
"Wah, ini racun yang kelima kalinya... dan masih belum mempan juga?" tanya D.
"Racunnya jadi semakin tidak efektif, berapa banyak racun yang bisa kau buat?" tanya D.
Meghan terengah-engah.
"Oh? apakah kau kesulitan bernapas? kau berkeringat banyak sekali, apa kau baik-baik saja?" tanya D.
"Inilah kekuatan dan keahlian Pasukan Dirgapati atas, racunnya sama sekali tidak bekerja... kekuatan daya tahan tubuhnya benar-benar tidak normal, terbukti sekali kalau dia meminum Morph-x bersama darah asing yang tak biasa dalam dosis yang tidak sedikit" batin Meghan yang kesulitan bernapas.
"Paru-paru-mu sudah mengalami nekrosis, pasti berat, kan? lagipula tadi kau sudah terkena Jurus Pandora-ku" kata D sambil tersenyum dibalik kipasnya.
"Dia mengubah sel-selnya menjadi kabut es, lalu menyebarkan dengan kipasnya, bernapas saja sudah berbahaya bagi tubuhku" batin Meghan.
"Aku akan memberikan racun yang banyak dengan memberikan serangan beruntun!" batin Meghan.
"Jurus medis... Botulinum toxin!!" Meghan langsung bergerak cepat dan akan menebas bersamaan dengan D yang juga menyerangnya.
"Kau cepat sekali! mungkin kau adalah Pilar tercepat yang pernah kutemui!" kata D.
TRAS!!! Tulang belikat Meghan dari kanan ke kiri tertebas gara-gara D.
"Dia... melukaiku!" batin Meghan.
"Harusnya kau cukup memenggal kepalaku, daripada meracuniku, kau mungkin bisa mengalahkanku dengan mengandalkan kecepatanmu, tapi sepertinya kau memiliki rasa kasihan yang tinggi ya? haha!" kata D.
Meghan terbelalak.
"Dia benar... meski aku suka menekan orang bahkan mematahkan jari mereka... aku memiliki rasa kasihan yang sangat tinggi, dan untuk mengubur dalam rasa kasihan ku itu... aku melakukannya dengan menyiksa musuh yang tertinggal bersama Edward dan mematahkan jari mereka satu persatu aku mungkin tak sekuat Yumna... tapi Yumna bahkan sama memiliki rasa kasihan yang tinggi juga, tapi dia mampu berkembang, sedangkan aku... tertinggal" batin Meghan.
"Semenjak, kakak bilang ia ingin hidup berdampingan bersama makhluk astral dengan damai... aku jadi memiliki rasa kasihan yang tinggi" batin Meghan sambil menangis tak bersuara sambil berlutut karena sakit ditubuhnya.
"Bertahanlah... jangan menangisi hal seperti ini" entah kenapa, Meghan bertemu kakaknya.
"Kakak!?" batin Meghan.
Sepertinya itu adalah tekad terakhir Miranda untuk Meghan.
"Berdiri" kata Miranda.
"Aku kehilangan banyak darah, aku tidak bisa berdiri... paru-paru kiriku juga sudah hancur, aku tidak bisa bernapas" batin Meghan.
"Itu bukan alasan, berdiri... Pilar pengintai dan medis, sekaligus Komandan pasukan pemberantasan kesepuluh, Meghan Sparkle" kata Miranda.
Meghan terbelalak, dan menyadari posisinya.
"Jika kau sudah bertekad mengalahkan Pasukan Dirgapati atas itu, kalahkanlah. Jika kau sudah bertekad untuk menang, menangkanlah. Menangkanlah walau harus berkorban kau... sudah berjanji pada para juniormu, Yumna, Edward, Nisa, dan aku" kata Miranda.
Meghan sangat terkejut mendengar itu dan memorinya terputar.
Tidak akan terjadi apa-apa kalau misalnya aku mati, aku takkan pernah bisa seperti Arsya, aku bisa mengorbankan diriku kapan saja, jangan cemaskan aku bila aku tiada nanti.
Meghan teringat dia mengatakan itu pada bawahannya angkatan 85 sebelum dia berpisah dengan mereka.
Kak Meghan, ingin mengalahkan Pasukan Dirgapati atas yang telah membunuh kakaknya kakak?
Benar, aku akan membunuhnya!
Kau benar-benar membuatku kagum! Dasar... kalau begitu berjanjilah padaku agar kau bisa membunuhnya!
Ya, aku berjanji, Yumna.
Meghan juga ingat saat dia berjanji pada Amanda sebelum Amanda meninggal.
Bulatkan hati dan keputusanmu, jangan pernah menyesal.
Haha!! baru pertama kalinya aku melihatmu berkata begitu!
Baiklah semuanya, selamat tinggal!
Meghan teringat perkataan Edward saat Edward menepuk bahunya
Meghan teringat juga dimana saat dia berjanji pada Nisa dan Miranda.
"Meghan" panggil seseorang.
"Eh!? Se... semuanya!? Arsya!? kau juga!?" batin Meghan saat melihat teman-temannya yang telah gugur, juga Arsya.
"Kau sudah bekerja keras dengan baik, teruslah berusaha... aku dan yang lainnya akan menunggumu" kata Arsya sambil tersenyum.
Meghan terbelalak.
Meghan akhirnya berdiri karena tekadnya terkumpulkan.
"Wah, kau masih bisa berdiri? kau ajaib ya? wah... apakah kau benar-benar manusia? haha" kata D yang kagum bengong pelongo.
"Tulang selangka, Tulang belikat, Paru-paru, dan Tulang rusukmu sudah hancur, fisikmu juga tidak seberapa tuh? jadi tidak heran jika kau langsung mati setelah kehilangan banyak darah" kata D.
"Huft... guh!!" Meghan langsung sesak.
"Agh! apa kubilang! darahnya masuk ke paru-paru-mu dan menimbulkan serangan bergemuruh! kau pasti sangat kesakitan! aku akan memenggal kepalamu itu! jadi jangan paksakan dirimu, ya" kata D.
"Kau itu sudah tidak bisa diselamatkan, jadi menyerah saja ya" kata D sambil tersenyum.
"Aku benar-benar harus mengincar lehernya... aku harus mengesampingkan rasa kasihanku! aku punya kesempatan menang apabila memasukkan racun ke lehernya!" batin Meghan dan mulai mengatur pergerakannya.
"Jurus Pengintai! incaran predator!!" Meghan mulai bersiap dan mengumpulkan kekuatannya.
GRAAK!!! Bahkan kayu tempat Meghan bertapak sebelumnya langsung hancur karena dorongan dari tekanan kaki Meghan.
"Sebuah serangan dari segala arah dengan gerakan berubah-ubah, dia menggunakan kekuatan cukup banyak sampai membuat lantai kayunya hancur!" batin D.
"Cepat sekali... aku tidak bisa memprediksi serangannya!" batin D.
TRANG!! D akan menebas Meghan dengan kipasnya.
"Dia... menunduk?" batin D, karena tebasan D... membuat jubah Meghan robek menjadi beberapa bagian.
Meghan langsung melakukan tekanan dan mendorong D ke atap benteng labirin sembari menusuk leher D dan menancap ke atas.
CRAK!!!
"Yang benar saja... kenapa racun sianida yang sudah ku manipulasi-kan agar ampuh pada makhluk astral... tidak mempan padanya!? ini karena aku kehabisan bubuk bidara dan kelor!" batin Meghan saat dirinya mulai jatuh ke bawah dan melihat wajah D yang tersenyum menyeringai.
Apakah... Komandan marah? aku merasakan aura amarah
"Benar!! aku marah! aku selalu marah Kenzo! orang tuaku yang merupakan pendukung pasukan pemberantasan terbunuh, kakakku terbunuh, orang tuamu Kenzo juga terbunuh! dan semua penerusku kecuali Nisa terbunuh!" batin Meghan.
D langsung menggapai Meghan dan memeluknya dari atas.
"Menakjubkan! kau sudah berjuang keras! aku tersentuh! aku tak menyangka perempuan lemah sepertimu berjuang keras seperti ini! kau sudah memburu dan memberantas banyak makhluk astral yang menjadi alat kerja sama para sekte dan organisasi sesat! meski kau kurang berbakat dari kakakmu!" kata D yang memeluk erat Meghan sambil menangis.
"Meskipun kau tahu usahamu akan sia-sia, kau masih saja dengan bodohnya mencoba mengalahkanku! kebodohan inilah yang membuat manusia menjadi binasa! tapi ini menakjubkan juga! kau memang sangat layak untuk dimakan olehku! mari hidup bersama! ada kata-kata terakhir yang ingin kau sampaikan? akan ku dengarkan!" kata D sambil menangis.
"Kebodohan yang kau kira... adalah usaha yang selalu menjadi keberhasilan bagi manusia!! kau lebih baik musnah saja!!" Seru Meghan.
Nisa berlari secepat mungkin setelah membuka seluruh ruangan dan pergi ke ruangan terakhir dan membuka pintu.
BRAK!!
"!!!?, KOMANDAN!!!" Teriak Nisa histeris saat melihat Meghan yang terpojok.
Meghan menurunkan tangannya dan memberikan sandi lewat gerakan tangannya, anggota pasukan pemberantasan sudah sangat hafal sandi rahasia itu.
D melihatnya meski dia tidak mengerti.
Tubuh Meghan sekarang lemas semua dan bahkan pedangnya lepas dari genggamannya dan jatuh.
KLANG!
Nisa kaget dan terbelalak.
"UWAAA!!!!" Nisa berteriak histeris saat melihat kondisi Meghan dan mulai melepaskan pedangnya.
Nisa melompat hingga jilbabnya berhembus.
"Jurus pemangsa! ketajaman pengintai!!" Seru Nisa yang ingin menebas D.
D langsung menghindar, Nisa kaget melihat D yang begitu cepat.
Nisa akhirnya mendarat.
"Wah... hampir saja, jangan coba-coba menebasku saat aku sedang menghisap orang lain!" kata D yang tersenyum dan tubuh Meghan perlahan terserap.
Nisa menahan amarahnya yang hampir diluar batas.
"Fghh!!! Fghh!!!" Nisa menahan mati-matian amarahnya dengan mengatur nafasnya.
"Oh? kau tidak terpancing akan ucapanku yang menyinggung? apa karena perempuan ini memberimu sandi dari tangannya?" tanya D yang terus menyerap tubuh Meghan.
"Kau sudah berjuang keras meski itu semua sia-sia, pokoknya ini akan menjadi malam yang indah... aku akan terus mendapatkan mangsa yang enak" kata D sambil memegang kacamata Meghan yang tak bisa dia serap.
"Kenapa... aku terus merasa kalau orang-orang yang kusayangi akan terus hidup hingga hari esok, tapi itu semua pupus! kenapa... takdir selalu berkata lain!?" batin Nisa dengan matanya yang suram dan kehilangan.
Di tempat Ilman...
Ilman berada di sebuah ruangan.
"Aku tahu kau ada di sana, keluarlah... kau hanya membuang-buang waktu di sana" kata Ilman dengan aura amarah yang memuncak.
"Wah... kau tak boleh berkata begitu pada kakakmu" kata seseorang di balik pintu.
"Kau terlihat lebih baik, tapi tetap saja kau terlihat buruk, lama tidak jumpa, Ilman" kata SM, Pasukan Dirgapati atas nomor 9.
"Iyan, karena kau sekarang anggota Dirgapati... kau bukanlah lagi kakak kandung yang ku kenal" kata Ilman dengan ekspresi amarah penuh dendam.
*****
Disisi lain, Meghan terbelalak mendapati dirinya bertemu kakak dan teman-temannya.
"Nona Meghan!" kata Fauzi.
"Komandan! Komandan!" panggil para pasukan yang telah gugur tersenyum pada Meghan sambil melambaikan tangan.
"Fauzi, kau... dan yang lainnya" Meghan melihat semua pasukan tersenyum bangga padanya yang membuatnya kebingungan kenapa ia bisa bertemu mereka.
"Meghan... kau sudah bekerja keras, kau berhasil" kata Arsya.
"Kau sudah berusaha, kami selalu mengawasimu" kata Miranda.
"Arsya... Kakak... hmf, ya benar" kata Meghan sambil tersenyum pasrah dan akhirnya tahu kalau ia sudah menyusul mereka.
"Kau melakukan kesalahan besar karena membiarkanku menjadi Komandan, Arsya" kata Meghan.
"Yah, aku akan mendengar semua ceritamu, aku sudah berjanji kan? kita berdua punya banyak waktu yang bisa dihabiskan bersama dengan mendengarkan ceritamu" kata Arsya.
"Baiklah" kata Meghan.
"Maaf aku telat datang semuanya... tapi aku tidak melarikan diri" kata Meghan yang tersenyum sambil menumpahkan air matanya dan sakit dihatinya setelah kakaknya memeluknya dan semua pasukan menangis bangga sambil tersenyum padanya.