
"Kita harus ke markas sekarang!" kata Andika.
"Ya!" kata Nisa.
Sesampainya di sana...
"Kenapa ada yang agak aneh ya?" tanya Andika.
"Tentu saja aneh, tapi... apakah ini termasuk ilusi yang di perbuat Chandra?" tanya Nisa.
"Bagaimanapun juga aku takkan memaafkannya! karena dia sudah membuat Ayah dan Ibuku tiada!" kata Andika sambil masuk kedalam markas.
"Andika! Ck! tunggu!" kata Nisa menyusul Andika.
"Ng!? Andika! Nisa! apa yang kalian lakukan disini!?" tanya seseorang.
"No.. Nona Ratri?" tanya Andika.
"Kenapa anda bilang 'apa yang kalian lakukan disini?' begitu?" tanya Nisa.
"Kalian sedang mendapatkan cuti! kenapa disini? kalian seharusnya tak disini" kata Ratri.
"Be... Begitu ya?" tanya Nisa.
"Nisa, kau harus tabah atas kematian orang tuamu ya..." kata Ratri.
"Hah!?" tanya Andika dan Nisa.
"Apa maksudnya?" tanya Nisa.
"Kenapa kaget begitu? orang tuamu menjadi korban segel Pandora beberapa bulan yang lalu, kenapa kau kaget begitu?" tanya Ratri.
"Ahaha! bukan apa-apa Nona Ratri, kami permisi" kata Andika sambil menarik Nisa pergi dari situ.
"I.. iya"
Di Lapangan latihan...
"Kenapa tiba-tiba berubah begini?" tanya Andika.
"Entahlah, sebaiknya kita ke Dunia nyata dulu" kata Nisa.
Sesampainya di Dunia nyata...
"Artinya, orang yang telah mati itu hidup kembali di Dimensi ini?" tanya Nisa.
"Entahlah, meski ini Dunia nyata, kita telah masuk ke ilusi Dimensi buatan Chandra, jangan tertipu karena ini tetaplah Dimensi milik Chandra" kata Andika.
"Nisa, kau sebaiknya mengumpulkan informasi karena kau tinggal di pusat kota, aku akan ke istana sekarang!" kata Andika.
"Ya! nanti kita berkumpul di balai kota!" kata Nisa.
Andika berlari memakai jaket hoodie.
Artinya, orang yang telah mati itu hidup kembali di Dimensi ini?
Andika mengingat kembali perkataan Nisa dan tersenyum merekah lalu lari secepat mungkin.
Andika masuk ke ruang keluarga.
"Ibu! Ayah!" Seru Andika.
"AAA!!! Kak Andika ngapain!?" kata Erika yang marah karena buku yang dia rapikan berantakan.
"Ma... Maaf Yun-chan" kata Andika.
"Tahu nih, kebiasaan buat rusuh" kata Amir dengan sewot.
"Su... Sudahlah kak" kata Umar.
"Bahkan sikap Amir dan Umar terbalik" batin Andika.
"Anu... Yun, dimana Ibu dan Ay-... " belum selesai Andika bicara.
"Menyebalkan! pasti buat rusuh terus bisanya! ini! itulah!" kata Erika yang tak mempedulikan perkataan Andika.
"O.. ok, aku akan ke kamar dulu" kata Andika, Amir dan Erika tak mempedulikannya.
"Ok, Hati-hati ya kak" kata Umar.
Andika berjalan menuju ruangan Amanda.
"Bahkan aku lebih merindukan sikap Yun-chan yang datar tapi masih mempedulikan ku, aku juga lebih suka adik-adik kembarku masih menjaga adab" batin Andika.
CEKLEK! Andika membuka ruangan.
"Pa... Paman Andra!?" tanya Andika melihat Andra yang loyo.
"Apa? jangan mengganggu" kata Andra.
"Biasanya Paman Andra baik kok, malah jadi menyebalkan begini?" batin Andika.
"Paman... em, kau sedang apa?" tanya Andika.
"Tidak perlu tahu, dah.. gak usah ganggu, belajar saja" kata Andra.
"O.. Ok"
Keesokannya di balai kota...
"Aku lumayan suka! tiba-tiba aku menjadi santai di rumah, Zeydan hanya merapikan rumah dan bermain game" kata Nisa.
"Seperti bukan Zeydan" kata Andika.
"Y.. yah, kayaknya... aku suka tinggal disini" kata Nisa.
"I.. iya, tapi tak ada salahnya kita sedikit bersenang-senang kan?" tanya Nisa.
"Terserah dirimu!! aku tak mau tinggal disini! aku akan menemui Paman Andra!" kata Andika.
"A... ah! Andika! tunggu!" kata Nisa.
Sesampainya di lorong mengarah ke ruangan Amanda.
"Kita tidak bisa menunggu begitu saja! mungkin ada hal mencurigakan yang menunggu kita" kata Andika.
"Jadi... kau ingin bilang kita tak bisa melewatkannya?" tanya Nisa.
"Benar" kata Andika dan akan menggenggam engsel pintu.
"Apa!? tali teleportasi di Dimensi Astral berhasil di curi!?" tanya Rafi dari suara di dalam ruangan.
Andika dan Nisa langsung masuk.
"Apa yang terjadi!? apakah terjadi sesuatu pada Paman Andra!?" tanya Andika.
"Tenanglah, yang dicuri itu hanyalah tali teleportasi percobaan saja" kata Rafi.
"Syukurlah, dimana Paman Andra?" tanya Andika.
"Kakak sedang pergi untuk melapor pada Nona Ratri" kata Rafi.
"Tunggu, kenapa tali teleportasi yang itu adalah jurus khas teleportasi klan Hasegawa itu dicuri?" tanya Nisa.
"Itu di karenakan agar batu Mustika Delima Merah dapat di curi dengan lebih mudah" kata seseorang.
Andika terbelalak dan menoleh ke belakang, dan melihat ada Ayah dan Ibunya disitu.
"Syukurlah kalian pulang dengan selamat" kata Rafi.
"Senang kami dapat kembali" kata Erlan.
Nisa kaget.
"Ibu?! Ayah?! Bukankah mereka sudah meninggal?! kenapa mereka masih hidup?!" tanya Andika.
Drap! Drap! Drap! Amanda berlari ke arah Andika.
BLETAK!! Dan memukul kepala Andika.
"Benar-benar! apakah begitu caramu menyambut kepulangan kedua orang tuamu yang baru pulang dari Verheaven, Dasar....!?" tanya Amanda dengan kesal.
"A... Adu.. duh" kata Andika.
"Terimakasih karena sudah menggantikan kepemimpinan Amanda di Carna ya Rafi, kami dengar kalau Andra sedang pergi ke Dimensi karena urusan khusus..." kata Erlan.
"Tak apa, jadi? bagaimana tentang penyelidikan kotak Pandora yang akhirnya berhasil di segel?" tanya Rafi.
"Di Segel saat bukan Tanggal Emas itu bukanlah hal yang baik, dengan menggunakan tali teleportasi untuk pergi ke Dimensi lalu, aku pergi dengan Amanda ke Dimensi masa lalu pada Tanggal Emas agar tidak terlalu membahayakan" Jelas Erlan.
"Begitu rupanya..." kata Rafi.
"Besok kami berdua akan melakukan pencarian tali teleportasi di selatan Dimensi" kata Erlan.
"Misi ya?" tanya Rafi.
"Misi itu! biarkan aku ikut!" kata Andika.
"Andika! apa maksudmu?" bisik Nisa.
"Aku sudah benar-benar muak disini! aku ingin keluar dari Dimensi ini!" kata Andika.
"Be.. Bener sih" kata Nisa.
"Paman!" kata Andika.
"Jangan mengambil jalan yang salah Andika! kau tak berpengalaman" kata Rafi.
"Tidak apa, dia bisa ikut" kata Erlan.
"Kak?" tanya Rafi.
"Dia akan mendapatkan pengalaman bagus dari hal ini" kata Erlan lagi.
"Iya sih.. " kata Rafi.
Andika dan Nisa menatapnya.
"Ng? Hehe... " Erlan tertawa kecil.
"Eh? Huh!!" Andika langsung sewot, meski itu mirip Ayahnya, dia tak gampang terhasut.
Setelah dari Istana, Andika dan Nisa memutuskan untuk ke perpustakaan kota dengan berjalan kaki.
Andika terus merasa kesal, sedangkan Nisa hanya memperhatikannya.
"Aku benar-benar sangat tak menyangka, aku kaget mengetahui Paman Erlan dan Tante Amanda masih-..." belum selesai Nisa bicara.
"Ck!! Ini ulah Chandra itu! gara-gara dia orang tuaku tiada! dia bahkan membuat mereka yang palsu! dan... " Andika menunduk.
"Dan... itu membuatku kembali merasa bersalah karena aku mengikuti mereka bahkan mengajak Zeydan, mereka dan Paman Andra kehilangan nyawa mereka" Kata Andika.
"Aaah!!!" Seru Andika sambil meninju tembok.
DUAK!!!
"Wadaw!! sakit!! sakit!" kata Andika.
"Sebaiknya kontrol emosimu sedikit" kata Nisa.