Between Curse and Peace

Between Curse and Peace
Season 4 Episode 15 : Movement



Meghan yang dibawa pasukan Rebellion melihat ada gunung berapi yang baru saja meletus.


"Eh? itu... adalah tempat penyelidikan Edward" batin Meghan.


Akhirnya Meghan memeriksanya.


"Komandan, jangan gegabah" kata Vincent.


"Hei!! kau masih hidup kan-... eh!?" Meghan kaget yang dia rangkul adalah Edward yang wajahnya terluka parah akibat letusan lava gunung berapi.


Pasukan Rebellion tidak menyadari itu Edward, karena wajah Edward yang robek.


WHOSSH!!! Tiba-tiba hujan abu tipis muncul, perhatian pasukan Rebellion teralihkan oleh hujan abu tipis itu.


Meghan juga kaget melihat hujan abu tipis yang muncul sehabis letusan gunung berapi, namun ia menyadari inilah kesempatannya.


Meghan mendekap Edward dan langsung melompat ke sungai di depannya.


CBYURR!!!


"Gawat! mereka melarikan diri!" kata Vincent sambil menembaki aliran sungai bersama salah satu pasukan Rebellion.


DOR! DOR!


"Vincent! kita tidak punya waktu! jika kita tidak segera pergi dari sini, maka pasukan Rebellion akan banyak yang tumbang karena hujan abu tipis! dan kita tidak akan bisa kabur karena hujan abu tipis akan menyelimuti sekitar hutan" kata salah satu temannya.


Akhirnya mau tidak mau pasukan Rebellion harus mundur sambil membawa sebagian besar dari mereka yang terluka.


Meghan keluar dari sungai dan mencari tempat yang aman dan tak terkena lava gunung berapi dan mengeluarkan alat-alat medisnya.


Sementara itu di markas...


"Yun-chan... " Andika terus mengkhawatirkan adiknya begitu dia mendapatkan kabar kalau pasukan Rebellion menahan pasukan angkatan 85 yang pergi bersama Meghan.


"Andika, kita harus tenang sedikit... para Pilar sedang mencoba sebaik mungkin" kata Nisa.


"Tapi Adikku!" kata Andika.


"Andika!" kata Nisa.


"Tapi... dengan tidak adanya dua Pilar di Dimensi astral-... " belum selesai Wira bicara.


BLETAK!!! Nisa memukul kepala Wira.


"Wadaw!! sakit!!" kata Wira.


"Ck! bagaimana dengan Adelia?" tanya Andika.


"Adelia sedang ada di Istana Carna untuk pengamanan" kata David.


"Begitu" kata Andika.


"Andika... maaf jika lancang, tapi apakah kau marah pada Zeydan?" tanya Nisa.


"Marah ataupun tidak sekarang tak ada gunanya Nisa" kata Andika.


"Maaf, tapi... kita hanya bisa menunggu" kata Doni.


"Kita ke perpustakaan saja untuk mencari tahu informasi mengenai makhluk astral, bagaimana?" tanya Doni.


"Aku, harus ke kamarku, maaf ya" kata Nisa.


"Ajaklah Andika, aku dan David ingin ke kamar masing-masing" kata Wira.


"Ayo Andika" kata Doni.


"Doni, kau satu-satunya yang paham akan kondisi ku... aku mohon, mengertilah diriku" kata Andika.


Doni menatap Andika.


"Yun-chan... maksudku, Erika Ameera. Dia adalah satu-satunya adikku yang dekat denganku saat ini, dialah yang satu-satunya bersamaku dan berjuang sebagai prajurit sekaligus pasukan bersamaku" jelas Andika.


"Karena itulah, sebagai janji yang akan terus kupegang teguh, aku akan melindunginya dari marabahaya apapun itu selagi aku masih hidup" kata Andika.


"Kau tidak sendirian" kata Doni.


Andika menoleh ke Doni.


"Aku... lari dari rumah, karena perselisihan soal properti harta warisan kakekku yang akan jatuh kepada aku dan kakak nanti. Itulah alasan kakak lari dari rumah karena ditelantarkan atas kebencian yang ditumpahkan padanya karena dia mengambil hak waris" jelas Doni.


"Akhirnya aku lari dari rumah dan menjejaki dimana kakakku berada, karena aku sudah menemukannya... hal yang kucari sudah ada didepan mata"


"Maka dari itu aku tidak akan berpaling meski dia bertolak belakang dari sikapnya, aku akan melindunginya dan disisinya" kata Doni.


"Kita sama-sama akan melindungi adik dan kakak kita" kata Doni sambil memegang bahu Andika.


"Kita harus percaya, mereka akan baik-baik saja, karena panik akan membutakan pikiran" kata Doni.


"Baiklah... terimakasih Doni"


Sementara itu para Pilar...


Elena hanya memijit pelipisnya karena keributan para Pilar.


"Kita harus terus mengawasi agar tidak ada lagi mata-mata!" kata Ersya.


"Itu benar, kerugian yang dicapai gerakan pemberantasan akan semakin meningkat!" kata Toni.


"Bagaimana? ada kabar dari Meghan dan Edward?" tanya Rahmat.


"Belum, gagak yang mengantarkan pesan saja tidak ada, artinya kita sedang terputus kontak dengan mereka berdua, yang artinya telah terjadi sesuatu dengan mereka dan ini gawat" kata Elena sambil memeriksa jendela sesekali.


"Kita... harus membuat Lord Fifth terus aman" kata Vanora.


"Benar, karena beliau adalah pemimpin pasukan pemberantasan, lagipula pola kesempatan Chandra Nagata menyerang kita bisa didapatkan kapan saja" kata Rahmat.


"Apakah ada tanda-tanda yang menjanggal adanya penyusup?" tanya Ersya.


"Aku sudah pernah melihat ada sebuah bola mata asing yang mengawasi pasukan pemberantasan saat patroli dengan jurus bayanganku, mungkin saja itu yang membuat pasukan Rebellion tahu tentang gerakan pemberantasan tanpa perlu mencari tahu dengan menyusup" kata Elena.


"Ayo kita awasi dan patroli markas sekitar!" kata Elena.


"Ya".


Elena mengawasi bagian taman dan menyusuri dengan bayangannya.


Vanora menyusuri area ruangan para Pilar dengan auranya.


Ersya mengawasi dengan kamera CCTV yang sudah dia letakkan di tempat terpisah.


Rahmat menyelidiki bagian gudang dan ruangan yang dipakai.


Sedangkan Toni dibagian area latihan.


Toni terus saja bergumam kesal.


"Kalau saja si Zeydan itu ada disini, aku pasti akan memberikannya hukuman setimpal akibat karena mengkhianati pasukan pemberantasan!!" kata Toni.


"Gerakan pemberantasan lemah katanya!? dia saja yang gak tahu kalau bagaimana rasanya di tebas oleh pedangku! Chandra Nagata ya, aku benar-benar marah sekarang!!" Seru Toni.


"Ng?" Toni melihat ada sesuatu.


GREP!! Dan mengambilnya dengan sangat cepat.


Toni perlahan membukanya.


"Ng? apa-apaan ini!?" tanya Toni melihat sebuah bola mata yang hancur karena kepalan tangannya.


Aku sudah pernah melihat ada sebuah bola mata asing yang mengawasi pasukan pemberantasan, mungkin saja itu yang membuat pasukan Rebellion tahu tentang gerakan pemberantasan tanpa perlu mencari tahu dengan menyusup.


Toni mengingat perkataan Elena.


"Gawat!! mereka sudah sampai sejauh ini!?" tanya Toni.


Di kediaman Lord Fifth...


Kediaman Pak Andi masih termasuk teritori markas, Pak Andi yang terbaring di kasur sangat lemah sedang dirawat oleh Ratri.


Tiba-tiba ada yang datang...


"Hei, jadi kau disini?"


Pak Andi berbalik perlahan.


"Senang bertemu denganmu... Chandra Nagata... " kata Pak Andi.


"Wah, Anda benar-benar terlihat mengenaskan, Lord Fifth" kata Chandra Nagata yang datang bersama Zeydan.