ada hal buruk apa yang akan menimpa nanti" kata Dirga.
"Tenang saja... karena perubahan waktu, Dimensi astral yang biasanya sehari setara dengan satu detik di dunia nyata sekarang memiliki keterbalikan, kalau satu hari di Dunia nyata sama dengan satu detik di Dimensi astral... kita punya banyak sekali waktu" kata Edward.
"Jadi... satu detik di Dimensi astral sama dengan satu hari di dunia nyata!? dan waktu di Dimensi menjadi lebih lambat!?" tanya Dirga.
"Ya"
"Baiklah... kita mulai pembicaraan kita" kata Meghan.
Mereka duduk di pinggir dataran tinggi Hutan Magnaga dan berbincang-bincang.
"Kami berhasil membebaskan Aram saat penjagaan di penjara bawah tanah berkurang... dan bertemu Via lalu Via akhirnya mengizinkan kami dan kami memutuskan untuk mencari kalian" kata Gibran.
"Kau ini ingin menipu kami ya, Yusuf!?" tanya Dirga.
"Sebelumnya... namaku bukanlah Yusuf Zubair, nama asliku adalah Gibran" kata Gibran.
"Gibran?" tanya Ilman.
"Ya, Yusuf yang kalian kenal dulu hanyalah topeng" kata Gibran.
"Baiklah Gibran... jadi kau sebenarnya dari dulu itu tak benar-benar berpihak pada Dirgapati? kau melakukan itu karena keluargamu tewas dan ingin membalaskannya pada Dirgapati?" tanya Meghan.
"Ya, itu benar... sebenarnya aku ingin bilang permintaan maaf pada Ilman dan Via" kata Gibran.
"Kenapa?" tanya Dirga.
"Sebenarnya kami ingin bilang soal kronologi sebenar kematian Ikram, dan Alvin, pacarnya Via" kata Gibran.
Ilman kaget.
"Saat itu... aku tak sengaja membunuh Ikram yang berusaha menyelamatkan Alvin, aku tidak ingin membunuh mereka berdua tapi aku dikendalikan oleh Pasukan Dirgapati atas nomor sepuluh berkode nama SP" kata Aram.
Ilman terdiam.
"Aku... hanya bisa mengingat perkataan terakhir Ikram" kata Gibran.
"Dia bilang... Aku ingin bicara banyak dengan kalian, bukankah kita bisa membicarakannya tanpa berselisih?" kata Gibran.
"Kau jangan bohong!" kata Dirga.
"Dia tidak bohong... karena saat aku pergi ke kawah gunung berapi, aku bertemu SP, dan untuk menanyakan informasi Dirgapati darinya, aku membiarkan dia hidup dengan diawasi 15 pasukan pemberantasan elit dan bersenjatakan lengkap yang termasuk bawahanku... tapi mereka berubah menjadi Subjek Pandora karena terminum Morph-x yang ditaruh SP ke dalam botol sirup kaca" jelas Edward.
"Apa!?" tanya Meghan.
"Dan akhirnya SP melarikan diri, dan 15 pasukan pemberantasan elit terpaksa harus kubunuh, aku membunuh bawahanku sendiri karena itu, dan aku terpaksa, dan akhirnya... menyanderanya tidak memberikan keuntungan apapun, hanya kerugian yang ada" kata Edward.
"Sekarang 4 dari 10 Pasukan Dirgapati atas telah musnah, dan tersisa 5 pasukan Dirgapati atas dari urutan yang berbeda-beda" kata T.
"Zeydan sudah menyatu dengan Chandra karena dia diletakkan sebuah rubik yang menyatu dengan saraf dan tubuh astral Chandra... jadi Chandra bisa mengambil pasokan energi dari Zeydan... bisa dikatakan Zeydan sudah menjadi salah satu pion tubuh Chandra" jelas T lagi.
"Apa!?" tanya Erika.
"Jika sesuatu sudah melekat pada Chandra... maka tak ada cara lain selain menyadarkannya ataupun membunuhnya, tapi kita sepertinya harus membunuh Zeydan karena dia berada di dalam rubik yang hanya bisa dibuka oleh Chandra" jelas Aram.
"Jangan bercanda kau, kita bisa menemukan cara lain" kata Erika.
"Apakah hanya karena Zeydan itu temanmu kau pilih kasih?" tanya Aram.
"Karena kau juga... Pilar Fauna sekaligus senior kakakku mati, kau dikendalikan oleh SP ataupun tidak itu bukan urusanku... artinya kau sudah membunuh 3 orang penting bagi kita... jadi sepertinya kaulah yang lebih layak untuk mati, Aram. Terimakasih untuk luka yang menyebabkan tulang rusukku patah dulu" kata Erika menatap tajam Aram dengan Silentnya.
Pasha, Ilman, dan Dirga kaget melihat Erika.
"Huh, meski begitu... apakah kau yakin? kau bisa membunuh Zeydan untuk mengakhiri perang ini? untuk Chandra Nagata, sepertinya dia... akan dihadapi oleh para Pilar" kata Aram.
"Aku memikirkan cara lain saja" kata Erika.
"Itu berarti kau mungkin takkan membunuhnya, karena setelah kematian orang tuamu, kau tidak pernah memikirkan hal yang lebih berharga selain Zeydan bukan?" tanya Aram.
DEG! Erika kaget dan langsung berdiri.
"Jadi... karena jawabanku itu, dengan kata lain... kau harus membunuhku?" tanya Erika dan menarik pedangnya dari saku pedang dan mengaktifkan Aquamarine Silent-nya.
TRANG!!
Aram menatap tajam pada Erika sambil mentransfer energi ke punggung tangannya dimana tetesan cairan pemindai masih berfungsi untuk berubah menjadi Subjek Pandora.
Gibran dan T terkejut melihat Aram, sedangkan Pasha, Dirga, dan Ilman yang panik tak tahu harus berbuat apa.
"Eh!?" tanya Meghan.
"Song Aram!" kata T dengan tegas.
"Su... Sudah! jangan bertengkar! kita tidak punya waktu untuk bertengkar! perang sudah dimulai!" kata Pasha.
"Erika! Aram!" kata Dirga.
"Tunggu sebentar, aku juga paham dengan perasaanmu, alasan kenapa aku ingin menghentikan Zeydan, adalah karena ingin jua membunuh Chandra Nagata yang membunuh keluargaku, adikku di Korea tidak bisa apa-apa dan hanya bisa menunggu" kata Aram.
"Baiklah... " kata Erika dan menonaktifkan Silent-nya.
Akhirnya Erika dan Aram tenang.
"Kalian berisik" kata Edward yang terbangun.
"Aku tak menyangka kalau keluarga Clarke bekerja di belakang kami, karena kami tak sangka keluarga Clarke yang terkenal mengambil alih kepemimpinan Bilton ternyata adalah Keluarga Takatsukasa yang ternyata adalah cabang lain Klan Fujiwara" kata T.
"Bagaimana dengan Karin?" tanya Ilman.
"Dia... telah mati karena kekuatan Subjek Pandora-nya diambil, karena Karin memiliki banyak siklus penting di tubuhnya tapi tak ia gunakan... akhirnya dia dibunuh dan Subjek Pandora-nya diambil oleh Chandra Nagata" kata T.
Aram dan Erika bertatapan.
"Erika, kau serius?" tanya Aram.
"Pasha, perkataan terakhir Ikram tadi... apakah kau memikirkan hal yang sama denganku?" tanya Erika.
"Ya"
Erika berdiri.
"Memang benar kata Nona Meghan, membunuh Zeydan atau tidak kita akan melihat situasinya nanti, Zeydan pasti punya motif kenapa dia mengkhianati pasukan pemberantasan, tapi aku yakin bukan karena pasukan pemberantasan itu lemah" jelas Erika.
Semuanya terdiam dan menatap Erika.
"Sampai kita mengetahui alasannya Zayn... aku akan menghentikan Zayn, meski dia berniat hal baik untuk kita, aku tidak bisa membiarkan dia menyerang tanpa pandang bulu lagi, karena..." Erika menghentikan kata-katanya dan menggenggam pita dari Ibunya dulu dan kain putih dari Zeydan.
"Dimensi astral... adalah gerakan yang pernah dipimpin kakek, Paman dan orang tuaku, yang artinya mereka adalah bagian dari keluargaku" kata Erika.
"Seperti kata Ikram, mengapa kita perlu berselisih jika bisa membicarakannya baik-baik?" kata Erika.
"Erika... " kata Meghan.
"Hal itulah yang membuatmu pantas menjadi pemimpin, Erika. Ayo!! apakah... kita akan membiarkan sahabat kita berjuang sendirian?" tanya Ilman dengan semangat.
"Ya! kita ke Dimensi astral sekarang... aku yakin mereka membutuhkan bantuan" kata Pasha.
"Ayo!"
"Jangan berlagak dulu, malam ini kita akan di dunia nyata sampai fajar esok" kata Edward.
DOENG!!
"Apa?!" tanya Ilman.
"Apa maksud, Kapten!?" tanya Pasha.
"Meski, satu hari di dunia nyata setara dengan satu detik di Dimensi astral, perbandingan waktunya memang jauh, kita tidak bisa ke sana dengan terburu-buru tanpa sebuah rencana" jelas T.
"Lagipula, pertukaran waktu ini hanya sampai saat matahari terbit esok" kata Meghan.
Mereka terpaksa menurut.
Aram dan Pasha tengah mencari kayu bakar.
"Aram, bagaimana kondisimu setelah keluar dari kristal itu?" tanya Pasha.
"Yah, lumayan... aku hanya bisa mendengar suaramu dan Via yang terus menemaniku" kata Aram.
"Tapi aku tahu kok, kau hanya mendatangiku untuk mencari informasi" kata Aram.
"Eh? bukan... bukan itu tujuanku yang mendatangimu selama ini" kata Pasha.
"Maksudmu?" tanya Aram dengan reaksi biasa.
"Aku, selama ini aku mengunjungimu karena ingin bertemu denganmu, bukan karena hal lain" jelas Pasha yang wajahnya memerah karena malu.
Aram langsung ngeblush dan mereka berdua kembali ke tempat istirahat dengan canggung.
Akhirnya mereka memutuskan untuk istirahat.
Untuk perempuan, mereka istirahat di hutan bagian selatan. Sedangkan laki-laki di bagian barat.
Erika tidak bisa tidur dan bangun dari kantong tidurnya.
Erika melihat Aram sedang duduk di ujung tebing dataran tinggi dan menghampirinya.
"Oi, kau tidak istirahat? Dasar... " kata Erika.
"Aku tidak bisa tidur, Chandra sudah bergerak? apa yang terjadi jika kita istirahat? benar-benar mimpi yang buruk kita beristirahat saat akan berhadapan dengan makhluk itu" kata Aram.
"Hm, tak kusangka kau masuk Dirgapati karena ingin balas dendam padanya, Dasar..." kata Erika sambil duduk di sebelah Aram.
"Kau juga begitu kan? aku sangat mengerti perasaanmu yang kehilangan keluargamu... sangat" kata Aram.
Erika mulai tidak enak karena menilai tidak baik pada Aram.
"Hei, tolong jaga Pasha" kata Aram.
"Maksudmu?" tanya Erika.
"Ya, tolong jaga saja dia" kata Aram lagi.
"Kenapa tiba-tiba?" tanya Erika.
"Tidak apa-apa"
Erika melirik Aram saat Aram menatapnya dengan wajah memerah.
"Hah!? sejak kapan!?" tanya Erika dengan wajah heran meremehkan.
"Ma... Maksudmu!?" tanya Aram dengan suara yang meninggi.
"Tidak usah pura-pura gak tahu" kata Erika.
Keesokan paginya sebelum matahari terbit, mereka sudah siap untuk berangkat pagi-pagi sekali.
"Kerja bagus T, kau sudah membantu dengan membuatkan portal" kata Gibran sambil merangkul T yang lemah karena tenaganya habis.
"Akupun harus membuatnya dengan bantuan Mustika Delima Merah sebagai penambah energi, jika aku meneruskannya mungkin saja aku sudah mati karena membuat portal itu" jelas T.
"Waw! saking banyaknya energi yang diperlukan untuk membuat portal?!" tanya Dirga.
"Benar, makanya ninja maupun anggota pasukan pemberantasan pastinya sudah ahli dalam mengontrol energi. Jadi jangan heran mereka bisa membuat portal tanpa kelelahan" jelas T.
"Kita harus cepat ke Dimensi Astral sebelum pagi tiba, jika pagi tiba maka pertukaran waktu di Dimensi astral dan Dunia nyata akan kembali seperti semula. Dan aku juga akan langsung mati karena aku ini makhluk astral" Jelas T.
WUUSH!!! Portalnya tiba-tiba hangus.
Erika menutup mulutnya dengan kaget.
"Apa?!" tanya Ilman dan Dirga.
"Itu kan...?!" tanya Pasha.
"Portal Dimensi...?!" tanya Aram.
"Tinggal Mustika Delima Merahnya?! bagaimana bisa...?!" tanya T dengan syok.
"Tidak... akan... kubiarkan... kalian... pergi! atau... kalian... akan... mati" kata Vincent yang tersengal-sengal dan akhirnya tewas di tempat.
"Dia pasti tewas karena terkena Hujan abu tipis dan tidak mendapatkan perawatan medis, sehingga hujan abu tipis merusak paru-parunya" kata Meghan saat memeriksa Vincent.
"Mengapa Vincent bisa ada disini?!" tanya Dirga.
"Mungkin saja karena dia mencari keberadaan kita tadi malam" kata Erika.
"Kita hanya perlu membuat Portal lagi!" kata Dirga.
BZZT!!! Tiba-tiba terjadi sengatan pin milik mereka lagi.
"Gawat... sengatan pin ini... " gumam Ilman.
"Jika... sengatan sebuah pin milik anggota pasukan pemberantasan menyengat kedua kalinya maka... " Dirga syok.
BRUK!
"Yang artinya... Dimensi astral tengah mengalami kedaruratan yang serius" kata Erika sambil terduduk.
"Ck, kita tidak akan punya waktu untuk membuat Portal baru! gunakan tali teleportasi saja!" kata Edward.
Di markas pasukan pemberantasan...
Andika sedang melayang karena lubang benteng labirin dimensi yang dia tidak ketahui itu sangat dalam.
"Tempat apa ini!? aku tidak tahu mana sisi yang benar! apakah tempat ini diciptakan dengan jurus Pandora Chandra!? aku tidak yakin apa yang barusan terjadi tapi... Nyonya Bella sedang menahan Chandra! entah berapa lama dia bisa bertahan, aku harus segera pergi ke tempat Chandra berada dan menghabisinya! aku harus cepat!" batin Andika.
"Kak Andika!!" kata Erika yang langsung mendorong Andika ke salah satu lantai benteng.
"Yun-chan!?" tanya Andika.
"Kau baik-baik saja!?" tanya Erika.
"Aku benar-benar bersyukur kau baik-baik saja" kata Andika sambil memeluk Erika.
Erika terbelalak dan balik memeluk Andika.
"Komandan! Kapten!" kata Andika.
"Eh? Kapten Edward... ada apa dengan wajahmu yang diperban dan dijahit?" tanya Andika.
"Aku tadi terkena ledakan lava tiba-tiba... jelaskan secara rinci tapi singkat, sangat sulit bagi kami untuk bisa ke tempat ini tanpa melewati portal" kata Edward.
"Saat Chandra datang dan terjadi ledakan besar tiba-tiba di kediaman Lord Fifth, dan saat kami akan memojokkannya... dia membuat benteng labirin dimensi yang tak ketahui apa ini" kata Andika.
"Lord Fifth!?" tanya Meghan.
"Jadi... singkatnya, Chandra belum bisa ditemukan?" tanya Edward.
"Itu benar" kata Andika.
"Hmf... baiklah, sepertinya kita akan bertemu dengan pasukan Dirgapati atas di tengah jalan menuju Chandra, jadi ada beberapa diantara kalian yang harus pergi ke tempat Zeydan, dan beberapanya harus menyusul Chandra" jelas Edward.
"Aku akan menghadapi Pasukan Dirgapati atas" kata Meghan.
"Apa!? tidak bisa! bagaimana jika Komandan mati!?" tanya Pasha.
"Tidak akan terjadi apa-apa kalau misalnya aku mati, aku takkan pernah bisa seperti Arsya, aku bisa mengorbankan diriku kapan saja, jangan cemaskan aku bila aku tiada nanti" kata Meghan.
Meghan menatap Pasha.
"Pasha, jika misalkan aku mati, kau akan ku rekomendasikan untuk menjadi Komandan pasukan pemberantasan yang kesebelas, tidak ada yang pantas selain dirimu yang mempunyai kepintaran di atas rata-rata, dan sekarang... Edward adalah bawahanmu sekarang, paksa saja dia kalau perlu" kata Meghan sambil melewati mereka.
Edward berhadapan dan bertatapan dengan Meghan.
TAP!! Edward menepuk bahu Meghan di sebelah kiri seperti tanda memberi hormat ala pasukan.
"Bulatkan hati dan keputusanmu, jangan pernah menyesal" kata Edward dengan reaksi suram.
Meghan terbelalak dan Edward berjalan melewatinya.
"Haha!! baru pertama kalinya aku melihatmu berkata begitu!" kata Meghan.
"Baiklah semuanya, selamat tinggal!" kata Meghan.
Andika dan Erika menumpahkan air matanya, Pasha, Ilman, dan Dirga langsung menangis.
"Aku harus bisa... tidak akan kubiarkan pengorbanan Lord Fifth sia-sia!!" batin Meghan.