Between Curse and Peace

Between Curse and Peace
Season 2 Episode 24 : Penyerangan



Karena serangan bayangan milik Suanggi itu membuat lubang tepat di ruang tamu.


"Gawat! Mama! kita harus membiarkan mereka yang melawan makhluk astral itu! ayo kita bersembunyi di ruang bawah tanah!" kata Vandro.


Bella sangat kaget sampai-sampai terbelalak mendengar perkataan Putranya.


"Saya hanya bercanda!!" kata Vandro.


"Kita harus bersiap!" kata Andika dengan pedangnya.


"Hahaha!! Seru sekali bukan?" tanya Si Manis.


"Ca... Cantik juga" kata David.


"Masa selera mu rendahan gitu sih, Vid?" tanya Wira.


"Waktunya bermain!!" kata Si Manis sambil melemparkan payungnya ke rumah bagian ruang tamu, tapi yang mengherankannya, payung itu memantul ke sana kemari.


Vandro memeluk Ibunya untuk melindunginya.


"Ini benar-benar seru!!" Seru Si Manis.


"David! Wira! kalian atasi yang laki-laki, aku akan mengurus yang perempuannya untuk melindungi Nyonya Bella!" kata Andika.


"Bella?" tanya Si Manis, Suanggi juga terdiam.


"Oh, jadi begitu... Bella Kencana? si Subjek Pandora dari Pilar medis pasukan Pemberantasan? si Subjek Buronan itu? pasti Tuan Chandra akan memberikan banyak kekuatan Pandora pada kita kalau kita ikut membawa Subjek Buronan itu!" kata Si Manis dengan antusias.


"Begitu? sepertinya bagus juga" kata Suanggi.


"Ok! permainan payung di lanjutkan!!" Seru Si Manis sambil mengendalikan payungnya ke sana kemari di dalam ruang tamu yang menyebabkan ruang tamu hancur dan hampir runtuh.


"Ukh!" Vandro terkena ujung payung di bagian jantungnya karena melindungi ibunya.


"Vandro!" Bella memeluk anaknya.


"Paman!!" Seru Andika dan akan menyerang Si Manis.


"Eh? Andika!! Awas!" teriak David.


"Apa!?" tanya Andika saat melihat ke arah sampingnya kalau payung dengan ujung itu akan ke arah kepalanya menuju ke arahnya.


"Sekarang! waktunya ucapkan selamat tinggal kepada kepalamu! aku akan mengambil energimu setelah kau mati!" kata Si Manis.


DUAK!


"Ukh!!" Andika terjatuh dan berbalik kenapa dia tidak terkena payung itu, padahal dia yakin sekali payung itu tepat mengarah ke sampingnya.


"David!!" Seru Wira.


Andika berbalik ke belakangnya, terlihat David terbaring miring ke arah kanan dengan payung yang menancap ke kepalanya, yang membuat darah bercucuran.


"David!! apa... apa yang kau lakukan, Dasar....!?" bentak Andika dengan membendung air matanya.


"Kau,... bilang ingin melindungi adikmu Putri Erika kan? karena kau juga... mengemban janji kau takkan mati sebelum Dirgapati hancur bukan? kau juga... sudah berjanji pada ibumu, Ratu Aliana" kata David.


"David!" kata Wira.


"Hmf... dan karena itulah seharusnya kau belum boleh mati Andika" kata David yang diantara simbahan darahnya menutup matanya sambil tersenyum dan menatap dua sahabatnya.


Andika memeluk David sambil mencabut payung yang menancap di kepala sahabatnya dengan perlahan lalu memegangnya.


"Wira... maafkan aku, tapi apakah kau bisa membawa David pergi dari sini?" tanya Andika dengan suram.


"Ba... baiklah" kata Wira sambil perlahan melepaskan jubahnya dan mengikatkannya ke kepala David lalu menggendongnya.


"Wira!" panggil Bella dan mengisyaratkan kepadanya agar menyerahkan David padanya agar di obati.


"Kau cukup berani untuk melukai sahabatku?" tanya Andika dengan mengaktifkan Turquoise-nya sambil menangis.


"Akan... ku buat dirimu merasakan hal yang sama" kata Andika, dan Turquoise-nya sampai ke tahap Angry Turquoise.


Si Manis agak terbelalak melihat Turquoise-nya Andika.


"Heh, bahkan setelah terlukanya temanmu, kau masih juga punya harapan ya?" tanya Si Manis.


"Aku sudah selesai Andika" kata Wira.


"Makasih, Wira... kumohon, jangan mati" kata Andika.


Wira menatapnya.


"Itu tergantung takdir" kata Wira.


"Kau harus tetap tegar dan bersiap apa yang terjadi, dan tahulah dirimu meski kau bersembunyi di benteng yang kokoh, kau akan terus di ikuti kematian dan akan pergi bersamanya jika sudah waktunya" kata Wira.


"Wira... " Andika langsung bersiap menggunakan pedangnya.


"Waktunya pemanasan selesai! ayo! kita bermain!" kata Si Manis sambil melemparkan payungnya.


Andika bergerak tanpa mengenai payung itu dengan Turquoise-nya.


"Bagaimana bisa dia bergerak secepat itu?" batin Si Manis.


"Bagaimana dia bisa membuat payungnya terpantul-pantul? dia hanya melemparkannya saja, eh? dia hanya sendiri? dimana yang hantu laki-laki tadi?" batin Andika.


Andika mengayunkan pedangnya ke arah Si Manis tanpa celah sedikitpun, Si Manis yang sadar payungnya mendekat padanya langsung mengambil payungnya dan menangkis serangan pedang Andika.


"Eh? Dia seperti sadar kalau payungnya mendekatinya, apa jangan-jangan dia tak mengendalikan payung itu?" Andika mengaktifkan Turquoise-nya dan melihat ke sekeliling lingkungan.


"Suanggi itu!! jangan bilang dia yang mengendalikan payung itu dengan ilmu Hitam bayangannya?" batin Andika.


"Ini lagi satu bikin geli!" batin Andika.


"Andika!!" Seru Wira.


Andika langsung melompat untuk menghindar dan Wira langsung mengisi tempatnya untuk melawan Si Manis.


"Kau sudah mengerti kan!? cepat! urus sisanya!" kata Wira yang menghadapi Si Manis.


"Terimakasih Wira!" kata Andika dan pergi.


"Ck! pengganggu!" kata Si Manis.


Andika langsung melompat di satu dahan pohon ke dahan yang lainnya untuk mencari Suanggi.


"Itu dia!!" Andika langsung pergi ke arah Suanggi dan langsung menaburkan bubuk Bidara ke pedangnya.


"Gawat! dia menyadari keberadaanku!" batin Suanggi.


CTRANG!! Andika berhasil menebas lehernya dan Suanggi langsung hancur menghilang karena reaksi Bidara.


"Baiklah, satu selesai... tinggal satunya lagi" kata Andika dan menuju ke tempat Wira.


Di Tempat Wira...


Wira sedang menahan serangan payung Si Manis.


"Baiklah! Pantulan payung!-.... eh? Suanggi!?" tanya Si Manis yang mulai tak merasakan keberadaan Suanggi.


"Kau tidak bisa memantulkan payung itu sekarang! karena temanmu itu, sudah ku bunuh!" kata Andika yang tepat berada di belakang Wira.


Si Manis mundur beberapa langkah.


"A... apa?" tanya Si Manis.


"Bayangan yang tak terlihat itu milik Suanggi yang kau maksud, dan akhirnya aku berhasil mematahkan ilmu hitamnya dan membunuhnya" kata Andika.


"Bagus Andika!" kata Wira.


CRAK!! Andika langsung menusuk jantung Si Manis dengan pedangnya.


"Maafkan aku, aku tahu kau tidak bersalah, tapi... membunuh orang itu tetap tak bisa di maafkan kecuali kau merasa bersalah" kata Andika sambil mengambil batu Mustika Delima Merah milik Si Manis.


"Setelah misi ini selesai, kita serahkan pada Nona Meghan" kata Andika pada Wira.


"Kau benar" kata Wira.


"Andika!" panggil Bella.


"Nyonya Bella!" kata Andika yang berlari menghampiri Bella bersama Wira.


"Masuk lah ke ruang bawah tanah, ikuti aku" kata Bella.


Di Ruang bawah tanah...


"Eh? David!? bukankah... bagaimana kepalamu!? kenapa kau masih hidup!?" tanya Andika.


"Kau pikir aku sudah mati?" tanya David.


"Syukurlah... " kata Wira.


"Jangan berbuat yang tidak-tidak lagi! tapi aku bersyukur, karena kau aku masih hidup.... terimakasih" kata Andika sambil memeluk David.


"Hii... " kata Wira yang geli.


"Duh! lepas!" kata David.


"Lepaskan temanmu, Andika" kata seseorang.


"Pa... Paman Vandro!? kau juga masih hidup?" tanya Andika.


"Ya"


"Bagaimana bisa? kalian berdua masih hidup?" tanya Andika.


"Aku membawa mereka ke ruang bawah tanah atas bantuan Wira, dan mengobati mereka dengan penawar yang ku teliti" kata Bella.


"Terimakasih banyak, Nyonya!" kata Andika.


"Berhentilah terlalu dekat dengan Ibuku!" kata Vandro.


"Tidak apa-apa Vandro, toh dia juga berterima kasih bukan?" tanya Bella.


Andika tersenyum, karena sikap Bella yang selalu tenang meski marah itu mirip sekali dengan Ibunya.


"Apakah anda baik-baik saja?" tanya Andika.


"Tentu, apakah kalian akan pergi misi?" tanya Bella.


"Benar, kami harus melanjutkan misi kami" kata David.


"Anda tak apa-apa kami tinggalkan?" tanya Wira.


"Aku tentu harus membeli rumah dan kediaman baru, untuk menghindari Chandra, tenang saja... kami baik-baik saja" kata Bella.


"Baiklah... terimakasih untuk semuanya, sampai jumpa!" kata Andika.


"Ya!"