
Di Ruangan Pak Andi...
Pak Andi melihat foto yang ada di meja kerjanya, itu ada foto saat Amanda berfoto dengan dirinya, juga yang lainnya saat Amanda wisuda.
"Nak Ana... " batin Pak Andi.
"Permisi Lord Fifth" kata Arsya.
"Ya?" tanya Pak Andi.
"Meghan menemukan beberapa sinyal yang berasal dari aura makhluk astral terdeteksi sedang bergerak cepat ke arah markas" kata Arsya.
"Begitu... jadi? apakah sudah ada persiapan rencana?" tanya Pak Andi.
"Ada, Farel akan mengirim beberapa fauna terlatih untuk melacak" kata Arsya.
"Luas Dimensi Astral ini memiliki luas 23.455 hektar. Yang terbagi menjadi 4 arah yaitu : Timur, Barat, Selatan, dan utara... kirim pasukan di 4 lingkungan itu" kata Pak Andi.
"Baik!"
"Arsya... sebelum itu, tolong batalkan pertemuan para Pilar, saya harus pergi ke suatu tempat" kata Pak Andi.
"Tentu tuan Lord!"
Di Ruangan Edward...
Edward mendapat kabar tidak jadi rapat, jadi dia memutuskan untuk minum teh di ruangannya sambil mengingat saat dia membahas tentang keluarga dan leluhur dulu.
Flashback...
Di Istana Carna...
Edward sedang duduk di ruang tamu di ruang kerja Amanda sambil minum teh.
"Ah! ini dia Kapten, berkasnya" kata Amanda.
Edward menaruh cangkir tehnya.
"Berkas silsilah Klan Fujiwara turun temurun?" tanya Edward.
"Kau yang minta aku mengambilkannya kan?" tanya Amanda.
"Benar, maaf... aku lupa" kata Edward sambil membuka berkas itu.
"Yang aku selalu pertanyakan kan Kapten, kita adalah generasi ke sepuluh... tapi, generasi kedua? ketiga? sampai ketujuh tidak di jelaskan dalam berkas? bahkan aku tak bisa menanyakannya pada Aika" kata Amanda
"Di sebabkan, Kitagawa yang mempunyai hasrat seperti Pascal dulu itu yang membantai generasi Fujiwara dari pertama sampai ketujuh, tapi... kakek kita selamat, dan Fujiwara mulai berkembang kembali" Jelas Edward.
"Begitu ya, meski kita adalah sepupu tiri, aku sedang terus mencari tahu tentang kenapa Aika bisa menjadi Kara" kata Amanda.
"Kenapa tiba-tiba di bahas?" tanya Edward.
"Di lembar ke 8 berkas, aku menemukan informasi kalau anggota Klan Fujiwara tidak bisa menjadi Kara karena Klan Fujiwara itu sendiri yang memegang kendali Kara" kata Amanda, Edward langsung ke halaman 8.
"Kemungkinan besar, karena Morph-x lah satu-satunya yang bisa mengubah darah Fujiwara menjadi orang biasa" kata Amanda.
"Kau bilang Morph-x?" tanya Edward.
"Benar... Morph-x pasti sudah ada pada zaman Aika, zaman dimana Kerajaan El-Aoufi terbentuk, setelah ku teliti secara hati-hati dan mengambil sedikit darahku lalu mencampurnya... tiba-tiba aura darah Fujiwara yang ku uji coba dan di campur dengan Morph-x langsung berasa aura manusia biasa" Jelas Amanda.
"Darah Fujiwara benar-benar berbau tidak sama dengan darah biasa, yang baunya tidak amis meski di diamkan 6 jam... dan terkategori kebanyakan keturunan Fujiwara bergolongan darah Rh-null alias darah emas" Jelas Amanda lagi.
"Morph-x cairan yang diteliti ini terdapat campuran darah dari segala Klan yaitu dari Fujiwara, Taira, Kitagawa, dan Hasegawa... itulah kenapa mungkin jika di campur pada Aika yang sudah memiliki subjek Fujiwara di dalamnya... maka darahnya sebagai Fujiwara akan hilang dan dia bisa menjadi Kara" Jelas Edward.
"Dan jika orang yang mengonsumsi Morph-x dan orang itu adalah orang biasa maka orang itu bisa mempunyai kekuatan sebesar Kara... artinya, Kutukan Pandora bisa di gunakan secara ilegal hanya dari Morph-x saja" Kata Amanda.
"Pantas saja sebelum mati, Ray memberiku sampel DNA suntikan Morph-x yang ku sembunyikan di brankas bawah tanah" Jelas Edward.
"Kita harus merahasiakan penuh ini, karena jika Morph-x jatuh ke tangan musuh... maka mereka bisa mempunyai kekuatan sebesar Kara dan mengambil alih kotak Pandora" Jelas Amanda.
"Keistimewaan garis keturunan Fujiwara juga, tidak terpengaruh oleh sihir pelupa ingatan" kata Edward.
Amanda langsung membuka jendela di belakang meja kerjanya, Edward hanya melihatnya.
Amanda langsung naik ke pagar beranda.
"Yumna, itu berbahaya... duduklah dengan benar atau Ibumu akan memarahimu" kata Edward.
"Yah... tapi kurasa Ibuku akan mengizinkannya kalau tujuanku ingin melihat langit malam ini, kau ingin lihat kah Kapten?" tanya Amanda yang terus menatap langit tanpa melihat Edward.
Edward langsung dengan cepat ke pinggir beranda dengan jurus teleportasi dan melihat langit.
"Mungkin benar... dia takkan memarahimu kalau tujuanmu melihat langit ini" kata Edward.
"Aku ingin sekali memperlihatkan ini pada Erika, tapi dia masih berumur 1 tahun" Jelas Amanda.
"Begitu ya?" tanya Edward.
"Aku tak suka bertaruh untuk hal sepele" kata Edward.
"Tidak! tidak! bukan hal sepele, karena... jika suatu waktu dimana kotak Pandora tidak ada, semua manusia hidup aman... tapi, sayangnya di Dunia ini belum. Kita bertaruh! jika salah satu dari kita bisa bertahan hidup sampai 15 tahun ke depan maka dia pemenangnya? bagaimana?" tanya Amanda.
DEG!!
"Kau ingin bermain-main dengan maut ya? Jika kau berani-berani mati, aku akan mencongkel mataku" kata Edward.
"Dan jika kau berani-berani mencongkel matamu, aku akan mengikat rapi pita suaramu" kata Amanda.
"Ck! jangan bermain-main dengan maut, Yumna" kata Edward.
"Haha! anggap saja bercanda, lagipula jika aku mati... tetaplah lanjutkan hidup, jangan bawa aku yang sudah mati nanti kedalam pikiranmu terlalu dalam agar kau tidak tertekan ok?" tanya Amanda sambil tersenyum.
"Jangan bercanda Yumna!" kata Edward dengan serius.
"Haha! ya sudah, ku buatkan makanan dulu kau mau?" tanya Amanda.
"Kau bisa masak? aneh rasanya jika seorang Ratu memasak" kata Edward.
"Kau mau atau gak?" tanya Amanda.
"Cukup buatkan aku lemon tea" kata Edward.
Amanda langsung ke dapur yang terhubung dengan ruang kerjanya jika dia sedang sibuk.
Edward duduk di meja sambil memeriksa berkas.
Dalam 7 menit, Amanda membawa nampan dengan 2 piring dan dua gelas teh.
"Ck! sudah ku bilang aku hanya ingin teh" kata Edward.
"Dua piring ini untukku" kata Amanda.
Dan inilah yang tak disangka-sangka Edward, hanya sepupu tirinya yang bisa mengisi kekosongan yang ada selain Andra yang tak peka dan Meghan si tukang usil. Edward langsung menatap Amanda dengan kesal.
Amanda terkekeh
"Bercanda, ini untukmu... aku tahu kau lapar Kapten... aku tak akan meracunimu tenang saja! paling cuman ada reaksi sianida saja" kata Amanda.
"Yumna... "
"Bercanda!"
Tiba-tiba Erika datang tertatih-tatih.
"Erika!" kata Amanda sambil menggendong Erika.
"Kapten, kau ingin menggendongnya?" tanya Amanda.
"Ng? aku tak ada hak" kata Edward.
"Tentu saja ada! dia keponakanmu kan? haha!" tanya Amanda.
Erika hanya menatap Edward dengan menyebalkan, Edward kesal melihatnya.
"Tenang Erika, jangan tidak mau... Kapten akan menjagamu, benar kan?" tanya Amanda pada Edward.
Edward! Edward!
Flashback Off...
Edward ternyata tidur sambil mimpi saat dia dulu sedang berbincang dengan Amanda.
"Hoi! si maniak tak sayang nyawa!!" Seru Meghan.
"Ng? Kacamata menyebalkan? kenapa kau bisa masuk?" tanya Edward.
"Yah, karena kau tidak nyahut ku tendang pintunya eh hancur.. maap ye" kata Meghan.
"Ck! ini yang ke 27" kata Edward.
"Ng? Edward? kau nangis?" tanya Meghan.
"Ha?" tanya Edward.
"Air mata?" batin Edward.
"Oo!! bisa dijadikan free pass agar Edward nurut!" kata Meghan sambil memotret Edward.
"Hentikan itu!" kata Edward sambil mengambil sapu.
"Gak bakalan!"
"Hapus cepat!!"