Between Curse and Peace

Between Curse and Peace
Season 2 Episode 18 : Obat tetes mata



"Kita bergerak sekarang... " kata Meghan.


"Kau, di tempatkan di barisan yang tengah" kata Edward dengan dingin.


"Kenapa? bukankah komandan Arsya bilang aku yang memandu karena bisa merasakan aura?" tanya Erika.


"Aku juga bisa, lagipula jika kau mati... kakakmu akan mengamuk dan itu merepotkan" kata Edward dan langsung pergi ke barisan depan.


"Ck! sudah pernah menendang Zeydan di klub ninja dulu, sekarang masih sok?" tanya Erika dengan kesal.


Akhirnya mereka berangkat di malam hari dan memutuskan untuk mengiringi kuda mereka dan tidak menaikinya karena akan berisik dan memicu datangnya makhluk Astral.


"Makhluk astral umumnya bisa beroperasi pada malam hari, tapi kenapa malam ini... sunyi sekali?" tanya Pasha.


"Dimungkinkan karena hampir sebagian besar makhluk astral pergi ke Pilar Aura dan Pilar Fauna" kata Erika.


"Erika, apakah kau baik-baik saja? kau menggunakan Silent yang membuat matamu agak sakit" kata Ilman.


Erika termenung dan tersenyum simpul "Aku baik-baik saja, terimakasih"


BLUSH!! Ilman sangat Blushing dan wajahnya memerah bagaikan menahan nafas, ini pertama kalinya ia melihat Erika tersenyum meski tipis.


"Jaga batasanmu!" kata Ikram.


"Ganggu aja kau gundul" kata Ilman.


"Gu.. Gundul!? kau kuda! tuh! masa kuda mengiringi kuda?" tanya Ikram.


"Apa kau bilang!? Kuda!?" tanya Ilman.


Erika memegang matanya.


"Kau yakin baik-baik saja Erika?" tanya Pasha.


"Tentu saja, malah mataku jadi segar setelah di letakkan obat tetes mata yang kau berikan" kata Erika.


"Syukurlah... " kata Pasha.


"Tapi... Pasha bilang, itu dari Pilar pedang, tapi kenapa obatnya manjur sekali? seharusnya dari Pilar pengintai dan medis kan? sudahlah, mana peduli aku sama si dingin dan sewot itu" batin Erika.


Memang benar, Edward adalah orang yang benar-benar tak suka basa-basi. Dia hanya bisa basa-basi pada orang terdekat baginya seperti Amanda. Jika dia suka basa-basi dengan orang seperti Amanda, dia juga takkan marah kalaupun Amanda mengejek atau mengancamnya sekalipun.


Baginya, berada di dekat Erika artinya hal buruk dan merepotkan baginya... karena dua hal : "Khawatir tak bisa melindunginya dan mengecewakan Andika" & "Merasa karena Erika masih memiliki darah Fujiwara utama dan harus dijaga".


" Ini merepotkan... Arsya, apa yang kau pikirkan dengan membuat Putrinya Yumna ada disini?" batin Edward.


"Akan lebih baik kalau si Ersya yang disini" batin Edward lagi.


DEG!!


"Anu! ada aura makhluk astral berenergi tinggi di depan!" kata Erika.


"Hii!! aku takut hantu!" kata Salsa.


"Ini bukan hantu Salsa, karena... makhluk astral yang diberantas adalah yang makhluk astral yang bergabung atau yang digunakan oleh sekte atau Organisasi sesat" Jelas Pasha.


"Tetap saja Pas!" kata Salsa.


"Tapi... tumben? kau tidak takut kegelapan?" tanya Salsa.


"Eh? Sebenarnya, karena aku tahu ini adalah Dimensi sih? kalau yang di Dunia nyata hii!! aura hawa dinginnya benar-benar mencekam" kata Pasha.


"Cepat jalan, jangan banyak bicara!" kata Edward.


"Ba.. Baik!" kata Pasha, Ilman, Salsa, dan Ikram.


Erika menggenggam obat tetes mata itu diam-diam.


"Apakah hanya karena dia Pilar? jadi dia tahu kalau ada obat mata khusus yang digunakan untuk mengobati mata Silent?" batin Erika.


"Ck! kenapa aku terus memikirkan hal ini?" batin Erika lagi.


"Meghan, bagaimana?" tanya Edward.


"Menurut analisisku, mereka tak terlalu kuat untuk malam hari dan juga tak memiliki penglihatan, mereka mengandalkan penciuman, dan pendengaran" Jelas Meghan.


"Tapi... katanya itu makhluk astral energi tinggi?" tanya Meghan.


"Aku... tidak salah, karena melihat seperti ada permata kecil di dadanya saat menggunakan Silent untuk melihat" Jelas Erika.


"Permata kecil!? warna apa!?" tanya Edward.


"Warna merah pekat dan bercahaya merah" kata Erika dengan singkat.


Edward memalingkan pandangannya ke arah Meghan dan memberi isyarat.


Edward menaiki kudanya, dan pergi bersama David juga Wira ke arah tempat makhluk astral berenergi tinggi yang dimaksud Erika.


"Kalian, kita teruskan pencarian Kenzo dan Zeydan" kata Meghan sambil ke arah sebaliknya dari arah perginya Edward.


"Baik!"


Erika ke depan Meghan yang memimpin.


"Anu... Nona Meghan" bisik Erika.


"Ng?" tanya Meghan.


"Aku ingin bertanya, kenapa Pilar pedang memberikanku obat tetes mata ini?" tanya Erika.


"Ng? tentu saja agar matamu cepat sembuh" kata Meghan.


"Bukan itu maksud saya" kata Erika.


"Eh?" tanya Meghan.


"Yang ingin kutanya, kenapa dia memberikanku obat khusus? dan kenapa tidak Nona Meghan saja yang berikan dan malah dia menitipkannya pada Pasha? anda Pilar medis kan?" tanya Erika.


"Obat khusus?" tanya Meghan pura-pura tak tahu.


"Jika dia hanya tahu mataku sakit, kenapa tidak berikan yang biasa saja?" tanya Erika.


"Hm... kurasa kau perlu bertanya sendiri pada orangnya" kata Meghan.


"Apa?" tanya Erika.


"Dia juga titip pesan kalau setelah misi ini selesai, dia ingin bicara 4 mata denganmu" kata Meghan yang agak maju ke depan untuk memeriksa.


Erika terdiam.


"Bicara? 4 mata?" batin Erika.


Di Dunia nyata tepatnya di Arab Saudi...


Amir dan Umar tengah berada di tempat penyetoran hafalan di pesantren.


"Mir! Mir!" bisik Umar.


"Kenapa? ntar dimarahin sama ustad kalau kita ketahuan cerita!" kata Amir.


"Kau pikir... kak Andika dan Erika baik-baik saja tidak ya?" tanya Umar.


"Entahlah, kita hanya bisa berharap mereka baik-baik saja" kata Amir.


Tiba-tiba...


"أمير عمر!! قرأ القرأن!"


^^^( Amir! Eumar! qara Al Quran!)^^^


^^^Amir Umar!! Baca Alquran mu!^^^


^^^kata Ustad yang mengawasi.^^^


"آسف سيد!"


^^^(Asf Sayd!)^^^


^^^Maaf Ustadz!^^^


"Lebih baik menghafal saja dulu! khawatirnya nanti!" batin Amir dan Umar.