
Aram, Pasha, Dirga, Ilman, dan Gibran menuju hutan paling belakang setelah kuliah.
"Aku tidak menyangka kalian akan tiba-tiba berkunjung, namun aku senang dengan adanya kalian mungkin adikku bisa kembali ceria, setelah kepergian Zeydan" kata Andika sambil berjalan.
"Dengan segala hormat, Pangeran. Kami juga kemari untuk menemuinya dan piknik bersama" kata Aram.
"Wah haha, sudah lama sekali aku tidak dipanggil Pangeran. Jangan kaku begitu, oh! itu bukitnya! tidak tinggi tapi tetap hati-hati" kata Andika.
"Duh!" Ilman terus mengusik rambutnya.
"Ah! di sana!" kata Pasha.
"Hei... tunggu sebentar!!" seru Ilman.
"Apa kau masih mengkhawatirkan rambutmu, Ilman?" tanya Gibran.
"Ini berantakan oi!!" kata Ilman.
"Itu cocok untukmu sebagai rambut kuda" kata Dirga.
"Ah! Erika!!!" Seru Pasha sambil menyapa.
Ilman melihat dari jauh ada Erika yang menatap mereka dari kejauhan dengan berpakaian gaun lembut dan polos, jilbab lebar, dan sebuah mahkota di kepalanya.
"Assalamu'alaikum teman-teman! sudah lama sekali ya, Dasar... " kata Erika namun Ilman tak bisa melihat wajah Erika karena burung Elang menghalangi pandangannya.
"Wa'alaikummussalam, aku senang kau sehat Erika" kata Pasha.
"Ini pertama kalinya aku melihat Erika berpakaian gaun, ia jadi benar-benar terlihat seperti Putri" kata Dirga.
"Kau terlihat kurus sekali? kau yakin mengatur pola makanmu dengan benar?" tanya Aram.
"Yah, sepertinya begitu. Kau jadi lebih ramah, Aram" kata Erika.
"Ya, aku harus terus membiasakannya. Memang benar, kau jadi terlihat sangat kurus" kata Aram.
"Ah! saputanganmu jatuh, kak" kata Erika mengambilkan saputangan Andika, dan Ilman lagi-lagi tak bisa melihat wajah Erika karena dihalangi si elang.
"Wah, makasih. Tapi Yun, benar kata teman-temanmu, kau jadi lebih kurus. Kau mengatur pola makanmu dengan benar kan?" tanya Andika.
"Yah, aku memang agak gak nafsu makan" kata Erika dan si Elang terus berulah.
"Kami bawakan oleh-oleh saat dinas ke Verheaven, ayo makan bersama. Oh ya, Pangeran Daniel menitipkan salam padamu" kata Pasha.
"Terimakasih, akan ku kabari kakek nanti" kata Erika.
"BURUNG INI!!!!" Teriak Ilman sambil menghempas si Elang karena terus menghalangi.
Erika kaget melihat itu.
"Hei! ribut-ribut apa itu?!" tanya Gibran.
"Oh, jangan terkejut. Hanya burung dan kuda sedang bermain" kata Dirga.
Erika, Aram, Pasha, Dirga, Ilman, Gibran, Andika, David, Wira, dan Nisa sedang duduk agak jauh dari makam Zeydan.
"Tapi tumben kau memakai mahkota, kau jadi terlihat lebih berwibawa" kata Aram.
"Ah, itu... " Erika mulai menceritakannya.
Flashback...
"Erika, mama kembali. Bisa kemari sebentar?" kata Amanda sambil duduk di singgasana istana Carna setelah dari Verheaven.
"Mama-... maksudku, Yang Mulia Ratu Aliana" kata Erika.
"Kenapa kamu jadi kaku gitu? ini mamamu lho? kakak kembarmu sopan, tapi gak terlalu kaku" kata Amanda keheranan.
"Eh? benarkah? tapi, ada apa gerangan anda memanggil saya?" tanya Erika sambil menunduk hormat.
"Itu... ini, maukah kamu pakai mahkota ini? ini dulu dipakai olehku saat Kakakku masih memerintah kerajaan ini" kata Amanda.
"Mahkota... Putri?! tapi, itu hanya untuk Putri kerajaan Carna kan? saya kurang pantas" kata Erika.
"Jangan begitu, bahkan ketiga kakakmu memakai kufiya dan Mahkota perak" kata Amanda sambil memakaikannya pada Erika.
"Selamat datang kembali ke kerajaan, Tuan Putri Erika Ameera Ramanathan. Terimakasih atas kerjasamamu di Dimensi Astral. Istirahatlah dengan benar selama 4 tahun ini" kata Amanda sambil tersenyum.
Erika tercengang.
Flashback Off...
"Oh, memang bener sih. Tapi jadi Putri jangan galakan amat, kau kan kandidat pemimpin kerajaan" kata Aram.
"Ah, iya" kata Erika yang agak kaget karena Aram tiba-tiba jadi suka basa-basi.
"Haha, jangan terlalu kaget kenapa Aram tiba-tiba basa-basi begitu, Erika" kata Gibran.
"Benar, Aram tidak sekaku dan sedingin itu" kata Ilman.
"Ha? memangnya dulu aku seperti apa?" tanya Aram.
"Y... ya... " Dirga kehabisan kata-kata.
"Hahaha!" mereka semua tertawa.
"Disini selalu saja suasananya bagus" kata Nisa.
"Pasha, sebaiknya kau berikan pada Erika" bisik Ilman.
"Kurasa kau benar, ini waktu yang tepat" kata Pasha.
"Ng?" Erika hanya kebingungan.
"Ini, kau ingat ini?" tanya Pasha memberikan selembar foto.
Erika terbelalak.
"Eh!? I... ini kan!?" tanya Erika.
"Ya, kita sempat berfoto bersama saat pergi ke Magnaga City untuk melakukan penelitian rahasia, karena tertarik dengan seorang tukang foto yang lewat kan? dan kita malah lupa mengambilnya, syukurlah kalau Ilman masih menyimpan alamatnya" jelas Dirga.
"Dan paman tersebut memasukkan foto-foto itu ke dalam album" kata Ilman.
"Tapi banyak hal merepotkan terjadi hingga albumnya terlambat terkirim dan baru sampai sepekan yang lalu, ada gambar Komandan Meghan, Salsa, Zeydan, dan ini" kata Pasha sambil memperlihatkan sebuah gambar.
Erika melihat salah satu foto yang diberikan Pasha itu, di dalamnya ada fotonya dan Zeydan berdua.
Flashback saat penelitian di kota Magnaga...
"Zeydan, kenapa kau melamun!? ini kesempatanmu untuk mengambil banyak gambar!" kata Pasha.
"Ah, ya... kau benar" kata Zeydan.
"Hm... " Zeydan bergumam dan mengarahkan pandangannya ke seluruh ruangan, tapi pandangannya berhenti dengan melihat Erika yang sedang menata tasnya.
Kebetulan Zeydan melihat kain putihnya ada di atas meja karena Erika sedang menata tasnya.
GYUT! Zeydan mengalungkan kain putihnya ke pergelangan tangan Erika dan menariknya.
"Eri, kau sudah selesai? ayo kita foto bersama" kata Zeydan.
"Eh? a... apa?" tanya Erika.
"Zeydan memukul Erika!!" teriak Salsa yang heboh.
"Apa!!? Zeydan!? berani-beraninya kau pada Erika!!" kata Ilman.
"Hah? apa yang kau bicarakan?" tanya Zeydan dengan tenang, sedangkan Erika mukanya agak memerah.
"Bukan seperti itu, ayo cepat ambil foto keluarga" kata Zeydan yang sisi pipinya ada garis-garis merona.
"I... iya"
"Mendekatlah" kata Zeydan.
"A... Aku tahu" kata Erika.
"Duh, disuruh mendekat malah menjauh, sini" kata Zeydan dan akhirnya mengikat pergelangan tangannya dan Erika di kain putihnya.
"I... iya"
CEKREK!!
Flashback Off...
Tes... Tes... Air mata Erika menetes.
"Aku pikir... sepertinya, Zeydan tahu apa yang akan terjadi di masa depan karena dia peringatan yang diberikan padanya, makanya dia bertekad untuk menjadi lebih kuat agar bisa melindungi Yun-chan dan Pasha" kata Andika.
"Iya, saat perjalanan ke Magnaga dengan kapal juga, Zeydan melarangmu pergi, artinya dia pikir kalau kau seperti akan meninggalkannya" kata Dirga.
"Jadi, Zeydan mungkin meninggalkan gambar ini untukmu, ini seperti... hadiah yang sengaja ia persiapkan. Jadi Erika, jagalah dengan baik" kata Pasha.
"Ya... " kata Erika sambil menangis.
"Iya, akan kujaga... akan aku jaga" kata Erika sambil menangis pelan.
Ilman dan Gibran mengerutkan keningnya karena sangat kasihan pada Erika, sedangkan Aram yang berdiri mengalihkan pengalihannya dengan memegang lengannya karena tak tega melihat Rivalnya.
Erika yang menangis akhirnya mendekap foto itu.
Nisa dan Andika bertatapan, hati mereka serasa hancur diinjak-injak melihat Erika yang bersedih.
"Erika... " kata Pasha yang kasihan.
"Maaf, aku baik-baik saja... terimakasih Pasha, aku sudah lama tidak melihat wajahnya, aku merindukannya" kata Erika sambil memandang foto yang ia pegang.
"Sejak awal aku selalu berpikir, bahwa aku tidak akan bisa melupakan Zayn" kata Erika.
Ilman melihat Erika.
"Tapi... aku akan menyimpan kenangan yang diberikan Zayn padaku, dan menyimpannya baik-baik, aku harus bisa belajar untuk melepaskan dan merelakan Zayn, aku yakin bisa melupakannya... tapi mengingat kenangan bersamanya akan selalu aku kenang. Karena... aku tidak pernah melupakan satu hal, yaitu Zayn akan selalu ada disisiku, disisi kita" jelas Erika.
"Iya... " kata Pasha yang tersenyum menatap sahabat satu-satunya itu.
"Hei, ayo kita foto bersama setelah ini!" kata Andika.
"Kau benar, kita tidak akan tahu apakah seseorang mungkin akan tiba-tiba meninggal besok" kata David.
"Dav, jika itu benar-benar akan terjadi, kau tidak akan tertawa jadi hentikan ini" kata Wira.
"Hm... aku pikir aku terhindar dari itu" kata David.
"Hentikan itu!" kata Ilman.
Sedangkan Elang milik Erlan hanya terbang setelah menatap Erika.
Di istana Carna...
"Zaki, kau berkunjung?" tanya Amanda melihat sahabatnya.
"I... iya"
"Kenapa kayak sungkan? lama gak ketemu kayak gini ya? hei kawan!" kata Amanda dengan nada akrab.
"Anu, apakah kau... " Zaki menghentikan kata-katanya.
"Kau?" tanya Amanda.
"Apakah... kau... " Zaki menghentikan kata-katanya.
"Ehem!!" kata Edward dengan tatapan mencekam.
"A... Apaan sih?" tanya Zaki.
"Ahaha... " Amanda mengerutkan keningnya.
"Sebenarnya, apakah kau marah?" tanya Zaki.
"Eh? soal apa?" tanya Amanda.
"Anu, kau pernah berkata soal penerawangan yang pernah kau lihat sekilas" kata Zaki.
"Oh itu" kata Amanda sambil mengolah beberapa berkas.
"Iya"
"Kurasa... itu adalah masa depan sekilas nya milik Zeydan" kata Amanda.
"Eh?".
"Iya, karena aku melihat semuanya pas, dan aku hanya menduga itu adalah masa depan milik Zeydan" kata Amanda.
"Maafkan aku" kata Zaki.
"Ya, karena Zeydan melakukan semua kekacauan ini, aku tahu dia mencoba untuk menyelamatkan semuanya dengan membunuh Chandra, tapi bukannya menemukan jalan keluar dia malah masuk ke kandang buaya" kata Zaki.
"Tidak"
"Eh?" tanya Zaki.
"Aku yakin, kalau Zeydan hanya ingin melindungi Erika dan Pasha" kata Amanda sambil menaruh berkasnya.
"Apa!?" tanya Zaki.
"Maksudmu apa, Yumna?" tanya Edward.
"Kau tidak ingat, Zaki? saat aku tanpa sadar tiba-tiba mengatakan..."
Kalau kau ingin menyelamatkan Erika dan Pasha, serta yang lainnya... kau harus bisa mengendalikan dan menjaga kekuatan yang diturunkan turun temurun oleh pasukan pemberantasan dari 300 tahun yang lalu!
"Iya, aku ingat... dan aku memberikan Morph-x pada Erika, tak ku sangka saat itu Erika memberikannya pada Komandan Pasukan dan kepada Nisa, lalu Nisa berhasil menyuntikan serum yang dicampur Morph-x, dan berhasil membuat Andika kembali semula" jelas Zaki.
"Ya, saat itulah aku tahu... seberapa jahatnya Zeydan, dia takkan pernah menelantarkan, ataupun membiarkan sahabatnya tiada, aku sangat mengenal Zeydan. Dia sangat menyayangi Erika dan Pasha" jelas Amanda.
"Mungkin itu hanyalah peringatan melalui kejadian terlintas saja. Tidak ada hubungannya dengan penerawangan, haha" kata Amanda agak tertawa.
"Zeydan... " Zaki menangis.
"Sebagai orang tua yang dianggap oleh Zeydan, aku bangga padamu dan Nina karena telah mempunyai anak seperti Zeydan yang penuh rasa kasih sayang terhadap orang-orang yang amat berharga baginya" jelas Amanda.
"Aku tak marah sama sekali, karena Zeydan tak sengaja membuat perang kehancuran dunia astral keempat karena dia terjebak akan sikapnya yang suka merepotkan dan membahayakan orang lain, aku memakluminya" jelas Amanda.
"Terimakasih" kata Zaki sambil tersenyum.
"Sama-sama" kata Amanda sambil tersenyum.
"Ok, aku sudah janji pada Andika, Erika dan yang lainnya untuk membantu mereka berpartisipasi dalam latihan mereka" jelas Amanda.
"Apakah ada ide?" tanya Edward.
"Tentu saja, idenya adalah... "
Di lapangan...
"Na.. Nama sandi?!" tanya mereka.
"Ya, kalian akan menulis julukan dan memasukkannya dalam kotak. Lalu akan ku sebutkan namanya dan kalian ambil satu kertas dan itulah nama sandi kalian" jelas Edward.
"Dan, aku akan menjadi target. Kalian harus membuat noda yang akan mengenai titik pusat panah kertas yang ditempel di punggungku" jelas Amanda.
"Jadi saat latihan di arena sampai hari ini berakhir kalian harus memakai nama sandi, Paham?!" tanya Amanda.
"Eh?!... Y-YA!!"
"Tapi tenang, aku juga punya nama Sandi" kata Amanda.
Akhirnya... Arena latihan, dimulai!
Di hutan arena latihan...
"Si kuda bucin! si kuda bucin!" bisik Dirga menggunakan walkie talkie.
"Sudah ada pergerakan?" tanya Dirga.
Sementara itu Ilman...
"Belum, botak berambisi! The Flawless belum menunjukkan pergerakannya!" kata Ilman, julukan : "Si kuda bucin".
"Si culun pintar akan menyusun rencana penjebakannya, jadi tunggulah!" kata Ilman.
-Si culun pintar : Pasha.
Di tempat Pasha...
Gibran melihat Amanda dan menarik pompa pistolnya.
"Oke, ayo!" batin Gibran.
ZRAAK!! Amanda langsung berlari ke belakang mereka dengan sangat cepat sampai-sampai mereka kaget.
"Lambat sekali kalian! sampai-sampai membuat musuh kabur! apakah ini yang kalian punya saat menghadapi perang dulu?!" tanya Amanda sambil berlari, julukan : "The Flawless".
"Terutama Dirgapati gadungan!!" seru Amanda.
"Ukh... " gumam Gibran, julukan : "Dirgapati gadungan".
"Jika menggunakan senjata api seperti pistol, pegang pada ketinggian siap tembak!" kata Amanda.
"Ck, gak bakalan kami biarkan kabur!" kata Gibran.
Pasha masih bersembunyi dan memperhatikan orientasi.
"Ahli pesulap! dia ke arahmu!!" seru Pasha dari walkie talkie.
-Ahli pesulap : Wira
Akhirnya Wira bergerak dan berpencar ke arah yang berbeda.
"Siap!" kata Wira.
ZRAK! Amanda berlari melewati Wira.
"Ah, dia ke arah lain?" tanya Wira.
Gibran mengambil alih komunikasi, ia dan Pasha adalah pengatur rencana.
"Silent palsu! si sombong gaje!!" kata Gibran lewat walkie talkie.
-Silent palsu : Nisa
-Si sombong gaje : David
"Ya!" kata David dan Nisa yang mengurus sisanya.
Di atas pohon...
"Buat lensa pengarah di senapan ini mengarah ke target, dan... " Gumam Dirga sambil menarik pelatuk senapan.
PSYU!! Bunyinya tidak keras karena memakai peredam suara.
Amanda terbelalak dan tersenyum lalu menatap pohon di belakangnya sambil berlari.
"Bagus, Botak berambisi" batin Amanda sambil berlari dan tersenyum.
"Yes!" kata Dirga.
Dirga menembak tapi tidak mengenai titik pusat target.
"Tapi masih belum cukup! mendapatkan satu skor dariku bukan berarti kalian berhasil!" kata Amanda yang tetap berlari.
"Petinju Tsundere! Putri Kitagawa! aku bisa menghindari serangan tembak kalian!" kata Amanda yang melihat ada yang bersembunyi di semak-semak.
-Petinju Tsundere : Aram
-Putri Kitagawa : Erika.
Aram dan Erika terbelalak.
"Dia... tahu, urus yang disebelah sana! Si culun pintar!!" seru Erika.
"Siap! ayo! Silent Palsu, Si Sombong Gaje!" kata Pasha diikuti Nisa dan David di belakangnya.
"Siap!" kata Nisa dan David.
Amanda terbelalak dan menghindari serangan tembak dengan cepat.
Amanda bersembunyi di balik batu yang ada di hutan itu.
"Mereka berhasil menyembunyikan diri sambil menembak, ini pasti rencana Si Culun Pintar" batin Amanda.
"Menjaga jarak dari belakang dan menunggu kesempatan, Botak berambisi dan Si Kuda Bucin juga hebat" batin Amanda saat melihat Dirga dan Ilman mendekat.
"Dirgapati Gadungan memblokir jalan kabur!" batin Pasha.
"Kalau gitu kami serahkan padamu..." batin Pasha.
Di selatan hutan...
"... Maniak Fisika!" batin Pasha.
Andika bersembunyi diantara semak-semak sambil tengkurap dan bersiap dengan senapannya, dan melihat Amanda memperhatikan sekitarnya.
-Maniak Fisika : Andika.
Andika menarik pelatuk senapannnya.
DOR!!! Peluru langsung menuju ke arah The Flawless.
Amanda berhasil melindunginya setelah ia memakai jurus Autotomi dengan membuat batang kayu tersamar menjadi dirinya.
"Ah... " Gumam Andika yang terkejut.
"Maniak Fisika!! anggap targetmu selalu waspada!" kata Amanda dari kejauhan.
"Aku tahu... tapi bukan aku yang akan mengalahkanmu" batin Andika sambil tersenyum dan membuat telunjuknya berdiri dan telunjuknya menunjuk Amanda.
Amanda terbelalak karena ada yang salah.
"Putri Kitagawa!" batin Andika saat melihat Erika melompat dari atas pohon dan bersiap dengan dua pistolnya.
"Ukh... " Gumam Erika yang melompat dari atas pohon dan akan menembak.
Amanda terbelalak dan berbalik.
DOR! DOR!
Akhirnya latihan selesai...
Mereka semua beristirahat di halaman istana.
"Bagaimana? memakai nama sandi seharian?" tanya Zaki.
"Sangat... menderita" kata mereka.
"Apa maksudnya Botak Berambisi?!" tanya Dirga.
"Ya karena kau memang botak" kata Gibran.
"Berisik! Dirgapati gadungan!" kata Dirga.
"Mama, kenapa hanya aku yang memakai marga asli? aku... agak benci Kitagawa saat mengetahui fakta yang dilakukan Kitagawa dulu" kata Erika.
Amanda terdiam.
"Ya, meski begitu... hanya ingin memperkuat saja, saat melakukan gerakan keren tadi, 'Putri Kitagawa' lebih cocok sepertinya. Entahlah siapa yang menamaimu begitu" kata Amanda.
"Huhuhu... " Ilman bersiul.
"Itu lu ya?" Gumam Aram.
"Sebenernya ada maksud tertentu orang tua memberikan nama yang kalian miliki sekarang, bertujuan sebagai doa, dan juga harapan dan semangat untuk anaknya" kata Amanda sambil tersenyum.
"Jadi, maukah kamu menghargai marga Kitagawa selagi kami membersihkan marga tersebut?" tanya Amanda.
"Sampai... Pasukan pemberantasan dibubarkan, bagaimana?" tanya Amanda.
Erika terdiam.
"Baiklah" kata Erika menyetujuinya sambil tersenyum.
"Tapi dengan stamina dan cara kalian latihan tadi, apakah pelatihan yang kalian ambil di gerakan pemberantasan menjadi memudar?! lembek sekali tadi" kata Edward.
"Tu... Tunggu Kapten" kata Amanda.
"Berisik, si gak peka" kata Erika sambil pergi.
"A... apa?!" tanya Edward, julukan : "Si Gak Peka".
Mereka semua tertawa.
Pasha tersenyum.
"Zeydan... sepertinya kau benar, kalau Erika akan tahu kalau kau itu tidak membencinya dan selalu peduli padanya" batin Pasha.
Bonus gambar...