Between Curse and Peace

Between Curse and Peace
Episode 19 : Merasa bersalah



"Pindahkan mereka ke ruang instalasi istana! sekarang!" kata Erika.


"Kak Amir! tolong jaga kak Umar!" kata Erika.


"Eri! tunggu!" kata Amir.


"Aku yang sedang memegang mutlak perintah! tolong biar aku yang menemui mereka!" kata Erika.


"Ok" kata Amir.


Di ruang instalasi...


"Apakah benar? kak Andika dan Zayn di temukan di Dimensi Astral?" tanya Erika.


"Benar, lebih tepatnya di bekas penyegelan Pandora" kata Adin.


Erika melihat dari kaca.


Andika yang terluka berat di bagian kepala dan tukang kakinya hampir patah.


Zeydan mengalami gegar otak dan tusukan benda tajam di sekitar tubuh.


"Adin... tolong panggilkan Paman Zaki, Tante Nina, dan Kak Nisa" kata Erika yang langsung ke ruang privat.


"Baik"


Akhirnya Zaki, Nina, dan Nisa datang menemui Erika dan Erika menjelaskan semuanya.


"Hanya kalian yang boleh menyimpan informasi ini, aku mohon kepada kalian agar jangan sekali-kali menyebarkannya bagaimanapun juga" kata Erika.


"Amanda... " Nina sedih karena sahabatnya telah tiada.


"Begitu, jadi... Zeydan dan Andika di temukan di Dimensi lain? semacam Dimensi macam apa itu?" tanya Zaki.


"Maaf Paman, aku tidak terlalu tahu karena baru kali ini ku dengar tentang Dimensi Astral, yang pasti mungkin berbahaya" kata Erika.


"Erika, tenanglah... aku tahu kau pasti sangat terpukul akan itu" kata Nisa.


"Terimakasih"


"Tapi... Paman, Tante, saya meminta izin untuk menahan Zayn di istana sampai besok tidak apa kan? karena hanya dialah dan kak Andika yang berada di Dimensi, aku mengatakan ini bukan karena kehendak ku, tapi karena paksaan dari pihak keluargaku. Karena Kak Andika dan Zayn-lah satu-satunya petunjuk" jelas Erika.


"Baiklah... tak apa, jika kau butuh apapun untuk hal ini" kata Zaki.


Erika sedang menemani Amir dan Umar, Edward memasuki ruang instalasi dan terus berjalan.


Akhirnya Edward sampai di beranda teras kamar Ersya dan berbincang-bincang.


"Aku... ingin minta maaf, soal Yumna dan Mizuki" kata Edward.


PLAK! Ersya menampar Edward.


BRUK! Edward terjatuh dari kursinya dan menunduk merasa bersalah.


"Tenanglah... Ersya, baiklah, pukul saja aku, kalau kau mau menghajarku, hajar saja... aku pantas menerimanya, ayo? pukul aku Ersya" kata Edward sambil merapat dan duduk bersandar di pagar beranda teras.


"Hah... " Ersya hampir tenang.


"Aku salah, aku salah mendengarkan mereka yang melarang ku untuk ikut, seharusnya aku tidak mendengarkan Yumna. Tapi sekarang... sudah terlambat" kata Edward dengan menunduk.


"Gak Edward, belum... meski kak Ana, kakakku, dan sepupu iparku telah tiada, kita tetaplah seorang Pilar! ayo, apakah sudah lebih baik?" tanya Ersya mengarahkan tangannya untuk membantu Edward berdiri.


"Bisakah... aku disini sendiri? jangan ganggu dan jangan lihat apa saja yang ingin ku lakukan, jika kau mengintip aku akan menghabisimu dengan pedangku juga jurus taring air ku" kata Edward.


"Tidak perlu, karena aku harus menemui Meghan" kata Ersya.


Edward duduk sendirian dengan reaksi kehilangan.


"Ng?" Edward melihat kupu-kupu biru yang lewat, dia tahu kalau Amanda sangat suka kupu-kupu berwarna biru.


Edward memajukan tangannya dan membiarkan telunjuknya dihinggapi kupu-kupu.


Dia memandang kupu-kupu itu dengan sedih karena tak percaya serta merasa bersalah tak bisa melindungi Amanda padahal dirinya adalah Fujiwara cabang yang secara tradisi harus melindungi Fujiwara Utama.


"Grr... ukh!" Edward kesal.


"Kapten Edward... " Panggil suara seseorang yang sangat Edward kenal.


"Hah!?" Edward berdesis kaget.


DEG!! Edward menoleh di sampingnya.


Bersamaan dengan kupu-kupu yang pergi, Amanda sedang tersenyum di sampingnya, Edward membendung air matanya dan menangis sambil menunduk pada Amanda yang di sampingnya.


"Maafkan aku... andai saja aku datang lebih cepat, aku... aku pasti bisa menyelamatkanmu, kali ini... sebagai seorang sepupu" desis Edward dengan pelan serta terisak-isak.


Amanda terbelalak dengan tersenyum.


"Kapten Edward... gak usah sedih lagi, karena aku akan mengawasimu dari jauh, lakukanlah yang terbaik... berjuanglah! kak sepupu" kata Amanda yang langsung menghilang bersamaan dengan datang dan perginya kupu-kupu biru.


"Yumna... maafkan aku"