
Meghan berdiri di dekat penjara.
"Karena tindakanmu yang ingin bekerja sama dengan Chandra, setahun yang lalu. Dan kau juga membuat perang antara kita dan Dirgapati sampai-sampai Salsa kehilangan nyawanya karena kekurangan darah" jelas Meghan.
"Ya, tapi... kalian tidak akan pernah bisa membunuh Chandra, jadi daripada kehilangan nyawa, lebih baik jangan hadapi Chandra!" kata Zeydan.
"Kau ini sebenarnya kenapa, Zeydan!?" tanya Meghan yang berada di depan sel tahanan.
"Aku sama frustasinya dengan dirimu soal pertemuan dengan pihak Clarke dulu, tapi aku tak mengerti dengan tujuanmu yang bertindak sendiri dan membahayakan gerakan pemberantasan, padahal kau adalah salah satu aset terpenting setelah Kenzo!" kata Meghan.
"Bukankah aku yang harusnya bertanya begitu? pasukan pemberantasan sudah tidak bisa apa-apa lagi karena Chandra semakin kuat, karena itulah aku akan keluar dari gerakan pemberantasan!" kata Zeydan.
"Aku takkan pernah membiarkan hal itu terjadi, kau masih bagian dari pasukan! aku memberimu kesempatan kalau mau kembali ke gerakan pemberantasan dan akan meminta Lord Fifth untuk memberikan pembebasan bersyarat, jika tidak... maka kau akan terus berada di tahanan dan takkan bisa memberikan pembebasan bersyarat selama 3 tahun!" kata Meghan.
"Aku tak peduli, aku bisa saja berubah menjadi kutukan Pandora disini, karena itulah tak ada gunanya mengurungku disini, tapi aku manusia yang masih punya hati, aku hanya ingin bertanya... " Zeydan memberhentikan kata-katanya.
GREP!! Dari dalam sel, Zeydan menggenggam dan menarik kuat baju Meghan.
"Ukh!!"
"Kenapa... kenapa kalian tidak mengambil keputusan dengan cepat agar mengirim Kapten Edward untuk menghabisi Chandra saja!? dengan begitu, aku takkan menilai kalau gerakan pemberantasan itu lemah! katakan padaku kenapa alasannya, Nona Meghan!!" Seru Zeydan yang diambisikan amarah dan mulai berubah dengan kekuatan kutukan Pandora.
Meghan terbelalak melihat Zeydan dan langsung melepaskan diri..
"Ukh! Zeydan cabul! kau ini masih puber ya!?" tanya Meghan sambil pergi dari sana, sebenarnya alasan dia berkata begitu agar Zeydan teralihkan.
Di ruangan Meghan...
Meghan bersandar di pintu dan merosot kebawah.
"Hah... Arsya, inilah satu-satunya kesalahan terbesarmu karena telah membuat orang sepertiku menjadi komandan" kata Meghan.
Meghan teringat saat dirinya dulu berbicara dengan Arsya saat Arsya masih hidup.
Flashback...
BRAK!! Meghan mendobrak pintu kamar Arsya.
"Apakah Arsya disini!?" tanya Meghan dengan terburu-buru.
"Nona Meghan! tenangkan diri Anda!" kata Fauzi.
"Arsya! kau!" kata Meghan dengan terengah-engah.
"Kenapa?" tanya Arsya sambil berbalik.
BRUK! Meghan jatuh terduduk karena sangat kecapean.
"Nona!" kata Fauzi.
"Ini, tenangkan dirimu dulu" kata Arsya sambil memberikan segelas air.
Meghan mengambilnya dari Arsya.
"Dirgapati, mengambil alih sebagian besar Dinding Selatan Dimensi" kata Meghan sambil minum.
"Begitu, baiklah... Nona Ratri juga bilang kalau akan ada rapat pertemuan dengan Pilar, sebaiknya kita segera ke sana" kata Arsya.
"Saya akan mempersiapkannya!" kata Fauzi sambil pergi.
"Tapi, kau tidak berpikir akan ikut dalam operasi penyerangan ini kan?" tanya Meghan.
Arsya terdiam.
"Arsya... jika kau mati, maka-... " belum selesai Meghan bicara.
"Meghan, aku bukanlah Komandan yang baik" kata Arsya yang berada di samping Meghan sambil memegang bahunya Meghan.
"Eh?" tanya Meghan yang kaget.
"Aku hanya Komandan yang membuat para pasukan menjadi terbutakan oleh maut, dan membuat mereka berpikir seolah-olah mengorbankan nyawa itu adalah pilihan yang tepat, tapi... aku salah, seharusnya aku membuat mereka mengerti kalau nyawa itu adalah harta manusia yang paling berharga" kata Arsya.
"Jika aku mati nanti, aku ingin kau menjadi Komandan kesepuluh" kata Arsya sambil melepaskan tangannya dan berjalan ke arah jendela kamarnya.
"Apa!? kau sendiri bilang kau bukanlah Komandan yang baik! kalau kau saja begitu, apalagi aku!" kata Meghan.
"Kau adalah harapanku satu-satunya sekarang untuk menggantikan posisiku selain Edward, sayangnya... aku tidak bisa membuat Edward menjadi Komandan karena dia masih dihantui oleh perasaan bersalahnya atas kematian Yumna, aku berpikir... dia pasti ingin sendiri untuk menyembuhkan perasaannya itu" jelas Arsya.
"Jadi, tolong ya Meghan" kata Arsya sambil tersenyum.
Flashback Off....
"Entah kenapa... tanpamu disini, rasanya begitu hampa" batin Meghan sambil memeluk lututnya.
Di ruangan privat...
Andika dan Erika terdiam satu sama lain dan tidak ada yang bicara, kedua Ameera bersaudara itu tidak ada yang mau bicara karena memiliki perasaan kesal pada satu sama lain.
"Kak Andika, kenapa? kau malah mengajukan diri untuk membiarkan Adelia mewarisi kutukan Pandora mu? Dasar... " kata Erika.
"Kau sendiri juga begitu, Yun. Kau tidak punya pembelaan atas perbuatan Clarke yang seenaknya. Kau pengganti Ibu, kau harusnya bisa mengatakan kata tidak" kata Andika.
"Aku tidak bisa membuat keluarga berpengaruh yang menjadi sekutu satu-satunya pasukan pemberantasan tersinggung. Itu bisa menyangkut nama baik" kata Erika.
"Aku juga sama, kau tahu kan? soal pewarisan kekuatan kutukan Pandora? kalau mereka (pemegang kutukan Pandora) yang tidak berdarah Fujiwara melakukan perjanjian Pandora untuk pewarisan maka, mereka akan langsung mati" Jelas Andika.
"Dan aku adalah Fujiwara dengan berkelebihan campuran Kitagawa, meski aku memiliki energi Fujiwara yang besar, tapi itu takkan mengubah diriku akan tiada 13 tahun kemudian setelah menerima kutukan Pandora" Jelas Andika.
"Jadi, kau ingin mengatakan kalau saja kau Fujiwara murni seperti diriku maka kau bisa melakukan perjanjian Pandora untuk pewarisan tanpa kematian begitu?" tanya Erika.
"Itupun kalau Fujiwara utama terkena kutukan Pandora" kata Erika.
Erika mengambil cermin dan menatap dirinya sambil mengaktifkan Silentnya.
"Aku ingin sekali hidup tanpa tanda Clarke ini. Aku jadi penasaran seperti apa keluarga Takatsukasa dulu sebelum menjadi Clarke" kata Erika.
"Tapi aku minta maaf padamu Yun, aku mengerti kau cukup marah karena aku setuju tanpa pikir panjang. Zeydan
pasti juga begitu" kata Andika.
"Aku juga minta maaf, aku harus mengunjungi Salsa, aku yakin dia kesepian"
Erika sekarang berada di Dunia nyata bersandar di sebuah pohon yang dekat dengan makam Salsa.
Erika sedang hancur sekarang, Zeydan menjadi tak menentu, Salsa sudah gak ada, Andika dan Adelia terikat dengan persyaratan yang membuat keduanya terkorbankan.
"Salsa... kau tahu? kalau aku belum sempat memberitahu kalau ada burger rasa pedas ekstra, aku berniat membelikannya padamu, tapi kau malah sudah gak ada" kata Erika.
"Dan... apakah kau tahu yang terjadi sekarang? huft, malah makin rumit saja" kata Erika.
"Eh? apakah anda... Putri Erika?" tanya seseorang.
Erika menoleh.
"Ng? anda... adalah chef di restoran Magnaga ya?" tanya Erika.
"Benar"
Rupanya itu adalah Rudy, chef yang pernah melayani mereka di restoran.
"Jadi... anda telah lama memperhatikan Salsa?" tanya Erika.
"Benar, jadi... Nona Salsa benar-benar sudah tiada?" tanya Rudy saat Erika mengantarkan Rudy ke makamnya Salsa.
Ilman dan Dirga tiba-tiba datang.
"Erika" kata Ilman.
"Ilman, Dirga" kata Erika.
"Rudy... kau" Ilman memberhentikan kata-katanya, dia tahu kalau Rudy sudah lama menyukai Salsa.
"Salsa, hanya dia orang kedua yang memuji masakanku, aku hampir tak akan menjadi chef dulu karena tentangan keluargaku, akhirnya Salsa datang dan menyemangatiku dan mengatakan kalau aku hebat dan juga punya bakat memasak" kata Rudy.
"Kau... pernah menjadi chef di istana Carna kan!?" tanya Erika.
Ilman dan Dirga kaget, karena Rudy tak pernah menceritakannya.
"Benar, saya cukup gugup dan diajari Yang Mulia Aliana saat beliau
mengangkatku menjadi chef istana, beliau juga yang banyak mengajariku memasak, dan menjadi orang pertama yang memuji masakan saya. Saya memberitahu keluarga saya kalau saya menjadi chef, tapi... mereka menentangnya" kata Rudy.
Erika, Ilman, dan Dirga lumayan kasihan dengan Rudy.
"Akhirnya saya berterimakasih pada Ratu Aliana tentang hal itu, tapi... saya merasa sangat mengecewakan karena telah mengecewakan beliau meski beliau mengizinkan saya resign" kata Rudy lagi.
"Begitu... " kata Dirga.
"Apa yang kau lakukan disini Erika?" tanya Ilman.
"Aku menziarahi Salsa sekalian dengan Pamanku, Rafa" kata Erika.
Rafa adalah kakak Rafi, Rafa sudah meninggal saat Amanda mengandung Amir dan Umar sebelum Erika.
"Eh? apakah kalian... dari pasukan pemberantasan? temannya Putriku?" tanya seorang lelaki.
"Eh? anda, Ayahnya Salsa?" tanya Ilman.
"Kau, menyukai anakku ya?" tanya Ayah Salsa yang bernama Fahmi pada Rudy.
Rudy hanya mengangguk.
"Ilman dan Dirga ya? eh? Anda... Putri Erika?" tanya Fahmi.
"Be.... Benar, Tuan, Nyonya" kata Erika.
"Sebuah kehormatan bisa bertemu dengan anda"
"Tuan, anda tidak perlu begitu, karena saya adalah teman Salsa anak anda, tidak perlu merasa tidak enak, saya minta maaf tak bisa melindungi Salsa" kata Erika.
"Tidak, Putri saya selalu bertukar surat dengan kami, dan dia sering tahu banyak makanan dan berbagi dengan anda... saya merasa terhormat anak saya bisa berteman dengan anda"
Akhirnya keluarga Salsa menziarahi Salsa.
"Tu.. Tuan Fahmi!" kata Rudy.
"Ya?"
"Apakah... anda tidak keberatan kalau anda bersama keluarga anda datang ke restoran kami di Magnaga City? saya juga akan selalu memasak untuk anda dan keluarga kadang-kadang!" kata Rudy.
Fahmi tersenyum.
"Baiklah, terimakasih. Gratis kan?" tanya Fahmi.
Rudy tersenyum senang karena Fahmi menerima tawarannya.