Between Curse and Peace

Between Curse and Peace
Season 2 Episode 28 : Kematian Farel



Farel mulai bersiap dan maju dengan pedangnya.


CTRANG!! PRANG!! TRAK!! Pedang Farel dan matanya yang setajam burung hantu, dan kecepatan juga ketelitian seperti Singa.


"Kakak Pilar ini, mempunyai semua keahlian hewan mulai dari Penciuman bau dan aura, Penglihatan tajam, Kecepatan yang melebihi manusia pada umumnya, dan ahli dalam bertahan hidup serta bersembunyi untuk mengamankan diri dari musuh, pantas saja dia menyandang dan menjadi Pilar Fauna" batin Andika.


"Andika! Wira masih bernafas! tapi dia banyak terkena pendarahan!" kata David.


Andika melakukan pengobatan Astral dengan memberikan energi nya pada Wira untuk mempercepat regenerasi penyembuhan, dia belajar cara itu dari Bella dan memiliki banyak energi karena dia punya darah Fujiwara.


Andika mengobati Wira sambil mengaktifkan Turquoise-nya.


"Wira baik-baik saja, sebelumnya detak jantungnya melemah, tapi kini sudah membaik... regenerasi-nya sudah berakhir yang artinya lukanya juga sudah hampir sembuh seutuhnya" Jelas Andika.


"Syukurlah! tapi... kenapa, Wira masih pingsan?" tanya David yang masih khawatir.


"Dia pingsan karena rasa sakit yang di dapatnya dari tertimpa batu besar tadi" kata Andika.


"David... aku mohon jagalah Wira, kalian berdua harus tetap hidup, selain Nisa kalian berdua juga adalah sahabatku yang berharga, kumohon jangan mati" kata Andika dengan menunduk.


David terdiam dan mengerutkan keningnya, karena sebenarnya dia tak takut mati karena sudah tahu resiko bergabung pada Pasukan Pemberantasan, dia juga ingin melindungi Andika bersama Wira.


Wira memegang tangan Andika perlahan.


"Dasar... semua yang bernyawa pasti akan merasakan yang namanya kematian kau tahu? kenapa kau masih naif, Andika?" tanya Wira yang lemah.


"Wira!" kata David.


"Wira... " Andika menaruh kepala Wira ke pangkuannya.


"Apakah... jangan bilang kau trauma karena kepergian orang tuamu?" tanya Wira.


Benar, Andika adalah orang yang sanggup menutupi perasaan sedihnya sepertinya mendiang ibunya. Dia menuruni Ibunya yang bisa menahan rasa sedihnya dan berpura-pura senang karena tak suka membuat khawatir.


"Aku... "


"A... Ah, oh ya! Wira! kau istirahatlah" kata David, dia tahu kalau Andika takkan bisa berkata-kata kalau di hadapan Wira.


"Yah, aku... ingin istirahat sebentar" kata Wira sambil menutup matanya.


CTRANG!!! Sabetan pedang dan tumpuannya membuat Andika sadar kalau dia membiarkan Farel bertarung sendirian.


Andika menaruh Wira yang tertidur dengan pelan lalu menuju Farel.


Farel melompat untuk mengambil ruang.


Andika menggantikan posisi Farel dan melawan Subjek Pandora Wanita, Andika menahan tebasan tangan Subjek Pandora wanita yang memakai topeng itu dengan pedangnya, Andika terpaksa menggunakan pedangnya karena tangan Subjek Pandora wanita itu mengeras.


"Kenzo!! jangan langsung melawannya! kau belum tahu secara langsung apa gerakan yang dia lakukan!" Seru Farel yang bertapak di pohon karena kepalanya berhasil di lukai hingga bersimbah darah.


Andika tak bisa mendengarkan secara jelas perkataan Farel karena harus fokus dengan pertarungannya.


"Apa yang kakak Pilar katakan? aku tak bisa mendengarnya dengan jelas! pergerakan beladiri nya hampir tak memiliki celah kalau aku tak menggunakan Turquoise! aku bisa-bisa mati jika hanya sekali berkedip!" batin Andika.


Subjek Pandora Wanita mengumpulkan tenaga penghancur di tangan kanannya dan membentuk tinju. Teknik asal Fujiwara yang dapat menghancurkan batu dengan sekali tinju.


Farel sangat terbelalak.


"Kenzo!!! Awas!!" Seru Andika.


Andika tak sempat menghindar dan kaget melihat Subjek Pandora Wanita yang akan menyerangnya.


DUAK! Farel mendorong Andika agar tidak terkena serangan, dan serangan tenaga penghancur yang di keluarkan oleh Subjek Pandora wanita itu langsung menusuk tembus ke jantung Farel dan membuat sisi ujung mulut Farel mengeluarkan darah.


Farel terbelalak melihat dirinya di serang sekaligus bersyukur karena Andika tidak terkena dampak serangannya.


Subjek Pandora Wanita langsung mencabut tangannya dari jantung Farel dan menendang Farel hingga terpental.


BRAK!! Farel terjatuh karena di tendang.


David langsung menyerang Si Subjek Pandora Wanita, tapi si Subjek Pandora Wanita itu langsung menghilang dan pergi, sedangkan Wira yang tersadar langsung ke tempat Farel.


Andika ingin mengejarnya, tapi dia melihat kondisi Farel yang bersimpuh lutut.


"Kak... Kak Farel!" Andika menangis karena itu.


Farel hanya bisa menghembuskan nafas berkali-kali karena tak tahu harus apa.


"Jangan menangis, tertawa lah... jika tidak, maka kau akan terlalu terlibat semakin dalam dengan masa lalu" kata Farel sambil tersenyum.


"Aku... ingin memberikan permintaan untukmu, Kenzo. Tolong pergilah ke Dunia nyata dan tolong jenguk ayahku... katakan padanya untuk selalu jaga kesehatan" kata Farel dengan pelan sambil tersenyum.


"Ya! ya! aku akan memberitahunya dan menyampaikan pesanmu! aku janji akan menepati janjiku! tapi, tolong! kau jangan pergi! kau belum menepati janjimu untuk mengajari kami kan!?" tanya Andika dengan menangis.


"Andika... " gumam Wira yang sedang menahan pendarahan Farel dari punggungnya sambil menangis.


David hanya memejamkan matanya dengan erat sambil menangis.


"Maaf ya, aku belum bisa mengajari kalian satupun, tapi kalian bisa menanyakannya pada Harimau-ku, kalian sudah menemuinya?" tanya Farel dengan lembut.


"Ya, dia juga yang mengantar kami ke stasiun... dia juga sangat baik sepertimu kak!" kata Andika sambil menangis.


"Terimakasih kalau begitu, aku sepertinya sudah gak bisa lagi di selamatkan... tidak perlu mengobatiku Wira, terimakasih" kata Farel sambil tersenyum.


"Kak! aku akan meneruskan tekad semangat apimu yang membara! aku berjanji tidak akan terkena ambisi Kutukan Pandora! meski kau mati, aku akan pastikan kalau tekad dan tujuanmu untuk memusnahkan semua sekte dan organisasi akan tercapai!" kata Andika dengan antusias sambil menangis.


Farel ternganga melihat Andika yang seperti itu, dia ternganga bukan karena meremehkan Andika tapi karena tahu kalau Andika adalah orang-orang yang punya tekad tinggi dan juga mempunyai harapan besar.


Farel tersenyum.


"Terimakasih... Kenzo, Bukan... Andika" kata Farel dan memejamkan matanya sambil tersenyum dengan mulut terbuka dengan posisi bersimpuh lutut.


Wira yang terkejut langsung memeriksa denyut nadi Farel.


"Dia... sudah meninggal" kata Wira sambil meneteskan air matanya.


Andika menangis terisak-isak mendengar pernyataan Wira, sedangkan Wira menempelkan lengan kanannya ke bagian mulut dan hidungnya sambil menangis pelan.


"Apa yang kalian lakukan!? kenapa kalian malah menangis!? kalian tida menepati janji! bukankah, kak Farel mengatakan kalau Jangan menangis, tertawa lah... jika tidak, maka kau akan terlalu terlibat semakin dalam dengan masa lalu" kata David dengan menahan air matanya yang tumpah.


"Bodoh kau David! kau sendiri menangis!" kata Wira.


"Apaan!? ini hanya debu! aku gak menangis!!" Seru David yang menyangkal.


Andika mengusap air matanya dan Turquoise-nya aktif.


"David... Wira... tolong bawa jasad Kak Farel ke markas untuk di otopsi dan di urus dengan layak, aku akan mengurus soal gunung berapi nya dan ke kediaman kak Farel" kata Andika dengan aura amarah yang memuncak.


"Kau yakin?" tanya Wira yang melihat Andika membelakanginya sambil memakai tas.


"Aku juga akan memberikan berita dan menyebarkannya pada markas melalui burung gagak milik kak Farel" kata Andika sambil terus berjalan.


"Ya, akan kami lakukan" kata David.


"Oh ya... satu hal lagi" kata Andika.


"Kalian jangan sampai mati"


Kepergian Andika dan kematian Farel diiringi dengan terbitnya matahari dari timur tapi tak secerah biasanya... kali ini berwarna abu-abu, bagaikan semesta yang juga ikut menangisi kepergian Farel, si Pilar Fauna.