
Amanda berkunjung ke markas gerakan pemberantasan.
"Sudah di renovasi... sekitar 4 bulan aku tidak kesini karena urusanku dengan Nyonya Sera" batin Amanda dan masuk ke teritori markas yang sunyi.
Amanda teringat saat perbincangannya 4 mata dengan Nyonya Sera.
Flashback...
Di ruangan pemimpin...
"Takatsukasa Family, Survived this far, i'm so thank you very much because have to protected Fujiwara long ago"
(Keluarga Takatsukasa telah bertahan sampai sejauh ini, saya sangat berterimakasih karena telah melindungi Fujiwara sejak dulu) kata Amanda.
"Bahasa Inggris anda sangat fasih ya, Yang Mulia? tapi tidak masalah, anda bisa menggunakan bahasa seperti biasanya" kata Sera.
"Ah... Sure, maksudku, baiklah" kata Amanda.
"Terimakasih kembali, Yang Mulia. Keluarga Takatsukasa sudah tidak menjalin hubungan kekeluargaan maupun hubungan kekerabatan dengan saling menikahkan antara keluarga Takatsukasa dan Klan Fujiwara dari utama maupun cabang" kata Sera.
"Karena pembantaian ya, Nyonya?" tanya Amanda.
"Benar Yang Mulia, saya menjadi satu-satunya pemimpin sekaligus anggota keluarga Takatsukasa yang memiliki campuran dari Fujiwara langsung namun tak memiliki Silent" jelas Sera.
"Dan Clarke akhirnya menjadi keluarga yang dikenal memimpin Bilton dan nama keluarga Takatsukasa mulai menghilang" kata Sera.
"Dikarenakan karena kotak Pandora telah hancur... saya benar-benar minta maaf pada anda" kata Amanda.
"Saya memakluminya Yang Mulia, saya merasa bersalah karena telah membebani Nona Erika, Nona Adelia, Tuan Zeydan, dan Pangeran Andika. Saya sungguh minta maaf" kata Sera.
"Kalau begitu, perbincangan untuk keuntungan sepertinya akan lama ya. Baiklah... energi Mustika Delima Merah 60% akan saya serahkan kepada keluarga Clarke" kata Amanda.
Flashback Off...
"Syukurlah masalah keuntungan hampir selesai" batin Amanda.
"Ng?" Amanda melihat gerbang markas yang megah itu segel kuncinya terbuka.
"Siapa yang...!? bukankah hanya yang berwenang saja yang bisa membukanya!?" tanya Amanda dan bergegas ke dalam markas.
"Bahkan gembok pintu markas saja terbuka? tunggu, ruangan Shinobi Legendaris juga terbuka, jangan bilang ada seseorang di sana!?" batin Amanda.
Amanda menyusuri markas dan membuka pintu geser ruangan Lord/Lady alias Shinobi legendaris.
GREEK!!
"Eh? Kapten?" tanya Amanda melihat Edward.
"Lama tak jumpa, Yumna" kata Edward yang berpakaian jas formal yang sangat rapi, dan menaruh tangannya di saku celananya.
"Kenapa... kau bisa kesini? seingatku hanya Kak Nera dan Kak Radith saja yang memegang kunci masuk?" tanya Amanda.
"Yah, karena kau disini... artinya kau juga termasuk tersangka" kata Edward sambil memperlihatkan sedikit kekuatannya dan lock pick yang diambilnya dari saku celananya.
"Huft, kau ini memang mirip dengan kak Meghan yang suka menyelinap dan bersemangat" kata Amanda.
"Aku tidak seperti itu" kata Edward.
"Benarkah?" tanya Amanda sambil membuka jendela.
"Seperti sudah lama sekali tidak kesini" kata Amanda.
"Kau benar, kau tidak berniat untuk mengecilkan cuti menjadi setengah tahun saja?" tanya Edward.
"Mm, aku tidak ingin menumpuk pekerjaanku yang belum selesai" kata Amanda sambil menggelengkan kepalanya.
"Bagaimana denganmu? bukankah kau besok akan mendapatkan dompet baru? karena besok kan ada keputusan perekrutan di kunjungan kantor pemerintahan, ya? kau tidak gugup?" tanya Amanda.
"Aku hanya perlu berakting sebagai orang yang disukai pewawancaranya, itu hal yang mudah, lagipula menjadi birokrat bisa mengisi dompetku sebelum gerakan pemberantasan buka kembali" kata Edward.
"Dasar... kau ini suka sekali percaya diri, hanya karena kau tampan bukan berarti kau bisa mempermainkan hati perempuan seenaknya! aku harap kau tidak memperlakukan seperti itu pada pewawancaranya" kata Amanda.
"Kau cemburu?" tanya Edward.
"Tidak, aku hanya menyarankan. Kau bisa saja mempermalukan keluarga cabang nanti" kata Amanda.
Amanda melihat kursi yang di depannya dan menyentuhnya.
"Kursi yang pernah di duduki dari jaman Shinobi legendaris pertama alias Lord First hingga Lord Eighth, kursi ini yang menyaksikan betapa menakjubkannya para pemimpin gerakan pemberantasan saat itu" jelas Amanda.
"Tapi kau hebat juga, bisa menyempatkan waktu untuk memasak padahal kau banyak tugas" kata Edward.
"Kuanggap sebagai pujian, tidak masuk akal jika aku menghabiskan waktuku hanya duduk di depan komputer dan berkas-berkas kan?" tanya Amanda.
"Ya, bagaimana dengan pemimpin pasukan pemberantasan? siapa yang akan menjadi Lord/Lady?" tanya Edward.
"Yah, aku sudah punya kandidat, akan ku beritahu nanti" kata Amanda.
Mereka terdiam.
"Kapten"
"Ng?"
"Kenapa... kau begitu memperhatikan diriku?" tanya Amanda.
"Ha?" tanya Edward.
"Iya, kata Chandra aku juga adalah prioritas utamamu, kenapa kau begitu memperhatikan diriku? apakah karena aku sepupumu? apakah karena Utama dan Cabang? atau yang lainnya?" tanya Amanda.
"Itu... bukan apa-apa" kata Edward sambil mengalihkan pandangannya.
"Kau menyembunyikan sesuatu, kan? Dasar... " kata Amanda.
"Gak"
"Aku bisa melihatnya lewat Silent lho!"
Akhirnya mereka terdiam karena Edward tak mau jujur.
"Yumna"
"Ng?"
"Kau mau berkeliling?" tanya Edward.
Akhirnya mereka berkeliling ke seluruh markas, Edward menjadi rindu akan kebersamaannya bersama para Pilar yang telah gugur setelah melihat ruangan para Pilar.
Sedangkan Amanda menjadi rindu kepada para pasukan yang sebelum gugur.
"Kenapa... tempat ini mengingatkan ku akan sesuatu?" tanya Amanda saat melihat aula latihan
"Tentu saja, karena kau mengalahkanku saat latihan di lapangan di saat-saat terakhir, kau ingat? saat di lapangan latihan" kata Edward.
"Gak usah diingat deh! kalau bukan karena cekikan segitiga yang ku lakukan padamu, aku pasti yang akan kalah duluan, Dasar... " kata Amanda.
"Kau yakin?" tanya Edward.
"Sangat"
"Pitingan leher... ya? kurasa, aku tidak ahli dalam hal itu" kata Edward.
"Ya, terimakasih untuk tendangan kapak yang kau berikan di punggungku" kata Amanda.
"Masih sakit kah?" tanya Edward.
"Gak sih, kenapa emang?" tanya Amanda.
"Gak sih, hanya merasa bersalah saja" kata Edward.
"Ya ya, teruslah pendam rasa bersalah itu" kata Amanda mengarah ke pintu keluar aula latihan.
"Baiklah... aku akan pergi sekarang" kata Amanda.
"Kemana?" tanya Edward.
"Ke makam para pahlawan"
Sesampainya di sana..
Amanda dan Edward mendoakan para pahlawan yang gugur begitu pula para Pilar.
"Yah... "
"Kenapa, Yumna?"
"Aku kehabisan bunga, sedangkan aku belum semua mengunjungi makam disini, bagaimana ini?" tanya Amanda.
"Hm... baiklah, aku akan minta Toni membelikannya" kata Edward.
"I... itu akan memakan waktu, tidak perlu deh" kata Amanda.
"Jangan khawatir, aku tahu kalau Toni ada di toko bunga, akan ku minta dia untuk membawakannya" kata Edward sambil berdiri.
"Kalau dia gak mau?" tanya Amanda.
"Ntar ku umpan pakai Nagasari juga mau dia" kata Edward.
"Bu... Bukannya ntar kak Toni malah ngamuk ya?" tanya Amanda.
"Gak bakalan ngamuk dia kalau sama aku, kalau dia ngamuk ku buat dia gak bisa bergerak dengan Silent-ku" kata Edward.
"Tapi, kau tidak perlu seperti ini, aku bisa melakukannya, kau tidak usah capek-capek" kata Amanda.
"Tidak usah, aku saja" kata Edward.
"Ba.. Baiklah"
Beberapa saat kemudian...
"Wah, keranjangnya penuh" kata Amanda.
"Cukup?" tanya Edward.
"Ini lebih dari cukup, baiklah... terimakasih ya" kata Amanda.
"Ya, ayo... setelah itu kita berkeliling lagi, Dimensi ini begitu luas" kata Edward.
Amanda dan Edward akhirnya berkeliling, ke danau juga.
Amanda melihat danau dengan begitu takjub.
Bagaikan mimpi dan keinginan yang terkabul saja, Edward begitu bersyukur salah satu dari 4 orang berharga baginya bisa ia lihat kembali.
Edward menjahili Amanda dengan mendorongnya.
DUK!
"WAA!! DASAR...!!"
Edward menahan coat Amanda.
"Itu tadi bahaya tahu!!"
"Kau tidak tahu kah kalau aku juga punya kesan menjahili orang selain menyiksa mereka" kata Edward.
Di jurang...
Tebing yang begitu dalam dan berbahaya tapi semua pemandangan yang indah bisa dilihat dari tebing jurang itu.
Amanda akhirnya mendorong Edward.
DUK!
"Eh!?" tanya Edward.
Amanda menahan jas Edward.
"Kau ingin membelikan jantung tambahan buatku ya?" tanya Edward yang kesal dan kaget juga.
"Hahaha! karma is real!"
Di lapangan latihan...
"Ini mengingatkanku saat kita bertarung, mau satu lawan satu?" tanya Edward.
"A... apa!? berkelahi seperti dulu? maaf! aku tak bersedia" kata Amanda.
"Kau tidak boleh menolak, ayo" kata Edward dengan wajah datar.
"Gak!!"
Akhirnya mereka kejar-mengejar dan berhenti setelah keduanya kecapean dan memutuskan untuk ke ruangan privat Lord dan Pilar, tempat yang biasa digunakan untuk rapat.
Edward menggambar logo pin Pilar di papan.
"Kapten!" kata Amanda.
"Sudahlah, nanti juga akan di bersihkan" kata Edward.
"Kau kan tidak akan membersihkannya" kata Amanda.
Hohoho....
Amanda dan Edward tersentak dan bertatapan karena langsung terbesit tentang tawa kecil Pak Andi yang hangat.
"Hahaha!!" Amanda tertawa.
"Pfft.... " Edward menahan tawanya dengan tersenyum tipis.
"Kapten ini"
Edward berbalik.
"Ah! itu... " kata Edward.
"Ya, Daun yang pernah kuminta darimu kan? lihatlah, warna kuning cerahnya masih ada meski sudah lama sekali" kata Amanda.
"Terimakasih ya Kapten, kau mengambilnya dari jilbab dan memberikannya padaku" kata Amanda.
"Ah, ya... Sama-sama" kata Edward agak malu dan memalingkan wajahnya, ia baru menyadari sepupunya itu memakai jilbab yang sama saat dulu mereka piknik.
Amanda duduk bersimpuh di lantai di depan meja kecil berlaci dan melihat sebuah buku.
Amanda tersenyum, karena tahu buku itu sudah ada dari jaman Lord First sampai sekarang, dan buku itu tidak ada habisnya.
"Aku pinjam dulu ya... Kakek, Ayah, kakak, Erlan" batin Amanda dengan tersenyum.
Amanda melihat Edward yang duduk bersimpuh berjarak 3 meter darinya.
"Hormat kepada pemimpin" kata Edward sambil tersenyum tipis.
Amanda masih kaget dan terbelalak.
"Jangan menyerah... Yang Mulia" kata Edward lagi.
Amanda tersenyum.
"Kau juga... Kapten Edward" kata Amanda.
"Ng? heh, Ck... baiklah, waktunya kita pulang" kata Edward keluar duluan.
Amanda membawa buku Lord dan melirik papan yang untuk menulis saat sedang mengarahkan.
Amanda akhirnya menggambar logo gerakan pemberantasan.
"Yumna! kau sedang apa? cepatlah, jika tidak pintunya akan ku kunci" kata Edward.
"Eh!? I... iya!" kata Amanda langsung buru-buru keluar.
Di luar markas...
Edward dan Amanda memandang markas.
Edward akhirnya meletakkan tangannya di tulang belikat kirinya dengan kepala agak di tundukkan.
( Gaya hormat ala gerakan pemberantasan, yang digunakan untuk menghormati pemimpin atau yang bersangkutan pada gerakan pemberantasan )
Amanda juga begitu, memberikan hormat.
Akhirnya mereka berdua berjalan mengarah ke Portal dimensi.
"Kami adalah... pasukan pemberantasan, yang bertugas untuk mengakhiri sekte dan organisasi sesat yang menumbalkan dan mengorbankan orang ramai"
"Markas sepi sekarang... tapi 4 tahun lagi, gerakan pemberantasan akan dibuka kembali"
Mereka berdua berjalan bersama.
"Yumna"
"Apa?"
"Mengenai pertanyaanmu itu... " ucap Edward.
"Maksudmu?" tanya Amanda.
Kenapa... kau begitu memperhatikan diriku?
"Oh, aku sudah tidak mempermasalahkannya lagi kok, lagian kau tidak mau jujur, Dasar... " kata Amanda.
"Bukan itu!" kata Edward yang terus berjalan dan menaruh sesuatu di tangan Amanda.
"Eh? apa ini? bunga dan... cincin? kau berniat untuk memberikan perhiasan?" tanya Amanda.
"Ck, aku berniat ingin mengatakannya saat kita sampai ke Istana Carna" kata Edward.
Edward berhenti berjalan dan berbalik ke belakang.
"Seandainya jika... kedamaian sudah berhasil dicapai, maukah kita berdua melanjutkan kehidupan ini sampai akhir dengan damai dan bahagia, dengan status sebagai suami istri?" tanya Edward.
"Eh? hmm-... " belum selesai Amanda bicara.
POF! BLUSH!! wajah Amanda langsung sangat memerah dan menutup mulutnya begitu baru sadar setelah mencerna arti pertanyaan dari sepupunya itu.
Meski senja telah menyinari Dimensi astral, wajahnya yang memerah tidak bisa ditutupi oleh sinar senja.
Edward menatap ke arah lain karena ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa.
"Tapi... kenapa?" tanya Amanda.
"Aku... selalu melihatmu bersedih, kehilangan banyak yang kau sayangi, jadi kupikir... " Edward menghentikan kata-katanya.
"Kupikir setidaknya kali ini! aku bisa menjagamu dan berjanji pada Hikaru dan Mizuki untuk benar-benar menjagamu! aku tidak akan mengecewakan mereka lagi!" kata Edward.
"Aku juga payah jika berurusan dengan wanita, bahkan perasaan cinta saja aku tidak mengerti! karena aku dididik dan tumbuh dengan hati yang keras agar dapat memiliki kemampuan untuk bertahan hidup di dunia ini. Jadi mohon maaf jika aku tidak tahu bagaimana... membuatmu kembali bahagia setelah semuanya" Jelas Edward.
"Jadi dengan serius aku ingin mengetahui jawabanmu... apakah kau tidak keberatan aku membuat hidupmu lebih bahagia?" tanya Edward dengan dingin dan serius.
Amanda jadi iba.
"Kapten... "
Namun ia tahu, kalau baru kali ini Edward berbicara terus terang.
"Ju... jujur saja, aku tidak tahu apakah tindakanku ini benar atau salah, jika kau tidak menerimanya juga tidak apa-apa, namun setidaknya... " ucap Edward yang tidak sanggup berkata-kata lagi.
"Pfft... hihi! hihi!" Amanda tertawa kecil dan sedikit menyeka air matanya yang keluar.
"A... apa yang lucu?!" tanya Edward yang jadi canggung sendiri.
"Aku senang... hiks... kau sudah bisa bicara terus terang Kapten! Hiks... selama ini, kau terus memendam perasaanmu yang kehilangan banyak prajurit dan bawahanmu! aku yakin Erlan dan kak Andra juga, akan tertawa serta bangga padamu!" Jelas Amanda sambil menyeka air matanya tangisannya di sela-sela tawanya.
Edward terbelalak.
"Ja... Jadi, jawabanmu... " Edward menghentikan kata-katanya.
"Aku... sangat senang... tapi, apakah bisa beri aku waktu? untuk menjawab?"
Di taman istana Carna...
( Untuk lengkapnya Knight Girl ada di cerpen )
Erika sedang tertidur di bawah pohon di dekat makam Zeydan, dia suka membaca buku sembari melirik makam Zeydan.
Syu~... Tiba-tiba ada daun yang jatuh ke pipinya
"Hng... ng... " Erika mengerutkan keningnya karena daun yang jatuh ke pipinya.
Ada seseorang yang mengambil daun di pipi Erika dengan pelan.
Erika terbangun.
"Ng? kurasa daun ini yang mengenai pipiku, tapi... tadi aku merasa ada yang memindahkannya, siapa? Dasar... " kata Erika.
"Mimpi apa tadi?! Papa masih hidup... Pasha, Zayn... " batin Erika.
Itu karena kau tidak mampu merelakannya, meski kau kembali ke masa lalu, kau tidak akan mampu mencegah kematian Zayn mau bagaimanapun usahamu. Karena takdir sudah dibuat jauh sebelum kau lahir
Erika teringat perkataan yang ada di mimpinya.
"Hujan... " gumam Erika.
Erika melihat makam Zeydan.
"Aku pulang dulu, Zayn. Aku akan mengunjungimu lagi nanti" kata Erika sambil tersenyum.
Erika akhirnya berjalan setelah Elang milik papanya bertengger di bahunya, Erika akan ke istana.
Sedangkan di bawah pohon, ada seseorang yang sedang duduk tersenyum pada Erika.
Erika terbelalak saat merasakan aura yang benar-benar ia kenal.
Erika berbalik.
Tidak ada siapa-siapa.
Erika menyadarinya setelah membayangkannya. Ya, orang yang selalu meninggalkan bekas kesan yang berharga pada Erika.
Erika tersenyum.
Elang milik papanya melihatnya, Erika tahu kalau Elang papanya mengkhawatirkan dirinya.
"Tidak apa-apa, ayo kita ke istana, kita akan mengunjungi Zayn lagi nanti" kata Erika sambil mengelus Elang papanya.
Andai saja Erika bisa melihat sesuatu yang tak kasat mata seperti di Dimensi astral... niscaya Erika akan melihat Zeydan yang tersenyum padanya.
Tidak ada yang dapat memberitahu Erika, kalau sebenarnya Zeydan tidak pernah meninggalkannya secara batin.
Ya... sejatinya, Zeydan tidak pernah pergi dari sisi Erika, mungkin dia sudah mati dan takkan pernah ada di dunia ini lagi, tapi kenangannya selalu memperhatikan Erika dan akan selalu bersinar.
[POV Edward]
Hari esok, ku kan lebih menyukai dirimu, luapan rasa ini tak akan berhenti
Meski ku saat ini sangat menyukaimu, tak bisa aku ungkapkan
Semakin bertambah hari-hari bersamamu, melewati langkah yang telah kita lalui
Andai pertemuan kita dimulai dengan sengaja, atau sebuah takdir, bisa mengenal dirimu bukanlah sebuah kesalahan
Kita berjalan berdampingan membentuk kenangan yang tak akan hilang
Kuingin selalu bersamamu dan tersenyum denganmu
Terimakasih dan ah... "aku menyayangimu" belum cukup bagiku
Namun izinkanlah aku berkata "Aku bahagia"
Selalu disisimu hanya ada diriku agar kau tidak kesepian, hanya dengan menemanimu, aku merasakan kalau kebersamaan menyertai kita
Kebahagiaan kecil yang kutemui diantara hari, langkah yang perlahan kulalui
Pertemuan kita di dunia yang luas ini, bisa bertemu, ini adalah keajaiban
Meski di hari yang kurang beruntung, hanya bersamamu langit tak mendung
Kau membuatku sadar bahwa aku tak perlu selalu tegar dan mengingat akan kesendirian
Jika aku bersamamu, aku mampu menjadi diriku
Karena itulah selalu tetaplah disisiku wahai kau yang kusayang
Dijalan pulang saat kita saling bercanda, adalah hari berharga kita berdua
Wajah yang kau tunjukkan padaku, saat kuucapkan "Terimalah perasaanku"
Di sela-sela waktu kau menganggukkan kepalamu, kau isi hati ini dengan kasih sayangmu
Kita masih ditengah perjalanan, menuju masa depan yang dinanti
Terimakasih dan ah... "Aku menyayangimu"
Meski aku payah akan cinta, aku mengatakan semuanya dengan sejujurnya dari lubuk hatiku
Jika aku bersamamu, terasa hari-hari menjadi amat menyenangkan
Karena itu hingga detik-detik terakhir, teruslah di sisiku wahai kau yang kusayang
Hari esok, ku kan tersenyum lebih dari kemarin
Kupikir seperti itu jika kau di sisiku, namun aku tahu kau pastinya nanti akan pergi
Namun ketahuilah, meski ku lampaui ribuan tahun pun....
Aku akan tetap selalu mencintaimu