Between Curse and Peace

Between Curse and Peace
Episode 10 : Pemilihan



Di istana...


Amanda masih sibuk dengan pekerjaannya.


"Permisi, Yang mulia" kata penjaga.


"Ng? iya, ada apa ya?" tanya Amanda.


"Begini, ada surat yang muncul secara tiba-tiba di depan gerbang istana, karena di segel dengan teknologi canggih semacam nya kami pikir mungkin ini di tujukan kepada Anda, tapi tenang saja... kami telah memeriksa nya tapi tidak pada isinya" kata Penjaga sambil menyerahkannya pada Amanda.


Amanda memegang tempat surat yang di segel yang sebesar botol air minum.


"Bagaimana pemeriksaan di luar tempat surat ini?" tanya Amanda.


"Kami tidak menemukan adanya bahaya apapun" kata Penjaga lagi.


"Begitu, terimakasih ya... " kata Amanda.


"Terimakasih kembali Yang mulia" kata Penjaga dan pergi keluar sambil menjaga ruang kerja Amanda lagi.


"Suratnya di segel sedemikian rupa? apakah sepenting itu?" tanya Adin yang dulu menjadi ketua HMJ saat Amanda belajar untuk S2 Farmasi.


"Aku tidak tahu, sepertinya tidak berbahaya? ng?" tanya Amanda.


"Surat yang di segel? ng? logo ini... berasal dari pasukan gerakan pemberantasan? dari Erlan? tumben sekali, biasanya dia memimpin gerakan pemberantasan di Verheaven" batin Amanda sambil membukanya.


"Logo pasukan gerakan pemberantasan sekte dan organisasi sesat?" tanya Adin.


"Kak Adin... " kata Amanda.


"Jangan panggil aku dengan kata 'kak' Yang Mulia, anda lebih tinggi dari saya" kata Adin.


"Tapi kau tetaplah kakak seniorku" kata Amanda sambil tersenyum.


"Tetap saja, saya tidak merasa enak" kata Adin.


"Baiklah, Adin... tolong bacakan suratnya, aku ingin menyelesaikan tulisan ini, tinggal sedikit lagi" kata Amanda.


"Baiklah"


Adin mulai membacakan.


"-Yang terhormat Ratu Aliana Jahzara Ameera... langsung ke intinya, saat kami menyelidiki tentang kasus makhluk astral yang memakan sadis para anggota pemberantasan, berikut laporan lengkapnya telah kami tindaklanjuti dan di simpan dalam flashdisk tersebut-


Dari : Lord Eight ( Erlan Ameera )-"


"Begitu? apakah ada flashdisk yang tersimpan bersama suratnya?" tanya Amanda.


"Ada... silahkan" kata Adin.


Amanda mulai memasang flashdisk di laptopnya.


DEG! Amanda terbelalak melihat yang dia lihat.


"Ya.. Yang mulia! barang yang berkaitan dengan sihir astral!? mustahil!" kata Adin saat melihat nya.


Amanda menyandarkan dirinya di kursi dan memegang jidatnya.


"Adin, tolong bawa barang itu ke laboratorium ku, aku yang akan menyelidikinya sendiri" kata Amanda.


"Tentu"


"Ayah... Ibu... sepertinya, dunia masih belum aman ya?" batin Amanda sambil memandang foto Ibu dan Ayahnya.


Di Sekolah Helvetia...


"Eh!? Poster pemilihan ketua OSIS?" tanya Zeydan yang bersama Ilman dan Ikram.


"OSIS itu apaan?" tanya Zeydan lagi.


"OSIS itu singkatan dari Organisasi Siswa Intra Sekolah" kata Erika yang tiba-tiba muncul.


"Astaghfirullah! hah! kaget! kirain! apaan tuh emang?" tanya Zeydan.


"Yah, seperti menjadi pemimpin dalam organisasi resmi sekolah begitu singkatnya, Dasar... " Kata Erika.


"Wah! sepertinya seru!" kata Zeydan.


"Aku tak akan kalah dari maniak sepertimu!" kata Ilman.


"Silahkan saja!" kata Zeydan.


"Hah! mulai lagi... " gumam Erika.


Keesokan harinya...


"Eh!? Kenapa mencari kandidat OSIS di tunda sampai 6 bulan ke depan!? itu namanya setengah tahun!" kata Zeydan.


"Ng? disini ada keterangannya" kata Erika.


"Mana!?" tanya Ilman.


-Mohon maaf untuk para siswa yang mencalonkan diri, kami menunda pemilihan ketua OSIS di SMP Helvetia di sebabkan karena ruangan khusus OSIS dan lainnya sedang di persiapkan dalam kurung waktu 6 bulan atau lebih, mohon bersabar-


"Aduh!! bikin PHP saja!" kata Ilman.


"Bersabar saja... ng?" tanya Erika.


"Ada apa, Eri?" tanya Zeydan.


"Tidak.... tidak apa-apa, anu! aku mau ke klub ninja dulu! dah!" kata Erika dengan berlari.


"Baiklah"


Akhirnya Zeydan mengikuti Erika secara diam-diam.


"Ng? Yun-chan? kenapa?" tanya Andika.


"Ng!? Sungguh!? kalau begitu, kita izin pulang sekarang!" kata Andika.


Setelah dari Ruang kepala sekolah, mereka izin pulang lebih cepat...


Mobil jemputan Andika dan Erika sudah sampai.


"Kak Andika! ada apa ini?" tanya Zeydan.


"Zeydan!? maaf, kami harus pulang" kata Andika.


"Tidak, jika kau katakan apa yang terjadi pada Erika!" kata Zeydan.


"Ck! kau memang selalu keras kepala!" kata Andika.


Zeydan hanya melihat Erika yang matanya di tutup perban.


"Hah!? kenapa mata Erika di tutup perban!? apa yang terjadi padanya katakan!" desak Zeydan.


"Zayn... aku baik-baik saja, hanya mataku mulai tidak melihat apa-apa, ku pikir mamaku akan tahu sesuatu yang terjadi" jelas Erika.


"Begitu"


"Kalau begitu kembalilah ke kelas!" kata Andika.


"Tidak! aku akan ikut!" kata Zeydan.


"Tidak boleh! kau belum izin!" kata Andika.


"Aku akan melakukan izin nanti! aku mohon izinkan aku, Pangeran!" kata Zeydan.


"Aku tidak bisa! kau tidak ada hubungannya!" kata Andika.


"Hah! ck! baiklah! cepat masuk mobil!" kata Andika.


Sesampainya di sana...


Di Ruang keluarga...


"Ng... jadi perih ya? dan mulai gelap? Erika... apakah akhir-akhir ini kau menggunakan Silent-mu?" tanya Amanda.


"Eh? hanya saat episode 6" kata Erika.


"Erika, bukankah Mama pernah pesan agar tidak menggunakan Silent secara sembarangan? kakakmu juga saat Turquoise saat itu dia merasa perih karena menggunakannya sembarangan" kata Amanda.


"Turquoise itu mata khas klan Kitagawa ya, Bu? kalau Silent itu Fujiwara?" tanya Andika.


"Benar, Ibu kalian bahkan hampir mengalami kebutaan karena terlalu sering memakai Silent" kata Erlan yang tiba-tiba muncul.


"Erlan!? kenapa tiba-tiba muncul?" tanya Amanda.


"Sungguh? gimana ceritanya?" tanya Erika.


"Sudahlah, lupakan saja... tapi apakah kalian ingat bagaimana Andika mendapatkan Turquoise-nya?" tanya Amanda.


"Gimana tuh emang?" tanya Zeydan.


"Pernah... dia pernah menyangka kalau Turquoise itu adalah Silent"


Flashback...


Andika berumur 12 tahun...


"Hoaam!!" Andika baru bangun tidur di hari libur.


"Ng? Eh!?" tanya Andika yang matanya melihat koin yang terhalang objek.


"Ke.. Kenapa begini? dan aku juga bisa merasakan aura orang lain! jangan-jangan... " Andika langsung mengambil cermin dan melihat matanya berwarna merah.


Flashback Off sementara...


"Kenapa merah, Tante? bukankah Silent itu umumnya hijau?" tanya Zeydan.


"Yah, tapi kebanyakan orang itu mendapati Silent-nya warna lain karena sesuai mood masing-masing, kalau Turquoise itu memang dasarnya warnanya merah" Jelas Amanda.


"Lalu, kenapa kak Andika bisa melihat koin yang terhalang objek?" tanya Erika.


"Itu karena dia memiliki darah Silent di tubuhnya" kata Amanda.


Lanjut Flashback...


"Ma.. Mata ini!? jangan bilang!? Silent!?" tanya Andika.


"YUHU!!!"


CEKLEK!


"Hoaam! jangan bikin ngantuk napa sih kak?" tanya Erika.


"Eri, ya?" tanya Andika menggunakan kacamata hitam sambil bergaya.


"E.. Eh? Iya, Dasar... " kata Erika.


"Tahu gak!? mulai sekarang, kita akan punya mata ajaib!" kata Andika.


"Ha?"


Beberapa jam kemudian...


"Aku pulang" kata Erlan.


"Ng? selamat datang" kata Amanda.


"Ng? suara apa itu di atas?" tanya Erlan seperti mendengar suara tendangan di lantai dua istana..


"Hah... itu Andika? agak aneh, itu alasan aku memanggilmu" kata Amanda.


"Sungguh?" tanya Zaki, dia adalah Ayah Zeydan.


"Zaki juga datang?" tanya Amanda.


"Dia ingin membantuku membawakan beberapa dokumen" kata Erlan.


"Baiklah, sebaiknya kalian berdua ikuti aku dan lihat apa yang di lakukan Andika" kata Amanda.


Erlan dan Zaki bertatapan tidak tahu dan mengikuti Amanda ke ruang keluarga.


DRRK! Andika sedang bergaya dengan kacamata dan Erika hanya membaca buku dengan reaksi datar.


"Papa, Kak Andika bertingkah aneh sejak tadi pagi! dan itu membuatku kesal, Dasar... " kata Erika.


"Eh? ada Ibuku tersayang dan Ayah yang tidak pernah mempedulikan anaknya ya? Paman Zaki juga disini?" tanya Andika dengan pose bergaya.


"Iya, Andika tersayang" kata Amanda sambil tersenyum.


"A.. Ayah yang tak pernah memedulikan anaknya?" batin Erlan.


"Pfft! kena karma lo, Lan!" gumam Zaki.


"Kak Andika bertingkah aneh terus kerjaannya" kata Amir, dia adalah anak kedua.


"Terserah itupun kami tak peduli" kata Umar, dia adalah anak ketiga. Amir dan Umar adalah saudara kembar.


"Anu, apa yang terjadi padamu Andika?" tanya Erlan.


"Iya, kenapa kamu kayak gini?" tanya Amanda.


"Ibu! tahu gak!? aku baru saja menemukan hal yang luar biasa! awesome! amazing! and magic!" kata Andika.


"Indifferent" gumam Erika.


"Uninterested" kata Amir dan Umar.


"Kalian!" kata Andika.


"Hihi, emangnya apa?" tanya Amanda.


"Aku baru saja mengaktifkan mata Silent!" kata Andika.


"Eh!?" tanya Zaki.


Amanda menutup mulutnya karena kaget dan tak percaya, Erlan terbelalak.


"Kau serius, Andika? apakah kau habis melakukan latihan keras? atau trauma? ataupun kalau tiba-tiba kau sedang di penuhi rasa amarah saat berlatih atau bertengkar dengan temanmu? atau-..." tanya Erlan yang belum selesai bicara.


"Tidak! aku tidak melakukan apapun! sungguh! aku bisa melihat barang yang terhalang objek! aku bahkan bisa merasakan aura orang-orang yang di istana! aku sungguh-sungguh!" kata Andika.


Erlan menatap Amanda.


"Hah.... Andika, Ibu memang percaya kok, tapi... sebagai Putri Silent, meski seseorang adalah keturunan Fujiwara, tapi belum tentu semua keturunan itu bisa mengaktifkan Silent tanpa amarah yang di buat suatu hal, atas trauma, atau ada dorongan sebuah hal, dan latihan yang keras" Jelas Amanda.


"Begitu ya?" tanya Andika.


"Akan lebih baik jika kau konsultasi pada Paman mu, Andra" kata Amanda.


"Paman Andra!?" tanya Andika.


"Ya, meski kakak mempunyai Silent yang tidak murni, dia bisa membantumu" kata Amanda.


"Baiklah! ayo kita ke tempat Paman Andra sekarang!" kata Andika.