Between Curse and Peace

Between Curse and Peace
Season 3 Episode 10 : Rencana penyerangan



"Aku tak bisa bergerak dalam pertarungan sebelumnya karena terkena racun dari Makhluk astral atas, aku mencoba menggunakan nafas dan Turquoise-ku untuk memperlambat penyebaran racunnya dalam aliran tubuhku. Tapi seorang pengawal pasukan Pemberantasan melindungiku hingga nyaris kehilangan nyawanya" Jelas Ersya.


"Yang karena itu membuat memori ku terputar kembali, lalu aku menjadi sangat marah dan membuat emosiku hampir tak terkendali karena Angry Turquoise-ku" kata Ersya.


"Aku rasa detak jantungku melebihi 200 BPM, dan tubuhku menjadi sangat panas, kurasa suhu tubuhku melebihi 49 derajat celcius" kata Ersya.


"!!?, tapi... kau bisa bergerak dalam keadaan seperti itu? itu sangatlah membahayakan hidupmu, aku bahkan belum pernah melihat ataupun mendengar orang dengan suhu melebihi 42 derajat" jelas Meghan yang kaget.


"Ya, karena itulah aku rasa hal ini bisa dijadikan bahan uji coba, akankah kau mati ataupun tidak. Itu mungkin perbedaan yang muncul tanda Ninja atau tidak" Jelas Ersya.


"Detak jantung melebihi 200 BPM, dan suhu sekitar 49 derajat?" tanya Ratri.


"Ya, dan ketika Meghan merawat lukaku, aku mengalami demam, suhu yang ada di termometer 49 derajat, kurasa aku juga memilikimu suhu tubuh yang sama ketika tanda Ninja itu muncul" Jelas Ersya.


"O.. oh, begitu" batin Vanora.


"Tch, ternyata semudah itu, ya?" tanya Toni.


"Aku iri terhadap orang bodoh yang bilang hal ini mudah" kata Edward dengan mengecilkan suaranya dengan ekspresi dingin.


"Apa!?" tanya Toni dengan kesal.


"Bukan apa-apa" kata Edward.


"Terimakasih banyak, baiklah... kita akan membahas tentang merebut kembali daerah selatan Dimensi" kata Ratri.


"Akan bagus kita jangan menyerang besar-besaran, karena kita tidak tahu tingkat berbahayanya musuh itu seperti apa... kita tak bisa kehilangan Pilar, dan para Prajurit lagi" Jelas Ratri.


"Baik... kami mengerti" kata Toni.


"Disisi lain sektor, ada beberapa yang harus diurus untuk tetap menyegel Kotak Pandora. Toni, Elena, Rahmat, kalian bertiga tolong mencari dan meneliti beberapa siklus yang bisa dibuat agar kita bisa menghindari Tanggal Emas" Jelas Ratri.


"Baiklah... itu saja, untuk memimpin penyerangan dan merebut kembali area selatan, akan di pimpin oleh Edward, Meghan, dan Arsya sebagai komandan" kata Ratri.


"Terimakasih untuk waktunya" kata Ratri sambil pergi.


"Kita harus tetap mempertahankan dan memunculkan tanda Ninja" kata Rahmat.


"Karena Nona Ratri dan Arsya telah pergi, aku pamit dulu" kata Edward saat melihat hari sudah malam.


"Wah, tunggu sebentar, jangan pergi dulu kawan. Kita harus menyusun rencana untuk kedepannya kan?" tanya Toni.


"Kalian berenam saja yang membahasnya, itu tak ada urusannya denganku" kata Edward.


"Apa maksudmu tak ada urusannya denganmu? kau tidak paham posisimu disini sebagai Pilar? atau apa? apakah kau ada urusan lain yang tak kami ketahui? kau tak bicara apapun selama pertemuan" tanya Rahmat.


Edward pergi.


"A.. Ah!" gumam Vanora.


"Tunggu Oi!" kata Toni.


"Kau bisa melihat malam ini dan akan tahu alasannya, Meghan" kata Edward sambil mengarah ke pintu tanpa menatap siapapun.


Meghan agak terbelalak dan melihat bulan Purnama.


"Aku mengerti" kata Meghan.


"Lagipula... aku tak seperti kalian" ucap Edward yang mau memutar engsel pintu.


"Wow, kau membuatku marah... kau berkata hal yang sama sebelumnya, Edward. Apakah kau mengejek kami semua?" tanya Toni.


"Ja.. Jangan bertengkar kalian semua! ma.. mari-... " belum selesai Vanora bicara.


"Tunggu dulu, menjengkelkan!" kata Toni sambil mengarah ke Edward.


"Jangan... Jangan... jangan!" kata Vanora.


Elena langsung melakukan jurus bayangan, dan bayangan itu langsung menghentikan pergerakan Edward dan Toni.


Edward dan Toni menjadi tidak bisa bergerak, yang lainnya sampai berkeringat terkejut karena Elena.


"Duduklah dulu, tenanglah, aku dan Rahmat ada usul" kata Elena.


Di Markas Dirgapati...


Chandra sedang duduk.


"Ray... " kata Chandra.


"Aku terlambat?" tanya Ray.


"Aku memaklumimu karena kau itu hanyalah Tensei" kata Chandra.


"Aku hanya mengurus sesuatu tadi" kata Ray.


"Ya, sebagai seorang Fujiwara cabang dan mantan pembunuh berantai, yang membunuh lebih dari 500 pasukan pemberantasan dan kepolisian militer, Ray The Ripper" kata Chandra.


"Aku cukup tersanjung" kata Ray.


"Jangan ngelunjak, bagaimana perasaanmu saat melihat dunia ini lagi?" tanya Chandra.


"Menurutku, sekarang bukanlah tempatku lagi, tapi begitu aku mengingat si cebol dan dua sepupunya itu membuatku berat hati untuk pergi kedua kalinya" kata Ray.


"Dua sepupunya? siapa cebol yang kau maksud?" tanya Chandra.


"Dia hanya kerabatku saja, kau mungkin akan bertemu dengannya nanti, tapi si cebol dan dua sepupunya itu berharga bagiku"


"Mereka bertiga mengingatkanku akan diriku bersama dua saudari perempuanku" kata Ray.