
Di pinggiran kota Eslaqar...
Ray sedang berjalan di pinggiran kota yang kumuh itu.
"Ck... sudah mengirim pesan semenjak 1 bulan yang lalu tapi, Hannah baru memberitahu dimana dia tinggal" kata Ray sambil membawa tas tentengnya dan menundukkan topinya.
"Kurasa, aku bisa memberitahunya kalau Kak Mika ingin mengunjunginya setelah kelahiran anak keduanya" gumam Ray.
Ya, Ray adalah pembunuh berantai yang amat sangat kejam, saking hebatnya dia... banyak anggota kepolisian yang kewalahan untuk menangkapnya.
"Katanya... di penginapan ini?" tanya Ray dan memasuki penginapan itu dan ke meja resepsionis.
"Permisi" kata Ray.
"Apa yang saya bisa bantu, Tuan?" tanya resepsionis.
"Apakah... kamar seorang wanita bernama Hannah Fourseason ada dipenginapan ini?" tanya Ray.
"Dipesan, Hannah menggunakan nama Fourseason sebagai nama samarannya" batin Ray.
"Coba kulihat, ada! tapi... apakah saya bisa meminta tanda pengenal anda? atau... hal-hal yang berhubungan dengan sosial anda?" tanya resepsionis.
"Kenapa memangnya?" tanya Ray.
"Karena, pembunuh berantai dengan julukan Ray The Ripper kadang berkeliaran, jadi untuk keamanan, kepolisian militer telah menetapkan aturan tersebut" jelas resepsionis.
Ray terdiam.
"Aku bukan berasal dari kota ini" kata Ray.
"Begitu, kalau tidak keberatan, siapa nama anda, Tuan?" tanya resepsionis.
"Mitsuzane Ryuga, itu namaku" kata Ray menggunakan nama samarannya.
"Baiklah, Tuan Mitsuzane, kamar Nona Hannah Fourseason ada di lantai 4 nomor 49" kata resepsionis.
"Terimakasih"
Ray akhirnya ke kamar Hannah dan mengetuk pintu.
"Tidak ada yang menjawab? apa Hannah pergi? tapi tidak mungkin, pembantaian Kitagawa masih berlanjut" batin Ray.
Ray akhirnya membuka pintunya.
Ada seseorang yang terbaring laku terdiam di kasur.
"Hannah?" tanya Ray.
Ray berjalan ke arah kasur itu, Ray menoleh ke ujung ruangan, ada seorang anak kecil berumur 4 tahun.
Ray menatap anak itu, dan anak itu menatap Ray.
"Hannah? ini aku, kau bisa mendengarku? hei?" tanya Ray.
"Dia sudah meninggal" kata si anak itu.
Ray terbelalak.
"Apa katamu!?" tanya Ray.
Ray menatap Hannah dan membuka kelopak matanya.
Ray menatapnya dengan iba, lalu mengambil kekuatan Silent-nya Hannah.
"Lalu, kau siapa? siapa namamu?" tanya Ray.
"Dia ibuku, namaku... Edward, Edward saja, dia tidak mengizinkanku memberitahu nama belakangku pada orang asing" kata Edward.
"Dia... anaknya Hannah!?" batin Ray.
Ray duduk merosot ke dinding dengan penyesalan karena tidak tepat waktu datang.
"Namaku Ray, Ray saja" kata Ray.
"Ya"
Ray akhirnya mengadopsi Edward dan mengajaknya tinggal bersama.
Ray juga mengajarkan Edward cara membela diri, bertarung, dan juga menggunakan senjata tajam.
3 bulan kemudian....
"Ng?" Ray yang menemani Edward berlatih melihat ada beberapa pasukan pemberantasan.
"Kau sudah dengar belum?" tanya mereka.
Ray menguping.
"Iya, tentang Ryu kan?" tanya mereka.
"Benar! bahkan... Lord Sixth dan istrinya tewas dalam peristiwa tersebut, mereka berkorban demi melindungi orang-orang" kata mereka.
DEG!!! Ray kaget sekali sekarang, 3 bulan yang lalu, adiknya telah meninggal, sekarang kakak tirinya juga.
"Kakak.... " gumam Ray.
SRING!!! Aquamarine Silent alias tingkatan Silent atas, bangkit di mata Ray yang kehilangan.
Muncul dibenak Ray, kenapa? orang-orang terdekatnya meninggalkannya? apakah karena dia tidak bisa melindunginya? atau bagaimana?.
Ray melihat Edward.
"Kakak... Hannah... Wahai pencipta dunia dan alam semesta ini... apakah kau juga akan mengambilnya!? dengan cara apa aku harus melindunginya!?" batin Ray.
"Edward... aku ingin bilang padamu" kata Ray.
"Apa?"
".... "
Suatu hari Edward berhasil mengalahkan 4 orang dewasa di usia yang keenam tahun dan melihat Ray yang meninggalkannya.
"Kenapa kau meninggalkanku?" tanya Edward.
"Cari jawabannya sendiri anak buangan" kata Ray.
"Ray... kau pernah bilang..."
10 tahun kemudian...
Edward bertemu seseorang.
"Assalamu'alaikum, apa kabar?" tanya seseorang yang tak lain adalah Andra yang memakai kacamata hitam.
"Siapa kau? tidak usah sok akrab" kata Edward.
"Wah, baru bertemu tapi kenapa begitu? kita harusnya akrab kan? setidaknya jawab salam saya dulu" kata Andra sambil tersenyum.
"Kau jangan banyak bicara!!" seru Edward dan langsung mengeluarkan pisaunya ke arah Andra dan akan menyerang.
GREP!! Radith yang tiba-tiba muncul langsung menangkis pisau Edward dan menahan Edward.
"Ukh!!"
"Darimana datangnya dia!?" batin Edward dan matanya yang emerald langsung berubah menjadi merah.
"Wah, Silent ya?" tanya Andra.
"Eh?" tanya Edward.
"Jangan khawatir, kami tidak akan berbuat jahat dan tidak baik padamu" kata Andra.
"Kau mau apa hah?" tanya Edward.
"Tuan, harus saya apakan dia?" tanya Radith.
"Jangan sakiti dia Radith, tidak apa-apa, saya tidak mau sepupu saya terluka" kata Andra.
"Apa? sepupu?" tanya Edward.
"Kamu pasti bingung ya? ada baiknya kita bicara baik-baik, kita sama-sama di posisi yang tidak menguntungkan kan? kamu yang tertahan dan kebingungan, saya yang menahan kamu tapi tidak bisa mendapat apapun, kecuali kalau kita mau bicara baik-baik" kata Andra.
Edward dibawa ke Rosement.
"Silahkan, kamu mau minum apa?" tanya Andra.
"Terserah" kata Edward.
"Oh? baiklah, Radith... tolong teh ya" kata Andra.
"Tentu Tuan"
Akhirnya Radith membawakan teh.
"Kamu mau saya menakar gulanya?" tanya Andra.
"Aku lebih suka teh tawar" kata Edward.
"Baiklah kalau begitu, minumlah, rileks saja" kata Andra.
"Sebenarnya siapa kau?" tanya Edward.
"Ng?" tanya Andra yang melihat Edward dengan satu mata saat akan meminum tehnya, kebiasaan Andra adalah mencium aroma teh sebelum meminumnya dengan mata tertutup.
"Sudah saya bilang kan? kamu sepupu saya" kata Andra.
"Aku hanya tidak mengerti! kau mengetahui tentang Silent! kau tiba-tiba datang! akrab padaku! kau bilang aku sepupumu? kau mengejekku?" tanya Edward dengan dingin.
"Haha! gak kok, kamu memang sepupu saya, saya gak ada niatan buat ngejek kamu kok tenang saja" kata Andra yang tersenyum dengan matanya yang masih menggunakan kacamata hitam.
Edward tersentak, alunan suara Andra... benar-benar membuatnya langsung kaget, karena tidak ada yang pernah berbicara selembut dan setenang Andra selain ibunya, gaya bicara Andra selalu diinginkan semua orang.
"Saya, tahu kamu dari koneksi orang-orang saya, dan mencari tahunya, butuh waktu cukup lama sampai bisa mencari kamu" kata Andra.
"Memangnya, kenapa kau bisa mendugaku sepupumu?" tanya Edward.
"Saya tidak menduganya, saya sudah mencari semua buktinya, kamu pengguna Silent kan? tapi... apakah kamu tahu? nama belakangmu?" tanya Andra.
"Selama ini... Ibuku tidak pernah memberitahuku tentang nama belakangnya, bahkan dia bilang untuk merahasiakan mata ini, apa namanya? oh ya, Silent" kata Edward.
Andra terdiam.
"Ibumu memang wanita yang luar biasa, bahkan sebelum kematiannya... dia ingin melindungimu meski dia tidak disamping kamu lagi" kata Andra.
"Apa maksudnya?" tanya Edward.
"Edward, kamu akan terlalu terkejut jika saya memberitahu semuanya sekaligus, saya ingin kamu tahu secara perlahan-lahan... apa itu Silent, siapa nama belakangmu, dan... bagaimana kau mendapatkan Awakend Power" kata Andra.
"Awakend Power? apa itu?" tanya Edward.
"Apakah kamu pernah merasakan adanya dorongan energi besar di dalam dirimu? yang membuatmu terambisi sampai-sampai tiba-tiba menjadi sangat kuat?" tanya Andra.
"Pernah... tapi aku tidak terlalu ingat" kata Edward.
"Begitu ya? berarti segel Awakend Power-mu sudah terbuka, kau akan tahu dan lebih mengerti nanti... kamu tidaklah sendiri, kamu istimewa, kamu berhasil bertahan dari marabahaya sampai sejauh ini, saya kagum sama kamu" kata Andra.
"Karena..." Andra perlahan membuka kacamatanya.
"Saya dan kamu... sama-sama berada dalam fase pertama, dimana kita ingin tahu segala hal tentang kita" kata Andra, dan mendapatkan irisnya berwarna biru.
"Kau... punya Silent?" tanya Edward.
"Edward, Gerakan pemberantasan... adalah tempat dimana kau bisa mendapatkan jawabannya perlahan-lahan di sana. Akan tetapi, banyak yang tersesat, banyak yang terpojok, karena mereka tidak tahu... bagaimana cara bertarung yang membuat mereka sadar bahwa berjuang demi orang-orang itu adalah hal yang terutama" jelas Andra.
"Kamu bisa membuka mata mereka, dengan kemampuan dan pegangan yang membuat dirimu selama ini bertahan, dengan itu maukah kamu... bergabung ke Gerakan Pemberantasan Sekte dan Organisasi Sesat, Edward? bukan... sepupuku?" tanya Andra sambil mengulurkan tangannya.
Edward menerima tawaran Andra.
"Baiklah kalau begitu" kata Edward.
"Ah... " Andra tak menyangka Edward mau menerimanya tanpa protes.
"Sebelum itu... saya ingin bilang... "
"Eh?"
2 tahun kemudian...
"Nak Edward" panggil Pak Andi.
"Ya, Guru" kata Edward.
"Nak sudah berusaha dengan baik sekali sampai saat ini, dengan gaya berpedang yang luar biasa... Nak akan ikut ujian seleksi terakhir untuk menentukan kedudukan nak selanjutnya" kata Pak Andi.
"Baik Guru" kata Edward.
"Kamu akan punya rekan yang sama-sama akan ke sana" kata Pak Andi.
"Nak-nak sekalian, perkenalkan diri" kata Pak Andi.
"Assalamu'alaikum Edward, namaku Amir Al Fuhairah! ini Adikku! Umar Al Khattab!" kata Amir.
"Hai" kata Umar.
"Senang berkenalan dengan kalian, namaku Edward" kata Edward.
"Kalian bisa bersenang-senang dulu sebelum ujian seleksi terakhir 2 minggu lagi" kata Pak Andi.
Di lapangan latihan...
Edward, Amir, dan Umar duduk bersama.
"Menyenangkan sekali disini!" kata Amir.
Edward terdiam.
"Ada apa, Edward?" tanya Umar.
"Kalian... apakah kalian pikir... Ibuku sayang padaku?" tanya Edward.
"Apa maksudmu?" tanya Amir.
"Ibuku, meninggal, Ray... orang asing yang menolongku tiba-tiba meninggalkanku, aku tidak tahu apakah yang akan terjadi pada diriku, sepertinya.... kematian adalah pilihan yang tepat bagiku" kata Edward sambil mengambil pedangnya.
Amir kaget.
"Edward!" kata Amir.
PLAK!! Umar menampar Edward.
"Aduh!" kata Edward.
"Umar, jangan terlalu kasar!" kata Amir.
"Kau jangan berlagak bodoh, Edward! jangan seakan mengatakan kematian adalah pilihanmu yang terbaik! tidak!! alasan kenapa ibumu meninggalkanmu sendirian hingga akhir hayatnya, dia ingin agar kau mandiri! kau akhirnya bertemu dengan Ray yang menolongmu kan!?" tanya Umar dengan membentak.
"Ibumu, Hannah itu tahu! kalau dia ingin kau bisa menjadi kuat tanpa dirinya! sekarang kau bisa seperti ini kan!? kau harusnya bisa bersyukur karena dilahirkan ke dunia ini!!" bentak Umar.
"Jangan merasa bahwa kau sendirian... ikatan itu bisa tersambung kembali apabila kalau kau benar-benar punya niat dan pilihan yang tepat" kata Amir.
"Kalau begitu ini janji kita.... "
"Eh?... "
Saat ujian seleksi terakhir...
"Amir!! Umar!! ayo! kita lari sekarang! cepat!" seru Edward.
"Edward!" kata Meghan yang ikut seleksi.
"Meghan! bawa Edward pergi! kami yang akan urus makhluk astral ini!" kata Amir.
"Ya! Ayo Edward!" kata Meghan.
Akhirnya...
Sepekan kemudian...
"Katanya, peserta ujian seleksi terakhir kembar bersaudara itu, gugur lho!" bisik pasukan yang melewati ruang medis.
Edward yang duduk di ranjang menunduk mendengar itu.
"Katanya.... kalian berjanji bahwa, kita bertiga akan menjadi pasukan pemberantasan yang hebat, apakah... janji ini adalah janji terakhir kalian?" tanya Edward.
2 tahun kemudian...
"Namaku... Fujiwara Yumna" kata Amanda.
"Dia... Fujiwara" batin Edward yang mengetahui tentang Fujiwara.
Saat misi....
"Yo! Edward! lama tidak bertemu ya?" tanya Ray yang tiba-tiba muncul setelah misi penyelamatan Randi.
"Eh! masih cebol seperti dulu?" tanya Ray sambil menodongkan pistol.
"Ukh!!! RAY!!!" Seru Edward dan melemparkan belati pada Ray dan menangkisnya.
Setelah berhadapan dengan Ray dan kembali ke markas...
"Dia... adikmu kan?" tanya Edward menatap tajam pada Andra.
"Ng? Yumna?" tanya Andra.
"Kenapa kamu bisa menduga begitu?" tanya Andra.
"Karena... kalian mirip saja" kata Edward.
"Yumna adalah adikku yang hilang pada saat peristiwa penculikanku di masa kecil, apakah sudah puas untuk jawaban itu?" tanya Andra.
Saat misi penyergapan pasukan Rebellion yang dipimpin Ray dulu...
"Jadi begitu, sebelum kematian orang tuamu mereka membuatmu menjadi wadah Ryu dan kakakmu memegang segelnya? namun jika Ryu terlepas dari tubuhmu maka sebagian tenagamu akan hilang. Dan segel yang kakakmu pegang akan membuatnya kehilangan nyawa. Apakah kau tidak marah?" tanya Edward saat bertanya pada Amanda perihal asal-usul keluarga Amanda.
"Mau bagaimanapun juga... mereka telah berjasa dalam merawat kita" kata Amanda.
Edward terdiam setelah mendengar kesimpulan Amanda.
"Namun Ray... dia meninggalkanku tanpa alasan yang jelas" batin Edward.
Saat kematian Ray...
Ray yang terluka akibat penyergapan sedang duduk di sebuah pohon dengan sekarat lalu mengingat perkataannya dengan Ayahnya.
Flashback...
"Ayah" kata Ray.
"Ng? Ray?" tanya Ayahnya Ray.
"Bagaimana keadaan Mika dan Hannah?" tanya Ayahnya Ray.
"Kak Mika menikah dengan seorang titisan Hasegawa berdarah bangsawan, dia akan melahirkan anak keduanya yang akan lahir 2 bulan lagi, sedangkan Hannah... dia dihamili oleh seorang pelanggannya" jelas Ray.
"Syukurlah kalian baik-baik saja, aura darah ini... kau masih membantai Kitagawa dan kepolisian militer kah?" tanya Ayahnya Ray.
Ray terdiam.
"Aku hanya ingin melindungi keluarga kita dengan membunuh Kitagawa yang membantai Fujiwara dan Hasegawa sampai sekarang, kepolisian militer hanya ingin menangkapku, heh... mereka takkan bisa melakukannya" kata Ray.
"Kau ini ya"
"Ayah, apakah tidak bisa kau beritahu alasan kenapa Kitagawa membantai Fujiwara?" tanya Ray.
"Kenapa begitu?" tanya Ayahnya Ray.
"Entah kapan, kau akan pergi pastinya dari dunia ini karena penyakitmu, setidaknya kau bisa meninggalkan cerita leluhur Fujiwara yang dibantai dulu" jelas Ray.
"Baiklah... "
"Keluarga... Fujiwara ya? Fujiwara adalah klan bangsawan yang memiliki kemampuan untuk menahan Kara yang di wariskan dari generasi ke generasi secara turun temurun" kata Ayahnya.
"Kara? maksudnya?" tanya Ray.
"Karena mereka mampu menjadi Terano yang kuat dan memiliki kemampuan mengeluarkan Mana Rantai dari tubuh mereka, alasan mereka di bantai... karena Kitagawa" ucap Ayahnya.
"Kita... Kitagawa sudah lama melakukan pembantaian ini?! dengan alasan macam apa kita di bantai?!" tanya Ray.
"Klan Kitagawa adalah Klan yang menjadi pelindung dan pendukung utama klan Fujiwara, Kitagawa ingin melakukan perjanjian untuk melakukan transaksi bahwa mereka menginginkan Kara yang disegel di tubuh seorang Fujiwara"
"Dan dengan harta yang mereka miliki... tentu saja Fujiwara tidak menyetujui karena meski Kitagawa terkenal menjadi pelindung Fujiwara. Aika benar-benar mengetahui sifat muka dua Pascal, yang ingin melakukan kudeta bagi setiap kerajaan agar El-Aoufi bisa berkuasa.. akhirnya di sebabkan Aika tidak menyetujui transaksi dan barter ini, Pascal mengambil Kara yang ada di dalam mereka satu persatu" Jelas Ayahnya.
"Lalu... ada apa dan maksudnya, kenapa Aika mengambil mode Kara?" tanya Ray lagi.
"Dia mengambil seluruh kekuatan Kara yang berada dalam diri Pascal dan menyerapnya di dalam dirinya lalu menjadikan dirinya sebagai salah satu Kara, raga Pascal di segel di dalam Pandora tapi mungkin akan terbuka suatu hari nanti sedangkan ia mengubah jiwanya menjadi Kara sebelum disegel. Karena pertarungan itu, Pascal memanipulasi ingatan para rakyat yang masih ada di sana dan belum ia bantai menggunakan kekuatan Pandora yaitu Inti Pandora... akhirnya dia menggunakan jurusnya kepada rakyat yang tersisa, keluarga Hasegawa dan Fujiwara yang tersisa agar melupakan perang kehancuran dunia astral pertama" Jelas Ayahnya lagi.
"Bagaimana... bagaimana Pascal bisa menggunakan Inti Pandora!?" tanya Ray.
"Sebelum pertarungan, ia sudah diam-diam merebut sebagian besar energi Pandora dan mengubahnya menjadi koordinat khusus untuk mengendalikan sesuatu yang disebut Inti Pandora" jelas Ayahnya Ray.
"Apakah kesimpulan Pascal membantai Fujiwara, Hasegawa, dan Taira karena ia takut kepada ketiga Klan itu?" tanya Ray.
"Intinya, Ketiga Klan itu, adalah satu-satunya kelompok yang tidak bisa dikendalikan oleh Pascal, Taira punah seutuhnya dan anaknya Hannah rupanya menuruni Taira" kata Ayahnya Ray.
"Tetapi, seperti yang kukatakan, Fujiwara dan Hasegawa adalah dua Klan yang tidak dapat di cuci otaknya, akhirnya... Fujiwara dan Hasegawa yang tersisa pergi agar tidak dapat di bantai. Dan sekarang, hanya Fujiwara, Hasegawa, dan Clarke yang sejarahnya adalah cabang Klan Fujiwara yang dikenal dengan nama Keluarga Takatsukasa yang tahu kenyataan pahit yang ada" Jelas Ayahnya.
"Begitu, bagaimana kau tahu semua ini?" tanya Ray.
"Karena aku termasuk generasi kedelapan Fujiwara" kata Ayahnya.
Flashback Off...
"Ng?" Ray melihat ada Edward.
"Yo, anak buangan" kata Ray.
"Kau... sudah tidak bisa diselamatkan lagi ya, Ray?" tanya Edward.
"Ray! kenapa Kitagawa Pascal ingin Fujiwara dan Hasegawa musnah!? apa hubunganmu dengan ibuku dan ibunya Hikaru dan Yumna!?" tanya Edward dengan mencengkeram kerah baju Ray.
"Heh, kau ini... Mika adalah kakak tiriku, sedangkan Hannah... aku hanyalah kakaknya" kata Ray.
"Ukh!" Ray menahan sakit saat sedang sekarat.
Edward tercengang mendengar jawaban Ray.
"Simpan Morph-x itu baik-baik, Edward" kata Ray.
"Baiklah... Paman" kata Edward.
"Tapi.... kau... kau pernah berjanji akan selalu melindungiku, sekarang apa? apakah... ini adalah janji terakhir mu yang tidak bisa kau penuhi?" tanya Edward dan menyadari kalau Ray tidak akan menjawab pertanyaannya lagi.
Setelah itu di ruangan Andra...
Edward frustasi dan duduk syok setelah kematian Ray karena mengetahui tujuan Ray yang sebenarnya.
"Kapten! jangan frustasi, ayolah. Kita harus bisa merelakan kepergian Ray" kata Amanda.
"Hikaru, Yumna. Aku memutuskan untuk mengundurkan diri dari pasukan pemberantasan" kata Edward.
Tentu saja tak dapat dipungkiri itu sangat mengejutkan bagi Amanda dan Andra. Kedua Ameera bersaudara itu terdiam kaget.
"Kenapa? apakah ada yang mengganggu?" tanya Andra.
"Setelah mendengar penjelasan Ray sebelum kematiannya... itu sudah dapat disimpulkan aku bukanlah keluarga kalian, meski kita satu saudara jauh. Aku sudah seharusnya sendirian" kata Edward.
"Kapten!!" seru Amanda.
Andra dan Edward kaget.
"Jangan pergi, Dasar... ! tinggallah bersama kami! kau milik kami sekarang! kau keluarga kami! kak Andra telah bersusah-payah membawamu ke keluargamu!" kata Amanda.
"Ana, daripada dikatakan bersusah-payah, lebih tepatnya kakak hanya mengandalkan informasi dari Sembilan" kata Andra.
"Iya ya, kak Andra hebat"
"Dengar. Kak Andra yang membawamu kemari. Kak Andra adalah kakakmu, mengerti?" tanya Amanda.
PUK! Amanda menepuk bahu Edward.
"Mulai hari ini dan seterusnya, aku akan menganggapmu sebagai kakak sepupuku dan atasanku, Kapten. Dan, karena itu kau akan menjadi bagian dari keluarga kami" kata Amanda.
"Selamat datang, Edward" kata Andra sambil tersenyum.
Tes... Tes... Air mata Edward tiba-tiba tumpah dengan begitu deras.
"Eh?" tanya Amanda dan Andra dengan bergumam.
"EHHHH?!!!" tanya Amanda dengan panik.
"Ka... Kakak! apakah, aku terlalu keras pada Kapten?! Dasar...?!" tanya Amanda panik.
"Kakak gak tahu Ana" kata Andra.
"Kenapa menangis Edward?" tanya Andra menghampiri Edward.
"Gak, gak kenapa-napa" kata Edward yang kelopak matanya memerah dan mengusap air matanya.
"Ini Kapten" Amanda menyerahkan sapu tangan.
"Bagaimana bisa?! bagaimana bisa ada orang sebaik mereka?!" batin Edward yang melihat Amanda dan Andra menatap dirinya dengan rasa cemas.
Edward sedang berdua dengan Erlan...
"Kenapa Mizuki? ada perlu apa?" tanya Edward.
"Tidak, aku hanya ingin memberikan amanah karena... kaulah yang pantas menjalankan amanah itu" kata Erlan.
"Memangnya apa? puasa? sholat dhuha? berzakat? aku handal melakukan itu" kata Edward.
"Sombong amat. Bukan! hanya... kumohon, jaga Amanda untukku... ok?" kata Erlan sambil tersenyum.
Edward terbelalak.
"Lu mau ngapain? ngakhirin idup?" tanya Edward.
"Positif thinking!! enak aja! lakukan cara terbaik untuk menjaganya, pastikan hal itu! kau harus menjadi penggantiku dan Andra yang bisa membuatnya senang dan bahagia! jika tidak maka tahulah akibatnya" kata Erlan.
"Apa?" tanya Edward.
"Akibat orang yang melanggar amanah itu termasuk munapik tahu! gak ada iman!" kata Erlan.
"Ok, ok"
Saat kematian Rafa...
"Rafa-Nii.... hiks... hiks!" Amanda memeluk Andra.
"Sudah Ana" kata Andra.
"Andai saja... aku bisa datang dengan cepat di apartemen Rafa-niichan maka, maka pasti Rafa-niichan gak bakalan... hiks! gak bakalan-...huaa! hiks!" Amanda terus-terusan menangis di pelukan Andra.
Edward terbelalak.
"Kenapa ini? kenapa... hatiku rasanya sakit? apakah karena kematian Rafa? tidak, kenapa baru kali ini aku melihat orang menderita dan hatiku serasa hancur?" batin Edward.
Edward, kamu terlahir kuat dari orang lain. Maka dari itu, kamu harus bisa menyelamatkan dan melindungi orang lain. Edward teringat ucapan Ibunya.
Jaga Amanda untukku... ok?. Edward teringat ucapan Erlan.
"Ibu.... Mizuki..." batin Edward.
Amanda akhirnya resmi di nobatkan sebagai salah satu pasukan.
"Ana, jika kamu melangkah jauh, kamu mungkin takkan bisa kembali bukan? apa itu tidak masalah bagimu?" tanya Andra saat berbicara dengan adiknya.
"Itu takkan menjadi masalah karena inilah jalan yang kuinginkan, kakak" kata Amanda.
"Kalau begitu... " Andra menghentikan kata-katanya sejenak dan mengingat sesuatu.
Hikaru, aku punya permintaan, biarkan aku mendampinginya ketika ia melakukan misi, aku mohon
"Edward, lakukan yang terbaik untuk melindunginya, aku dan Erlan percaya padamu" batin Andra.
"Ana, kamu resmi menjadi anggota pasukan pemberantasan" kata Andra.
"Laksanakan" kata Amanda.
Saat kematian para penyegel Pandora...
Edward terengah-engah karena amarahnya setelah menghabisi 92 makhluk astral tingkat atas karena mendengar kematian dua sepupunya.
"Jadi Lord Seventh, Yumna, Lord Eighth, dan Rangga telah tiada ya? hmf... sangat menyedihkan" kata Arsya sambil tersenyum menyungging.
"Arsya kau... kau mengatakan kalau aku ada misi yang diberikan di sektor G-17! tetapi... tidak ada! dokumen yang kau berikan perihal misi itu palsu!!" seru Edward.
"Aku memiliki feeling kalau kau berencana akan diam-diam mengikuti Lord Seventh, jadi aku memberikan dokumen palsu agar kau tidak gegabah mengikuti mereka" jelas Arsya.
"Ghaa!!!" Edward akan melayangkan pedangnya pada Arsya karena amarah.
Arsya menahan pedangnya Edward dengan tangannya.
"Kau sudah mengetahui rencanaku!! membodohiku!! membiarkan Hikaru Yumna, Mizuki, dan Rangga terbunuh!! aku akan membunuhmu!!" seru Edward.
Arsya menatap Edward dengan tegas sambil menahan pedang Edward lalu merogoh sakunya dan melemparkan sebuah gulungan surat yang disegel menandakan bahwa surat itu hanya bisa dibaca oleh penerima surat.
"Itu... " kata Edward.
"Itu surat yang ditulis dan direncanakan Yumna dan Rangga sendiri atas izin Lord Seventh dan Lord Eighth. Yumna mengatakan, kalau ia tak ingin kau mati, jadi dia akhirnya membuat dokumen palsu dan mengatakan rencananya bahwa ia mungkin takkan selamat dalam Tanggal Emas ini. Ini semua ia lakukan karena ia tak mau kau mati, ia tahu kau adalah manusia yang amat keras kepala" jelas Arsya.
"Lord Seventh adalah orang yang amat kuhormati, jadi apapun hal yang ingin dia capai selama hal itu baik aku akan memenuhinya" kata Arsya.
Edward berjalan syok dan menjatuhkan pedangnya dan mengambil gulungan surat itu.
"Untuk menjadi pasukan pemberantasan tentu saja ada pengorbanan, seharusnya kau siap" kata Arsya.
******
"Aku berpikir... saat aku mengajukan permintaan untuk melindungi Yumna, maka Hikaru dan Yumna akan baik-baik saja tapi... takdir berkata lain seperti kepergian orang-orang berhargaku yang lainnya"
"Aku ingkar pada Mizuki dan Hikaru, pada Ibu, pada Ray, ingkar pada Yumna dan Arsya"
"*Jujur aku tidak mengerti, selama ini. Meskipun aku sudah yakin dengan kekuatanku, meskipun aku yakin dengan semua janji yang diutarakan teman-teman dan saudaraku"
"Dan... meski... aku yakin dengan semua orang yang kusayangi dan kupercayai, Akhirnya... "
"Tak seorangpun diantara mereka yang berdiri bersamaku sekarang ini"
"Namun... "
"Dua bersaudara itu, mereka dapat melihat sesuatu yang tak bisa aku lihat, meskipun mereka menjadi salah satunya yang tak bisa bersamaku hingga saat ini*"
"Maniak tak sayang nyawa!"
Edward membuka matanya.
"Tapi setidaknya... "
"Ayo! berlatih!" kata Meghan yang bersama Vanora, dan Rahmat.
"Aku hanya bisa meneruskan semua janji yang ada hingga aku mati nanti"
"Ya, kacamata menyebalkan"