
"Sudah berapa suntikan? apakah tidak masalah menyuntiknya dengan sebanyak itu?" tanya seorang pengawal pada Vandro yang mengobati Andika.
"Diam, dia sudah terlalu lama terkena serangan Chandra... jadi kondisinya sangat buruk" kata Vandro.
"Kita harus membuatnya bangun" kata Vandro.
"Ah!!" seru seorang pengawal.
"Kau ini kenapa!?" tanya Vandro.
"Denyut nadi! aku merasakan denyut nadinya!" kata seorang pengawal.
"Ini lebih buruk daripada seseorang yang sedang koma, Andika mendekati ambang kematian" batin Vandro.
Di pertarungan...
Seorang pengawal sedang mengamati dari balik pohon.
"Wah! Ratu Aliana bergabung dalam pertarungan! mungkin kami bisa mengalahkan Chandra!" batinnya.
Amanda dan Chandra bertarung dengan sangat sengit sekali, sangat disayangkan, apabila saja Edward bergabung, maka Chandra akan lebih cepat dikalahkan.
Amanda dengan matanya yang tajam terus menangkal dan berusaha menyerang Chandra Nagata.
"Matanya itu.... sehabis membunuhku, dia ingin membuat hal yang lebih bahagia!? jangan harap, aku tidak akan membuatmu bahagia melebihi diriku! aku akan mencapai keabadian!" batin Chandra.
"Kau tidak akan bisa Chandra!!" seru Amanda.
"Heh... " Chandra tersenyum menyeringai.
Tiba-tiba... BRAAK!!!
"Eh? kenapa-... " belum selesai si pengawal bicara, di balik pohon Elena terluka amat parah dan terhantam, hingga bersimbah darah segar keluar dari tubuhnya.
Di sisi lain, dekat dinding pusat markas, Toni terlempar hingga dinding rusak parah, sedangkan Rahmat terhantam, David dan Wira terluka parah hingga kehilangan kesadaran.
Nisa bersimpuh lutut dan syok ketakutan melihat Chandra di depannya.
"Ayo! kau harus bangkit!" batin Nisa yang semakin ketakutan.
Chandra menatap Nisa, Chandra mengubah salah satu tangannya menjadi besi tajam dan akan menusuk.
JLEB!!!
Nisa membuka matanya, karena dia tak merasakan apapun, hanya ada cipratan darah di wajahnya.
Ternyata Amanda melindunginya, tapi Amanda yang tertusuk tepat di perutnya.
"Jangan... sakiti... dia!!" seru Amanda yang diujung mulutnya keluar darah.
"Aku cukup heran kenapa kau tidak menggunakan kekuatan Ryu?" tanya Chandra.
"Tapi... bukankah organ tubuhmu akan kaku bila merasakan aura darahku?" tanya Amanda dengan tersenyum.
DEG!! Organ tubuh Chandra langsung mematung kaku.
"Pantas saja aku merasakan ada aura darah lain di dalam tubuh para Pilar! Chandra sempat menduplikasi-kan sisa darahnya yang berada didalam tubuh para Pilar yang sedang dalam pemulihan karena disuntikkan dengan serum milik Nyonya Bella! lalu menyerang mereka disaat mereka tidak bisa bergerak karena darahnya! sempat sekali dia melakukan itu!! sekarang... Para Pilar sekarat!" batin Amanda yang kesakitan.
"Memang organku tidak akan bergerak sementara waktu jika aku terus merasakan aura darahmu, tapi. Kalau organ astralku yang bekerja itu tidak masalah kan?" tanya Chandra.
"Apa?! organ astral?!" batin Amanda sambil mengaktifkan Silentnya.
"Organ astralnya! untuk apa ia menggunakannya? karena organ astralnya tidak bisa dibuat menyerang!" batin Amanda.
"Baiklah... sekarang akan kurebut Ryu darimu" kata Chandra sambil memegang astral Liontin Amanda dan langsung tertarik ke alam segel.
"A...Apa?! J.. Jangan!" kata Amanda.
*****
Chandra melihat Aika yang sedang duduk.
"Kau... jadi kau Chandra Nagata?" tanya Aika dengan aura wajah menyeramkan.
"Dia... Fujiwara Aika, lawan Tuan Pascal dan Kanjeng Nyai Bestari dulu! dia terlihat sangat berwibawa dibandingkan Kara lainnya" batin Chandra.
"Wadahku ini, kita berdua sama-sama sudah pernah merebut sesuatu yang amat berharga darinya, kita juga sama-sama pernah hampir membunuhnya" kata Aika.
"Kalau begitu, menyerahlah sekarang, ku maklumi kau sekali. Pahamilah dulu posisimu, rendahan" kata Aika sambil mendorong Chandra keluar dengan radiasinya.
*****
Chandra termenung dan terdiam, namun sadar setelah Amanda menebas wajahnya dan terdapat goresan diwajahnya dan meregenerasikannya kembali.
Amanda akan menyerang, namun Chandra harus sigap atau tidak maka ia bisa merasakan aura darah si Fujiwara itu.
TRING!!! Chandra menarik tangan besinya dari Amanda.
"Uhuk!!"
Chandra akan menebas, Amanda memeluk Nisa.
Tiba-tiba tangan Chandra yang menjadi besi tertebas dan putus, sedangkan Amanda dan Nisa sudah berada jauh dari Chandra, karena seseorang sudah menyelamatkan mereka berdua.
"An... dika!?" tanya Amanda.
"Andika... Andika... " kata Nisa sambil menangis.
"Benar... maaf aku terlambat, Ibu" kata Andika.
"Tolong, rawat Ibuku dan Nisa" kata Andika pada seorang pengawal.
"Baik!"
"Wah... Kau terlihat sangat mengerikan, Kitagawa Kenzo" kata Chandra saat melihat wajah Andika yang begitu mengerikan karena luka bakar.
Andika langsung mengumpulkan kekuatannya di punggung tangannya yang terdapat logo kutukan Pandora.
"Inti Pandora... aktifkan!!" Andika langsung mengaktifkan Turquoise miliknya dan mengepalkan tangannya yang diselimuti aura kekuatan kutukan Pandora.
NGING!! Telinga Amanda bergaung, tentu saja, Andika adalah seorang Fujiwara dan menggunakan kekuatan Inti Pandora yang dimana Pandora termasuk kekuatan Fujiwara, dia jadi terkoneksi dan terhubung.
Di benteng...
"Gawat... jika aku terus memaksakan mengaktifkan Silent ku yang hanya tinggal satu maka, mataku bisa buta! bagaimana sekarang?!" batin Edward yang matanya mulai buram.
SWING!!!!! Semua Subjek Pandora abnormal hancur menjadi abu bagaikan ditiup angin.
"Apa?" tanya Ilman.
"Subjek Pandora abnormal nya... hancur" kata Aram.
NGING!! telinga Edward dan Erika langsung terkoneksi dan bergaung.
"Kak Andika... " gumam Erika yang melepaskan tangannya dari kupingnya dan tersadar kalau Andika menggunakan kekuatan Pandora.
"Kenzo sudah berusaha sebaik mungkin dengan menghancurkan Subjek Pandora abnormal! ia pasti tidak bisa menggunakan sepenuhnya karena Zeydan memegang kendali yang sama! cepat!" kata Edward sambil memulihkan pedangnya.
"Tapi dengan makhluk astral yang masih..." Aram menghentikan kata-katanya.
"Dan rupanya, banyak sekali rubik yang sama disini! gara-gara itu Rubik Zeydan jadi tersamarkan! yang mana ini?!" tanya Gibran yang melihat banyak Rubik yang sama dengan Rubik yang mengurung Zeydan.
"Kita takkan bisa mendekati Rubik Zeydan kalau begini terus!!" kata Dirga.
"Kami akan melawan makhluk astral sembari melindungi Dirga dan Ilman" kata Gibran dengan Aram di sampingnya.
"Ck, aku tidak ingin di lindungi olehmu!" kata Ilman.
"Anggap saja, itu yang bisa membuatku impas atas hal yang kulakukan pada Ikram" kata Gibran.
"Untuk hal itu... kau tidak akan pernah bisa membayarnya bahkan mengembalikan Ikram kembali, walaupun kau membawakanku mata air dari tujuh samudera, Ikram adalah manusia, bukan barang yang hanya bisa dijual beli dimuka umum" kata Ilman.
"Begitu, kalau begitu... maafkan aku" kata Gibran.
"Kalian! aku, Erika, dan Kapten akan ke rubik Zeydan! kalian kumohon urus makhluk astralnya!" kata Pasha.
"Aku akan berusaha dan mengumpulkan tenaga untuk mengaktifkan kembali Silent ku!" kata Erika.
"Jangan! bagaimana jika kau mati Pasha?! meski kau Subjek Pandora!" kata Dirga.
"Apakah kau tidak waras, Erika?! jika kau mati maka Mamamu akan sedih!" kata Ilman.
"Mama akan menerima semuanya, bahkan dirinya rela berkorban demi mengakhiri perang ini. Aku sudah bertekad akan berjuang seperti dirinya dan menghentikan Zayn. Dasar... " kata Erika.
"Ayo!" kata Kapten.
Pasha menatap Aram.
"Selamat tinggal"
Pasha, Edward, dan Erika berhasil melewati para makhluk astral yang diurus Gibran, Aram, Ilman, dan Dirga.
Erika mengaktifkan Silent nya.
"AAAKH!!!" Seru Erika, kepalanya tiba-tiba pusing.
"Gawat! Hei!! kendalikan dirimu! hanya kita yang bisa membunuh, Zeydan!" Seru Edward.
"Aku... tidak tahan lagi!!" batin Erika yang kesakitan.
Erika saking sakitnya bahkan tak bisa mendengar teriakan Edward dan hanya bisa mendengar kerusuhan teman-temannya yang melawan para makhluk astral.
"Aku hanya ingin... kita seperti dulu lagi!! aku mohon..."
"Zayn... "
*****
Erika tertidur.
"Eri... Eri" kata seseorang.
Erika membuka matanya.
"Za... Zayn!?" tanya Erika melihat Zeydan di depannya.
"Iya, ini aku... kau bisa masuk angin jika disini, masuklah ke dalam" kata Zeydan.
"E... Eh!? apa!?" Erika bingung melihat dirinya sedang duduk di teras rumah asing, karena seharusnya dia ada di medan perang bersama pasukan aliansi.
"Malam ini, aku akan memasak jika kau lelah, baiklah... sebaiknya kita akan-... eh?" tanya Zeydan saat melihat Erika.
"Eri? kenapa kau menangis?" tanya Zeydan.
"Entahlah... aku seperti tidak pantas disini" kata Erika.
"Apa yang kau bicarakan? apakah kau sakit? kau mungkin habis mimpi buruk, masuklah kedalam kalau begitu" kata Zeydan sambil merapikan beberapa barang.
"Zayn... " Erika tersenyum.
"Mungkin itu hanyalah mimpi saja, Zayn tidak mungkin menjadi jahat" batin Erika.
"Ya-.... " Erika akan berdiri tapi tiba-tiba dirinya tersentak karena sebuah memori terlintas dipikirannya.
Aku selalu selalu dan selalu bahkan sangat benci padamu
DEG!!! Erika kaget, kenapa? hal itu tiba-tiba terlintas dipikirannya?.
"Ini... Dimensi paralel?" tanya Erika.
Zeydan menatap Erika.
"Kupikir kau tidak akan mengetahuinya, rupanya keinginanmu untuk mengakhiri perang ini telah memberikanmu jawaban ya?" tanya Zeydan.
"Zayn... kau..." Erika menghentikan kata-katanya.
"Iya benar, ini adalah dunia cerminan nyata, ini hanya dunia ilusi yang bertolak belakang dengan yang asli, aku membawamu kesini karena tahu hanya kau yang bisa ku selamatkan dalam Perang Kehancuran Dunia Astral keempat yang ku perbuat. Haha, lucu ya... aku dalangnya tapi aku juga yang mundur" kata Zeydan.
"Aku juga mendatangi teman-teman kita dengan Dimensi paralel, dan berbicara pada mereka, kuharap mereka mengerti, alasan aku bergabung dengan Chandra adalah ingin membunuh Chandra" kata Zeydan.
"Maksudnya?!" tanya Erika.
"Kau mungkin takkan mengerti sepenuhnya" kata Zeydan.
"Disini, aku ingin kau membuat pilihan, Eri... kita berada di Dimensi yang bertautan dengan jurus ruang dan waktu, kita akan melompat ke masa depan dan hidup bersama dengan damai, hanya berdua saja, itu tujuan ku, baiklah, pilihan pertama... kau bisa keluar dari Dimensi ini dan membunuh diriku yang ada di rubik bersama pasukan aliansi"
"Pilihan kedua : Atau kah kau mau disini bersamaku berdua saja" kata Zeydan.
Erika terbelalak, mendapati dia harus memilih pilihan.
Di pertarungan...
"A... Aku... harus bertarung!" kata Amanda.
"Jangan! Tante masih terluka sangat parah!" kata Nisa sambil menangis.
"Aku, bisa menghentikan... pendarahan ini!" kata Amanda.
"Akan berbahaya kalau ada yang sampai mati lagi... bagaimana ini? matahari seharusnya tak lama lagi akan terbit" kata Amanda.
"Tolong rawat luka anda dulu! saya yakin, Putra anda Andika bisa mengatasinya!" kata seorang pengawal.
"Andika... "
Bagaimana tidak khawatir? Andika adalah Putra Sulungnya, dia tak ingin Andika mengemban semua beban berat yang ia tinggalkan. Faktanya, Amanda sendiri tidak terlalu memperhatikan pertumbuhan dan perkembangan Andika selama ini.
"Ck! luka tusukan ini membuatku hampir tumbang, Chandra mencampur Darahnya yang membuat sel-selku hampir berada dibawah kendalinya, karena aku adalah Fujiwara, Chandra takkan bisa membuatku dibawah kendalinya, aku harus bisa menangkal darahnya lewat Tanda Ninjaku" batin Amanda.
"Meski dengan kekuatan pedang Fujiwara, diriku yang seorang Fujiwara, Silent, dan... jurus topan dibalik awan milik Akira-san... kenapa?! Chandra tidak terkalahkan?!" batin Amanda dengan menahan sakitnya.
"Ayah, Ibu, Kak Andra, Kakek, Kak Ratri,... Erlan... Akira-san maafkan aku, aku minta maaf!! mengalahkan saja aku tidak bisa! apalagi balas dendam!!" batin Amanda sambil menangis.
"Akira-san... aku minta maaf, aku minta maaf karena ini! aku minta maaf! sangat..."
"Aku benar-benar minta maaf... "
Di tempat Andika...
"Aku merasa putus asa karena tidak bisa mengalahkan Chandra Nagata setelah saat aku ambruk dan sekarat terkena darah Chandra, entah kenapa Ibu memegang kepalaku dan aku seperti mempunyai kekuatan besar namun tak bisa mengendalikannya"
"Dan langsung tertarik ke kenangan lama dimana aku melihat kakek bertemu Akira-san. Dan begitu tersadar, aku langsung mempunyai energi besar, dan akhirnya mempunyai Inti Pandora, mungkin artinya mungkin itu faktor yang kudapat karena aku seorang Kitagawa, atau juga bukan. Andai saja benar, aku ingin merebut koordinat Zeydan"
"Aku mendapat banyak pengajaran dari Akira-san, meski aku tidak banyak berpengalaman dan tidak terlalu kuat dalam menggunakan pedang, tapi aku menggunakan kekuatan kutukan Pandora, aku tidak tahu apakah itu adalah memori atau apapun, Akira-san adalah orang yang sangat rendah hati" batin Andika yang mendeteksi serangan Chandra dan menggerakkan pedangnya dengan mengandalkan intuisi dan matanya.
"Nenek, memiliki tampilan amarah yang benar-benar mengerikan tapi itu membuat Akira-san tersenyum tulus karena merasakan kehangatan keluarga, Kakek bahkan memperhatikan beberapa gerakan jurus Akira-san dengan sangat teliti dan dapat menirunya, Akira-san menyebut ini adalah Topan dibalik awan"
"Sejak awal, tujuan Akira-san mengunjungi kakek dan nenek adalah ingin mengembalikan keahlian Fujiwara dalam membangkitkan tanda ninja, jadi dia memberikan batu cincin miliknya kepada nenek, dia juga ingin agar tanda ninja Fujiwara tak jatuh ke tangan yang salah"
"Aku mengerti dan berpikir disitu kalau Akira-san tidak akan pernah berkunjung kembali, dan kakek berkata... "
"Akira-san! aku berjanji akan mengembalikan kembali hak Fujiwara, juga mewariskan tekad dan semangatmu pada generasi selanjutnya! dan takkan membiarkan kecepatan tanda ninja dan tekad yang kau berikan jatuh ke tangan yang salah!"
Akira-san berbalik.
"Terimakasih banyak" Akira-san tersenyum benar-benar tulus dan melambaikan tangannya.
"Dan dariku Akira-san... terimakasih karena kau telah menemukan kelemahan Chandra akan sinar matahari! terimakasih karena kau mempercayai Nyonya Bella yang kau percayai, terimakasih karena kau membuat pasukan pemberantasan menjadi lebih kuat! disini... Chandra akan kami kalahkan demi meneruskan tekadmu" batin Andika.
Andika maju dengan cepat menggunakan Turquoise-nya.
"Aku mengerti sekarang... alasan kenapa serangan Chandra seperti Astral, karena... Chandra mempercepat serangannya menjadi seperti tak kasat mata, dikarenakan dia juga mengambil energi kecepatan dari Zeydan, mereka bagaikan koneksi yang terhubung! Ibu pasti juga sudah tahu teknik Chandra sampai-sampai dia bisa menghindari dan menebaknya!"
Andika menyelipkan dirinya di antara serangan tentakel Chandra yang sangat cepat.
Chandra menatap Andika dan sekilas langsung terbayang akan Akira.
"Pemandangan menyebalkan ini!!" seru Chandra.
"Kalau begitu, jika aku menghubungkan teknik Akira-san yang digunakan Ibu, aku tidak boleh menggunakannya secara sembarangan, harus berurutan! dari pertama hingga teknik ke tujuh! dengan koneksi yang berputar!"
Basa-basi dan Fakta 😋
Andika dan Zeydan memiliki inti Pandora yang sama namun berbeda koordinat, Andika bisa mengendalikan Subjek Pandora manapun sesuai kehendaknya, sayangnya Andika tidak terlalu melatih kekuatannya itu.
Sedangkan Zeydan mengendalikan makhluk astral dan Subjek Pandora karena sudah terlatih, namun apabila Andika sudah bisa menggunakan Inti Pandora, maka Zeydan takkan bisa mengalahkan ataupun merebut koordinat milik Andika karena Andika memiliki darah bangsawan Fujiwara sebagai pemegang kutukan Pandora.
Mau bagaimanapun, tergantung Inti Pandora dan koordinat yang mereka miliki berbeda-beda, seperti contohnya Pascal yang menggunakan Inti Pandora untuk memanipulasi ingatan.